
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
Kantin Sekolah ....
"Kita cabut, Yati. Dan untuk kalian berlima sampai ketemu di dewan sekolah." Fatim berlalu dengan mengandeng tangan sahabatnya yang sudah pucat karena takut. Keduanya berjalan menuju kelas. Untuk sesaat ingatan Fatim akan Abas terabaikan.
Keduanya berjalan sedikit cepat Menjauh dari Gladis CS yang menatap murka pada keduanya.
"Awas aja loe Curut, nikmati saja hari terakhirmu di sekolah ini, karena besok loe nggak akan bisa lagi datang kemari." teriak Gladis sambil berkaca pinggang.
"Fren kok loe berani sih, gimana coba kalau besok kita benar-benar dikeluarkan dari sekolah ini? Masa gue akan jadi anak putus sekolah? Trus gue jadi kuli atau pendukung gitu, atau pengamen di jal ...." YATI terdiam karena Fatim menutup mulutnya.
"Loe bisa diem nggak sih? Sewot amat, loe nggak akan ngalamin itu semua, tenang aja." Fatim bicara penuh dengan penekanan pada Yati yang mulai kumat Onengnya.
"Loe bisa jamin, kita seratus persen aman?"
"Iya, seribu persen malah." Fatim berjalan mendahului sahabatnya itu yang mulai banyak menghayal.
"Frennn tungguin!" Yati berlari menyusul Fatim yang berjalan semakin cepat saja.
*Yaa Allah, Yati kamu itu buat gemes aja.*
Meski kadang sangat mengesalkan namun Fatim sangat menyayangi Yati, hanya ia yang mau berteman dengan Fatim tanpa Meributkan statusnya.
Keduanya sampai di kelas. Yati segera pamit ke toilet sedangkan Fatim segera duduk dikursinya dan mengeluarkan benda pipih ajaib dari kantongnya, ia segera menghububgi sang mama tercinta. Ia menceritakan semuanya pada Nadya, perihal yang terjadi hari ini. Dan ini merupakan kesempatan yang baik baginya karena Yati tidak ada didekatnya.
"Jadi kamu sudah siap membuka jati dirimu?" Nadya menyangsikan keputusan putrinya.
"Iya, Ma. Tapi hanya untuk mereka saja, kalau untuk teman-teman yang lain jangan dulu lah, Fatim belum siap." Fatim tersenyum meski Nadya tidak dapat melihatnya.
"Oke, bentar lagi Mama akan mewujudkan apa yang kamu mau." Nadya tersenyum manis untuk putrinya yang ada jauh di sekolah.
"Terimakasih, Mama. Love you!" Fatim mencium ponselnya.
Yati yang baru datang dari toilet merasa aneh aja melihat temannya mencium ponsel.
"Loe lagi jatuh cinta ya?" Yati duduk di samping sang sahabat.
"Enggak! Kenapa emang?" Fatim menekuk kedua alisnya merasa heran dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Tuh tadi gue liat loe pake acara cium ponsel segala, biasanyakan nggak pernah. Kalau bukan jatuh cinta apalagi coba?" Yati merasa alasannya sangat benar.
"Ihh loe ya, mana ada gue jatuh cinta kalau kangen ia, eh ...." Fatim menutup mulutnya katena ia keceplosan.
*Mati gue, kok bisa keceplosan gini yah, tamat riwayat gue kalau sampai si Oneng kumat.*
"Nah! Benarkan gue?!" Yati seketika berdiri yang membuat Fatim terkejut karena sahabtnya itu berteriak membuat pengumuman di kelas mereka.
__ADS_1
"Perhatian semuanya, kita kasih selamat buat sahabat kita Fatim yang hari ini sedang Fall in love dengan seseorang di kelas ini." teriak Yati yang menghebohkan seisi kelas. Pasalnya tidak sedikit cowok di kelas mereka yang naksir Fatim.
Fatim hanya bisa menepuk jidatnya dan menelungkupkan wajahnya dengan kedua tangannya di atas meja.
*Yaa Allah kenapa gue punya teman, gini amat ya, dasar Oneng.*
Seketika semua menjadi heboh, mereka pensaran siapa cowok di kelas mereka yang beruntung mendapatkan cinta sang gadis idalam di kelas mereka, udah cantik, pintar, jago bela diri, dan baik punya.
Melihat sahabatnya yang sudah seperti penari bertopeng, membuat Yati merasa heran.
"Frenn, loe kenapa pakai topeng tangan. Apa loe malu mengakuinya? Ayo kasih tahu dong siapa cowok yang beruntung itu!" Yati merenggek di dekat telinga Fatim yang membuat bersangkutan merasa risih dan terganggu. Untungnya bel panjang segera berbunyi.
Tetttttttttt!
Seketika kelas menjadi diam, semua kaget mendengar bel panjang. Pasalnya waktu untuk pulang masih tersisa empat jam mata pelajaran.
"Ada apa ya, kok bel panjang?" tanya seisi kelas pada sesama siswa.
Fatim yang semula menutup wajahnya segera memperbaiki posisinya. Ia segera berdiri untuk menenangkan kelas mereka.
"Semuanya harap tenang!" suara Fatim yang keras namun tegas terdengar mengelegar, semua Langsung diam. Tak ada yang berani membuka mulut lagi.
