
Kak Dimas mau ngajakin gue jengguk pacar loe Kak Rangga, sakit tapi gue nggak mau," jelas Fatim.
"Pliss Fren mau ya, gue juga mau ikut nebeng jengguk ayang beb gue." Melihat Fatim dengan wajah memelasnya.
"Loe beneran mau nyuruh gue pegi? Kalau nanti loe dikacangin gimana?"
"Nggak akan, secarakan Ayang Beb gue itu baik dan perhatian."
"Oke kalau begitu nanti loe gue anterin kerumah calon mertua loe."
Keduanya tertawa sambil bergandengan tangan menuju aula musik.
*****
Aula Musik ...
Semua anak kelas 10 IPA 1 sudah memenuhi ruang aula, setelah mendapat pengarahan dari guru pembimbing barulah mereka menuju ketempat alat musik yang mereka sukai seperti Fatim dan Ikhsan, mereka memilih berlatih bermain gitar dengan beberapa teman prianya. Sedangkan Yati bersama Adel memilih bermain pianika, ada juga anak yang memilih bermain drum, okolele, biola, gendang, bahkan rebana, semua alat musik di aula ini sangat komplit bin lengkap, dari alat musik modern sampai alat musik tradisional ada.
Semua anak tampak antusias dalam belajar hingga tidak terasa dua jam sudah mereka berkolaborasi berbagai macam alat musik.
Bel panjangpun telah berbunyi yang menandakan waktu pulang telah tiba. Semua anak sudah berhamburan keluar kelas dan ruangan aula musik. Begitu juga demgan Fatim dan Yati. Keduanya segera menuju ke tempat parkir. Disana sudah menunggu seorang Dimas yang tampan.
"Selamat sore adek - adek kakak yang cantik seperti bidadari yang turun dari taksi," sapa Dimas lembut dengan senyum istimewanya. karena diapun ingun merebut simpati Fatim, mumpung nggak ada Rangga.
"Sore Kak," jawab Fatim dan Yati bersamaa.
"Kita jadi pergi?"
"Jadi dooong," jawab Yati sedikit lebay.
"Pletek," Fatim menjitak kening Yati.
"Auww ! Sakit Fren." Mengusap keningnya.
"Makanya nggak usah lebay deh jawabnya." Melirik Yati dengan cemberut.
"Iya deh, maaf!" Tersenyum manis.
"Oke kita berangkat tapi naik mobil kakak ya." Membukakan pintu mobil.
"Oke Kak," jawab Yati langsung naik dan duduk manis didalam mobil Dimas.
"Fren loe nggak naik?" Melihat kearah Fatim.
"Iya, Fatim ayo naik!"
"Maaf Kak, gue naik motor gue aja, nggak apa - apa Yati aja yang bereng Kakak," jawab Fatim lembut.
"Tapi ... Fatim ...." Dimas tidak melanjutkan ucapannya karena Yati udah nyeletuk duluan.
"Iya Kak nggak apa - apa deh, biar Yati aja yang nemenin Kakak." Tersenyum lebar sangat manis.
Belum Dimas ataupun Fatim menjawab tiba - tiba aja Gladis Cs sudah ada didekat mobil Dimas.
"Loe mau kenapa Dim?" Tanya Gladis.
"Bukan urusan loe kali," jawab Dimas sewot.
"Gue denger loe mau ngajak nih curut naik mobil loe, dan dia sok jual mahal mau naik motornya saja, bener begitu?"
Dimas diam tidak mau meladeni Gladis yang pasti akan tambah jadi nanti.
"Kenapa loe diem curut, asal loe tahu ya cewek kampung kayak loe nggak pantes naik mobil mewah seperti mobil Dimas ini." Mengusap mobil Dimas yang memang salah satu mobil limeted edition.
Fatim dan Dimas masih Diam.
"Heh Curut loe budeg kali ya, atau loe ...." Gladis tidak melanjutkan ucapannya karena dimarahi Dimas.
"Loe bisa diem nggak Dis!"
"Dan loe nggak punya hak menghakimi orang seperti itu, gue aja nggak keberatan Fatim naik mobil gue, lah kenapa loe yang sewot hah?"
"Denger ya Dim, gue nggak suka loe bela cewek curut ini, awas loe ya Fatim ! Gue akan buat perhitungan dengan loe." Menunjuk kearah Fatim.
"Yuk gaes kita cabut, nggak mutu banget ngobrol sama orang nggak berkelas macam dua curut ini, cih!" Meludah didepan Fatim.
Yati sudah pucat didalam mobil sedangkan Fatim berusaha tetap tenang dan sabar.
"Fatim maafin ucapan Gladis ya, nggak usah diambil hati," ucap Dimas cemas.
"Santai aja Kak, gue nggak apa - apa kok, udah tahu juga kok Gladis kayak gimana," jawab Fatim tersenyum.
"Oke, kita berangkat ya, Yati loe ikut Kakak ya?"
Yati mirik kearah Fatim meminta persetujuan temannya yang super baik itu. Dan Fatimpun menggangguk.
"Iya Kak," jawab Yati.
