
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Sebelumnya saya minta maaf karena terlambat untuk UP, karena tugas sekolah saya selaku operator sedang banyak mengimpit data Verval Ponsel. Saya berharap kalian semua bisa memakluminya.
Selamat Membaca!
*****
SMA Unggulan ....
Semua penghuni SMA Unggulan sudah berkumpul di lapangan upacara, begitu juga dengan Abas dan Hanafi. Namun pikiran Abas terganggu, dia masih terbayang peristiwa tabrakan tadi pagi saat menuju kelapangan upacara. Dia sangat penasaran, apa benar gadis itu Fatim? Jika itu benar-benar Fatim, bagaimana reaksinya jika tahu dia pindah dari pondok ke sekolah umum begini?
Masih sibuk dengan lamunannya Abas dikejutkan dengan Hanafi yang menepuk pundaknya.
"Bas! Antum kenapa?" tanya Hanafi bingung karena sahabatnya itu menatap kosong kearah depan tanpa memperdulikannya.
"Ehmm anu ... ana baik-baik saja Hanafi," ucap Abas yang menjadi salah tingkah. Karena selama ini hanya Abas yang sedikit anti pati dengan lawan jenis.
"Kenapa antum melamun? Apa merindukan pondok?" Hanafi tersenyum menatap sahabatnya itu.
"Tidak, bukan begitu," jawab Abas jujur.
Obrolan keduanya segera terhenti saat suara mikrofon dari MC upacara bendera akan segera di mulai.
"Baiklah semuanya harap tenang, upacara bendera rutin kita akan segera dimulai, ada pun petugas upacara kali ini dari kelas 10 IPA. Kepada semua petugas diharapkan segera menempati posisi yang telah ditetapkan." MC resmi sekolah menyudahi pengantarnya.
Semua anak 10 IPA1 segera menempati posisi untuk menjadi petugas upacara. Kelas yang bertugas ini kelas Fatim, namun karena Fatim dan Yati datang terlambat maka mereka berdua tidak ikut bertugas.
Upacara dimulai dengan hikmat, semua berbaris baris rapi dengan disiplin. Tak satupun tampak siswa atau siswi yang bermain-main saat sedang berlangsungnya upacara. Dan ini adalah salah satu nilai plus dari SMA Unggulan.
Hampir setengah jam mereka berdiri dilapangan upacara. Kini tiba saatnya seluruh rangkaian acara diserahkan kembali kepada MC resmi sekolah.
"Perhatian semuanya, kali ini kita kedatangan siswa pindahan dari Bandung. Mereka ada dua orang atas nama Muhammad Abas dan Hanafi. Mereka akan masuk ke kelas 12 IPA1. Untuk itu nanti diharapkan pengurus OSIS dapat membantu mereka untuk mengenalkan lingkungan sekolah." ucap MC resmi sekolah.
*Kok gue jadi deg-deg kan ya, mendengar nama Abas apa ia Abas yang sama? Tapi kan nggak mungkin, dia anak pondok ngapain juga muncul di sekolah umum kek gini. kayaknya gue yang mulai nggak beres dengar nama yang sama aja udah kayak orang sakit jantung.*
Selesai pengumuman semua siswa sudah dibubarkan, kebiasaan yang disukai para siswa di sini adalah mereka memiliki waktu senggang untuk beristirahat selama tiga puluh menit untuk beristirahat, kebanyakan anak-anak akan membanjiri kantin sekolah.
Demikian juga dengan Fatim dan Yati. Namun keduanya bukan ke kantin sekolah, sejak kejadian sabotase yang di sengaja oleh Gladis CS keduanya memilih untuk tidak pernah lagi ke kantin sekolah. Keduanya akan makan di warung pojok yang ada di depan sekolahan mereka, meski sedikit jauh tapi terasa nikmat dan jauh dari hingar bingar para siswa.
Diantara ratusan siswa hanya Abas dan Hanif yang menuju ke mushala sekolah. Keduanya sangat terkejut melihat mushala yang dapat dikatakan hampir sebesar masjid tetapi isinya kosong melompong, dan yang membuat keduanya heran karena seluruh siswinya tak menutup aurat.
"Fi, sepertinya ini tidak akan seindah dan semudah yang kita bayangkan. Mungkin ini lah maksud Abi Rahmat menempatkan kita disini." Abas menatap sahabatnya dengan tersenyum hambar.
"Kamu benar, Bas. Aku sedari kita datang tak berhenti untuk beristiqfar, karena melihat banyaknya pemandangan yang tak seharusnya kita lihat." Hanafi membalas senyum sahabatnya.
Kedua sahabat itu segera menunaikan salat sunat dhuha dengan berjama'ah.
*****
Bel panjang tanda untuk memulai pelajaran telah berbunyi. Seluruh siswa sudah memasuki kelas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Abas dan Hanafi, keduanya segera mengikuti guru bagian kesiswaan untuk masuk kelas.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan ini teman baru kalian Abas dan Hanafi. Bapak harap kalian semua dapat membantu mereka berdua untuk beradaptasi di sekolah kita ini, terutama kamu Rangga selaku pengurus OSIS yang sebentar lagi akan melepas masa jabatan karena kalian sudah kelas tiga," ucap Kasi Kesiswaan di sekolah mereka.
"Baik, Pak!" jawab Rangga dengan tersenyum hormat.
"Baiklah, Abas-Hanafi. Silahkan cari tempat duduk yang kosong, dan selamat berlajar di SMA Unggulan." Bapak Kasi kesiswaan segera meninggakan ruang kelas 12 IPA 1.
"Baik, Pak! Terimakasih banyak," ucap keduanya sambil menundukkan kepala sebagai tanda menghormati.
