Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
YATI NGAMBEK


__ADS_3

🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca.🌻


🌻My Cafe 🌻


"Enggak ada yang nyuruh gue," ucap lelaki berkumis itu santai.


" Loe nggak usah bohong, karena gue tahu siapa yang nyuruh loe," ucap Fatim menyeringgai.


Namun kelimanya masih tutup mulut juga, mereka masih menjunjung tinggi yang namanya kesetiaan.


"Oke kalau kalian nggak mau bilang nggak apa-apa, tapi siapkan saja diri kalian untuk berangkat ke hotel prodeo," ucap Fatim tanpa tersenyum.


Fatim segera meninggalkan kelimanya agar segera ditangani oleh Kak Jef dan anak buahnya selagi menunggu pihak kepolisian menjemput mereka.


Sampai didapur My Cafe Yati dan teman lainnya sudah menunggu dengan gelisah.


"Bagaimana Fatim? Apa semuanya sudah beres?" Tanya Yati kepo.


"Iya Tim, apa semuanya sudah dapat diatasi?" Tanya Kak Wawan.


Melihat wajah-wajah penasaran rekan-rekannya membuat Fatim tersenyum.


"Alhamdulillah semua sudah teratasi dengan baik."


"Alhamdulillah," jawab mereka serentak.


"Jadi semarang bagaimana?" Tanya Yati lagi.


"Mereka akan menginap dihotel prodeo."


"Wahhh enaknya buat kerusuhan tapi bisa nginap dihotel," ucap Yati dengan ekspresi yang binggung.


"Loe mau?" Tanya Fatim.


"Emang boleh?" Tanya Yati semakin kepo.


"Bolehhh banget, apalagi gabung sama mereka," ucap Fatim menahan senyum.


"Whatss gabung ama mereka? Enggak mau lah gue, masa gue gabung sama penjahat."


Semua sudah tertawa melihat ulah Fatim dan Yati.


"Frenku sayang ... loe tahu nggak hotel prodeo itu apa?" Melirik Yati.


"Nggak, bukannya sama dengan hotel-hotel yang dipake buat nginap gitu?"


"Nih gambar hotel prodeo fren, apa loe yakin masih mau ginep disini?" Memperlihatkan gambar salah satu lapas yang ada di Jakarta.


Melihat gambar yang disodorkan Fatim dengan cepat Yati berlalu meninggalkan teman-teman nya menuju ke meja kasir My Cafe.


Semua tertawa melihat Yati yang pergi tanpa sepatah katapun.


"Tim ... apa Yati nggak marah loe canda in gitu?"


"Biasanya nggak Kak, tapi nanti Fatim cek deh siapa tahu dia marah beneran karena merasa dikibulin sama Fatim." Melihat kearah Yati pergi.


"Oke deh Kakak tinggal ya, mau cek pembukuan Cafe dulu." Berjalan menuju ke kantor My Cafe.


Semua sudah kembali ke tugas mereka masing-masing, dan Fatim segera mencari sahabatnya itu, kalau-kalau ia benaran marah.


🌻Taman Belakang Cafe 🌻


Fatim telah berkeliling mencari sahabatnya namun belum bertemu jua, dalam benak Fatim sempat terlintas kalau sahabatnya itu sedang marah padanya.


"Ehmm kemana ya tuh anak?" Mengetuk kepalanya dengan jarinya.


"Sepertinya beneran marah deh tuh anak," ucap Fatim pada dirinya sendiri.


Fatim sudah hafal kebiasaan Yati yang kalau lagi kesal atau suntuk pasti akan menyendiri. Dan tempat favoritnya adalah taman, maka dari itu Fatim memutuskan untuk ke taman belakang Cafe.


Dengan tergesa Fatim berjalan menuju taman, sampai disana dugaannya sangat tepat. Fatim melihat seorang gadis duduk dibawah pohon sambil melempar batu-batuan kecil secara asal.


Dengan hati-hati Fatim berjalan mendekat, ia ingin mendengar omelan sahabatnya itu. Setelah sampai Fatim berdiri dibelakang pohon tempat Yati bersandar.


"Fatim jahatttr!" Melempar kerikil.


