
"Dek, bangun, ini sudah hampir subuh. Kita salat sunat dulu yuk!" Abas mencium lembut kening istrinya.
Desau angin menari bersama rintik hujan, mereka seolah tahu kesedihan hati dua orang insan yang akan segera berpisah.
"Dingin," jawab Fatim serak.
"Iya, dinginnya cuma sebentar doang, kok. Jika udah salat nanti akan menghangat sendiri." Abas menyibak selimut tebal yang membungkus tubuh kekasihnya itu.
Dengan malas, gadis manis itu tersenyum, kemudian duduk di tepi tempat tidurnya. Dia sangat terpana, melihat ketampanan suaminya yang sudah mengenakan baju muslim dan kain sarung.
"Yuk, kita wudu!" Abas menarik tangan istrinya lembut.
Keduanya segera beriringan menuju ke kamar mandi untuk berwudu. Salat sunat dan subuh kali ini, akan menjadi yang terakhir bagi keduanya. Siang ini, Abas akan bertolak ke Arab Saudi untuk melanjutkan study-nya. Sedangkan Fatim, dia akan tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolahnya.
Rangkaian ibadah salat sunat dan subuh, sudah mereka jalani dengan khusuk, lalu dilanjutkan dengan doa bersama.
Ya Rabb, jika ini adalah jalan terbaik yang Engkau pilihkan untuk kami, mudahkanlah, jagalah cinta kasih kami agar selalu dalam naungan kasih-Mu. Izinkanlah kami, untuk tetap bersama dalam suka maupun duka, di dunia hingga akhirat. Jadikanlah, perpisahan sementara ini, penguat cinta kasih diantara kami, aamiin. Doa Abas dalam hatinya.
Ya Allah, aku hanya insan-Mu yang lemah, hatiku begitu sedih, perpisahan ini terasa sungguh berat, lindungilah Kak Pop di sana, mudahkanlah semua urusannya, jagalah cintanya untukku, jagalah jiwa dan raganya dari segala marabahaya, jika ini adalah yang terbaik, ikhlaskanlah hatiku. Semoga kelak, kami akan cepat bersama lagi, aamiin. Doa Fatim dalam hatinya.
"Dek, kita sarapan dulu, yuk. Setelah itu baru kita jemput ibu." Abas melipat sajadahnya, kemudian menggantungkannya di tempat gantungan.
"Baiklah, Kak. Tetapi, apa kali ini aku boleh minta disuapin?"
Gadis itu menunduk malu, ada rona merah muda di kedua belah pipinya. Abas mencium pucuk kepala istrinya.
"Tentu saja, Dek. Kamu mau minta yang lain juga boleh." Lelaki itu tersenyum manis, lalu mengakupkan tangannya, pada kedua pipi kekasihnya itu.
Mata gadis di depannya berkaca-kaca, andai dia boleh meminta lebih, dirinya ingin lelaki tersayangnya tidak usah pergi, tetapi dia sadar jika keegoisan hatinya kali ini tidak untuk dituruti.
Dengan perlahan dia menundukkan wajahnya, bermaksud menghindari tatapan sendu kekasihnya. Namun, lekaki itu tidaklah buta. Dia bisa melihat semua kegundahan istrinya.
"Lepaskanlah, jangan ditahan. Insyaallah, kakak bisa memahami semuanya. Hatimu dan hatiku kini memiliki ikatan yang kuat, lukamu adakah lukaku, sedihmu juga sedihku, gundahmu tentu juga gundahku."
Dia meraih gadis itu dalam pelukkan-nya, seketika tangis yang sejak semalan tertahan, kini tumpah bak air bah yang tak terbendung.
Tubuh gadis cantik yang terlihat begitu kuat dan tegar, kini berganti menjadi sangat rapuh. Dirinya nampak lemah, namun, semua tidak dihiraukannya. Kali ini dia merelakan dirinya terlihat seperti para gadis umumnya.
Pelukan Abas pada istrinya semakin erat, ingin rasanya dia memaki kata perpisahan, mengapa selalu menorehkan luka pada insan yang mengalaminya.
