
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
*****
My Cafe ....
"Aduhhh sakittt! Tapi eh kok gue nggak jatuh ya dan rasanya malah empuk," gumam Yati.
"Loe baik-baik aja kan, Yati?" tanya kak Wawan.
"Eh gue ... maaf Kak!" Dengan cepat Yati segera bangun dari tubuh Wawan yang ternyata telah menjadi alas tubuh Yati saat terjatuh tadi.
Melihat sahabatnya yang terjatuh Fatim sudah dapat menebak siapa yang di temui di meja sepuluh. Dan saat ini tibalah giliran Fatim menuju meja delapan.
*Kira-kira siapa ya tamu spesial di meja delapan? Fatim bertanya-tanya dalam hatinya. Yang membuatnya merasa sangat penasaran.*
Dengan santai Fatim membawakan pesanan menuju meja delapan dan dia sangat kaget saat melihat pengunjung yang ada di meja sepuluh. Ini benar-benar di luar pemikirannya. Di sana telah duduk seorang pemuda dengan seorang wanita paruh baya yang sedang membelakanginya, keduanya tampak sedang asyik mengobrol. Fatim menjadi ragu untuk melangkahkan kakinya. Dia sangat hafal dengan pemuda yang ada di meja sepuluh itu, tetapi dengan siapa dia mengobrol itu yang membuat Fatim ragu.
Fatim hendak berbalik namun pemuda itu telah melihatnya.
"Dek! Itu kamu kan? Nggak nyangka kita ketemu di sini. Apa kamu kerja di sini bukannya kamu anak bu Nadya dan kamu tinggal di perumahan elit?" tanya pemuda itu.
Dengan berat Hati Fatim berbalik dan tersenyum, mau pergi itu tidak mungkin. Perlahan Fatim berjalan mendekat dan meletakkan pesanan di atas meja dan menyusunnya dengan rapi.
"Silahkan dinikmati!" ucap Fatim tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan pemuda itu. Yah pemuda itu adalah dokter Haris yang sedang bersantap bersama sang ibu. Dia sudah lama menjadi pelangan My Cafe tapi baru kali ini ia bertemu Fatim.
Fatim segera beranjak dari tempatnya berdiri, dia ingin segera pergi menjauh dari meja delapan. Namun dokter Haris mencegahnya.
..."Dek! Tunggu dulu. Kenalkan ini ibu saya!" ucap Dokter Haris yang membuat langkah Fatim terhenti. ...
Fatim tidak mungkin akan menolak untuk menghormati orang tua dokter Haris. Terpaksa ia segera memutar balik tubuhnya untuk kembali ke meja delapan, dan berjalan mendekat.
"Bu kenalkan ini gadis yang Haris ceritakan," ucap Haris pada ibunya.
"Saya Fatim," ucap Fatim sambil menyalami dan mencium punggung tangan ibunya dokter Haris. Tentu saja disambut hangat oleh Hana, ibunya dokter Haris.
"Hana, panggil saja tante Hana." Hana tersenyum manis sambil menerima salaman Fatim.
"Kamu sudah lama kerja di sini?" tanya Hana.
"Iya sudah lama, Tan," jawab Fatim singkat.
"Kita langganan lama Cafe ini loh, tapi kok kita nggak pernah ketemu ya?" tanya Hana lagi.
"Iya, soalnya saya jarang tampil di depan hanya sesekali saja. Baru sekarang-sekarang sering ikut bantu di depan," jawab Fatim sopan. Dokter Haris hanya tersenyum mendengarkan obrolan kedua wanita istimewa dalam hidupnya.
"Baiklah Ibu saya permisi dulu karena masih mau mengantarkan pesanan tamu yang lain." Fatim mohon pamit dengan sopan yang tentu saja tak bisa di cegah oleh Hana maupun Haris.
"Baiklah, kapan-kapan kita boleh mengobrol lagi ya," pinta Hana pada Fatim.
"Iya Tan, inshaa Allah. Saya permisi Dok!" Fatim menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda penghormatan pada kedua tamu istimewa di meja delapan.
Fatim berjalan dengan sedikit tergesa menuju ke tempat Wawan dan di sana juga telah menunggu sahabatnya, karena sudah masuk jam istirahat untuk keduanya sebelum pulang ke rumah.
"Bagaimana Frenku?" tanya Yati yang penasaran melihat wajah sahabatnya yang sedikit ditekuk.
"Kak kok mereka di bilang tamu spesial sih?" Protes Fatim pada Wawan tanpa memperdulikan pertanyaan sahabatnya.
"Ya iya lah mereka tamu spesial yang ada di meja delapan dan meja sepuluh, soalnya yang di meja sepuluh itu dibilang spesial karena mereka para Ceo muda yang selalu memesan makanan dengan budget tertinggi. Sedangkan yang meja sepuluh itu adalah tamu setia My Cafe dari sejak pertama kita buka sampai sekarang," jelas Wawan pada dua gadis cantik yang ada dihadapannya saat ini.
"Hmmm begitu ya, tapi nggak seru," cetus Yati yang membuat Fatim dan Wawan tertawa.
