
Terimakasih sudah membuka part ini. Selamat membaca, semoga terhibur!
Taburan bintang mulai memudar sekumpulan awan hitam mulai menaungi mereka, dua insan yang sedang asyik menikmati suasana malam pun bergegas untuk kembali masuk ke mobil.
Cuaca begitu cepat berubah tanpa bisa diprediksi. Suasana yang tadinya begitu indah mempesona kini seketika menjadi gelap gulita, udara yang sepoi menjadi dingin, desauan angin terdengar semakin nyata, dan kilatan petir mulai berlomba untuk melukis di langit malam itu.
Rinai hujan perlahan mulai turun dan akhirnya semakin lebat, hingga membatasi jarak pandang Abas yang sedang menyetir. Sesekali dentuman guruh membuat jantung seakan ikut berpacu.
"Dek! Kamu takut?" Abas melihat sepintas pada Fatim.
"Sedikit, sebaiknya Kak Pop fakus saja pada jalannya." Fatim ikut menatap ke jalan raya yang terlihat sangat sepi.
"Dek, hujannya semakin lebat. Apa kita menepi saja?" Abas memperlambat laju mobilnya.
"Baiklah, jika itu yang terbaik menurut Kak Pop." Fatim merapatkan kedua tangannya ke dada, karena ia benar-benar merasa dingin, apalagi Ac mobil terus menyala.
Abas menepikan mobilnya dan memberikan jaket yang selalu ia bawa pada Fatim, tanpa penolakan gadis itu segera memakainya.
"Kak, kamu nggak dingin?" Fatim menatap lekat wajah kekasihnya.
"Sedikit, apa kita turun dan numpang di rumah warga sekitar saja?" Abas balas menatap kekasihnya, ada gelanyar hangat mengalir dalam tubuhnya sebagai lelaki normal yang sedang kasmaran pada istrinya sendiri.
"Tidak usah, Kak. Ini sudah menjelang larut malam. Tidak enak menggangu istirahat orang lain." Fatim tidak menyadari jika lelaki tampan disebelahnya sudah diam mematung dengan bibir sedikit gemetar.
"Kak ... bibirmu bergetar, kamu dingin ya?" Fatim beranjak dari duduknya dan mematikan Ac mobil. Aroma harum tubuhnya memenuhi indera penciuman suaminya, yang harus memejamkan mata untuk menikmatinya.
Fatim reflek membuka jaket yang tadi Abas berikan padanya, tanpa ragu ia mulai menyelimuti tubuh suaminya yang membuat wajah mereka begitu dekat, detak jantungnya seakan mulai bertabuh, tatapan penuh cinta jelas tergambar di sana.
"Bolehkah?" Abas bertanya dengan gemetar, selain gemetar karena dingin juga bergetar karena hasratnya menggelora. Fatim mengangguk, ia sadar saat ini suaminya sangat kedinginan.
Abas mulai mendekap kekasihnya erat, perlahan rasa hangat mulai mengusir dingin dalam tubuhnya. Keduanya larut dalam cumbuah layaknya pengantin baru pada umumnya. Di sela napas yang memburu gadis itu mengingatkan suaminya.
"Kak, kamu masih harus menjagaku," suara Fatim terdengar lirih.
Dengan cepat Abas beristiqfar, dan memperbaiki posisinya, kemudian membantu istrinya untuk merapikan diri.
"Maaf." Abas menangkupkan kedua tangannya di pipi Sang kekasih, lalu mencium keningnya lembut.
Wajah keduanya memerah, lama mereka saling pandang dan akhirnya tertawa bersama. Seakan mengerti kini hujan mulai reda, keduanya memutuskan untuk kembali berjalan menuju ke rumah idaman, dan ini sudah sangat larut.
Mobil mulai memasuki garasi, tampak keduanya turun dari mobil. Di depan pintu masuk tampak seorang Nadya telah berdiri dengan berkacak pinggang.
"Assalamu'alaikum," ucap keduanya bersamaan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Nadya menjawab salam tanpa senyum, tangannya kini sudah berpindah posisi seperti bersedekap.
