Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
KABAR BAHAGIA


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


*****


Rumah Sakit ....


Alhamdulillah, saya dan Fatim sehat. Ada apa, Mat? Tumben malam-malam menelpon, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Nadya serius.


"Oh, alhamdulillah kalau kalian sehat. Maksud saya menelpon untuk mengabarkan kalau putra kami jadi pindah sekolah ke SMA Unggulan. Tetapi minggu depan, ya?" jelas Rahmat di ponselnya.


"Alhamdulillah, akhirnya. Baiklah saya akan urus segala sesuatunya, nanti Abas tinggal datang saja," jawab Nadya gembira. Karena calon mantunya akan segera bertemu putrinya.


*****


Kamar Perawatan Fatim ....


Selesai menerima telepon, Nadia segera kembali ke kamar putrinya, karena ternyata di sana sudah ada dokter Haris yang sedang memeriksa Fatim.


"Bagaimana, Dok? Apakah putri saya sudah lebih baik hari ini?" tanya Nadya sambil berjalan mendekat.


"Ya, Bu. Alhamdulillah sepertinya kalau dari hasilnya Lab sama pemeriksaan hari ini, Dek Fatim sudah dipastikan boleh pulang hari ini atau besok," jawab Dokter Haris.


"Alhamdulillah, Dok," jawab Nadya senang. Dia sangat gembira akhirnya putri kesayangannya akan kembali kerumah.


"Baiklah, Bu. Saya akan kabari nanti. Apa Dek Fatim bisa pulang hari ini atau besok. Karena saya harus konsultasi dulu dengan tim sesama dokter yang menangani Dek Fatim kemarin." Haris menoleh kearah Fatim dan tersenyum.


Mendapat senyuman dari dokter Haris yang super tampan membuat Fatim merasa mual. Namun ia tetap berpura-pura membalas senyum sang Dokter, dengan memamerkan deratan putih giginya yang rapi. Dokter Haris pun dibuatnya semakin terpukau.


"Baik, Dok. Terimakasih banyak. Saya tunggu kabar baiknya," ucap Nadya bersemangat.


"Oke, Bu. kalau saya telat datang, nanti ibu saja yang keruangan saya, ya!" pinta dokter Haris.


"Inshaa Allah siap, Dok!" jawab Nadya bersemangat.


Dokter Haris sudah meninggalkan kamar Fatim, dan dengan cepat ia mengomeli mamanya.


"Mama, apaan sih. Main senyam senyum aja sama tuh dokter. Apa Mama nggak curiga?" tanya Fatim dengan wajah kesalnya.


"Lah, kok kamu sewot sih, Nak? Jangan-jangan kamu cemburu? Apa kamu suka dokter Haris?" goda Nadya pada putrinya.


"Ihhh amit-amit cabang ranting," ucap Fatim sambil mengetuk tepi ranjangnya, yang membuat Nadya tertawa karena merasa perbuatan putrinya sangat lucu.


"Siapa lagi yang suka, yang ada juga nahan ini, mau muntah, sok panggil dek. Emang Fatim adeknya apa? Ihh sebel! Semoga aja bisa pulang hari ini. Aku udah rindu kamar kesayanganku," ucap Fatim sambil membayangkan kamarnya yang super adem.


"Aamiin," jawab Nadya sambil tersenyum. Ia sangat bahagia melihat keceriaan putrinya telah kembali.


"Kamu nggak rindu sekolah?" Nadya memancing reaksi putrinya.


"Rindu dong, Ma. Aku rindu semua hal, rindu sekolah, rindu adek-adek panti, rindu My Cafe, rindu keluarga jembatan, dan yang utama aku merindukan seseorang yang selalu melewati hari bersamaku," Fatim tersenyum membayangkan semuanya.


Nadya merasa penasaran saat putrinya menyebut merindukan seseorang, dalam benaknya ia berpikir kalau itu Abas.


"Siapa seseorang yang kamu rindukan, Sayang?" tanya Nadya penasaran.


"Siapa lagi? Yati lah." Fatim menjawab sekenanya.


Beriringan dengan Fatim menyebutkan kalimat terakhirmya, orang yang dia sebut pun muncul entah dari mana.


"AL-HAM-DULIL-LAH, ternyata loe merindukan gue. I miss you tooo, fren ku." Yati merentangkan tangannya hendak memeluk Fatim.


"Eh ... eh ... STOP! Loe jangan peluk-peluk gue. Loe masuk nggak ngucapain salam. Gue nggak mau ketempelan setan yang ikut masuk bareng loe," teriak Fatim yang membuat Yati berhenti seketika dengan posisi tangan yang masih terentang hendak memeluk.


"Maksud, Loe. Gue setan gitu????" Yati bertanya kesal.


"Bukan loe yang setan, Oneng. Tapi kalau loe masuk nggak ngucapain salam, banyak setan yang ikut masuk bareng, Loe." Fatim menepuk jidatnya.


"Ohhh gitu, he ... he ... maaf. Iya deh gue ulangi." Yati segera berlari keluar pintu.


Melihat tingkah Yati tak khayal membuat Fatim dan Nadya tertawa. Dan keduanya tentu saja merasa senang. Sudah lama mereka tidak tertawa lepas seperti ini.


"Tok ... tok ... tok ...." suara pintu diketuk oleh Yati. Lalu ia mengucapkan salam."Assalamu'alaikum!" Yati melongokan kepalanya sedikit di pintu.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab keduanya serentak dengan menahan senyum.