Setelah puas menetralkan asa, keduanya segera pergi ke rumah sakit untuk menjemput Nadya. Wanita itu bersikeras minta pulang, dia tidak ingin melepas menantunya pergi tanpa kehadiran dirinya.
Sementara itu rombongan dari Bandung sudah bertolak sejak subuh, mungkin sebentar lagi mereka juga akan sampai dikediaman Fatim.
__ADS_1
Disepanjang perjalanan, mulut gadis yang biasanya ceriwis itu terkunci rapat, dia sengaja tidak ingin berbicara, dalam hatinya dia sedang menata kesiapan mentalnya. Perpisahan kali ini akan benar-benar menyesakkan buatnya.
Keduanya menikmati detik-detik kebersamaan mereka yang terasa begitu berharga, bahkan 'tak bisa ditukar dengan apa pun di dunia ini.
Baru saja memasuki gerbang rumah sakit, keduanya dikejutkan dengan kehadiran Pak Momon. Beliau sudah menunggu di parkiran dengan seabrek barang-barang Nadya, Mamanya Fatim.
"Loh, Pak Mon! Kok udah di parkiran sih?"
Fatim segera melepas sitbeltnya dan menurunkan kaca mobil, kemudian bergegas untuk turun. Dia kasihan melihat Pak Mon yang membawa banyak barang.
"Iya, Non. Soalnya, ibu sudah nggak tahan mau pulang." Lelaki yang berperawakan sanggar, tetapi terlihat lucu di mata Fatim itu tersenyum manis, meskipun jauh dari kata manis sih.
"Lalu, Ibu-nya mana?" Fatim celinggak celingguk mencari sosok Nadya, mamanya.
"Ibu sudah pulang, barusan." Momon tersenyum tapi kali ini tanpa makna, soalnya dia sendiri bingung mau senyum manis tapi dia-nya nggak manis, mau senyum ramah, dia-nya juga kurang ramah, jadi ... dia senyum tanpa arti saja.
Abas dan Fatim saling pandang, keduanya terlihat menggeleng, rasanya tidak percaya saja dengan apa yang dilakukan oleh mamanya tercinta.
Sedang bergegas untuk kembali ke dalam mobil, ponsel Abas bergetar, dia segera menyambutnya. Setelah berbicara sebentar, dia segera menutup kembali benda pipih itu, dan memasukkannya ke dalam saku celana.
"Siapa?" tanya Fatim seraya merapikan barang-barang mamanya, yang sudah diletakkan Pak Momon di dalam mobil mereka.
"Rombongan Umi dan Abi, mereka sudah hampir sampai." Abas mencoba untuk bersikap santai terhadap istrinya, dia tahu gadis shalihah di sampingnya saat ini, sedang tidak baik-baik saja.
Kini, mobil pasangan muda itu telah melaju, meninggalkan pelataran parkiran rumah sakit untuk kembali ke rumah mereka. Suasana di dalam mobil masih sama, sepi. Tidak ada keceriaan yang biasanya tercipta.
Tetiba Abas menyanyikan sebuah lagu untuk kekasihnya itu.
"Tak perlu, engkau ragui, tulusnya cinta yang kuberi. Kita saling kasih mengasihi dengan sepenuh hati."
Fatim, gadis itu terdiam, segores senyum terukir di bibir munggilnya namun, kristal bening itu 'tak kuasa dia tahan.
Sementara itu suaminya masih terus bernyanyi. Sebuah lagu yang mungkin akan menjadi kenangan terindah untuk keduanya. Bahwa perpisahan ini, bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya untuk mereka berdua.
Air mata gadis itu semakin menutupi bening netranya, Abas segera menepikan mobil mereka. Dia merengkuh gadis yang menjadi penyempurna setengah dien-nya dengan erat.
"Maafkanlah aku, kita terpaksa harus berpisah. Namun, yakinlah jika hatiku, cintaku, jiwaku, dan juga ragaku akan aku minta supaya Allah hanya akan memberikannya untukmu, istriku, bidadari syurgaku."
Dia mencium lembut kening gadis dalam pelukannya, cinta masa kecilnya. Sekali lagi mereka akan terpisah oleh ruang dan waktu.
