
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
Ruang Dewan Sekolah ....
"Seharuanya yang bertanya itu saya, bukan anda! Asal anda tahu yang menggaji anda itu saya!" Nadya mulai terbakar emosi jiwa.
"Anda jangan main-main, Nyonya. Saya bisa bawa kasus ini ke ranah hukum!" Mahesa tidak mau mengalah.
"Baikah! Perkenalkan nama saya Nadya dan nama putri saya Fatimah Ananbra. Saya adalah pemilik sekolah tempat anda mencari nafkah tambahan. Mulai detik ini kalian semua, saya PECAT!"
"APAAA?!" semua serentak berdiri dengan mulut ternganga, mereka tak percaya apa yang telah mereka dengar.
Nadya tersenyum sinis menatap ke arah Rayendra sang kepala sekolah, dia tak lain. Adalah orang tua Gladis.
"Bagaimana Rayendra?" Nadya berjalan mendekatinya masih dengan tangan bersedekap.
"I-iya, bu Nadya adalah pemilik sekolah ini. Dia hanya ingin saja menjadi ketua Yayasan sekolah dan tidak memberitahu yang sebenarnya." Rayendra menunduk, ia tahu akan tamat riwayatnya kali ini dan ini semua karena perbuatan bodoh putrinya.
Wajah Gladis Cs sudah sangat pias, ternyata mereka mendapat lawan yang sangat-sangat salah kali ini. Mereka sama sekali tak pernah menyangka jika Fatim memiliki status sosial yang lebih tinggi dari mereka.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin curut gembel ini anak bu Nadya, bukannya dia hanya pelayan sebuah Cafe dijalanan sana," teriak Gladis Histeris.
Nadya berjalan mendekati Gladis dengan tatapan amarah karena gadis ingusan itu sudah berani melecehkan putri kesayangannya.
"Itu hanya yang kamu lihat gadis ingusan tetapi bukan seperti yang kamu tahu. Fatim itu pemilik My Cafe yang dia rintis sejak masih di SMP. Menjadi orang kaya tidak musti harus terlihat kaya, dan saya sudah mendidiknya sejak kecil agar bisa mandiri bukan tergantung pada orang tua. Jadi jika saya bangkrut maka dia tidak akan menjadi gembel. Seperti yang akan kamu dan gengmu akan alami saat ini." Nadya tersenyum jahat menatap mata gadis dihadapannya yang mulai nanar.
"Mulai detik ini kalian berlima bukanlah siswa dari sekolah Unggulan, dan akan aku pastikan bahwa tidak akan ada satu sekolah pun yang akan menerima kalian sebagai siswanya di propinsi ini," suara Nadya terdengar gemetar, karena dalam hatinya yang paling dalam ia tidak sekejam saat ini. Namun ia ingin memberi efek jera untuk kelimanya.
"Tante, aku mohon! Jangan lakukan ini pada kami!" Kelima gadis itu reflek bersujud di ujung kaki Nadya.
"Kalian tidak pantas bersujud di kakiku, karena aku bukan Tuhan!" Nadya bergeser kesamping, kemudian berjalan mendekati para dewan sekolah yang angkuh bin sombong tersebut.
Kelima gadis cantik itu sudah bermandikan keringat dan air mata, entah apa yang berkecamuk dihatinya masing-masing saat ini.
"Dan untuk kalian, aku sebenarnya tidak sekejam seperti yang kalian bayangkan. Aku akan memberikan pesangon buat kalian, meskipun mungkin jumlahnya tidak besar tapi rasanya cukuplah untuk modal jualan kerupuk atau buka catering rumahan. Masing-masing dari kalian akan aku kasih lima puluh juta. Jika pandai maka kakian tidak akan jadi gembel, namun jika salah langkah. Nikmatilah indahnya tinggal dijalanan." Nadya tersenyum lega sekarang.
"Kami tidak akan jadi gembel NYONYA NADYA yang sombong, karena kami masih punya aset-aset yang berharga, ha ...ha ...," tawa Norman salah satu pejabat dewan sekolah yang merupakan orang tua dari siska.
__ADS_1
"Anak sama bapak kelakukannya sama saja, dan silahkan lihat ponsel kalian masing-masing, sebelum berani bicara seperti tadi." Nadya memandang mereka tanpa senyuman.
Fatim terlihat sangat tenang tidak ada gejolak emosi atau keinginan untuk membanggakan dirinya dihadapan Gladis CS.
"Apa?!" ucap semua kelima anggota dewan sekolah Unggulan bersamaan.
"Tidakkkkk!" teriak Norman dan langsung tak sadarkan diri.
"Aku tidak akan mengizinkan kalian membawa aset yang telah kalian dapat dari menggelapkan dana sekolah saya. Untuk itu saya telah menyita semua aset yang bersumber dari dana sekolah termasuk rumah, resort, vila, kendaraan, dan perusahaan kalian."
"Dulu juga kalian sepertu itu jadi akan kembali seperti itu, berusaha dari nol."
Semua memohon pengampunan Nadya, namun tak ada yang berhasil.
"Oke aku punya syarat buat kalian agar aku tidak jadi melakukan semuanya." Tiba-tiba Nadya memunculkan sebuah ide.
"Apa itu tante?" Dengan cepat Gladis merangkak mendekati Nadya.
