Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
INSIDEN DIBELAKANG SEKOLAH


__ADS_3

Kini Yati sudah bisa memakai Hp barunya, dan saat sedang asyik mencoba menelepon Fatim tiba - tiba bel panjang berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai.


"Oke Fren sekarang simpan dulu Hpnya dan jangan lupa disilent suaranya biar nggak berisik," ucap Fatim.


"Siappp komandan laksanakan," jawab Yati memberi hormat.


Kedua sahabat itu kini siap mengikuti pelajaran yang akan dipelajari hari ini sampai nanti jam 16.00 WIB.


Dan sekarang kedua sahabat itu mulai mengikuti pelajaran dikelasnya dengan enjoy dan hari ini semua berjalan lancar mengingat Fatim dan Yati bukanlah anak yang bisa dipandang remeh soal kecerdasan.


Saat jam pelajaran hampir berakhir tiba - tiba bel panjang berbunyi yang menandakan akan ada pemberitahuan penting ,dan semua anak terdiam fokus menunggu pengumuman yang akan disampaikan.


"Perhatian semuanya, diberitahukan kepada seluruh siswa - siswi SMA Unggulan bahwa nanti selama tiga hari kedepan yaitu terhitung mulai hari Rabu, Kamis, dan Jum'at kalian akan difakultatifkan artinya belajar dirumah masing - masing, karena disekolah kita akan dilakukan perawatan rutin kebersihan sekolah dan penyemprotan rutin dengan disinfektan. Dan diharapkan hari Senin semua sudah kembali aktif kembali. Demikianlah yang dapat kami sampaikan. Sekian dan terimakasih."


Semua siswa bersorak gembira yang hanya ditanggapi dengan gelenggan kepala oleh guru yang sedang mengajar dikelas mereka.


"Baiklah anak - anak sekarang kita bisa pulang lebih awal, dan nanti siapkan Hp kalian agar standby siapa tahu akan ada tugas online yang akan kalian kerjakan selama kalian difakuktatifkan," ucap Bapak Guru Fisika yang sedang mengajar dikelas Fatim.


" Siap Pak !" Semua serempak menjawab.


Kelaspun akhirnya bubar, Fatim dan Yati pun hendak pulang menuju keparkiran, namun ada seseorang yang memanggilnya.


"Fatim !" Tunggu !"


Fatim dan Yati serempak menoleh pada asal suara, dan mereka melihat seseorang yang tadi pagi menabrak mereka didekat gerbang sekolah.


"Loe ingatkan mau bantu gue menemui orang - orang yang tadi pegi ngancamain gue?"


"Ya gue ingat, tapi kenapa loe nggak laporin aja kepihak sekolah?" Selidik Fatim.


"Enggak, soalnya gue takut nanti kalau nama sekolah kita menjadi tercemar," ucap orang itu.


"Oke gue ikut loe," jawab Fatim dan berjalan mengikuti anak lelaki itu.


"Fren gue ikut loe ya," teriak Yati.


"Loe tunggu gue diparkiran aja, kalau nanti gue nggak balik - balik loe tahu apa yang harus loe lakukan,okay," ucap Fatim.


Yati hanya mengangguk tanda mengerti apa yang harus dia lakukan.


Dalam perjalanan menuju halaman belakang sekolah Fatim segera memberi kabar melalui pesan whatshap pada Momon asisten pribadinya yang ditugaskan Nadya untuk melindungi Fatim.


*****


Halaman Belakan Sekolah ...


Fatim dan anak lelaki itu sudah sampai dihalaman belakang sekolah yang sepi.


"Loe tunggu disini ya gue cek dulu apa mereka beneran ada disini," ucapnya.

__ADS_1


Lelaki itu berjalan mendekati arah gudang dan menghilang, dan tak lama muncullah lima orang laki - laki yang tampak seperti preman berjalan mendekati Fatim. Salah satu dari mereka segera menelpon seseorang diseberang sana.


"Halo Bos, target sudah kami kunci dan siap dielsekusi," ucapnya terkekeh.


*Siapa ya yang menyuruh mereka, apa Gladis? Soalnya hanya dia yang bisa berbuat senekat dan sejahat ini, bantin Fatim."*


"Hei loe ! Loe mau menyerahkan diri baik - baik atau loe mau ikut kita dengan paksa hah?" Tanya lelaki yang bewokan.


"Gue nggak ada urusan dengan abang - abang semua, gue punya hutang apa emangnya?" Tanya Fatim balik.


"Loe nggak perlu tahu urusan kita apa, yang perlu loe tahu kami harus segera membuat loe tersingkir jauh dari SMA Unggulan ini."


"Sekarang loe tinggal pilih, mau ikut kita dengan baik - baik atau pakai kekerasan hah, dan gue nggak perduli loe itu perempuan kita tidak akan segan - segan melukai kulit loe yang mulus itu," Menyeringai dengan tatapan mata yang sangar.


Fatim melihat situasi kali ini agak berbahaya, dan ia masih sempat mengecek pesannya dan alhamdulillah Momon sudah merespon pesannya, jadi Fatim merasa sedikit tenang.


"Gue nggak mau ikut, sebelum loe beritahu gue siapa yang menyuruh loe," ucap Fatim.


"Loe nggak perlu tahu siapa yang nyuruh gue."


"Kalau ternyata loe semua ditipu bagaimana?"


"Asal loe tahu kalau kita orang sewaan nomor 1 dan tidak akan ada yang berani ngebohingin kita, dan belum ada sejarahnya, ha ... ha ...." Tertawa terbahak - bahak.


"Ting!" Bunyi notifikasi Hp Fatim.


