
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
"Iya, Sayang. Maafin mama juga ya. Mama juga merasa beruntung punya anak seperti kamu. Teruslah bersinar menerangi kehidupan mama," Memeluk Fatim erat dengan sedikit buliran bening yang mengalir di sudut matanya.
*Andai kamu masih di sini, Mas. Tentu kamu akan melihat putri kesayangan kita yang begitu mirip dengan sifatmu, aku merindukanmu, Mas.*
*****
Nadya menepuk pundak putrinya dengan lembut." Sekarang kamu salat ya, setelah itu baru lanjut isirahat tapi jangan tidur lagi ya. Soalnya tidur abis salat asyar itu kurang baik untuk kesehatan, ini bukan kata mama lo tapi memang ada hadisnya." Nadya terseyum pada putrinya.
"Siap, Mamaku sayang!" Fatim mengangkat tangannya pada posisi hormat sambil ikut tersenyum.
Nadya segera keluar dari kamar putrinya, baru saja hendak melangkah ponselnya berbunyi.
"Halo, Mon. Ada apa?" tanya Nadya.
"Seseorang menelpon dari kantor polisi, mengabarkan kalau Tuan Permana sedang sakit keras di dalam sel," jawab Momon singkat.
"Oke, kamu cek dulu kondisinya. Jika benar segera minta surat penagguhan untuknya, bawa dia kerumah sakit tetapi harus tetap dalam pengawasan pihak kepolisian. Rawat dia sampai benar-benar sehat," perintah Nadya pada Momon.
"Siap, Bu. Laksanakan!" Sambungan ponsel tertutup. Nadya kembali melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
"Bu, ada tamu di depan." Bi Ijah tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Nadya.
"Yaa Allah, Bi. Kamu bikin kaget saja. Untung aku nggak jantungan." Nadya mengusap-usap dadanya karena kaget.
"Maaf, Bu. He ... he ... he ...." Bi Ijah tertawa sambil mengajungkan dua jari nya tanda damai.
"Siapa tamunya?" tanya Nadya lagi.
"Teman ibu yang waktu itu ikut makan malam, yang dari Bandung," jelas bi Ijah.
"Ooh maksud kamu, Rahmat?" Melihat ke arah bi Ijah.
"Nah, itu! Ibu bener. Seratus buat ibu, tebakannya jitu tenan," ucap bi Ijah sambil mengajukan jari jempolnya.
"Mana seratusnya?" tanya Nadya bercanda.
"Masuk cashbon dulu, bibi kan belum gaji, " Bi Ijah membalas candaan majikannya. Mereka memang akrab tidak terlihat seperti majikan dan asisten rumah tangga. Lebih terlihat seperti keluarga saja.
"Yo, Wes. Aku temuin tamunya. Bibi siapin minumnya ya." Nadya berlalu sambil menepuk lembut pundak Bi Ijah.
Yang di jawab dengan senyuman manis ala-ala Bi Ijah. Kemudian beliau segera berlalu menuju singasananya, yah dia adalah permaisuri dapur keluarga Nadya.
*****
Nadya sudah berjalan menuju ruang tamu, dilihatnya sahabatnya datang tidak sendiri kali ini tapi bersama Maryam istrinya.
"Assalammu'alaikum," sapa Nadya pada tamunya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab keduanya serentak.
"Maaf ya, jadi tuan rumahnya yang mengucapkan salam duluan," ucap Maryam yang bersalaman dengan Nadya kemudian saling merangkul sambil menepuk pundak dan bertukar kabar.
Sedangkan dengan Rahmat, Nadya hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada, karena memang sudah tahu sebaiknya lelaki dan perempuan yang sudah aqil baligh juga bukan mahram sebaiknya tidak berjabat tangan kecuali tidak punya nafsu lagi di hatinya.
__ADS_1
"Ayo, silahkan duduk. Ada kabar apa hingga kalian berdua jauh-jauh berkunjung kerumah kami tanpa mengabari dulu kalau mau datang?" tanya Nadya dengan senyum khasnya.
"Sebaiknya Umi saja yang jelasin ya, Abi masih capek." Menggosok tangannya yang memang sedikit pegal.
"Ihh, Abi!" Maryam mencubit tangan suaminya lembut.
"Ehmm, mau buat aku iri nih, main cubit-cubitan?" Nadya mengerling kearah Maryam sambil tersenyum.
Wajah maryam sudah merona, sejak dulu selalu begitu. Kalau merasa malu wajah Maryam akan merona merah.
"Maad, Nad. Bukan begitu tapi ...." ucapan Maryam menggantung.