"Insyaallah, aku akan rela melepasmu, Kak Pop. Aku juga berjanji padamu jika aku akan selalu menjaga cintaku, hatiku, jiwaku, juga ragaku, hanya untukmu. Dulu aku sanggup berjauhan darimu dalam waktu belasan tahun, maka dalam waktu yang singkat ini, aku harusnya juga bisa."
Keduanya berpelukan semakin erat, hingga mereka dikagetkan oleh suara ketukan di jendela mobil yang mereka naiki.
__ADS_1
"Polisi?" ucap Abas ambigu.
Fatim mengangguk dan menyeka air matanya.
"Ngapain?" tanya Abas lagi.
"Aku juga nggak tahu." Fatim menggidikkan bahunya.
Perlahan Abas menurunkan kaca mobilnya.
"Selamat pagi, Pak!" Polisi itu tersenyum ramah.
"Pagi!" jawab Abas dan ikut tersenyum.
"Maaf, boleh kita periksa kelengkapan berkendaranya, dan apa hubungannya Mbak sama Mas ini? Tadi kenapa berhenti di tempat sepi, lalu mbaknya menangis? Apa terjadi sesuatu, Mbak?"
Bapak Polisi itu memang terdengar kepo namun, sebenarnya dia hanya ingin memastikan jika semuanya aman untuk pihak wanita yang notabenenya sering menjadi korban pelecehan.
"Ini surat-surat kelengkapan saya, Pak, dan wanita ini, dia adalah istri sah saya. Kami sedang dalam keadaan yang kurang baik, makanya dia menangis, tadi."
Abas berusaha untuk menjelaskan pada Polisi yang barusan menghentikan aktivitas keduanya untuk melepas beban hati.
"Oke, semua lengkap. Semoga selamat sampai tujuan dan masalahnya terselesaikan dengan baik."
Polisi itu segera berlalu menuju kendaraan operasionalnya, dalam hatinya petugas itu menganggumi kecantikan wajah Fatim yang begitu alami, meski habis menanggis tetap terlihat sangat cantik.
*****
Sampai di rumah, ada beberapa kendaraan yang terparkir di sana. Suasana rumah yang biasanya tenang, kini tampak ramai.
Baru saja turun dari mobil, Fatim sudah disambut dengan suara cempreng sahabat rasa saudaranya, siapa lagi kalau bukan Yati.
"Frendku!" teriaknya sekencang angin tornado yang membuat gendang telingga Fatim harus bergetar hebat.
"Loe kalau teriak kira-kira dong, Oneng. Lihat nih kotoran kuping gue pada keluar semua." Fatim menggosok-gosok telinganya dengan sengaja.
"Bagus, dong. Loe nggak usah susah-susah lagi untuk bersihin tu kuping." Yati tersenyum tanpa beban yang membuat Fatim ikut tersenyum.
Tanpa menunggu Abas yang belum selesai mengeluarkan alat-alat dari rumah sakit, Yati sudah menarik sahabatnya itu untuk masuk ke dalam rumah, melihat hal ini, tentu saja membuat Wawan tidak tinggal diam. Dia segera membantu Abas membawa barang-barang Ibu Nadya.
Doa salamatan telah selesai dilaksanakan, kini semua rombongan sudah bersiap untuk menuju ke bandara. Kepergian Abas kali ini tentu tidak bisa ditunda lagi. Keikhlasan hati memang harus dipertaruhkan kini.
Semua berangkat dalam balutan doa yang tiada henti, berharap yang terbaik untuk pasangan muda ini. Semoga keduanya segera bisa bersama lagi dalam waktu yang tidak lama, bagaimanapun sebuah hubungan suami istri akan lebih baik jika tinggal bersama. Melewati suka dan duka, merasakan pahit manis kehidupan, saling menguatkan di saat terpuruk, saling menjaga di saat terluka, saling mengisi saat kekurangan, dan saling mengingatkan di saat khilaf.
__ADS_1
Detik terakhir kebersamaan mereka akan kita lihat di bab esok ya, kui tungguin terus ya. Terima kasih sudah setia menunggu, semoga pembaca Fatim dan Abas, Aisyah dan Rey, senantiasa dalam lindungan Allah, SWT. Tanpa kalian aku bukanlah apa-apa. So Thank You So Much.