Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
EKSEKUSI 1


__ADS_3

🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌻


#Rumah Sakit#


"Siapa sebenarnya anak itu?"


"Dia anak Salah satu rekan bisnis ibu, Tuan Kusuma," ucap Momon.


"Oke bawa anak itu, dan batalkan semua kontrak dengan perusahaan Kusuma dan ambil kembali semua saham kita, dia salah kalau mau bermain-main dengan putriku," ucap Nadya kesal dan mengakhiri sambungan telepon dengan Momon.


"Siap Bu, perintah akan dilaksanakan, tapi apa anak itu kita jemput disekolah atau dirumahnya?"


"Jangan buat keributan, jemput saja saat sepi dan waktu yang tepat, dan satu lagi selesaikan semua urusan dengan perusahaan Kusuma setelah anaknya kamu dapatkan, karena perusahaan Kusuma sudah lama mencari masalah dengan kita, dia telah menggelapkan sebagian saham perusahaan kita, dan selama ini aku tidak punya alasan yang tepat untuk melepasnya," jelas Nadya.


"Siap Bu, kami meluncur sekarang. Assalamualaikum," pamit Momon.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," jawab Nadya.


Kini Nadya kembali kekamar putrinya dilihatnya Fatim telah tertidur sambil memegang sebatang cokelat karena yang empat dia letakkan diatas meja. Hal itu sengaja Fatim lakukan karena ia tidak suka dokter Haris.


Nadya tersenyum melihat putrinya yang sudah terlelap. Diambilnya cokelat yang dipegang Fatim, kemudian meletakkan semua cokelat itu diatas nakas. Nadyapun membersihkan dirinya dikamar mandi sebelum ikut merebahkan diri disofa dekat tempat tidur Fatim.


#Sementara itu dikediaman Rahmat #


Keluarga ustad Rahmat baru saja sampai dipondok. Tampak beberapa petugas keamanan membuka pintu gerbang, agar mobil yang dikendarai Abas dapat memasuki halaman pondok.


Suasana pondok sudah sepi, karena memang sudah tengah malam. Hanya ada beberapa santri senior yang belum tidur mereka sepertinya sengaja menunggu kedatangan keluarga Abas.


"Assalamualaikum ustad, zah, dan Abas," ucap Hanif.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, tumben Hanif kamu belum tidur," ucap Rahmat.


"Iya Tad, maaf malam-malam mengganggu, tapi sedari sore ada keluarga Sahidah mencari dan menunggu ustad dan ustazah," ucap Hanif lagi.


"Oh ya, ada perlu apa mereka kesini katanya, dan sekarang mereka dimana?" tanya Rahmat sambil membawa barang-barang yang mereka beli diperjalanan.


"Entahlah Tad, saya kurang tahu tahu katanya ini menyangkut perjodohan."


"Ya sudah besok saja kita tanyakan, sekarang kamu kembalilah beristirahat, hari sudah malam."


"Iya Tad, saya permisi. Assalamualaikum," ucap Hanif.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," ucap Rahmat.


Namun belum jauh melangkah Hanif terpaksa berhenti karena panggilan Abas.


"Akhi Hanif, tunggu!"


"Umi ... Abi ... Abas tidur bareng yang lain ya." Memandang Abi dan Uminya dengan senyum manisnya.


Mau tidak mau Rahmat dan Maryam terpaksa mengangguk, sebenarnya banyak yang Maryam ingin tanyakan pada Abas, tapi akhirnya ia mengurungkan keinginannya, ia merasa semua bisa dia tanyakan besok saja.


"Yuk Akhi," ajak Abas pada Hanif.


Kedua pemuda sholeh itupun pergi menuju ke asrama mereka yang berada tidak terlalu jauh dari masjid.


Begitu juga Rahmat dan Mayam, keduanya segera masuk kerumah untuk segera beristirahat, menghilangkan penat yang hinggap ditubuh keduanya. Apalagi keduanya sudah tidak muda lagi.