"Boleh aku masuk?" Memasang senyum manisnya.


"Boleh, Bu. Mau cari siapa?" tanya Fatim.


" Ihhh kok gue di panggil ibu, sih. Tua banget apa gue, sampai loe panggil gue, ibu?" rutuk Yati kesel.


"Ha ... ha ... udah ah, masuk sini!" Fatim melambaiKan tangannya pada Yati.


Dengan wajah yang manyun, Yati melangkahkan kakinya masuk Kekamar Fatim.


"Kenapa manyun? Nggak suka ama gue? Ya udah gue bobok aja." Fatim pura-pura menarik selimutnya.


"Eh jangan bobok, gue nggak marah kok, cuma kesel doang. Nih udah senyum pepsodent." Yati menyeringaikan gigi putihnya.


Nadya yang sedari tadi memperhatikan keduanya sudah tak kuasa menahan tawa. Ia sangat bersyukur putrinya mempunyai seorang teman seperti Yati. Teman yang selalu bisa membuat happy.


"Ya sudah, kalian ngobrol aja dulu ya. Mama mau menemui dokter Haris dulu, untuk menanyakan keputusan kepulangan Fatim," ucap Nadya sambil tersenyum.


"Baiklah tante, aku akan jagain nih anak dengan sebaik-baiknya jika dia bandel nanti aku timpuk pake bantal," jawab Yati dengan senyum khasnya.


"Yee enak aja, yang ada nanti loe gue tonjok, mau?" Fatim balas meledek Yati.


"Udah-udah, nggak usah ribut. Mama tinggal sekarang. Ingat jangan berantem!" Nadya menatap keduanya dengan tatapan horornya.


"Ihhh, tante seremmm, dah kayak pimpinan vampir," celetuk Yati spontan.


Nadya pura-pura memasang wajah terkejut yang membuat Fatim segera tertawa terpingkal-pingkal.


"Tuh, Mama rasain deh senjata pamungkasnya Yati," ucap Fatim di sela tawanya.


Nadya hanya menggelengkan kepalanya dan segera menutup pintu. Sebelum menghilang dibalik pintu Nadya masih mendengar tanya polosnya Yati pada Fatim, tentang adakah yang salah dengan ucapannya. Tentu saja hal ini membuat Nadya senyam senyum sendiri sambil menuju ruangan dokter Haris.


*****


Sepeninggalan Nadya keduanya segera bertukar kabar dan bercengkrama.


"Loe beneran rindu ama gue?" tanya Yati.


"Lah ... yang tadi gue denger?" Menatap Fatim lekat.


"Loe salah denger kali," ucap Fatim santai.


"Nggak mungkin salah lah, wong gue belum budeg." Menggorek telinganya dengan jari.


"Loe pasti salah, yang gue bilang tadi gue rindu sekolah, rindu My Cafe sama rindu fren gue, gitu!" jawab Fatim.


"Jadi fren loe itu bukan gue?" Wajah Yati sudah semendung awan kelabu.


"Fren gue itu namanya, Maryati. Paham loe?" ucap Fatim lagi.


Tampak Yati berpikir keras, mencerna setiap kata-kata yang Fatim ucapkan.


"Tapi Maryati itu kan nama panjang gue, kenapa loe bilang itu bukan gue?" tanya Yati heran.


"Itu karena loe, Oneng. Bukan Maryati," jelas Fatim.


"Gue terharu," ucap Yati yang mulai mewek.


"Lah, kok hujan?" tanya Fatim.


Yati yang sedang mengalirkan air matanya segera berkata." Mana hujannya?" Berangkat melihat keluar jendela.


Fatim benar-benar sakit perut dibuat oleh Yati yang polos. Dia terus tertawa sampai air matanya keluar.


*****


Sementara itu di ruangam dokter Haris ....


"Selamat siang menjelang sore, Dok," ucap Nadya.


"Iya Bu, selamat siang menjelang sore juga. Mari silahkan duduk," tawar dokter Haris ramah.

__ADS_1


"Saya ingin menanyakan tentang kepulangan Fatim, apa bisa hari ini?"


"Iya, Bu. Berdasarkan hasil Lab terakhir dan kondisi dek Fatim sekarang. Inshaa Allah dia bisa pulang sore atau malam ini. Pesan saya selama di rumah tetep jaga kesehatan dan pola makannya. Dan apakah nanti saya boleh datang berkunjung, Bu?" tanya dokter Haris.


"Alhamdulillah, terimakasih yaa Allah. Dan terimakasih juga, Dok. Tentu saja anda bisa berkunjung kerumah kami kapan saja dokter mau," jelas Nadya sambil tersenyum.


Saat ini perasaan Nadya sangat bahagia, pasalnya putrinya akan segera pulang kerumah mereka. Nadya pun segera mohon pamit pada dokter Haris. Ia sudah tidak sabar ingin segera menyampaikan kabar bahagia ini pada putrinya.


🌹Bersambung.....🌹


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Novi Wu


Bos Come Here Please!


*Ricky Wijaksono


Api Dibumi Majapahit


*Samar


Cinta Di antara Dendam


* Sylala Yaya


Istri kedua tuan Krisna


* Cherin Kauma


l Love My Army Wife


*Oktavia Tresiani

__ADS_1


Pacarku Hantu


__ADS_2