
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca🌻
🌻Kantin Rumah Sakit 🌻
Bagaimana Papamu?"
"Alhamdulillah sudah lewat masa Kritisnya, dan operasinya berjalan lancar."
"Alhamdulillah, semoga papamu cepat sehat."
"Aamiin, makasih ya."
"Nih pesanan kita sudah datang, yuk kita makan."
Keduanya mulai makan. Dan Fatim makan dengan lahap karena memang sedang lapar. Dan Abas hanya tersenyum melihat gaya makan Fatim yang cepat.
Saat keduanya hampir selesai makan Hp Fatim berdering.
Mulia cantik indah berseri
kulit putih bersih merahnya pipimu
Dia Aisyah putri Abu Bakar
Istri Rosulullah
"Halo Assalamualaikum Ma."
"Waalaikumussalam Sayang, kamu dimana?"
"Kenapa Ma, apa ini tentang Papa?"
"Iya sayang Papa mau ketemu, kamu cepat kemari ya."
"Iya Ma, Fatim segera kembali."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." Menutup telepon.
Setelah menerima telepon Fatim segera permisi pada Abas untuk kembali ke kamar Bram.
"Emm ... Kak ... gue langsung cabut ya, soalnga Papa mau ketemu." Segera mendorong kursinya dan hendak berlalu.
"Hei!" Teriak Abas.
"Salamnya mana?"
"Assalamualaikum." Melambaikan tangan seraya berlari.
"Waalaikumussalam," jawab Abas pelan sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fatim.
Sepeninggalan Fatim kedua orangtua Abas pun menelepon, mengatakan kalau keduanya sudah menunggu dimobil. Dengan cepat Abas menuju keparkiran.
🌻Kamar Bram 🌻
Fatim berlari secepat yang dia bisa untuk segera memenuhi panggilan Papanya.
"Klek." Pintu terbuka.
"Assalamualaikum." Masuk kedalam.
"Waalaikumussalam," jawab Bram dan Nadya.
"Maaf Pa, apa Fatim telat?"
"Nggak kok Sayang," jawab Nadya.
"Kenapa Pa, ada yang sakit lagi kah? Atau ada yang bisa Fatim bantu buat Papa?" Tersenyum kearah Bram.
"Apa Papa boleh minta sesuatu pada Fatim?"
"Inshaa Allah selagi yang Papa minta bisa Fatim lakukan."
"Sini sayang, Papa ingin memelukmu." Merentangkan tangannya.
Dengan cepat Fatim mendekat untuk memeluk Papanya.
"Maafkanlah Papa yang telah menelantarkanmu." Membelai rambut Fatim.
"Papa minta kamu mau menerima perjodohanmu dengan anak om Rahmat, karena kalau nanti Papa tiada dia bisa menjadi imammu."
"Pa iya Fatim mau asalkan Papa jangan bicara seperti itu, Fatim mau Papa sehat." Memeluk erat Bram.
Nadya segera menyeka air matanya ia tak ingin terlihat rapuh dihadapan dua orang tersayangnya.
"Papa punya satu permintaan lagi pada kamu dan Mama." Melihat Nadya.
"Katakan Pa," ucap Fatim.
"Papa ingin kita sholat berjamaah, dan Papa ingin memakai baju kun putih serta celana putih."
Perasaan Fatim sempat terbesit rasa seperti akan terjadi sesuatu, namun segera ditepisnya. Dengan cepat Fatim menggangguk dan segera memesan baju yang Papanya kehendaki.
Tak lama azan Isya terdengar dari mushola rumah sakit. Dan baju yang Fatim pesan pada Momon pun sudah sampai. Dengan telaten Fatim membantu Bram berganti pakaian dan berwudu.
"Subhanaallah Papa sangat tampan dengan pakaian serba putih," ucap Fatim tulus.
Nadya pun tersenyum dan membenarkan ucapan Fatim.
"Fatim ... Nadya ... percayalah aku sangat menyayangi kalian dunia dan akhirat."
__ADS_1
Nadya dan Fatim saling pandang, keduanya merasa heran dengan ucapan Bram malam ini.
"Pa ... Fatim juga sangat bahagia akhirnya bisa punya Papa, meski kita baru bertemu namun Fatim bisa merasakan ketulusan kasih sayang Papa."