"Nggak punya ponsel? Atau sengaja ingin membuat jantung mama naik turun seperti jungkitan? Atau sengaja ingin membuat mama kurus bolak balik seperti seterikaan?" Mata Nadya menghujam tajam menusuk pandangan kedua anaknya.
Abas tak berani menatap mata mama mertuanya, sedangkan Fatim celengak celengguk dan tersenyum lebar. Ia mendekati Nadya dan memegang tangannya.
__ADS_1
"Mamaku tersayang maafkanlah putrimu yang cantik ini, pertama kita punya ponsel tapi karena ada petir nggak berani buka takut ke sambar, kedua kalau mama naik jungkitan ajak Fatim dong, Ma. Masak sendirian." Fatim nyenggir dan mencium tangan mamanya." Dan yang ketiga nggak mungkin mama bisa kurus soalnya yang bolak balik itu seterikaan, bukan mama." Fatim memeluk Nadya mesra yang membuat suaminya merasa takjub akan kelakuan ibu dan anak itu, yang menurutnya istimewa.
"Dasar anak shalihah, bisa aja cari alasannya." Nadya menarik hidung putrinya.
"Aduhh Mama udah dong, nanti hidung Fatim tambah mancung 'kan kasihan pinokio nanti ada saingannya." Fatim memancungkan bibirnya yang membuat Abas menutup mulutnya menahan tawa.
Melihat hal itu tentu saja Nadya tidak akan berat sebelah, menantunya pun harus dapat hukuman yang sama.
"Senyam senyum aja, kamu juga dapat gilirannya. Sini!" Lambai Nadya pada Abas yang membuat senyumnya seketika raib ditelan bumi.
Abas melangkah perlahan sambil menundukkan kepalanya.
"Jalan aja lama kayak pengatin baru saja," rutuk Nadya pada menantunya.
"Ya elah Mama, emang kak Pop pengantin baru keles," sahut Fatim membela suaminya.
" Eh iya ya." Nadya dan Fatim reflek tertawa dan saat Fatim melihat tatapan tajam suaminya ia segera menutup mulutnya.
"Maaf-maaf ya udah deh kali ini kamu nggak mama hukum, gih masuk kamar kalian." Nadya mendorong pundak menantunya. Namun Fatim merasa dicurangi oleh Sang mama.
"Mama curang, nggak adil. Giliran mantunya nggak dihukum awas aja kak Pop, nanti aku yang memberikan hukumannya." Fatim mencium pipi suaminya dan berlari masuk kamar yang membuat Abas memegang pipinya yang terasa memanas. Sedangkan Nadya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ma ... maaf ya, hujannya benar-benar lebat, dan kami terpaksa berhenti." Abas masih merasa bersalah pada Nadya.
"Iya nggak apa-apa, mendingan sekarang kamu ganti baju ajak Fatim sekalian, lalu turun ke sini ya, ambil wedang jahe." Nadya menepuk lembut pundak menantunya dan berlalu menuju dapur.
Abas tersenyum sambil menaiki tangga menuju ke kamar mereka. Ia sedang berkhayal bagaimana nanti istrinya itu berada dilingkungan pondok yang penuh aturan, pasti ia tidak akan betah dan mendapat hukuman.
Sampai di depan pintu kamar lelaki itu mengetuk pintu terlebih dahulu baru mengucapkan salam, namun hening tidak ada jawaban. Karena penasaran ia segera mendorong pintu kamar dan sesuatu terjadi.
Brukk!
Sebuah ember kecil berisi air tumpah tepat di atas kepala lelaki itu yang membuatnya basah kuyup.
"Yeeee tepat sasaran." Fatim melompat dari belakang sofa yang ada di dalam kamarnya.
"Dek! Kamu ...." Abas terlihat kesal.
"Eittt, tarik napas lalu hembuskan perlahan dan segera istiqfar, no marah-marah." Fatim mengalungkan handuk ke leher suaminya dengan santai.