"Memohonlah pada putriku, jika dia membatalkan semuanya maka akan batal." Nadya melemah sekarang dan terlihat santai berjalan menuju sebuah kursi kosong didepannya. Berdiri lama-lama membuat kakinya pegal juga ternyata.
Kelima gadis itu merangkak kehadapan Fatim.
*Awas saja loe Fatim, gue akan membalas semuanya nanti. Gue nggak pernah sudi ngelakuin ini kalau bukan terpaksa, batin Gladis.*
*Gue bersumpah akan buat loe nangis darah Fatim, geram Riska dalam hatinya.*
*Anadai gue tahu loe tajir, mending gue jadi anak buah loe dulu, nyesel gue jadi kacungnya Gladis, batin Adel.*
*Gue tobat, gegara gue keluarga gue hancur, maafin gue Fatim. Batin Shinta.*
*Gue nyesel banget, cukup kali ini gue nyusahin orang tua gue, ikut-ikutan teman berbuat buruk tak selamanya menguntungkan, maafin gue Fatim. Batin Rini.
"Gue udah maafin loe semua, jauhhhh sebelum loe pada minta maaf," ucap Fatim mantap yang membuat kelima gadis didepannya bisa sedikit tersenyum.
"Tapi ...." Fatim sengaja menggantungkan ucapannya yang membuat kelimanya kembali mencekam.
"Tapi gue nggak bisa mencabut ucapan nyokap gue. Biarlah kalian juga ikut merasakan bagimana rasanya jika berada di bawah. Adakah yang akan menghormati kalian atau memperlakukan kalian dengan baik. Saran gue nanti di sekolah yang baru sebaiknya kalian menjadi anak yang baik." Fatim mundur dan berjalan mendekati sahabatnya
Tanpa Fatim dan Nadya sadari ada seseorang yang sudah penuh dengan linangan air mata, dia adalah Yati. Sahabat rasa saudara yang pernah dimiliki oleh Fatim, namun ia merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
__ADS_1
"Berhenti!" teriak Yati yang melihat Fatim berjalan mendekatinya. Suara Yati yang mengelegar memecahkan keriuhan suasana dalam gedung dewan sekolah kali ini.
Melihat sahabatnya yang seperti meradang membuat Fatim terkejut. Ia melihat dengan jelas sorot mata yang dipenuhi kebencian sekaligus kesedihan memenuhi bola mata bening milik Yati.
"Fren! Loe kenapa?" tanya Fatim seraya berjalan mendekat.
"Gue bilang berhenti ya berhenti." Yati semakin meninggikan oktaf suaranya.
"Kamu kenapa, Nduk?" tanya ayah Yati heran melihat kelakuan putrinya.
"Kita pulang Pak! Gue nggak mau temenan lagi sama pembohong dan gue juga akan berhenti dari sekolah orang kaya ini." YATI berlari keluar ruangan.
"Yati," teriak Fatim yang hendak mengejar sahabatnya, namun langkahnya terhenti karena tangan ayah Yati menahannya.
"Tidak usah di kejar, Nak. Nanti biar bapak yang bicara sama Yati. Beri waktu dia untuk menenagkan diri, sepertinya dia kaget kalau baru tahu kamu itu orang berada ternyata. Sedangkan Yati selama ini berusaha menghindari untuk berteman dengan orang kaya, karena suka direndahkan dan dilecehkan sama orang-orang kaya itu, makanya dia takut nanti kamu juga begitu." Ayah Yati menjelaskan panjang lebar pada Fatim.
"Baik, Pak! Tolong sampaikam pada Yati permintaan maaf saya, dan juga tolong bilang padanya kalau aku akan tetap sama seperti Fatim yang dulu, aku perduli dan sayang sama Yati itu tulus sebagai sahabat rasa saudara." Fatim meneteskan air matanya kesedihannya, ia tidak mau kehilangan sahabat baiknya.
"Iya nanti bapak sampaikan, sekarang bapak pamit ya," ucap ayah Yati sambil menepuk pundak Fatim. Ia tahu kalau Fatim anak baik, dan putrinya sangat beruntung bisa bertemu seseorang seperti Fatim.
Sepeninggalan ayah Yati suasana kembali mencekam. Fatim berjalan mendekati Nadya.
"Terimakasih selalu ada untuk anakmu ini disaat susah, dan terimakasih sudah membuatku semakin mengerti untuk memilih dan menjalani kehidupan yang keras ini dengan bijak." Fatim memeluk Nadya erat dihadapan semua orang yang pernah merendahkannya yang kini menatap nanar pemandangan indah di depan mereka.
"Aku beri waktu sampai besok untuk kalian berbenah. Setelahnya jangan pernah lagi tampakkan batang hidung kalian dihadapanku." Nadya bicara tanpa menoleh sedikitpun pada mereka semua. Keduanya berjalan bergandengan meninggalkan gedung dewan sekolah yang menorehkan luka bagi lima orang gadis sekaligus orang tua mereka.
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini:
Selain itu kalian boleh intip juga novel-novel yang menjadi favorit aku, cerita mereka juga nggak kalah seru lo, kalau nggak percaya coba aja untuk membacanya. ini nih novelnya.
Selain itu kalian boleh intip juga novel-novel yang menjadi favorit aku, cerita mereka juga nggak kalah seru lo, kalau nggak percaya coba aja untuk membacanya. ini nih novelnya.
__ADS_1