"Nadya kamu Dek, bagaimana perasaanmu?"
"Aku ... aku sangat bahagia Mas, sejak kita berpisah aku selalu menyimpan semua rasa rindu dan cintaku untukmu, meski banyak yang datang menawarkan cinta namun aku tak pernah menerimanya." Menyeka air matanya.
"Terimakasih Nadya, cintamu begitu tulus, dan Fatim terimakasih juga untukmu karena telah memaafkan Papa dan menjadi anak yang sholehah."
"Papa jangan bicara seperti itu, Inshaa Allah jika Allah menghendaki kita pasti akan kembali menjadi keluarga yang utuh Pa." Memeluk Bram erat dan mecium kedua pipinya.
"Sekarang Papa merasa sangat tenang dan senang, semoga kita bisa berkumpul dan bersama dijannah Allah."
"Aamiin," ucap Nadya dan Fatim bersamaan.
"Yuk kita sholat, tapi maaf ya kalau Papa jadi imamnya dari tempat tidur," ucap Bram pelan sambil tersenyum.
"Nggak apa - apa Pa, kami mengerti kok."
Bram pun memulai sholat jamaah pertama mereka, ia meminta ini karena khawatir dengan kondisinya sendiri.
Ushallii fardhal isyaa'i arba'a raka'aatin mustaqbilal qiblati imaaman lillaahita'aalaa
"Allahu Akbar"
Kemudian segera Bram membaca Al Fatihah dan dilanjutkan dengan membaca Ayat Kursi. Kemudian dilanjutkan dengan rakaat kedua dan ketiga, namun dirakaat keempat Fatim tak lagi mendengar suara Papanya lama dia menunggu namun tak juga ada lanjutan bacaan dari Papanya.
Dengan cepat Fatim melanjutkan bacaan rakaat keempat dan segera mengakhirinya dengan salam. Setelah selesai segera Fatim dan Nadya menghampiri Bram ditempat tidur. Bram telah tertunduk tak bergerak.
"Ya Allah Pa ... Papa." Menepuk pipi Bram.
"Mas ... Mas ... kamu kenapa Mas." Mengoyangkan badan Bram yang masih diam tak bergerak.
Dengan cepat Fatim segera menekan bel, tak lama tim dokter pun segera datang. Melihat Fatim dan Nadya yang masih menggunakan mukena dengan linangan air mata segera memeriksa kondisi Bram.
Perlahan tim medis membaringkan tubuh Bram dan mulai memeriksanya.
"Ibu dan Adek harap bersabar ya sepertinya Bapak Bram sudah berpulang ke rahmatullah."
"Tidak Dok itu tidak mungkin, Papa baru saja jadi imam sholat kita, ini tidak mungkin."
"Fatim istiqfar Sayang," ucap Nadya.
"Tidakkkkk ... tidakkkkkk ... Papaaaaaaa," Teriak Fatim histeris, hatinya sangat hancur dan terluka, perasaan sedihnya tak bisa ia bendung.
"Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, wa inna ilaa rabbina lamunqalibuun, allahummaktubhu ‘indaka fiil muhsinin, waj’al kitaabahu fii ‘illiyyiin, wakhlufhu fii ahlihi fil ghaabirin, wa laa tahrimnaa ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu.”
Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Dan sesungguhnya kepada tuhan kamilah kami kembali. Ya Allah, tuliskanlah ia di sisi-Mu termasuk golongan orang-orang yang baik. Jadikanlah catatannya di ‘illiyyin. Gantilah ia di keluarganya dari orang-orang yang menginggalkan. Janganlah engkau haramkan bagi kami pahalanya dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya.”
"Sayang tenangkan dirimu, ingat apa yang Mama ucapkan itu, kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah," ucap Nadya memeluk Fatim dengan erat.
"Iya sayang kita harus ikhlas, Mama juga sangat hancur dan sedih kehilangan Papa, orang yang sangat Mama cintai, tapi Mama berusaha untuk menerima semuanya dengan ikhlas dan tegar sayang."
"Kita harus bangga dan bahagia, Papa bisa berpulang dalam keadaan yang sangat mulia, ingat pesan Papa, ia mengharapkan kita bisa berkumpul di janah Allah."
Fatim hanya bisa terisak, tak ada kata yang dapat ia ucapkan, ia memandang wajah Bram yang yang tenang dan teduh, tersenyum menyambut panggilan Allah.