*****
Kini sudah waktunya Fatim dan Yati pulang, keduanya segera pamit pada Wawan dan teman-temannya yang lain. Saat hendak berjalan menuju pintu keluar Wawan menyapa keduanya yang menghentikan langkah keduanya.
__ADS_1
"Fatim-Yati! Tunggu sebentar." Wawan berlari menghampiri keduanya.
Fatim dan Yati yang sedang bergandengan tangan pun berhenti.
"Kenapa Kak?" tanya Fatim.
"Iya kenapa?" tanya Yati juga.
Wawan yang sampai dihadapan keduanya menjadi sedikit gugup.
"Kenapa Kak, apa ada yang tertinggal?" tanya Fatim melihat perubahan raut wajah Wawan.
"Emhhh a-apa Kakak boleh anterin Yati pulang?" ucap Wawan terbata.
"Apaaa?!" Yati kaget mendengar permintaan Wawan.
Fatim tersenyum sambil menyenggol lengan Yati.
"Loe mau nggak? Seumur-umur gue kenal kak Wawan, baru elo cewek yang dia tawari." Fatim menaik turunkan alisnya sambil menatap wajah sahabatnya yang sudah tampak gugup.
"Gue eh aku ... a-." ucapan Yati terjeda karena Fatim meledaknya.
"Cie gue nya ilang ganti aku ... aku ...aku mau, Kak!" ledek Fatim pada sahabatnya.
"Apaan sih loe Fren, gue kan malu. Mau jual mahal dikit," jawab Yati sambil malu-malu yang membuat sebuah senyum terukir di wajah tampan Wawan.
"Jadi apa tawaran kakak di terima?" Wawan melirik pada Yati.
"Neng, mau nggak?" Fatim masih meledak sahabatnya.
Dengan malu-malu akhirnya Yati menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan yang membuat Fatim semakin jadi untuk meledeknya.
" Cieeee ojek gue nggak laku lagi kayaknya mulai sekarang." Fatim tersenyum bahagia saat melihat sahabatnya merasa bahagia. Ia sangat bersyukur seandainya Yati bisa menjadi sepasang kekasih dengan kak Wawan yang memang adalah lelaki yang sangat baik.
*****
Tentang Wawan ....
Kala itu Nadya turun dari mobil hendak menuju hotel. Hujan turun sangat deras mengguyur kota kembang kala itu. Tiba-tiba anak lelaki tampan dengan tubuh kurus dan rambut yang sudah basah memayunginya.
Nadya awalnya curiga tetapi setelah melihat anak lelaki itu dari balik kaca mobilnya barulah dia faham jika anak lelaki itu ojek payung. Nadya segera turun dan anak lelaki itu mengikutinya sampai kedepan pintu loby hotel.
Nadya memberikan uang tip sebagai bayaran sewa payungnya. Namun anak lelaki itu menolaknya dengan alasan ia ikhlas membantu Nadya yang sedang mengejar waktu buat suatu urusan meski dia sendiri tidak tahu urusannya apa.
"Siapa namamu?" tanya Nadya kala itu.
"Ari Hermawan, biasa di sapa Wawan," jawab anak lelaki itu.
"Baiklah kamu tolong tunggu saya di sini, mau?"
"Baiklah saya akan tunggu ibu sampai hujannya reda. Jika sudah reda saya akan pergi, itu tandanya ibu tidak akan membutuhkan payung saya lagi," jelasnya.
"Tunggu bukan seperti itu. Aku hanya ingin mengobrol denganmu sebagai ucapan terimakasihku." Nadya berlalu sambil menepuk pundak anak itu.
Dengan setia Wawan menanti Nadya selesai hingga tertidur di kursi depan pintu lobi. Saat itulah Nadya datang dan membawakannya selimut yang selalu ada di mobilnya.
Sekarang giliran Nadya yang duduk menanti dengan sabar menunggu anak lelaki itu untuk bangun.
Setelah hampir setengah jam anak lelai itu akhirnya bangun.
"Tante sudah datang, maaf saya ketiduran." Wawan memperbaiki posisi duduknya.
"Tante sudah mau pulang? Apa masih hujan di luar?" tanyanya bingung.
" Nggak tante hanya ingin mengobrol."
Mulai lah pertanyaan dari tinggal dimana, umur berapa, orangtuanya mana, dan banyak lagi. Setelah mendengarkan penjelasan Wawan hati Nadya semakin tersentuh. Sejak itu lah ia mengajak Wawan untuk ikut ke Jakarta. Akhirnya wawan di sekolahkan oleh Nadya hingga lulus kuliah dan bisa mengelola My Cafe seperti sekarang. My Cafe murni usaha Fatim sendiri dengan di bantu oleh Wawan sebagai manajernya.
__ADS_1
Jika kita mau berusaha maka tidak ada yang tidak mungkin karena jodoh, rezeki, bala dan maut sudah ditentukan.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra'd:11). ... “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui,“ (QS. Al-Baqarah: 216).
Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
Ceo dingin dan Gadis Kampung
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Ceo Somplak
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Syala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
__ADS_1
*Oktavia Tresiani
Pacarku Hantu