"Fatim nggak tahu kalau gue maluuuu."Kembali melemparkan kerikil kecil.


"Semua orang tahu kalau gue Onenggggg." Melempar kerikil lagi.


"Kesian loe Oneng, gara-gara gue loe ikutan salah." Melihat ke kiri dan Kekanan.


Fatim yang mendengar omelan Yati rasanya tak mampu lagi menahan tawanya, perutnya terasa sakit karena itu.


Akhirnya Fatim keluar dari balik pohon dan kembali ke Cafe, ia mengambil dua cup es cream vanila chocolate. Setelahnya bergegas kembali ketempat semedi Yati.


Dilihatnya Yati masih betah ngomel-ngomel sendiri nggak jelas. Dengan cepat Fatim duduk disebelah Yati.


"Maafin gue ya." Menyodorkan satu cup es Creamnya.


Yati pura-pura tak mendengar dan tak melihat kearahnya.


"Fren! Loe beneran marah nih ama gue? Loe yakin mau marah beneran?"


Yati masih tak bergeming, ia masih kesal terhadap dirinya sendiri mengapa bisa sebodoh ini dihadapan Fatim dan teman-teman nya yang lain. Yang pasti ia merasa sangat malu.


"Sampai kapan loe mau ngediemin gue Fren? Gue benar-benar minta maaf, nggak ada maksud hati gue sedikitpun untuk mempermainkan loe atau mempermalukan loe didepan orang lain ... but semua terserah loe, wajar kok loe marah atau loe kecewa, tapi setidaknya gue udah berusaha minta maaf sama loe. Dan kata Mama gue orang yang meminta maaf duluan akan lebih mulia dari orang yang memberikan maaf."


Mendengar ucapan sahabatnya hati Yati meleleh, karena sebenarnya ia pun tidaklah marah pada sahabat nya itu ia hanya merasa gengsi dan malu saja.


Perlahan Yati membalikkan badannya dan melihat satu cup es cream disamping tempat duduknya namun ia tak menemukan sahabatnya Fatim.


"Fren loe dimana?" Teriak Yati sedih saat tak mendapati sahabatnya.


Sambil memegang satu cup es cream Yati berdiri memandang sekelilingnya.


"Fren maafin gue, loe nggak salah kok ... gue aja yang terlalu Oneng untuk memahami semuanya, gue malu ... gue gengsi makanya gue pergi," ucap Yati terisak sambil menyekop es cream kedalam mulutnya.


Melihat kelakuan sahabatnya tentu saja membuat Fatim senyam senyum sendiri dibelakang pohon tempat Yati duduk tadinya. Fatim pun diam-diam keluar dari balik pohon dan memeluk sahabatnya itu dari belakang.


"Gue juga minta maaf, mungkin candaan gue kali ini benar membuat loe tersinggung atau merasa kesal, please jangan marah lagi ya, nggak enak banget dicuekin apa lagi sama sahabat sendiri." Memeluk pundak Yati.


Yati membalikkan badannya dan memeluk balik Fatim dengan erat.


"Gue yang harusnya minta maaf bukan loe, gue sayang loe Fatim."

__ADS_1


"Iya gue tahu loe sayang ama gue tapi nggak ninggalin jejak es cream loe dihijab gue kali ya," canda Fatim.


Dengan cepat Yati melepaskan pelukannya dan memeriksa jilbab Fatim, dan benar saja noda es creamnya menempel disana.


"He ... he ... maaf ya." Membersihkan jilbab Fatim dengan tisue.


"Iya deh gue maafin tapi nih loe rasain dulu es cream gue dihidung loe." Mencolek sedikit es cream ke hidung Yati.


"Fatimmmmmm!"


Sebelum Yati meneriaki namanya Fatim sudah kabur duluan. Jadilah keduanya seperti Tom dan Jerry.


🌻Kedatangan Polisi 🌻


Setelah suasana My Cafe kembali tenang mobil petugas kepolisian pun datang, dan parkir tepat didepan pintu masuk My Cafe yang menjadi tontonan bagi pengunjung.


"Selamat Sore dengan saudara Wawan kah?" Ucap salah satu petugas yang datang.


"Sore juga Pak dan ya saya Wawan yang tadi melapor," ucap Kak Wawan.