Saat akan melepaskan tangannya dengan cepat Abas meraih jemari mungil yang lincah itu dan mengenggamnya erat.
"Ih Kak Pop lepasin, ganti baju gih." Fatim berusaha menarik tangannya.
Namun tenaga lelaki dihadapannya saat ini lebih kuat." Tidak akan, kamu harus membantuku ganti baju." Abas tersenyum nakal.
"Ihhh sorry ya, t-i-d-a-k m-a-u." Fatim tersenyum manis dan seketika melotot saat sebuah ciuman mendarat dibibirnya.
"Ikut!" Abas menarik tangan istrinya menuju kamar mandi, ia melakukannya agar Fatim bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan.
__ADS_1
Setelah selesai membantu suaminya menggantikan baju, kini keduanya turun untuk mengambil wedang jahe sesuai permintaan ibu mereka, Nadya.
Fatim tampak manis dengan baju tidur bermotif bunga lili berwarna putih dipadu dengan warna biru dongker. Rambutnya dibiarkan tergerai karena masih basah.
Sedangkan Abas mengenakan baju kaos oblong polos berwarna putih dengan kain sarung hijau bermotif kotak-kotak, tak lupa kopiah 'kupluk' menempel dikepalanya.
Sampai di ruang keluarga Nadya sudah menunggu, dan ada dua buah amplop ditangannya.
"Ma!" Sapa anak dan menantunya bersamaan.
"Duduk sini." Nadya menepuk kursi disebelahnya.
Fatim duduk di dekat mamanya dan Abas memilih duduk di samping istrinya. Mereka menyeruput wedang jahe hangat buatan bi Ijah yang terasa sangat nikmat di cuaca dingin seperti ini.
"Em ini ada sebuah amplop dari mama untuk kalian berdua, tapi ini hanya boleh dibuka saat nanti kalian sudah berada jauh satu sama lain. Tapi bukan berarti mama senang kalian berjauhan, bukan. Tapi mama punya alasan tersendiri." Nadya menyodorkan amplopnya.
Abas dan Fatim saling tatap sebelum akhirnya mengambil amplop yang bertuliskan nama mereka masing-masing.
"Ma ...." sapa Abas kemudian." Rencananya besok aku ingin mengajak Dek Fatim ke Bandung." Abas mencoba untuk tersenyum.
"Iya boleh, mama nggak keberatan. Tolong ajari Fatim caranya hidup di pondok, biar tuh anak tahu rasanya nyuci sendiri, makan bukan sesuai seleranya, tidur dibatasi, dan semua-semuanya." Nadya tersenyum mengejek melihat putrinya.
Fatim hanya mendelik pada mamanya sebagai rasa protesnya, ia tak mau menjawab karena malas mendengar ceramah suaminya.
Setelah selesai minum wedang jahe, keduanya mohon pamit untuk beristirahat. Saat ini memang sudah sangat larut, dan besok mereka harus berangkat ke Bandung.
*****
"Kak Pop, jangan bilang hidup mondok itu susah." Fatim merenggek manja.
"Nggak kok," jawab Abas pelan karena ia memang sudah sangat mengantuk.
"Kak Pop," sapa Fatim lagi.
"Emm," jawab Abas semakin pelan dan akhirnya terlelap.
"I love you." Sepi tidak ada respon, Fatim membalikkan badannya dan ia melihat wajah penuh keteduhan itu sudah terlelap. Ia menaikkan wajahnya sedikit agar menyamai posisi wajah suaminya, lalu ia mencium lembut hidung suaminya dan menghapus lelehan air matanya yang tiba-tiba saja mengalir. Rasa sesak memenuhi rongga dadanya saat teringat kelak mereka akan kembali terpisah.
*Selamat tidur imamku, kekasihku, cintaku. Rengkuh aku dalam indahnya mimpimu.*
Bersambung ....
👍 jangan lupa tap likenya
👩💻 jangan lupa komennya
🎁 jangan lupa hadiahnya
Terimakasih
__ADS_1