
Sepeninggalan Abas dan Beno ke mushala, gadis manis berhijab natural itu segera melangkah menuju kamar mamanya, Nadya.
"Assalamu'alaikum, Ma. Gimana? Udah baikan?"
Gadis cantik itu duduk di tepi ranjang Nadya, ia reflek menempelkan punggung tangannya ke dahi wanita telah memghadirkannya ke dunia ini.
"Udah nggak demam, alhamdulillah" ucapnya lega.
"Mama udah baikan kok, tinggal nunggu dokter aja, mama mau minta pulang."
"Eh, mana boleh minta pulang, Mama belum pulih. Fatim nggak setuju." Gadis itu sengaja menekukkan wajahnya untuk mengekpresikan kekesalannya.
"Tapi, Tim ...."
Stssss!
Gadis itu sudah meletakkan satu jari tangannya ke mulut sang Mama. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.
"Mamaku sayang harus sehat dulu baru boleh pulang, makanya sekarang makan dulu ya, biar Fatim yang suapin."
Gadis bermata bening itu segera mengeluarkan rantang titipin Bi Inah, seketika aroma bening bayam yang harum segera merobek indera penciuman Nadya.
Kruyuuuukkkk!
Keduanya saling pandang dan akhirnya tertawa.
"Dasar perut tak bisa dibohongi," celetuk gadis berhidung bangir itu diiringi derai tawa sang Mama.
Nadya sangat bersyukur mempunyai anak gadis seperti putrinya ini, begitu penyayang dan perhatian meski terkadang dia melanggar kesepakatan tetapi tetap masih dalam koridor yang wajar.
Dengan telaten gadis manis itu menyuapi mamanya, tanpa mereka sadari seorang lelaki tampan telah berdiri diambang pintu. Dirinya semakin terpesona pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Terbesit rasa nyeri ketika teringat dua hari lagi mereka akan benar-benar terpisah oleh jarak, ruang, dan waktu yang cukup lama. Bisa tiga atau empat tahun.
Dalam benaknya lelaki yang mulai dewasa itu pun enggan untuk berpisah namun, semua harus dilakukan demi cita-cita dan masa depan keduanya.
"Assalamu'alaikum," ucap lelaki tampan itu sambil memasang sebuah senyuman.
Kedua wanita beda usia yang sangat dicintainya itu segera menjawab dengan kompak, kemudian Nadya meminta menantunya untuk duduk di depannya.
"Mama udah baikan?"
"Alhamdulillah, kamu jadi berangkat besok?" Nadya meminta segelas air pada putrinya lalu meminumnya perlahan.
__ADS_1
"Insyaallah jadi, Bu." Abas kembali tersenyum.
Wanita yang hampir mendekati usia paruh baya itu menatap wajah putrinya, gadis berkulit putih itu terlihat pura-pura sibuk merapikan bekas makan mereka, dia tidak ingin menampakkan kesedihannya.
Naluri seorang ibu tidak akan bisa dibohongi. Ia bisa membaca suasana hati putrinya. Dengan cepat wanita yang masih cantik mesku tidak lagi muda itu meminta putrinya untuk kembali saja ke rumah, hal ini dia maksudkan agar keduanya bisa menikmati sisa kebersamaan mereka.
"Sayang, kalian sebaiknya kembali saja ke rumah, insyaallah mama sudah baikan, mungkin besok juga sudah boleh pulang."
"Nggak usah, Ma. Kira rencananya mau menginap di sini," cetus Fatim tanpa menoleh pada sang Mama.
"Sayang, mama ingin kalian punya waktu bersama sedikit lebih banyak. Lusa kamu juga sudah mulai kembali ke sekolah. Oh ya bagaimana kabar Yati? Sepertinya mama merindukan gadis itu." Nadya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kemarin dia sudah kirim kabar, besok sudah sampai dari kampung ibunya." Gadis itu tersenyum," boleh ya kita nungguin Mama malam ini?"
"No and no." Segaris senyum tergambar indah di bibir pucat Nadya.
Tak ingin mendebat mamanya yang sedang sakit, kedua sejoli itu pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah.
Keduanya berusaha untuk menikmati setiap detik momen kebersamaan mereka. Besok perpisahan itu sudah di depan mata.
Sekali lagi perpisahan menyakitkan itu harus mereka alami, namun ini semua karena sebuah janji untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik nantinya.
"Kak Pop!"
"Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti."
"Me too." Abas meraih istrinya agar bisa menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang miliknya.
Keduanya saling diam dalam rasanya masing-masing dengan kendaraan yang melaju perlahan menuju kediaman mereka.
*****
Kini mereka telah sampai di rumah, bi Inah sudah menyiapkan menu makan malam yang spesial untuk keduanya tentu saja ini sesuai dengan perintah yang telah Nadya berikan via telepon.