"Kita tunggu informasinya. Harap jangan berisik!" Fatim dan yang lainnya segera memasang telinganya.
Ting ... tong ...
"Perhatian semuanya karena ada rapat dewan sekolah yang mendadak, terpaksa semua siswa dipulangkan lebih awal keculai Gladis, Riska, Adel, Shinta, Deshy, Fatim dan Yati. Demikian informasi yang dapat kami sampaikan."
Semua menatap iba pada Fatim dan Yati, semua sudah tahu akan kejadian di kantin sekolah tadi siang. Dengan cepat beritanya tersebar melalui ponsel, benda pipih yang sangat canggih.
"Udah, kalian tenang aja, inshaa Allah kita nggak akan kenapa-napa." Fatim tersenyum menatap teman-teman sekelasnya untuk meyakinkan mereka semua. Berbeda dengan Yati, ia tak bisa lagi berkata-kata. Pikirannya sudah dipenuhi kata dikeluarkan dari sekolah.
Satu persatu teman-teman mereka meninggalkan kelas, tak lupa mereka memberikan support untuk kedua sahabatnya.
Kelas telah hening ....
"Ayo, Yati kita ke ruangan dewan sekolah." Fatim menarik tangan Yati menuju ke luar kelas.
"Gue-gue boleh nolak ikut, nggak ya?"
"Boleh kalau mau ikut dikeluarkan." Fatim terlihat cuek dam terus berjalan.
*Uhhh sebel deh ini teman gue apa bukan sih, nggak peka banget. Udah tahu gue takut, dianya masih bisa santai gitu, sebellll.*
Fatim yang seolah bisa membaca kata hati temannya hanya geleng-geleng kepala.
"Udah nggak usah sebel ama gue, kita jajan aja dulu," jawab Fatim enteng.
*Eh kok tahu isi hati gue, jangan-jangan Fatim indigo kali ya?*
__ADS_1
Tampak Yati menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Bukan," jawab Fatim asal yang mengena lagi dengan isi hati Yati.
*Eh busyettt, dia tahu lagi, ngeriii gue. Mendingan gue diem aja kali ya.*
Yati berusaha mengekori Fatim dari belakang. Kini mereka sudah sampai di depan pintu ruangan dewan sekolah. Semua orang tua siswa yang bermasalah siang itu sudah hadir semua, termasuk orang tua Yati.
Perasaan Yati campur aduk sekarang, ia sangat menyesali hari ini. Karena ayahnya akan menyaksikan peristiwa memalukan yang dialaminya hari ini.
Pintu ruangan dewan sekolah telah di buka. Dengan angkuhnya para dewan dan donatur sekolah SMA Unggulan memasuki ruangan, yang diikuti oleh anak-anak mereka.
Fatim beserta Yati dan ayahnya juga ikut memasuki ruangan mewah itu. Tampak kalau semua yang ada diruangan itu barang mahal dan mewah semua.
"Silahkan duduk semuanya." Terdengar suara moderator yang akan memandu jalannya acara hari ini bergema memenuhi ruangan.
Semua masuk dan duduk dengan pongah. Yati terlihat sanggat ketakutan, ia seperti kerupuk lempem yang menciut.
Nadya diam-diam masuk ke ruangan dewan, ia duduk di bangku paling belakang. Ia tak mau menjadi pusat perhatian karena datangnnya telat.
Rapat pun dimulai. Paparan dari semua geng Gladis telah dibacakan, bahkan disertai dengan pemutaran video penamparan yang Fatim lakukan. Tanpa meminta penjelasan ataupun pembelaan dari Fatim atau Yati mereka sudah mendapatkan keputusan.
"Saya Mahesa, selaku ketua dewan sekolah membacakan keputusan kami bahwa akan mengeluarkan saudari Fatimah Ananbra dan Maryati dari sekolah unggulan ini."
Saat akan mengetuk palu Nadya berdiri dan menghentikannya.
"Tunggu!" Nadya turun dari kursinya dan berjalan menuju ke podium utama tempat para dewan berada.
"Apa selama ini, begini kalian memberikan keputusan saat rapat dewan sekolah? Tanpa meminta penjelasan atau pembelaan dari pihak satunya?" Nadya tampak sangat kesal kali ini.
"Anda siapa? Anda tidak berhak mencampuri rapat intern dewan sekolah, bisa-bisa anda saya bui kan," hardik Mahesa geram.
Mahendra tampak terkejut dan shock atas perilaku dewan sekolah yang tidak menyadari siapa orang yang sedang dia akak bicara
"Seharuanya yang bertanya itu saya, bukan anda! Asal anda tahu yang menggaji anda itu saya!" Nadya mulai terbakar emosi jiwa.
"Anda jangan main-main, Nyonya. Saya bisa bawa kasus ini ke ranah hukum!" Mahesa tidak mau mengalah.
"Baikah! Perkenalkan nama saya Nadya dan nama putri saya Fatimah Ananbra. Saya adalah pemilik sekolah tempat anda mencari nafkah tambahan. Mulai detik ini kalian semua, saya PECAT!"
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini:
Selain itu kalian boleh intip juga novel-novel yang menjadi favorit aku, cerita mereka juga nggak kalah seru lo, kalau nggak percaya coba aja untuk membacanya. ini nih novelnya.
__ADS_1