"Apa benar laporan yang anda buat saudara Wawan?"


"Siap benar pak, mari ikuti saya." Ajak Kak Wawan.


Mereka berjalan menuju ke arah gudang, disana telah terikat lima orang pemuda yang tadi membuat onar di My Cafe.


"Ini mereka Pak yang tadi menciptakan kegaduhan di Cafe dan ini rekaman CCTV sebagai bukti perbuatan mereka." Menyerahkan sebuah plashdisk.


"Baiklah terimakasih banyak atas kerjasama nya kami akan segera menyelidiki semuanya, semoga saja segera ada titik terangnya." Menjabat tangan Wawan.


"Sama-sama Pak, kami tunggu kabar baiknya."Membalas salaman Pak Polisi.


Kelima pemuda itu mulai digiring menuju Kemobil petugas namun salah seorang dari mereka mencoba untuk kabur.


"Berhenti! Jangan bergerak!"


Namun yang diteriaki tidak perduli dan akhirnya terdengar suara tembakan dan timah panas pun bersarang tepat dipaha nya.


"Dorrrrrr!"


"Akhhhhh ... bugggg."


Tubuh pemuda yang melarikan diri itu pun roboh tak berdaya. Darah segar mengalir dari pahanya.


"Angkat tangan!"


"Ampun Pak! Sakittt," ucapnya sambil mengangkat tangan.


"Makanya jangan melawan akhirnya di dor kan," Memborgol tangan tersangka.


Semua sudah digiring ke kantor polisi terdekat, dan My Cafe kembali tenang.


🌻Parkiran My Cafe 🌻


Situasi kembali normal dan magrib pun menjelang.


"Kak ... ini sudah magrib aku antar Yati pulang ya, sekalian juga aku mau pulang," ucap Fatim.


"Iya Dek Fatim, kalian hati-hati ya karena sekarang lagi rawan begal."


Fatim berjalan menghampiri Yati yang masih melayani pengunjung.


"Fren berhenti dulu gih, sholat magrib dulu dan sekalian kita langsung pulang."


"Loe udah sholatnya?"


"Alhamdulillah udah, gue tunggu loe diparkiran Cafe ya." Mengambil kontak motornya.


"Oke, gue kebelakang dulu ya." Memuju kearah Mushola Cafe.


Fatim berjalan menuju motornya dan itu berpapasan dengan sebuah mobil dinas sebuah pondok pesantren yang sering mengisi pengajian dimasjid yang tidak jauh dari My Cafe, dan biasanya mereka akan makan dulu baru balik ke Bandung.


"Akhi sepertinya kita melihat seorang bidadari dunia nyata yang sedang menuju motornya," ucap Akhi Hanif.


Semua lelaki sholeh yang ada dimobil serentak menoleh kearah Fatim yang sedang menuju motornya.


"Subhanallah jantung ana bergetar," ucap mereka hampir serentak dan memegang dadanya.


"Tapi tunggu wajah gadis itu seperti tidak asing ya." ucap Akhi Rizal.


"Bas kamu nggak mau melirik gadis itu," tanya Akhi Rizal.


"Maaf Akhi aku belum sempat lihat, nanti kalau mataku melirik gadis itu kalian mau mobil kita nyungsruk."


Segera saja suasana mobik menjadi berisik dan heboh.


"Iya kamu benar Abas, maaf ya." Menepuk pundak Abas yang lagi menyetir.


"Nggak apa-apa Akhi, santai saja." Mulai menepikan mobilnya yang tidak terlalu jauh dari motor Fatim.


Rombongan para santri itu pun segera masuk ke My Cafe. Dan tinggal lah Abas seorang yang memarkirkan mobil mereka.


Fatim terlihat cuek dengan situasi sekitarnya sehingga ia tidak menyadari kedatangan rombongan Abas.


Abas pun turun dari mobinya dan mulai berjalan hendak masuk ke Cafe, namun ia merasa penasaran dengan wanita berhijab yang tadi dibicarakan oleh teman-teman pondoknya. Dan ia pun memutuskan untuk pura-pura berjalan melewati gadis itu.


Semakin dekat dengan gadis itu perasaan Abas semakin tak menentu.


