
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca🌻
🌻Rumah Sakit 🌻
Setelah nenek itu pamit Fatim segera membagikan nasi bungkus yang ia pesan untuk para keluarga pasien yang sedang menunggu disepanjang koridor rumah sakit.
Banyak doa yang Fatim terima dan Fatimpun berharap doa mereka juga diijabah oleh Allah.
"Ya Allah semoga Papaku masiih Kau izinkan untuk kembali sehat, aamiin." Menatap kelangit senja yang mulai memerah.
Dengan segera Fatim kembali kr kamar Bram, ternyata kamarnya kosong.
"Klek." Membuka pintu.
"Ya Allah ... kok kosong, Papa dibawa kemana, " ujar Fatim bingung.
Dengan segera Fatim menelpon Nadya.
"Tuuuuut."
"Tuuuuut."
"Halo Assalamualaikum Sayang."
"Ma ... kemana, kok kamar Papa kosong?"
"Kami diruang operasi sayang, kondisi Papa drop jadi harus segera disetot cairannya."
"Innalillahi wainnalillahi rojiun, cairan apa Ma?"
"Diparu Papa banyak cairan makanya Papa sering sesak, nanti kalau sudah selesai dan Papa sudah mendingan baru kita bawa ke Jakarta atau nanti bila perlu kita keluar negeri agar Papa segera sehat kembali."
Mendengar penjelasan Nadya membuat perasaan Fatim sangat sedih, ia tidak menyangka ternyata separah itu sakit Papanya.
"Fatim sayang, halo ...."
"Eh iya Ma, Fatim segera kesana, Fatim tutup ya, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Telepon telah ditutup namun Fatim masih diam mematung ditempatnya, perasaanya benar - benar galau.
"Ya Allah ... apa yang harus gue lakuin untuk kesembuhan Papa," gumam Fatim pelan sambil menutup kedua matanya. Lelehan hangat perlahan merembes dari sudut matanya.
Sedang hanyut dalam rasa dukanya, notif chat masuk dalam ponselnya. Dan Fatim mengambil ponselnya untuk membaca chat.
* Yang perlu dilakukan anak sholehah adalah berdoa dan berdoa.*
"Pesan dari siapa ini, tapi ini mungkin jawaban yang Allah kirim untuk gue, pengirim pesan ini benar gue harus berdoa untuk Papa suapaya operasinya lancar dan Papa cepat baikan," ucap Fatim kembali mendapat semangat.
Fatim segera menyimpan ponselnya dan menuju ruang OP, karena disanalah Papanya saat ini.
🌻Kamar Operasi 🌻
"Ma ...." sapa Fatim.
"Sayang kamu dari mana, katanya ke mushola kok lama nggak balik - balik?"
"Iya Ma, Fatim baru dari mushola kok ini, bagaimana kondisi Papa?"
"Belum ada kabarnya, para tim OP masih didalam," ucap Nadya.
"Ma ... bagaimana perasaan Mama saat ini? Apa Mama baik - baik saja?" Memeluk Nadya.
"Iya Sayang, kita serahkan semuanya pada Allah, hanya Allahlah sebaik - baik tempat untuk bergantung."
"Mama benar, Fatim ingin berdoa buat Papa."
"Iya Sayang lakukanlah, itu lebih baik. Doa anak yang sholehah akan cepat didengar oleh Allah." Mencium kening Fatim.
"Itu musholanya Sayang, dekat kok dengan ruang OP." Menunjuk ke samping kanan ruang OP.
"Ma ... Fatim ke mushola ya."
"Iya Sayang, terimakasih sudah mendoakan Papa."
"Itu kewajiban Fatim sebagai seorang anak Ma, nggak usah berterimakasih," ucap Fatim tersenyum dan segera menuju mushola.
🌻 Mushola 🌻
Perlahan Fatim membuka pintu ruang wudu, disisingnya lengan baju dan celana panjangnya dan ia segera berwudu. Dinginnya air wudu mengenai wajah cantiknya meresap hingga kedalam kalbu Fatim, terasa sangat menenagkan. Kemudian ia beralih ke kedua tangannya, lalu mengusap kepalanya, kedua telinganya dan kedua kakinya, setelah selesai. barulah ia mengucapkan doa sehabis berwudu.
"Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalahu . Wa asyhadu anna Muhammadan’abduhu wa rasuuluhu Allahumma-j alnii minattabinna waj alnii minal mutathohiirina waj alnii min ‘ibadatishalihin.”
Selesai berwudu Fatim segera masuk kemushola dan memakai mukena, kini Fatim memulai sholat sunat hajad dua rakaat dan setelahnya mulai berdoa untuk kelancaran operasi papanya.
Fatim benar -benar khusuk dalam berdoa, dia melupakan semua yang ada disekitarnya fokusnya hanya kepada Allah, sang pemilik semesta.
"Ya Allah yang maha menyembuhkan, aku mohon kesembuhan dan kelancaran atas operasi papaku, sehatkanlah beliau seperti sedia kala, izinkan aku merasakan kasih sayang seorang ayah yang sudah aku impikan selama ini, aku mungkin bukan hambamu yang taat, namun aku hanya berharap kepadaMu ya Allah, yang maha menguasai segalanya, ya Allahu Ya Mujib kabulkanlah doa dan pinta hamba, aamiin ya robbalalamin."
Setelahnya Fatim mencoba mengambil surat Yasin yang sangat jarang dia sentuh, meski ia bisa membacanya. Perlahan suara merdu Fatim mulai terdengar membaca surah Yassin untuk papanya.
Selesai membaca surat Yasin, Fatim membuka mukenanya, dan menyeka air matanya, namun kini perasaanya menjadi lebih tenang.
🌻Menuju Ruang OP 🌻
Fatim segera menemui Nadya. Namun saat hampir dekat Fatim menjadi ragu mendekat karena ia melihat Om Rahmat disana.
*Iih kenapa Om Rahmat ada disini sih, apa mama yang ngasih tahu kalau kami disini, males banget ketemu Om Rahmat yang ada nanti malah bercerita tentang perjodohan itu, ehmm apa gue nggak kesana aja kali ya, cari makan aja kali atau ...*
Lamunan Fatim terhenti karena Nadya telah melihat dan menyapanya.
"Nah itu Fatim, sini Nak !"
Akhirnya terpaksa Fatim mendekati Nadya dan Rahmat.
"Fatim nih ada Om Rahmat dan ini istrinya," ucap Nadya menarik tangan Fatim.
"Assalamualaikum Om ... tante," ucap Fatim sambil menyalami tangan keduanya.
"Oh ini Fatim ya, kenalin tante Maryam," ucap istri Rahmat.
Fatim menggangguk tersenyum.
"Kamu cantik dan sholehah, sepertinya cocok untuk menjadi istri anak tante,"
*"Uhh tuh kan mulai dah,batin Fatim.*
"Ma ... bagimana Papa?" Ucap Fatim mengalihkan permbicaraan.
__ADS_1
"Alhamdulillah Sayang, operasinya berjalan lancar sekarang tinggal tunggu Papa dibawa keruang perawatan."
"Alhamdulillah terimakasih ya Allah telah mengijabah doa Fatim,"
Semua tampak senang saat tim OP keluar.
"Alhamdulillah semuanya Bapak Bram sekarang bisa dipindahkan keruang perawatan."
"Alhamdulillah," ucap semuanya.
🌻Ruang Perawatan 🌻
Setelah diopeasi hampir 3 jam sekarang Bram telah dibawa menuju keruang perawatan, kondisinya saat ini jauh lebih baik dari sebelum operasi, wajah Bram tampak lebih sehat dan nafasnya pun sudah teratur. Namun selama berapa hari kedepan ia harus menjalani terapi meniup balon untuk membantu memulihkan kondisi parunya agar kembali mengembang sempurna seperti sedia kala.
"Sayang sekarang Papa sudah lebih baik, kamu istirahat ya." Mengusap pundak Fatim.
"Iya Ma, tapi Fatim ganti baju dulu karena udah bau nih, acemmm." Mencium bajunya.