Mobil Dimaspun segera meluncur dan diikuti oleh Fatim dibelakangnya. Tanpa mereka tahu Gladis Cs juga membuntuti mereka.
Disepanjang jalan menunu rumah Rangga Dimas sesekali berbincang dengan Yati.
__ADS_1
"Yat ... loe udah lama kenal Fatim?"
"Belum Kak, pas sekolah disini gue baru ketemu Fatim."
"Tapi kalian tampak akrab."
"Ya itu karena Fatim orangnya asyik dan baik."
"Oh ya, Fatim itu sifatnya bagaimana sih menurut loe?"
"Dia ramah, cantik, baik, suka menolong orang lain tanpa pamrih, tapi ...." Yati tidak melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa Yati ... loe buat gue penasaran saja."
"Sebenarnya gue juga nggak tahu, tapi Fatim sangat tidak mau untuk jatuh cinta, sepertinya ia punya trauma yang sangat besar tentang cinta," jelas Yati.
Dimas terdiam, dia larut dalam lamunannya.
*Sebenarnya apa yang tersimpan dibalik wajah cantikmu Fatim, sifat mandiri dan tomboymu membuat aku semakin penasaran, andai Rangga tak memyukaimu tentu aku akan mendekatimu, sekarang hanya tahu sedikit tentangmu membuatku semakin penasaran padamu Fatim, sepertinya aku akan jadi saingan berat loe Rangga, batim Dimas sambil tersenyum.*
"Kakak kok senyam - senyum sendiri sih, mencurigakan tahu." Melirik Dimas penuh selidik.
Dimas yang merasa ketahuan sedang menghayal menjadi sedikit gugup.
"Eh ... anu nggak apa - apa kok, Kakak cuma senang loe mau jujur sama Kakak," ucap Dimas mengalihkan pembicaraan.
*****
Mobil Gladis...
"Hei ... Dis bukannya ini jalan menuju kerumah Ayang loe si Rangga ya?" Tanya Riska.
"Iya loe benar, gue juga nggak tahu mengapa Dimas mengajak curut itu kerumah Rangga."
"Awas saja, kalau dia mau macam - macam dengan Ayang gue, gue nggak akan tinggal diam, bila perlu gue nggak akan segan - segan melenyapkan kedua curut itu," ucap Gladis penuh amarah.
Mereka semua tertawa senang dengan kemarahan Gladis yang terkesan sangat macho.
*****
Rumah Rangga ...
Setelah hampir satu jam berkendara mereka tiba disebuah rumah yang sangat mewah. Sebuah rumah bernuansa kuning gading menjulang tinggi bak istana yang membuat seorang Yati ternganga.
"Ya Allah ... ini beneran rumah apa istana ya," gumam Yati.
Dimas yang melihat tingkah Yati hanya tersenyum.
"Iya Kak ini baru pertama kali gue lihat rumah megah kayak istana," jawab Yati polos.
Dimas hanya hanya diam dan tersenyum.
Mobil Dimas perlahan berhenti tepat didepan pintu utama rumah Rangga, diikuti motor Fatim, dan dari kejauhan parkir juga mobil Gladis.
"Yuk Turun," ajak Dimas.
Fatim dan Yati mengikuti Dimas dari belakang.
"Fren jaga sikap loe, jangan nampak kalau kita berdua bukan orang berada ," ucap Fatim mengingatkan Yati yang suka alai.
"Iya, gue inget kok pesen loe mak." melihat Fatim dengan wajah polosnya.
"Mulai dah, kapan coba gue kawin sama baoak loe, manggil gue mak." Berjalan meninggalkan Yati.
"Ha ... ha ... lucu deh wajah loe Fren." Mengejar Fatim.
Rombongan Gladis pun ikut turun, dan segera menuju ke pintu utama yang tadi dilewati Dimas, Fatim, dan Yati. Tetapi baru beberapa langkah mereka telah disetop oleh security.
"Maaf Neng kalian dilarang masuk!"
"Eh loe nggak tahu gue siapa? Main larang - larang saja, gue ini calon mantu keluarga ini tahu, tunggu aja nanti kalau gue udah sah jadi nyonya dirumah ini loe akan gue pecat," teriak Gladis.
"Tapi ini perintah dari tuan Rangga kalau Neng Gladis dilarang masuk."
"Gue nggak peduli, pokonya gue masuk, heh loe Riska, Shinta, dan Rini pegangin nih satpam gue mau masuk !" Perintah Gladis.
Akhirnya dengan berbagai macam cara Gladis Cs bisa masuk kerumah Rangga.
"Ruang Tamu ....
"Selamat sore Tan."
"Sore ... oh ini teman - teman wanita Rangga ya Dim, yang mana nih calonnya Rangga?"
Fatim dan Yati tersenyum melihat kearah Mamanya Rangga.
"Nggak ada kok Tan, kita cuma teman aja," jawab Fatim ramah, sementara Yati wajahnya sudah cemberut.
"Tuh muka kenapa ?" Tanya Fatim dengan senyum yang ditahan.
"Gue bete, loe sih kok nggak ngenalin gje sih sebagai calonnya Kak Rangga," ucap yati berbisik.