"Papa ... aku sangat mencintaimu, dan inshaa Allah aku akan memenuhi semua keinginan Papa," ucap Fatim memeluk tubuh Bram yang sudah tak bernafas.
"Maafkan kami Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Allah berkehendak lain," ucap Dokter.
"Iya Pak, kami mengucapkan banyak terimakasih atas kerjasama dan usaha yang telah kalian lakukan terhadap suami saya," ucap Nadya serak.
Fatim memeluk erat tubuh Bram seolah ia tak mau berpisah dengannya.
"Sayang ... ikhlaskan kepergian Papa, sini peluk Mama, biarkan tim dokter membuka peralatan medis Papa." Meraih Fatim dalam pelukannya.
Baru kali ini Nadya melihat Fatim sangat terpuruk dalam kesedihannya. Dan ia berusaha untuk menguatkan putrinya, meski sesungguhnya hati Nadya lebih hancur berpisah dengan belahan jiwanya yang baru saja mereka akan merajut asa.
"Sayang kita harus kuat dan ikhlas, supaya Papa juga tidak bersedih melihat kita ya." Mengelus kepala Fatim lembut.
"Fatim masih merasa tak percaya Ma kalau Papa sudah tiada, setelah 16 tahun baru saja Fatim merasa bahagia punya seorang Papa, baru saja Fatim merasa diimami oleh Papa, namun mengapa Papa pergi secepat ini." Kembali menangis.
"Cup Sayang udah ya kamu harus tegar, anak mama bukanlah anak yang cenggeng dan mudah putus asa, kamu anak yang kuat Nak, makanya Allah memberi kita ujian yang berat ini karena Allah percaya kita mampu melewatinya dengan ikhlas."
"Mama telepon Om Pram dulu ya, kamu yang sabar dan kuat." Menepuk pundak Fatim.
Sambil memeluk Fatim, Nadya menelpon keluarga Pram.
"Halo assalamualaikum, Pram!"
"Waalaikumussalam, kenapa suara mu serak seperti habis menangis Nad? Apa yang terjadi?"
"Hiks ... Mas Bram ... dia ... dia telah meningfalkan kita semua," ucap Nadya kembali berlinang air mata.
"Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, kamu yang benar Nad?"
"Iya Kang, tadi pas kami sholat isya berjamaah."
"Kamu yang sabar ya, kami segera kembali kerumah sakit, soalnya ada amanah beliau yang ingin aku sampaikan pada kamu dan Fatim."
Pram segera menutup telepon dan bergegas kerumah sakit.
Kini tubuh Bram yang terbalut koko putih dan celana putih telah ditutupi dengan kain, Nadya dan Fatim terlihat mulai tergaremera kenyataan pahit yang baru saja mereka alami.
"Sayang kita baca Yasin buat Papa ya."
"Iya Ma, Fatim wudu dulu." Berlalu menuju ke toilet.
Sayup - sayup keduanya mulai membaca lantunan ayat - ayat suci Alquran untuk menemani tidur panjang imam tersayang keduanya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama keluarga Pram sudah datang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Ya Allah Dek kamu yang sabar yo," ucap istri Pram memeluk Nadya.
"Iya Mbak Yu, terimakasih banyak, doakan saja Mas Bram husnul khotimah inshaa Allah."
"Aamiin ya Allah."
"Nadya ini surat wasiat yang Bram tinggalkan untuk kalian berdua, surat ini beliau tulis saat aku sudah menemukan kalian tempo hari." Menyerahkan amplop coklat.
Perlahan Nadya menerima dan membuka amplop coklat tersebut.