*Kenapa jantung gue berdetak seperti orang lari maraton ya, detakkan ini seperti detakan saat aku berada didekat Fatim gadis bidadari syurgaku, batin Abas.*


Karena rasa penasaran yang ia rasakan Abas memberanikan diri untuk menyapa gadis berhijab yang sedang asyik memainkan Hp nya dengan duduk diatas motor maticnya.


"Assalamualaikum ya Ukhti?"


"Waalaikumussalam tapi maaf nama gue bukan Ukhti tapi saya Fatim." Mengangkat wajahnya dari layar Hp untuk melihat pemilik salam.


*Fatim apa benar dia Fatim pujaanku, Subhanallah sudah berhijab ... cantik, batin Abas.*


"Elooo," ucap Fatim menunjuk Abas.


"Iya ini aku Abas, kamu beneran Fatim?"


"He ... he ... iya Bas ini gue, loe nggak kenal gue lagi?"


"Subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar ... aku pangling dengan penampilan baru kamu."

__ADS_1


"Kenapa jelek gue pake hijab?"


"Nggak kok cantik banget malah, ehhh." Menutup mulutnya.


"Maaf mulut ku nggak punya rem, lepas kontrol." Mulai membuang pandangannya.


Fatim yang melihat Abas salah tingkah malah tertawa.


"Loe lucu amat sih Bas," ucap Fatim.


"Kakak bukan Bas," protes Abas.


"Eh iya ya gue lupa, sorry Kak Abas."


"Kalau boleh tahu sejak kapan mulai berhijab?"


"Ehmm belum lama sih, sejak gue balik dari Yogyakarta."


"Oh iya untungnya kita bertemu lagi," ucap Fatim sambil turun dari motor.


"Kenapa," tanya Abas senang karena jantungnya sudah tak menentu.


*Ya Allah kuat kan lah aku, kenapa setiap ketemu Fatim aku serasa mau pingsan, nggak kuat menahan gejolak rasa, batin Abas.*


"Nih! Menyerahkan sebuah bungkusan pada Abas.


"Apa ini?" Menerima pemberian Fatim.


"Shal loe yang gue pake tempo hari waktu kita tabrakan dan baju gue sobek."


"Ohhh kalau begitu kamu simpan saja buat kenang-kenangan." Menyerahkan kembali bungkusan itu.


"Loe yakin mau ngasih shal kesayangan loe ini buat gue?"


"Iya simpan saja."


Sedang asyik mengobrol akhirnya Yati datang.


"Duhhh yang lagi pacaran ditempat parkir," ucap Yati asal.


"Pletek! Fatim menyentil jidat Yati.


"Auwww sakit Fren." Memegang jidatnya.


"Makanya jangan asal ngomong, kasih minyak rem dikit tuh mulut."


"Iyaaa maaf." Menutup mulut nya.


Abas hanya tersenyum melihat keduanya.


"Fatim! Aku masuk dulu ya, inshaa Allah dilain waktu kita akan bertemu lagi."


"Oh iya Kak Abas, silahkan."


"Ehmm Fatim ... ukhti itu bukan nama, tapi panggilan untuk seorang wanita muslimah." Berlalu meninggalkan Fatim dan Yati.


"Ya Allah, malu nya gue." Menutup mukanya.


"Kenapa Fren, cerita dong gue kepo." Membuka tangan Fatim yang menutup wajahnya.


"Nggak boleh itu rahasia," ucap Fatim sambil tersenyum dan menstater motornya.


"Udah ah yuk naik."


"Fren buat orang penasaran itu dosa loe."


"Kalau buat loe nggak dosa tapi dapat pahala gue."


"Fatimmm," teriak Yati karena motor Fatim mulai melaju kencang menuju kediaman Yati.


Bersambung....


Love you readers loverku 😍


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.


dan karya apik author yang lain :


Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Shohibul Ikhsan


Putih Abu Abu


Kembar Tidak Identik


*Sudrun


Samudra


*Ergina Putri


My Heart Only For You


Melawan Rasa Takutku


*Sisca Nasti


Mafia In Love


*Almaira


My Secref Wife


My Love My Babysitter


*Envy Yo WesBen


MY Princes OG

__ADS_1


__ADS_2