"Non, makan malamnya udah siap."Bi Inah mengetuk pintu kamar Fatim dan Abas.
"Iya, Bi. Terima kasih ya, nanti habis salat isya baru kita turun," jawab Fatim sambil menyalakan AC di kamar tidurnya yang terasa sedikit gerah.
Setelah bi Inah pergi, Abas dan Fatim melanjutkan tadarus Al Qur'an sembari menunggu waktu isya.
Bi Inah yang belum jauh meninggalkan kamar anak majikannya itu begitu terharu, air matanya meluruh. Dirinya sangat bangga pada kedua pasangan muda yang belum lama menikah ini, lantunan tilawahnya begitu meneduhkan.
Zaman sekarang sudah jarang sekali ada orang muda yang seperti Fatim dan Abas. Saat ini banyak muda mudi yang baru menikah lebih memilih untuk berbulan madu ke suatu tempat yang mahal dan indah, atau berjalan-jalan ke tempat wisata yang mahal dan makan di restoran mewah. Namun, tidak ada yang lebih mementingan untuk ibadahnya, bukan berarti itu tidak boleh dilakukan, selama tidak berlebihan dan tidak melupakan kewajiban terhadap Tuhan itu sah-sah saja.
__ADS_1
Bi Inah menghapus air mata bahagianya, dulu dia pernah bermimpi untuk bisa mendapatkan seorang putri seperti Fatim, namun dirinya harus mengubur semua impian itu sejak divonis dokter dirinya tidak bisa mengandung.
Meskipun demikian suaminya tetap setia mendampinginya hingga detik ini, mereka berdua sudah bekerja sejak Nadya berumah tangga.
Dengan cepat bi Ijah kembali ke biliknya, ia tersenyum melihat suaminya yang begitu setia, mereka sudah menganggap Fatim seperti putri mereka sendiri. Tidaklah heran jika gadis itu begitu dekat dengan semua pekerja di rumahnya. Mereka semua begitu menyayangi gadis shalihah yang tomboy itu.
*****
Setelah selesai salat Fatim dan Abas segera turun untuk makan malam namun, saat menuruni anak tangga keduanya merasa heran.
"Dek! Kok gelap? Perasaan nggak padam listrik deh," bisik Abas di telinga istrinya.
"He em, aneh," gumam Fatim.
Keduanya tetap berjalan menuju ke ruang makan, namun saat melintasi pintu menuju taman, keduanya kaget. Di sana telah tertata rapi meja makan dengan hiasan lampu serta bunga yang begitu indah.
"Wah it's so beautiful." Fatim segera menarik tangan suaminya menuju taman samping.
"Apa ini bi Inah yang nyiapin?" Abas menatap binar netra kekasihnya.
"May be ... yuk kita makan." Fatim baru akan menarik kursi, tetapi dicegah oleh Abas.
"Kenapa?"
"Biarkan aku yang menarik kursinya." Abas menarik kursinya," silahkan duduk Tuan Putri." Abas sedikit membungkukkan badannya.
Gadis di depannya tersipu malu," terima kasih, Pangeranku."
Keduanya saling tatap dan menikmati degupan jantungnya masing-masing yang seolah berlomba balapan lari. Sesekali melemparkan senyuman termanis yang keduanya miliki.
Ya Allah, jagalah selalu senyum itu untukku. Aku pasti akan sangat merindukannya kelak saat kami sudah berjauhan. Semoga apa yang kami putuskan adalah keputusan yang terbaik menurut-Mu. Batin Abas.
Ya Allah, kenapa aku begitu berat untuk melepaskan kepergian suamiku besok. Jagalah cinta kasih kami hingga ke janah-Mu, aku tahu tidak boleh melakukan sesuatu secara berlebihan tetapi aku begitu mencintainya bahkan melebihi cintaku pada diriku sendiri, maafkanlah aku. Batin Fatim.
Makan malam romantis malam itu akan meninggalkan begitu banyak kenangan untuk keduanya, pasangan muda yang penuh dengan cinta.
Senyum dan air mata akan selalu bergandengan melalui jalan kehidupan yang penuh liku, entah kapan mereka bertukar peran tidak akan ada yang tahu. Selalu bersyukur akan menjadi penyeimbang diantara keduanya.
Saat ini bersama besok atau lusa pasti berpisah, indah jika berpisah masih untuk berjumpa namun, sesak jika berpisah dan tak akan pernah lagi berjumpa. Saling menyayangi sebelum semua terjadi merupakan keharusan yang tak perlu rekomendasi.
Bersambung ...
Maafkanlah aku yang lama baru bisa Up. Namun, aku akan tetap berusaha untuk membawa Abas dan Fatim menuju dermaga kehidupan yang merupakan tempat muara kasih keduanya harus berlabuh.
__ADS_1
Terima kasih untuk yang sudah setia membaca tulisanku😊