Semua tertawa melihat tingkah Fatim yang lucu.
Fatim segera keluar mengambil baju gantinya. Saat ia keluar Nadya baru bicara pada Maryan dan Rahmat.
"Kalian mengajak Abas?"
"Iya, dia ada diparkiran rumah sakit, aku sengaja melarangnya ikut kedalam, aku tidak mau Fatim tahu kalau Abas anakku," ucap Rahmat.
"Oh syukurlah kalau begitu, tapi bagaimana kalau nanti ia bertemu Fatim?"
"Nggak usah khawatir, tadi aku sudah bilang kalau kami menjengguk pasirn wanita yang sedang sakit kronis," ucap Mariyam tersenyum.
"Kalian bohong dong sama Abas?"
"Nggak bohong kok, kebetulan tetangga kami seorang perempuan sedang dirawat disini, dan kondisinya memang kronis."
"Oh syukurlah kalau begitu."
Sedang asyik berbicara keluarga Pram datang, mereka meminta izin untuk pulang karena besok anak -anaknya sekolah.
"Dek ... Mbak Yu pamit yo, soalnya besok anak - anak sekolah jadi nggak bisa nginep," ucap istri Pram.
"Iya Mbak Yu nggak apa - apa, aku juga sudah makasih banyak Mbak Yu bisa mampir." Memeluk istri Pram.
"Nad ... aku juga pamit ya."
"Iya Mas Pram, hati - hati dijalan, nanti ngabari kalau sudah sampai."
Anak - anak Pram pun menyalami Nadya dan Rahmat beserta istrinya. Setelah keluarga Pram pulang kini suasana sedikit lengang.
"Nad kamu udah makan?"
"Belum Mar, soalnya belum sempat tadi."
"Fatim?"
"Dia juga belum tapi nggak usah khwatir, aku sudah suruh Momon untuk pesan makanan, nanti kita makan bareng ya."
"Oalahhh mau ngajak makan malah ditawari ikut makan ini," ucap Maryam tertawa.
"Nggak apa - apalah, kan jarang juga kita bisa makan bareng."
"Baiklah Nad, kami tunggu diluar saja ya biar Bram bisa istirahat."
"Sip." Berlalu keluar kamar Bram.
Kini hanya tinggal Nadya dan Bram.
"Mas ... bagimana perasaanmu?" Memegang tangan Bram.
"Alhamdulillah merasa jauh lebih baik Dek."
"Alhamdulillah Mas, aku seneng dengarnya."
"Dek ... maafkanlah Mas mu ini karena sudah menelantarkan kalian selama 16 tahun, Mas tak kuasa melawan Pram kala itu, karena Mas memang merasa salah telah menikahi kekasihnya."
"Mas ... aku mohon, jangan mengungkit kenangan pahit itu, aku ingin kita mulai dari awal, aku mencintaimu mas melebihi diriku sendiri, meski kala itu hatiku hancur berkeping - keping, namun saat tahu yang berbuat itu bukan dirimu aku merasa sangat bahagia, yakinlah mas aku hanya mencintaimu saja, bukan Pram atau yang lain. Oleh karena itu cepatlah sehat, agar kita bisa merajut renda cinta kita sampai jannahNya." Mencium tangan Bram.
Bram tak dapat berkata hanya air mata yang keluar, ia sungguh beruntung dan bahagia karena dipilihkan istri seperti Nadya oleh Allah SWT.
🌻Kamar Ganti 🌻
Fatim yang telah masuk keruang ganti,namun ia tidak membaca keterangan bahwa pintu kanan untuk wanita dan pintu kiri untuk pria, dia pikir semuanya sama. Masuk lah Fatim ke pintu kiri yang masih terbuka dan dengan santai ia masuk kesalah satu bilik dan menutup pintunya.
Kebetulan sekali Abas duduk dibangku yang tidak jauh dari bilik ganti pakaian itu.
Tidak lama terdengar suara teriakan permpuan dari dalam bilik dengan cepat semua orang yang berada didekat bilik berlari untuk mencari tahu apa yang terjadi termasuklah Abas.