"Tapi begini," jawab Nadya lagi yang membuat tawa ketiganya pecah. Mereka memang sudah akrab sejak dari bangku kuliah. Nadya menjadi pak pos bagi keduanya sampai menuju jenjang pernikahan.
"Ya sudah, Abi saja yang ngomong. Jadi begini Nadya. Pertama kami berniat mengunjungi calon mantu kami yang baru pulang dan ini sedikit buah tangan untuk calmannku itu." Rahmat memberikan parsel buah dan ada beberpa batang coklat kesukaan Fatim.
"Terimakasih banyak sudah merepotkan kalian." Nadya menerima pemberian Rahmat dan Maryam.
"Yang kedua, kami ingin menyerahkan berkas kepindahan putra kami, tetapi boleh ya kami menyertakan Hanif bersamanya. Kami sedikit khawatir soalnya. Apalagi di sekolah umum itu berat godaannya. Setidaknya dia punya teman untuk bertukar pikiran. Bagaimana apa Boleh?" tanya Rahmat.
"Ohh itu, boleh saja. Dan kabar baiknya senin besok putramu sudah bisa mulai sekolah," jelas Nadya.
"Iya, kami akan segera mengurusi alat-alat yang harus di bawanya, termasuk mencari rumah untuk tempat tinggalnya," jawab Maryam yang baru ikut nimbrung.
"Untuk rumah dan peralatan dalamnya nggak usah dipusingkan. Nanti biar aku yang urus. Aku akan cari rumah yang tidak jauh dari sekolah buat calmanku bersama temannya itu." jawab Nadya dengan senyuman.
"Alhamdulillah, senangnya punya calon besan yang sangat perhatian dan pengertian," seloroh Maryam dengan tawanya.
"Aku juga bersyukur punya calon besan yang sangat berbesar hati dan mau membimbing aku dan putriku," ucap Nadya juga.
"Ya ampun, Bi. Tamunta udah ngobrol ngarul ngidul minumnya baru datang," ucap Nadya menggoda Bi Ijah.
"Iya Bu, maaf soalnya ini di luar keinginan. Nggak biasanya jalan tol macet jadi lama deh," jawab Bi Ijah dengan candaaan pula.
Semua kembali tertawa yang membuat Fatim merasa penasaran di dalam kamarnya. Soalnya sejak abis salat ramai sekali di bawah sana.
"Mama sama siapa ya, sedari tadi kayaknya happy-happy mulu, nggak ngajak-ngajak. Gue kan pengen juga ketawa ketiwi gitu," gumam Fatim pada dirinya sendiri.
Tapi dia malas untuk turun. Akhirnya Fatim mememilih untuk merapikan kamarnya yang sudah lama dia tinggali sewaktu di rawat.
Fatim mulai membersihkan tempat tidurnya, kemudian buku-buku belajarnya. Dan tanpa sengaja sebuah shal jatuh dari atas meja belajarnya. Perlahan Fatim meraih shal itu, dan ia tersenyum sendiri saat mengingat bagaimana shal itu bisa berada ditangannya.
Memori pertemuannya dengan Abas terputar kembali saat di cafe ia keluar dari pintu kantor Kak Wawan sedangkan Abas keluar dari toilet keduanya bertabrakan dan terjatuh. Kemudian Fatim mengulurkan tangannya untuk membantu Abas berdiri saat sudah berjabatan tangan dan hendak menariknya keduanya saling pandang. Fatim tahu Abas tidak mau di sentuh perempuan makanya ia langsung melepaskan pegangannya dan keduanya kembali terjatuh dan saling meminta maaf. Saat itu lah Abas melihat baju Fatim yang sobek dan memberikan shal itu untuk menutupi bajunya yang sobek.
Senyum Fatim masih mengembang dibibir mungilnya dan tanpa sadar ia mencium dan mendekap erat shal itu.
"Astagfirullah, apa yang gue pikirin, bisa-bisanya gue mengingat semua tentang lelaki itu, sedangkan gue sudah akan menjadi milik orang lain. Ampuni gue yaa Allah. Kenapa hati gue berdetak kencang saat mengingat Abas? Apa gue sakit lagi ya? Apa ini pengaruh obat sehingga detak jantung gue nggak normal?" ucap Fatim pada dirinya sendiri. Ia bingung dengan keadaanya saat ini.
🌹Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
__ADS_1
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
Cinta Di antara Dendam
* Sylala Yaya
Istri kedua tuan Krisna
* Cherin Kauma
l Love My Army Wife
*Oktavia Tresiani
Pacarku Hantu
__ADS_1