Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
KEMARAHAN BU INTAN


__ADS_3

Tinggalah pak Rozi dan Fatim dikelas.


"Oke Fatim karena cuma kamu satu - satunya murid yang mengerjakan tugas dari Bu intan gebetan Bapak, semester ini Bapak akan kasih kamu bonus nggak usah ikut ulangan tapi seratus ditangan." Mengernyitkan alisnya turun naik sambil tersenyum.


"Bapak beneran?"


"Yap !"


"Alhamdulillah, rezeki anak sholehah," ucap Fatim tersenyum lebar.


Sementara itu semua teman kelas Fatim telah berkumpul dilapangan upacara bersama dengan Bu Intan.


"Perhatian semuanya, saya benar - benar kecewa sama kalian semua, belum saja satu bulan kalian disini sudah melanggar aturan yang sangat fatal," ucap Bu Intan dengan linangan air mata.


"Saya sangat sedih, sudah belasan tahun saya mengajar baru kali ini ... saya merasakan seperti tidak dihargai sama sekali sebagai seorang guru." Diam menatap anak - anak kelas 10 IPA 1.


"Apa saya berhenti saja mengajar dikelas kalian?"


"Jangan buuu!" Ucap mereka serentak.


Yati dan Ikhsan maju kedepan tepat dihadapan Bu Intan.


"Bu ... maafin kami ya, kami benar - benar nggak sengaja," ucap Yati sambil meraih tangan Bu Intan.


"Iya Bu kami minta maaf, kami janji ini tidak akan terulang lagi," ucap Ikhsan juga.


Bu Intan terdiam, air mata kecewa masih menetes dipipinya.


"Tapi rasa kecewa dihati Ibu tidak akan mudah hilang hanya dengan permintaan maaf kalian." Melepaskan tangan Yati.


"Apa yang harus kami lakukan Bu, supaya Ibu mau memaafkan kami,"ucap Yati yang sudah ikut menangis.


"Kalian tidak usah ikut kelas saya, tinggal saja dilapangan ini seharian." Meninggalkan lapangan menuju ke ruang guru.


Semua tampak saling pandang, mereka tak menyangka sesuatu yang dianggap remeh tetapi akan berakibat fatal bagi orang lain.


Semua masih menunggu dilapangan, dan Ikhsan sebagai ketua kelas segera mengambil inisiatif untuk membariskan teman - temannya dengan rapi, kemudian segera berlari ke ruang guru.


"Tok ... tok ...." Permisi.


"Ya ... kamu mau cari siapa nak?" Tanya Bu Silvi selalu guru BK yang kebetulan ada diruang guru karena belum masuk keruangannya.


"Saya cari Bu Intan?"


"Oh Bu Intan sudah masuk ke kelas 12 IPS 2, sampai jam istirahat nanti beliau akan disana, ada yang bisa Ibu bantu?"


Akhirnya Ikhsan menceritakan semua yang terjadi dan kemarahan Bu Intan.


"Ya sudah sekarang kalian berdiri aja dulu dilapangan sampai jam istirahat, nanti setelah Bu Intan ke sini, Ibu akan coba bicarakan ya, dan lain kali jangan lagi diulangi pelajaran siapapun itu. Ingat ! Tidak semua orang bisa menerima kata maaf saat sedang marah atau kecewa, biarkan dulu Bu Intan dengan keputusannya, beliau butuh waktu untuk menerima semuanya," jelas Bu Silvi panjang lebar.

__ADS_1


"Iya Bu kami mengerti, terimakasih banyak atas saran dan masukannya, saya permisi." Keluar ruang guru.


Sudah hampir jam istirahat, dan Fatim merasa sangat tidak enak berada dikelas sendiri, karena Pak Rozi telah meninggalkan kelas mereka. Akhirnya Fatim keluar kelas dan mau ikut bergabung dengan teman - temannya.


"Woii ... gue boleh ikut gabung ya berdiri sama kalian disini?" Tanya Fatim dengan senyum dibibirnya.


"Hei Fatim ... loe nggak boleh gabung dengan kita - kita, karena loe nggak kompak," ucap Adel yang memang sedikit jutek.


"Maksud loe apa Del bicara kayak gitu sama gue hah."Menatap Adel lekat.


"Gara - gara loe kita semua dihukum, coba kalau loe nggak sok kerajinan ngumpilin tugas, kita nggak akan kayak gini."


"Heh loe denger ya Del, pertama bukan gue yang buat loe semua dihukum tapi diri loe sendiri yang buat diri loe dihukum karena tidak membuat tugas. Dan yang kedua gue nggak mau buat dosa berjamaah, karena gue sadar akan kewajiban gue sebagai pelajar ya harus belajar dan buat tugas yang diberikan oleh Guru. Dan yang ketiga kompak dalam hal yang jelek itu salah ... s-a -l-a-h... perlu loe inget itu baik - baik."


"Tadinya gue ingin bersama loe semua disini tapi fine jika kalian nggak suka gue pergi." Meninggalkan lapangan.


"Fatim ! Tunggu!" Ucap Yati segera berlari menghampiri Fatim.


"Fren ... loe marah?"


"Nggak gue lagi ketawa ini."


"Fren maafin gue ya, pleass!" Menangkup tangannya didepan dada.


"Kenapa loe yang minta maaf? Kenapa juga loe ikutan nggak buat PR hah?"