Dengan segera Fatim membaca pesannya bahwa sebentar lagi Momon bersama rombongan kepolisian akan tiba, dan Fatim diharapkan bisa mengulur waktu sedikit lagi.


"Maaf kami orang yang komitmen akan tugas bukan uang loe, jadi sekarang loe siap - siap aja." Memberi kode untuk segera meringkus Fatim.


"Bawa bocah ingusan itu," perintah lelaki yang tadi menelpon.


Saat mereka akan menyentuh tangan Fatim dengan cepat Fatim menghindar dan baku hantampun tak terelakkan.


"Buckkk!" Bokong lelaki yang hendak memegang Fatim tertendang.


"Setan alas beraninya kau, rasakan ini ! Hiaaaatttt !"


" Whuss ... whusss ...." Suara pukulan dan tendangan yang diluncurkan para preman itu pada Fatim.


"Sial ternyata gadis ini tidak bisa dianggap remeh," ucap salah satu preman.


"Plak ...plak ... bamm !" Tendangan Fatim berhasil menjatuhkan salah seorang dari lima preman itu, yang membuat serangan mereka semakin brutal.


Kini masing - masing preman telah mengeluarkan sajamnya, ada yang membawa pisau, rantai, dan klewang. Dan ini tentu saja membuat Fatim harus lebih waspada. Dan Fatim berhasil mengambil sebilah kayu yang akan menjadi senjatanya.


Perkelahian kembali berlanjut, dan kali ini lebih serius, beruntungnya Fatim memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni jadi semua masih bisa bertahan meskipun ada beberapa goresan ditangannya.


Saat sebuah pisau hampir menghujam dipunggung Fatim yang sedang berkelahi dengan salah satu preman yang lain tiba - tiba suara tembakan menggelegar.

__ADS_1


"Dorrr!"


Seseorang yang hampir melukai Fatim tersungkur. Semua berhenti dan terpaku karena sudah dikepung oleh pasukan polisi. Dengan cepat petugas meringkus semua preman yang sedang berkelahi.


"Nona apa anda terluka?" Tanya Momon.


"Hanya sedikit goresan Pak," jawab Fatim.


Meskipun sebenarnya badan Fatim terasa sangat sakit dan perih, namun Fatim bukanlah gadis yang cengeng.


"Apa kita perlu kerumah sakit?"


"Nggak usah Pak, biar nanti Fatim bisa obat sendiri, sekarang Fatim pulang saja, kasihan teman Fatim nungguin diparkiran." Berjalan meninggalkan Momon.


*Kau memang gadis yang tangguh Fatim, andaikan Om punya anak sepertimu, betapa bahagianya aku, tapi sayang Om nikah aja belum, bagaimana mau punya anak ya? uhh kapan aku bisa menikah dan punya anak? Lagian siapa yang mau sama lelaki yang kurang tampan sepertiku, batin Momon sambil tersenyum menertawakan nasibnya sendiri.*


Melihat Fatim yang sudah menjauh, Momon segera menelpon Nadya dan menceritakan semuanya, dan tentu saja Nadya merasa sangat marah.


"Mon pokoknya masalah kali ini tidak bisa didiamkan karena sudah menyangkut nyawa anak kesayanganku, aku mau semua diproses sesuai dengan hukum yang berlaku, cari sampai ketemu semua dalang dibalik musibah ini, dan aku akan segera menghubungi pihak sekolah," ucap Nadya kesal.


Momon segera ikut kekantor polisi untuk membuat aduan proses terhadap kasus ini. Sedangkan Fatim sudah pulang mengantarkan Yati kerumahnya.


*****


Rumah Yati ....


"Fren loe mampir dulu ya kerumah gue, biar gue obatin luka loe," ucap Yati yang berlinang air mata.


"Loh kok loe yang nangis sih, yang luka siapa yang nangis siapa coba," ledek Fatim.


"Gue merasa sakit yang loe rasa Fren, makanya gue nangis."


"Ya udah deh gue mampir, tapi kalau nanti loe asal - asalan ngobatin luka gue awas loe ya." Menyentil hidung Yati.


Yati tertawa meski air matanya berlinang, ia semakin menyayangi Fatim sahabatnya.


Setelah selesai mengobati luka Fatim, Yati mengajaknya makan bersama dengan kedua orangtuanya.


"Nak ... kami sudah mendapatkan kontrakan yang pas dan harganya lumayan murah, dan besok kami sudah akan pindah, jadi ini makan siang sekaligus makan sore kita yang terakhir dirumah kami yang penuh kenangan ini," ucap Ibunya Yati dengan sedikit serak menahan tangis.


"Ibu ... semua kenagan dalam rumah ini tidak akan pernah hilang, percayalah pada Fatim, karena semua kenangan itu akan terukir indah didalam hati, yang akan terus bersemayam sampai jiwa meninggalkan raga." menggenggam tangan Ibunya Yati.


"Terimakasih banyak ya Nak Fatim, Ibu mengerti sekarang, dan kamu benar."


"Sudah to, sekarang mari kita makan dari tadi dilihatain aja nggak akan kenyang," ucap Ayah Yati.


Semua tertawa gembira dan mulai menikmati makan bersama mereka meski dengan menu rumahan yang sederhana, namum semua terasa nikmat karena dimasak dan dinikmati dengan cinta.


Bersambung....

__ADS_1


Terimakasih ya sudah membaca karyaku ,jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Karyaku Nyanyian Takdir Aisyah dan novel favoritku : Arsitek Cantik, Cinta Untuk Dokter Nisa , My Secret Wife, Putih Abu - Abu, Melawan Rasa Takutku, My love, Mafia In Love , OB Kerudung Biru, Samudra, dan My Princess OG. Aku tunggu ya 😍.


__ADS_2