#Rumah Sakit#


Diruang kerjanya dokter Haris masih belum pulang, entah mengapa rasanya ia ingin sekali tidur dirumah sakit untuk menemani Fatim. Ia pun sudah mengantongi alamat rumah Fatim, karena khawatir pasien kesayangannya akan segera pulang dan ia tidak lagi dapat bertemu.


*Semoga saja aku belum terlambat untuk memiliki gadis itu, ayah dan ibu pasti akan setuju kalau aku menikahi gadis itu, dan mereka pasti senang punya menantu yang tomboy begitu, dirumahkan kalem semua, batin Haris sambil tersenyum membayangkan ibunya yang lembut akan berpadu dengan ketomboyan Fatim.*


Asyik dengan lamunanya membuat dokter Haris akhirnya tertidur diruang kerjanya.


#Kediaman Putra #


Saat ini sudah memasuki jam 02.00 wib dini hari, rombongan Momon dan pasukan bawah tanahnya sudah standby sedari jam 23.00 wib. Namun sosok anak yang bernama putra belum juga tampak dalam pemantauan mereka.

__ADS_1


Namun mereka sudah mendapat info kalau pemuda lajang tersebut belum pulang kerumahnya. Setelah hampir 3 jam menanti yang ditunggu sepertinya datang juga.


Sebuah mobil sport hitam keluaran terbaru buatan Jepang tersebut memasuki arena parkiran rumah Kusuma. Tak lama turun seorang sopir yang sudah berumuran sekitar 40 tahunan turun dari mobil sambil memapah seseorang yang sepertinya mabuk berat.


Tidak butuh lama, pasukan bawah tanah mulai bergerak, dengan cepat seorang penembak jitu segera melepaskan tembakan untuk membius si sopir yang sedang memapah pemuda itu yang tidak lain adalah Putra, sasaran utana mereka.


Dengan senjata yang dilengkapi peredam sehingga tidak menimbulkan suara berisik. Dengan sekali jlep, si sopir langsung jatuh perlahan dan pingsan.


Dengan cepat tim segera bergerak, ada yang membawa tubuh putra kedalam mobil, ada yang memindahkan pak sopir ketempat yang lebih enak yaitu dikursi didekat parkiran mobil. Dan ada juga yang memarkirkan mobil seperti selayaknya.


" Bos ... semua sudah beres."


"Oke segera kemobil kita kembali kemarkas," ucap Momon.


Setelah tugas selesai semua segera kembali kemobil dan bergerak kembali pulang kemarkas. Namun nanti putra akan dipisahkan dari kelima orang bayarannya.


# Keesokan Hari #


Suasana hening dipagi ini membuat Fatim merasa tubuhnya sedikit dingin, namun ia tidak bisa meraih selimutnya. Dilihatnya Nadya tertidur dangat lelap, sehingga tidak terpengaruh dengan gerakan Fatim.


Sedang berusaha menarik selimutnya, pintu kamar terbuka.


"Klek." Terdengar langkah seseorang mendekat kearah Fatim. Melihat Fatim yang tampak kedinginan membuatnya cepat bertindak.


"Kamu kedinginan?" Menarik selimut menutupi tubuh Fatim.


Melihat siapa yang membantunya, Fatim sedikit terkejut.


*Nih orang kenapa nggak pulang, katanya jam jaganya cuma sampai jam 23.00 wib, kok menjelang subuh gini ada disini? Untung aja gue nggak lepas jilbab tidurnya. Men-cu-ri-ga-kan, batin Fatim.*


"Dokter belum pulang?" ucap Fatim serak sambil memperbaiki posisi tidurnya.


"Eh iya belum, ternyata saya ketiduran diruang kerja, makanya nyempetin ngecek semua pasien sebelum saya pulang," ucap Haris salah tingkah.


"Kamu nggak tidur? Ini sudah hampir subuh?" Berdiri didekat Fatim.