Sepeninggalan sang guru, Rangga segera menghampiri keduanya. Rangga sedikit merasa kurang senang, pasalnya ia merasa akan ada saingannya dalam hal ketampanan, Rangga sedikit takut ketenarannya sebagai idola sekolah terancam.
"Loe silahkan duduk di depan saja bersama sahabat loe itu, dan ingat ya jangan coba-coba untuk tebar pesona." Rangga meninggalkan Abas dan Hanafi yang tampak bingung dengan situasi sekolah barunya yang jauh dari kata bersahabat.
Dengan santai dan sopan keduanya segera duduk dibarisan depan dekat meja guru, dan mulai mengeluarkan buku-buku pelajaran yang baru diterimanya dari bagian kesiswaan.
__ADS_1
*****
Kelas 10 IPA 1....
Kelas Fatim hari ini sedikit heboh, pasalnya mereka sedang sibuk membicarakan perihal pemilihan ketua Osis yang baru. Karena Rangga yang sudah duduk dikelas tiga pertengahan semester depan akan mulai sibuk untuk fokus pada ujian.
Mereka berencana ingin mecalonkan Fatim sebagai ketua Osis, namun yang sedang digembar gemborkan untuk jadi ketuanya saja tidak tahu, karena ia masih dalam perjalanan menuju ke kelasnya.
"Pagi semua!" sapa Yati dengan ramah yang tak di gubris oleh penghuni kelas mereka.
Kehebohan yang tadi terjadi seketika sepi, kelas mereka seperti kuburan tak berpenghuni. Fatim yang cuek dengan situasi kelasnya tidak begitu ambil pusing. Namun tidak dengan sahabatnya Yati yang sedikit lebay.
"Hello! Kemana semua orang? Apa udah nggak punya mulut buat jawab sapaan gue?" ucap Yati menyapu seisi kelas yang mendapat lengosan para sahabatnya.
Seolah mengerti dengan kejengahan teman-temannya Yati segera meralat ucapannya." Iya-iya gue diem." Yati segera menghempaskan pantatnya di kursi yang ada di samping sahabatnya.
"Lagian loe sih, sok akrab banget. Dah tahu kelas kita isinya anak-anak loe-loe gue-gue," ucap Fatim sambil menoleh pada sabahatnya itu.
"Iya sorry, gue tadinya mau SKSD(sok kenal sok dekat) gitu," ucap Yati sambil nyenggir.
Sedang asyik berdiskusi guru Biologi mereka tiba-tiba masuk dan langsung membuka kegiatan pagi ini.
"Pagi semua!" sapa bu Melly ramah.
"Pagi, Bu!" jawab semuanya serentak.
"Oke Class! Pagi ini kita akan membahas bab Pubertas. Silahkan kalian baca materinya terlebih dahulu kurang lebih sepuluh menit, setelahnya kita akan dikusi dan tanya jawab." perintah bu Melly yang terkenal jutek.
Kelas sedikit grasak grusuk karena membaca bab tentang pubertas yang isinya tentang perubahan perkembangan yang terjadi pada anak laki-laki dan perempuan, bagi sebagian siswa ini sedikit tabu untuk diketahui.
"Mengapa kalian berisik sekali? Apa sudah selesai membacanya?" tanya bu Melly.
Semua kembali diam.
Semua diam tidak ada yang berani buka suara." Oke kalau kalian tidak ada yang mau bertanya, maka ibu yang akan bertanya," bu Melly kembali ke kursinya.
Seketika semua wajah menegang namun tidak dengan Fatim, ia terlihat santai. Karena ia sudah membaca bab yang akan diajarkan oleh bu Melly tadi malam.
"Oke, Fatim! Apa yang dimasud dengan pubertas?" Manatap kearah Fatim.
"Pubertas merupakan suatu tahap perkembangan seorang anak menjadi dewasa secara seksual. Pada perempuan, pubertas terjadi pada rentang usia 10-14 tahun dan pada laki-laki, pubertas terjadi pada kisaran usia 12-16 tahun," jawab Fatim dengan lancar.
"Bagus! Lanjutkan Dea! Sebutkan ciri-ciri pubertas pada wanita!" bu Melly menatap Dea.
Dea menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak berani menatap wajah bu Melly.
*Mati gue, dijawab gue dosa nggak dijawab gue lebih berdosa, batin Dea.*
"Dea! Kenapa diam? Ayo jawab!" bu Melly mulai menegang.
"Maaf, Bu. Bukannya nggak mau jawab, tapi Dea takut dosa," jawab Dea dengan senyum terpaksa.
"Apanya yang dosa? Kita hanya belajar, yang dosa itu kamu kelayapan ke club tiap malam, dugem sama teman-temanmu, tapi kenapa kamu merasa tak berdosa?" Bu Melly mengeluarkan skak mattnya.
Ucapan bu Melly serasa menampar wajah Dea yang sudah memerah menahan malu. Semua mulai menayan senyum. Disaat semua sedang tegang tiba-tiba.
"Buwahaaa ... ha ...ha ... ups!" Yati segera menutup mulutnya.
*Kelar hidup loe Oneng, batin Fatim kesal udah tahu lagi nggak kondusif, masih aja nggak bisa nahan tuh mulut.*
*Yaa Allah, lindungi gue, jauhin gue dari amarah bu Melly, batin Yati ketakutan.*
Bagaimana nasib YATI? Tunggu di next episode.
Bersambung.....🌹
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
Ceo dingin dan Gadis Kampung
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Ceo Somplak
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Syala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
*Oktavia Tresiani
Pacarku Hantu
__ADS_1