
Saat berlari menuju asrama Fatim tak sengaja berpaspasan dengan rombongan santri putra, ternyata dia salah mengambil jalan untuk balik ke asrama.
Semua santri segera menundukkan pandangan mereka, hal ini membuat Fatim menjadi bingung. Akan tetapi ia mengenali salah satu dari mereka, yah dia bertemu Hanafi.
Pemuda itu pun terkejut karena merasa kain sarungnya di tarik seseorang terlebih dia perempuan.
Akhirnya lekaki itu mau tidak mau mengangkat wajahnya, dan dia sangat terkejut saat tahu siapa yang ada dihadapannya.
"Fatim!" serunya kaget.
"Iya, gue," jawab Fatim dengan senyum yang terkembang karena lelaki itu masih mengingatnya.
Kemudian Hanafi segera meminta santri yang lain untuk segera balik ke asrama karena ia akan mengantar tamu ustaz Rahmat yang tersesat.
Semua santri mengangguk tanda mengerti dan mulai bergerak menjauhi Hanafi dan juga Fatim. Mereka tak hentinya memuji kecantikan wajah gadis yang mereka jumpai.
"Abas, mana?" Hanafi segera bertanya dan menjaga jarak dengan gadis itu.
"Ada di asrama juga, kalian belum ketemu?" Fatim balik bertanya.
"Belum, dan kamu kenapa berlari menuju asrama putra?"
"Lah, gue salah jalan dong?" Fatim menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu mau kemana?" Hanafi melihat sekilas pada istri sahabatnya itu.
"Asrama putri," cicit Fatim pelan.
"Kalian mondok?"
Fatim mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Hanafi yang membuat si Penanya geleng-geleng kepala.
Akhirnya ia menjelaskan rute yang harus gadis itu ikuti agar bisa sampai ke asrama putri yang menjadi tujuannya. Setelah mengerti Fatim segera berlalu dari hadapan Hanafi tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada lelaki itu.
"Syukran," ucapnya seraya berlari mengikuti petunjuk yang Hanafi berikan.
Ya Allah beruntungnya dirimu, Abas. Kekasihmu sungguh makhluk ciptaan-Nya dengan pahatan yang nyaris sempurna. Semoga kalian menjadi keluarga yang samawa hingga janah-Nya. Aamiin.
Hanafi segera kembali tapi kali ini tujuannya mencari Abas, sahabat rasa saudara yang pernah ia miliki di dunia ini.
Sementara itu di asrama delapan, Zahra and the crew sudah gelisah menunggu kehadiran sahabat baru mereka. Sebab gadis itu hanya pamit ke toilet tetapi sampai detik ini belum kembali.
"Zahra ... jangan-jangan Fatim nyasar, ini sudah lama loh," cetus Rania.
__ADS_1
"Benar itu, Zahra," timpal Nisa yang juga diangguki oleh Nur dan Asha.
"Bagaimana jika kita berpencar untuk mencari Fatim?" Qori memunculkan sebuah ide.
"Ya bagus juga idenya Qori," sambung Mila.
"Tapi apa kita harus balik ke arah toilet dulu, ini kan sudah jam istirahat," tegas Sari.
Semua terdiam sampai sebuah ucapan salam membuat mereka terkejut sekaligus senang.
"Assalamu'alaikum," seru Fatim.
"Al-ham-du-lil-lah," jawab mereka serentak yang membuat Fatim mengernyitkan dahinya.
"Kok alhamdulillah, apa sekarang sudah ganti jawaban untuk sebuah salam?" tanya gadis itu bingung.
"Wa'alaikumussala warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka serempak sesaat kemudian.
Semua tertawa, kehadiran Fatim benar-benar menjadi berkah buat mereka yang akhirnya bisa merasakan bahagia.
Fatim ikut merasakan kebahagiaan mereka, gadis itu ikut tertawa dan masuk, sebelum akhirnya ia mengajak mereka semua berdiskusi untuk kegiatan lomba.
"Tim, kita sepertinya tidak ikut." Nisa menundukkan kepalanya.
Semua menunduk, raut sedih jelas tergambar di sana. Fatim tersenyum menatap sahabat barunya yang begitu pasrah terhadap kenyataan.
"Why(Mengapa)? Tell me the reason(katakan alasannya)!"
Gadis itu menatap sepuluh sahabatnya satu persatu, semua diam dan tertunduk. Tak ada yang berani untuk mengatakan alasannya, mengapa mereka tidak bisa ikut?