"Tidur kok, pas kebangun aja karena kedinginan, makasih ya Dok bantuannya, saya mau istirahat," ucap Fatim yang mengiginkan dokter Haris segera pergi.


*Siapa yang nanya, batin Fatim kesel.*


"Aku pamit ya, met istirahat." Melambaikan tangan pada Fatim.


Fatim hanya melihat dengan jengah, dan menarik selimutnya menutupi wajahnya.


#Markas Momon#


Seorang pemuda tampak mengeliatkan tubuhnya, namun terhalang karena tali yang terikat ditubuhnya.


"Akhhh! Apa-apa ini, siapa sih yang usil banget, main iket-iket segala nggak lucu tahu," teriak Putra yang baru tersadar dari pengaruh alkohol yang semalam ditegaknya.


Namun suasana kamar yang sepi dan gelap membuatnya merasa semakin penasaran.


"Hey ada orangkah? Halooo! Heyyy!"


Namun masih sepi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Putra sekarang baru merasakan kalau ada yang tidak beres dengan situasi ini. Terselip rasa takut dalam dirinya.


*Gue dimana ini? Siapa yang berani menculik gue? Apa mereka tidak tahu gue anak siapa? Ha ... ha ... Putra tertawa dalam hatinya.*


Baru saja selesai mengoceh dalam hati, pintu kamarnya terbuka, dan lampu kamarpun menyala redup.


"Hey siapa kalian? Kenapa mengikat gue seperti ini hah? Lepasin gue!" teriak Putrs.


"Byurrrr." Seember air menguyur tubuh Putra yang meronta-ronta.


"Akkkhhh! Shiiiit dingin tahu, main guyur aja," rutuk Putra marah dan kesal.


Perlahan Momon mendekati Putra. Dan menyentuh wajahnya dengan ujung senapannya.


"Loe berurusan dengan orang yang salah kali ini, dan bokap loe itu tidak akan bisa berbuat apa-apa, kini tiba saatnya kalian orang sok kaya dan sok berkuasa menikmati kehidupan rakyat jelata," ucap Momon dengan wajah sangarnya tanpa senyum sedikitpun.

__ADS_1


Wajah Putra terlihat menegang, ada segurat rasa takut tergores diwajah tampannya.


*Apa ini orang-orang ayahnya Gladis ya karena gue ancam kemarin? Batin Putra.*


"Kamu nggak usah penasaran begitu, sebentar lagi loe juga akan tahu, siapa yang loe hadapi sebenarnya." Seringai Momon yang tak kalah menakutkan dari serigala seolah tahu benar dengan jalan pikiran Putra.


"Siapa kalian sebenarnya hah? Apa mau kalian?" teriak Putra yang melihat Momon berjalan menjauh menuju pintu.


Namun Momon terus berjalan menuju pintu, ia tidak mengubris teriakan Putra yang terus meronta.


"Hey! Jangan tinggalin gue! Hei bandot tua!" teriak Putra namun tak ada respon dari Momon. Lampu kembali dimatikan dan pintu kamar juga kembali tertutup rapat. Kini yang ada hanya gelap.


Diluar kamar azan subuh mulai terdengar, Momon memerintahkan semua anak buahnya untuk segera membersihkan diri, dan mereka menunaikan sholat subuh berjamaah, yang diimami oleh Monon.


Yah sejak berkerja dengan Nadya keseharian Momon yang dulu jauh dari kata mengenal Tuhan berputar seratus delapan puluh derajat. Karena syarat yang Nadya ajukan waktu itu, ajudan pribadinya harus bisa sholat dan mengaji. Sejak itu Momon terus belajar dan berlatih sampai akhirnya bisa seperti sekarang ini.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


* Sudrun


Samudra


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Cindy Elvira


Ketika Muslimah Jatuh Cinta


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief

__ADS_1


Keteguhan Hati


__ADS_2