**Teruntuk istri dan anakku tercinta*
*Saat kalian membaca suratku ini tentunya aku dan kalian telah berpisah alam, pertama - tama izinkann aku meminta maaf karena telah meninggalkan kalian tanpa pesan, namun ketahuilah aku masih sangat mencintaimu Nadya dan juga putri kita Fatim.*
*Saat Pram bilang kalau kamu menamai anak kita dengan nama Fatimah Ananbra yang artinya Fatimah anak Nadya dan Bram, hatiku sangat senang, namun aku malu untuk bertemu kalian.*
*Sejak berpisah darimu hidupku penuh dengan derita zohir dan batin, namun aku berusaha tegar, setiap malam aku dihantui rasa bersalah karena telah menggantungkan nasib hidupmu Nadya sayang, rasa itu semakin menyiksaku, hingga aku tak bisa makan, dan minum, ataupun tidur.*
*Aku masih punya aset berharga yang mungkin berguna untukmu dan anak kita, aku memiliki perkebunan teh yang luasnya kurang lebih lima hektar, yang setiap bulan penghasilannya selalu aku tabung untuk dirimu dan putri kita, didalam amplop ini. sudah aku buatkan dalam sebuah buku tabungan atas namamu satu dan nama Fatim satu.*
*Aku sangat menyadari jika sakitku ini sudah sangat parah, dan tak akan mungkin dapat disembuhkan lagi kecuali atas mukjizat Allah, oleh karenanya aku hanya meminta pada Allah agar jangan membawaku pergi sebelum aku bisa menjadi imam sholat untukmu dan putri kita dan semoga Allah mengabulkannga.*
*Nadya sayang terimakasih telah menjadi bagian dalam hidupku yang singkat ini, terimakasih telah memberikan aku seorang putri yang sangat cantik, pemberani, perduli pada sesama dan tentu saja shalihah.*
*Kini aku bisa pergi dengan tenang, tetaplah menjadi wanita yang kuat, mandiri dan shalihah, aku ingin kamu dan Fatim segera berhijab, agar aku juga bisa terbebas dari siksa api neraka yang panas.*
*Peluk dan ciumku untukmu dan Fatim, aku selalu mencintai kalian dulu, sekarang, dan nanti, satu lagi makamkan aku disamping kuburan ibu dan ayah ya, biarlah kita terpisah oleh ruang dan waktu namun kita tetap menyatu dalam ketulusan hati dan kasih sayang dalam ikatan sebuah keluarga yang bersatu karena Allah.*
*Semoga kita sekeluarga akan kembali bersama di jannah Allah yang sangat indah, doakan aku selalu dalam doamu anak shalihahku.*
*Aku yang selalu mencintai kalian berdua Bramantio bin Syamin*.*
Derai air mata Fatim dan Nadya tak terbendung lagi, apa lagi saat membuka buku tabungan itu yang tak sedikit jumlahnya masing - masing berjumlah 5 M, uang yang Bram hasilkan selama belasan tahun,ia rela. hidup menderita demi kedua wanita tersayangnya Fatimah dan Nadya.
Kini Nadya harus merelakan makan suaminya harus di Yogyakarta, kota yang meninggalkan beribu kenangan bagi Nadya dan Fatim.
🌻Kediaman Pram 🌻
Kini prosesi pemakaman Bram telah selesai, Nadya dan Fatim hendak pulang kembali ke Jakarta, dan Fatim telah menyedekahkan setengah dari tabungan miliknya untuk masjid dilingkungan sekitar atas nama Bramantio bin Syamin, dan setengahnya lagi ia sedekahkan untuk biaya sekolah kedua anak Pram.
Perkebunan Teh itu tetap akan menjadi milik Fatim namun hasilnya sebagian akan disedahkan untuk penduduk desa setempat yang masih perlu dibantu.
"Mas ... Mbak Yu ... kami pamit ya." Memeluk istri Pram.
"Terimakasih untuk semuanya Dek, kamu dan Fatim sungguh berhati mulia, nanti setiap bulannya Mas Pram akan melaporkan hasil perkebunan itu ya Dek."
"Iya Mbak, inshaa Allah saya dan Fatim percaya pada kalian."
"Kami pamit ya, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Kini mobil Nadya dan Fatim telah meluncur meninggalkan Yogyakarta, Fatim membawa semua kenangan indahnya bersama Bram pulang, meski hanya sebentar cukup membuat Fatim merasa menjadi seorang anak yang paling bahagia pernah memiliki keluarga yang utuh.
🌻Jodoh, rezeki, bala, dan maut, adalah rahasia yang tak pernah kita tahu, namun telah terukir jelas ditakdir kehidupan seseorang, semoga kita termasuk dalam golongan orang - orang yang husnul khotimah, aamiin.🌻
Bersambung.....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.
dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
* Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
* Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Sudrun
Penjelah Malam
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
*Sisca Nasty
Mafia In Love
__ADS_1