"Akhhhhh," teriak Fatim saat tangan seorang laki - laki mulai mendorong pintu bilik gantinya.
"Hei loe perempuan ngapain dibilik laki - laki."
"Maaf gue nggak baca tadi."
"Atau loe sengaja ya pengen berbuat mesum."
"Nggak maaf gue nggak sengaja."
"Loe jangan buka dulu."
"Apa apa sih ribut - ribut," tanya Abas.
"Itu Mas ada yang salah masuk kamar ganti laki - laki."
"Ohh kira in ada apa."
Abas hendak berlalu namun ekor Matanya melihat Fatim yang keluar dari bilik itu, dan rasa penasarannya pun keluar.
Saat Fatim keluar semua berteriak." Huuuuu."
Wajah Fatim sudah memerah karena menahan malu, mana baju belum sempat diganti, membuat perasaannya benar - benar nggak karuan. Dengan tergesa Fatim hendak berjalan menjauhi ruang ganti.
"Fatim !"
Langkah Fatim terhenti.
*Suara ini rasanya nggak asing, batin Fatim.*
Dengan segera Fatim membalikkan badannya.
"Elo ... kok ada disini?"
__ADS_1
"Kenapa kamu masuk kamar ganti laki - laki?"
"Jadi loe juga lihat gue tadi?"
"Nggak, aku baru datang pas nanya katanya ada yang salah masuk, ketika mau pergi aku lihat yang keluar kamu."
"Iya ... puas loe sama dengan yang lain, ngetawain gue."
"Nggak boleh suudzon gitu Tim, aku kan nggak ngetawain kamu, aky malah mau bantuin."
Akhirnya Fatim terdiam. Melihat Fatim diam akhirnya Abas memberanikan diri untuk lanjut bicara.
"Yuk aku temenin ganti baju di kamar mandi kantin aja ya atau kamar mandi mushola."
*Iya ya kok gue nggak kepikiran ya mau ganti disana, kan sepi, batin Fatim.*
"Loe serius."
"Iya."
"Oke."
Keduanya menuju kantin untuk menganti baju Fatim.
🌻Kantin 🌻
"Kamu masuk gih, biar aku yang nungguin nih pintu."
"Iya, makasih ya."
Dengan cepat Fatim masuk kedalam dan mulai membersihkan badannya dan berganti pakaian. Tidak butuh waktu lama Fatim selesai.
"Klek." pintu terbuka.
"Yuk gue dah selesai, makasih ya," ucap Fatim tersenyum.
"Cantik."
"Apa?"
"Astagfirullah." Menutup mulutnya.
"Nggak apa - apa kok, kamu udah makan?"
"Belum," jawab Fatim jujur.
"Mau makan?"
"Boleh."
"Kita makan dikantin ya sekalian ngobrol."
"Oke."
Keduanya menuju kantin.
"Loe ngapain kemari?"
"Nemenin kedua orang tua gue yang menjengguk temannya."
"Laki - laki atau perempuan?"
"Perempuan, katanya sakit kronis, makanya aku nggak boleh ikut."
"Oh." Tertunduk diam.
"Bagainana Papamu?"
"Alhamdulillah sudah lewat masa Kritisnya, dan operasinya berjalan lancar."
"Alhamdulillah, semoga papamu cepat sehat."
"Aamiin, makasih ya."
"Nih pesanan kita sudah datang, yuk kita makan."
Keduanya mulai makan. Dan Fatim makan dengan lahap karena memang sedang lapar. Dan Abas hanya tersenyum melihat gaya makan Fatim yang cepat.
*Ya Allah jantungku kenapa maraton sih kalau didekat Fatim, hemm bidadari syurgaku makannya lahap sekali semakin gemes saja dibuatnya. Haduhhh ampuni aku ya Allah, batin Abas dan cepat beristiqfar dan mengalihkan pandangannya.*
Bersambung.....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.
dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
* Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
* Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Sudrun
Penjelah Malam
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
*Sisca Nasty
Mafia In Love
__ADS_1