"Kenapa diam?" timpal Fatim kemudian.
Hening ... suasana terasa mencekam seperti sedang berjalan melewati kuburan saja. Pada hal mereka sedang membahas perihal lomba.
"Aku ingin kalian mencoba, jadi santri itu keren, bisa tampil itu beken. Menang nggak menang kalian sudah menang, menang melawan rasa takut, menang melawan rasa minder atau gerogi." Fatim berdiri mengelilingi para sahabatnya.
Gadis itu ingin memotivasi mereka agar bisa mengalahkan rasa pesimis dalam dirinya, dan itu bukanlah perkara mudah.
"Tapi, Tim ...." Zahra tidak melanjutkan ucapannya karena sudah didahului oleh Fatim.
"Kita coba dulu, jangan ada kata tapi." Fatim mengajak semuanya duduk membentuk lingkaran.
Ia mulai meminta satu persatu mereka untuk menyanyi, setelah itu berpidato dalam bahasa inggris dan arab meski ia nggak ngerti artinya, membaca surat-surat pendek, dan akhirnya saritilawah.
__ADS_1
Setelah mendengarkan semuanya, gadis itu merasa yakin jika teman-temannya itu punya bakat terpendam yang luar biasa.
"Oke, fix ... kalian semua keren. Mulai hari ini kita berlatih tetapi jangan sampai yang lain tahu, agar semua bisa jadi kejutan yang indah nantinya." Fatim tersenyum, ia merasa optomis jika mereka bisa.
Jadilah sejak hari itu mereka berlatih nasyid dinyanyikan oleh Nur, Mira, Sari, Qori, Nisa, dan Asha. Kemudian mengaji dan saritilawah oleh Zahra dan Mila, pidato bahasa arab dan inggris oleh Hanin dan Rania. Fatim menjadi mentor mereka dan memainkan alat musik berupa gitar untuk mengiringi lagu nasyid dan backsound pidatonya.
Tidak ada yang tahu saat mereka latihan, dan semua berjalan normal. Tidak ada yang akan membayangkan jika tim rendahan itu akan ikut bersaing di ajang tahunan terkeren di pondok.
Semua peserta yang menjadi juara nantinya akan tampil di acara puncak yaitu panggung gembira.
Selama satu minggu pula Abas tidak bertemu istrinya itu, dia, Maryam, Rahmat, juga Fajar dan Hanafi tentu saja merasa khawatir namun, setelah memantau keadaan gadis itu mereka yakin kalau dia baik-baik saja.
Kini acara perlombaan pun telah tiba, semua memenuhi aula untuk mengikuti kegiatan tersebut, Fatim sengaja mendaftarkan timnya diurutan terakhir. Ia ingin mereka bisa mempelajari performa dari kelompok lainnya.
Saat itu lah Zahwa mendatanginya dengan simbahan air mata.
"Tim ... sini." Gadis itu melambai pada Fatim.
Dengan cepat ia berjalan menghampiri Zahwa yang langsung memeluknya erat.
"Kenapa? Apa yang terjadi?"
Ia menepuk pundak sahabatnya itu dengan lembut.
"Aku ... aku ... tamu bulananku datang, bagaimana aku bisa mengaji? Tim kita nggak bisa ikut, Mila, dia tidak berani mengaji dan tak mau tampil sendiri." cicit gadis itu sambil terisak.
"Tidak apa-apa, aku akan menggantikanmu mengaji, katakan pada Mila jangan takut. Bersama kita pasti bisa."
Fatim tersenyum untuk menguatkan sahabatnya itu, namun ada keraguan di mata Zahwa.
"Emang kamu bisa tilawah?"
"Dikit," jawab Fatim yang membuat Zahwa mau tidak mau ikut tersenyum. Ia sangat termotivasi dengan semangat yang Fatim miliki.
"Untuk menyanyi bagaimana?" Zahwa kembali bertanya.
"Maksudnya?" Fatim terlihat bingung.
"Nur tiba-tiba sakit gigi," ucap Zahwa pelan.
"Kita tampil bersama, jangan terlalu khawatir." Fatim kembali menanamkan sikap positif pasa sahabatnya, meskipun dalam hatinya ia sedikit bersedih, mengingat perjuangan teman-temannya selama satu minggu ini. Dan gadis itu bertekad untuk bisa mewujudkan impian mereka.
Bersambung ....
__ADS_1