Akhirnya Fatim luluh juga dan mau berbalik, dipegangnya pundak Yati.


"Fren gue nggak malu punya teman kayak loe, gue seneng loe mau jujur tapi loe harus inget orangtua kita menyekolahkan kita untuk apa? Hak loe sebagai anak sudah mereka penuhi dengan menyekolahkan loe, menyiapkan segala kebutuhan loe, dan kewajiban kita sebagai anak apa? Ya belajar yang bener Yati, dengan mematuhi aturan sekolah, salah satunya mengerjakan tugas sekolah. Gue rasa nggak perlu loe tampil cantik, glamor, atau apalah untuk bisa membuat orangtua kita tersenyum. Cukup kita belajar dengan baik dan kita jadi anak yang baik itu sudah akan membuat orangtua kita bangga," ucap Fatim dengan wajah yang sedih.


Ucapan Fatim kepada Yati masih bisa didengar oleh teman - temannya yang lain, mereka semua menunduk meresapi kata - kata bijak yang keluar dari mulut seorang Fatim. Mereka mulai terisak dan saling berangkulan, merasakan apa yang mereka lakukan salah.


Melihat semua teman - temannya ikut merasakan kesalahan mereka Fatim akhirnya berani mendekati mereka.


"Semua Fren gue yang cantik dan ganteng, terimakasih kalian sudah menyadari kesalahan kita semua, dan marilah kita berjanji pada diri kita sendiri untuk tak lagi mengulangi kesalahan yang sama, mari kita sama - sama membuat orangtua kita bangga memiliki kita sebagai anaknya."


Semua kembali tersenyum meski masih ada linangan air mata dipipi mereka.


"Terimakasih Fatim," ucap Ikhsan menyalami Fatim.


"Maafin gue juga ya Fatim," ucap Adel memeluk Fatim.


"Gue juga Fren," ucap Yati haru.


Dari kejauhan Bu Intan, Bu Silvi, dan Bapak Rizal selaku kepala sekolah menyaksikan semuanya dengan perasaan yang mengharu biru.


"Bu Intan sepertinya akan ada calon pengganti Bu Silvi nanti dalam menangani anak - anak di sekolah ini." Merasa bangga dengan perbuatan Fatim.


"Iya Bapak benar, anak itu terlihat berbeda dengan teman - temannya yang lain, saya salut," ucap Bu Silvi tersenyum menatap Fatim.

__ADS_1


"Sebaiknya kita kesana, segera selesaikan masalah ini," ajak Pak Rizal.


"Baik pak! Ayo kita kesana! "


Pak Rizal, Bu Intan, dan Bu Silvi berjalan menuju kelapangan upacara tempat anak - anak kelas 10 IPA 1 berkumpul.


"Selamat pagi menjelang siang anak - anak," sapa Pak Rizal.


"Pagiiiii Paaaaak," jawab mereka serentak.


Dengan cepat Fatim, Yati, dan Adel kembali masuk dalam barisan.


"Saya mendapat aduan tentang apa yang telah terjadi hari ini melalui Bu Silvi selaku guru BK disekolah kita, dan saya mau mendengar penjelasan dari kedua belah pihak, disalahkan Bu Intan dan ketua kelas kalian kedepan."


Bu Intan dan Ikhsan sudah berdiri didepan.


"Baiklah silahkan Bu Intan ceritakan dulu letak masalahnya ...."


Bu Intan pun kedepan dan menceritakan perihal tugas yang ia berikan dan perilah anak - anak yang tidak mengerjakan tugasnya.


Setelah Bu Intan kini giliran Ikhsan yang menceritakan kesalahan mereka yang tidak mengerjakan tugas.


Setelah mendengar penjelasan keduanya akhirnya Pak Rizal kembali bicara.


"Jadi yang salah siapa?"


"Kamiiii Pakkkk," jawab mereka serentak .


"Karena kalian tahu apa yang kalian lakukan


salah maka apa kalian siap memerima konsekuensinya?" Tanya Pak Rizal.


Semua hening tidak ada yang menjawab.


"Semua keputusan Bapak serahkan kepada Bu intan, sebagai orang yang telah kalian dzalimi," ucap Pak Rizal dengan wajah serius.


Semua masih diam, hening tidak ada yang berani menatap wajah ketiga guru yang berada didepan mereka.


"Baiklah saya Intan, hari ini untuk pertama sekali saya merasa sangat kecewa selama saya mengajar ... namun ... hari ini pula saya dibuat bangga oleh salah seorang murid disini, yang mampu meluluhkan hati saya, yang mampu membuat saya untuk memaafkan kalian semua, dan berjanjilah satu hal pada saya bahwa kalian benar - benar akan menjadi kebanggaan orangtua kalian dan kebanggaan kami semua," ucap By Intan dengan haru.


Semua siswa menunduk haru, dan menangis. Mereka semua bersalaman dengan Bu Intan sambil meminta maaf. Saat bersalaman dengan Fatim Bu Intan berbisik.


"Terimakasih Fatim, Ibu bangga memiliki anak sepertimu." Memeluk Fatim erat.


Bersambung....


Terimakasih ya sudah membaca karyaku ,jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.


Jangan lupa Mampir juga ke Karyaku Nyanyian Takdir Aisyah dan novel favoritku Arsitek Cantik, Cinta Untuk Dokter Nisa dan My Secret Wife. Aku tunggu ya 😍

__ADS_1


__ADS_2