__ADS_1
"Loe mau jadi makanan si nenek sihir?"
"Maksud loe ... Gladis?"
"Hmmm."
"Nggak, takut gue."
"Makanya diem lebih baik deh."
Melihat Yati dan Fatim sedang berbisik - bisik, Dimas dan Mamanya Rangga serentaj kasih kode.
"Ehmmm."
Serentak Fatim dan Yati menoleh dengan senyum yang terpaksa.
"Kalian jadikan mau jenguk Rangga?"
"Jadi kok Tan," jawab Dimas.
"Ajak saja mereka naik ke lantai dua ya, Rangga udah nungguin dikamarnya dari tadi, nanti tante nyusul bawa camilan ya." Berjalan menuju dapur.
Dimas, Fatim, dan Yati segera berjalan menuju kamar Rangga. Wajah Yati sudah merah merona karena menghayal ia akan bertemu pangerannya.
Dibawah Gladis langsung masuk dan diiringi oleh teman - temannya. Melihat Mama Rangga menuju kedapur Gladis langsung ikut kedapur untuk membantu Mama Rangga membuat camilan.
"Sore Tan, Gladis bantu ya."
Mama Rangga sedikit kaget pasalnya dia tahu kalau Rangga sedang tidak mau ketemu Gladis. Namun karena orangnya sudah datang Mama Rangga nggak enak mengabaikannya.
"Biar aja sayang tante udah selesai kok tinggal membawanya ke atas saja."
"Ya udah deh Tan, biar Gladis aja yang bawa."
Akhirnya Mama Rangga mengalah. Perlahan Gladis membawa camilan itu keatas, saat tiba disana ia segera memasang senyum terindahnya yang akan membuat Rangga dan Dimas meleleh tentunya.
"Haii ... camilannya datang ...."
Seketika wajah Yati menjadi pucat dan Fatim tak bisa menyembunyilan senyum lucunya yang melihat wajah Yati udah seperti mayat hidup.
"Santai bro," bisik Fatim.
" Kok gue pengen pipis ya."
"Masih mau loe jadi Ayangnya Kak Rangga?"
"Nggak takut gue ada nenek sihirnya."
Sementara itu wajah Dimas dan Rangga langsung berubah, karena mereka tahu sifat Gladis.
"Eh curut nih dimakan camilannya, loe berdua pasti kagetkan ngelihat rumah yang gede kayak istana gitu, dan loe pastinya juga belum pernah nyicip makanan yang mewah kayak gini, ayo cobain biar nggak penasaran gimana rasanya makanan mahal."
"Dis ... loe apa - apaan sih, bisa diem nggak loe," bentak Rangga.
"Ayang loe nggak boleh malah - marah, loe kan lagi sakit, gue suapain makan ya."
Akhirnya Fatim mengajak Yati untuk pamit undur diri, dan Fatim sengaja mengeluarkan bingkisan mahal yang dia bawa untuk Rangga agar Gladis bisa melihatnya.
"Sorry Kak ya kita nggak bisa lama, karena masih kerjaan, nih ada sedikit bingkisan buat Kakak semoga lekas sehat ya." Memyalami Rangga dan segera keluar kamar.
Yati juga bergegas menyusul Fatim setelah bersalam dengan Rangga.
"Loe lihatkan Dis, bingkisan yang ditinggalin Fatim lebih mahal dari makanan yang loe suguhkan itu, makanya jangan anggap rendah orang lain."
"Eh Ayang, biasa aja kan dia belinya pake uang tabung dia kerja di Cafe itu yang tempo hari."
"Itu lebih bagus Dis, dia belinya pake hasil keringat sendiri nggak kayak loe, minta terus sama papi loe."
"Ihhh Ayang bikin kesel deh," ucap Gladis cemberut.
Tiba - tiba Mama Rangga datang mebawa camilan tambahan.
"Loh ... tamunya yang dua gadis cantik tadi mana?"
"Udah pulang, nih gara - gara Gladis yang suka jutek sama orang," ucap Rangga dengan wajah cemberut.
"Ya udah dari pada mubazir, kamu panggilin gih Dia teman - teman kamu yang ada dibawah."
Sementara itu Fatim dan Yati sudah meninggalkan rumah Rangga.
"Yati loe ikut gue kesuatu tempat ya, gue mau kasih kejutan buat loe."
"Asyikkk kejutan apa Fren?" Sambil berteriak karena laju motor Fatim yang kencang.
"Yeee ... kalau gue kasih tahu bukan kejutan dong."
Yati hanya tersenyum, dia sangat bersyukur telah Allah kirimkan seorang teman yang berhati malaikat untuknya. Keduanya telahelaju kencang membelah keramian jalan dikota Jakarta menjelang malam hari.
Bersambung....
Terimakasih ya sudah membaca karyaku ,jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.
__ADS_1
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Karyaku Nyanyian Takdir Aisyah dan novel favoritku : Arsitek Cantik, Cinta Untuk Dokter Nisa , My Secret Wife, Putih Abu - Abu, Melawan Rasa Takutku. Aku tunggu ya 😍