
Assalamu'alaikum. Sebelumnya izinkan aku meminta maaf pada semua pembaca setia Fatim dan Abas, aku lama tidak Up karena banyak fokus ke dunia nyata. Mohon doanya, semoga keluarga saya segera disehatkan kembali, dan kita semua terlindungi dari wabah ini. Maaf baru bisa Up, semoga berkenan.
Selamat membaca!
Ting Tong!
"Pesawat dengan nomor penerbangan J-T 131 jurusan Arab Saudi akan segera tinggal landas, kepada semua penumpang diharapkan untuk segera naik."
Alarm panggilan dari ruang informasi kali ini benar-benar terasa begitu menyesakkan untuk pasangan Abas-Fatim.
Keduanya memilih untuk mencari tempat yang sekiranya bisa digunakan untuk menumpahkan perasaan mereka. Pilihan mereka jatuh pada sebuah mushala kecil di samping pintu keberangkatan bandara.
"Kita salat, dulu. Insyaa Allah masih ada waktu untuk salat dhuha."
Tanpa bantahan, Fatim segera berwudu dan ikut salat bersama suaminya.
"Dek ... jagalah dirimu baik-baik. Aku akan berada jauh darimu, tetapi yakinlah jika hatiku akan selalu tertinggal untukmu, di sini."
"Kakak juga, jagalah diri dengan baik, jangan lupa salat tepat waktu, sertakan aku dalam setiap do'amu. Aku tahu ini berat buat kita, tapi aku tidak boleh egois, aku harus merelakan dirimu pergi. Ini semua demi masa depan kita."
Keduanya berpelukan erat, satu atau dua tahun kedepan, mereka belum tentu bisa bertemu. Selama satu tahun di awal masa pendidikannya, Abas tidak diperkenankan untuk berkomunikasi dengan keluarganya.
Untuk itu, memang diperlukan kesiapan zohir dan batin yang kuat.
Dengan berat hati keduanya harus berpisah, hanya mereka berdua dan Tuhan saja yang tahu bagaimana rasanya.
Pesawat telah tinggal landas, separuh jiwa Fatim, tentu saja ikut terbang bersama suaminya, dan separuh jiwa Abas juga tertinggal di sini, bersama istrinya.
*****
Semua rombongan telah meninggalkan bandara, Fatim, gadis itu berusaha untuk terlihat tegar dihadapan keluarganya.
Tampak Nadya berbicara dengan besannya, sesekali mereka tertawa, gadis periang itu berusaha untuk ikut tersenyum saat namanya disebutkan.
Mereka pun sampai di rumah, semua segera menuju ruang makan, memang sekarang sudah waktunya untuk makan siang. Namun, kali ini gadis penyuka motor sport itu memilih untuk ke kamar dulu.
Sampai di kamar, ia membuka pintu pelan-pelan, kemudian menutupnya. Dia segera rebahan, jiwa raganya terasa begitu lelah. Matanya terpejam, ia berusaha untuk melukis setiap lekukan wajah kekasihnya. Buliran panas mulai membasahi pipinya yang putih, ia membiarkannya saja.
Hampir satu jam gadis itu memejamkan matanya, tanpa diduga akhirnya ia terlelap. Mama dan mertuanya sangat memahami perasaan anak mantunya tersebut, sehingga mereka membiarkannya. Sengaja memberikan ruang untuk gadis itu, agar perasaannya bisa tenang.
Malam telah menjelang, anak gadis yang selalu ceria di rumah ini belum juga turun. Nadya menjadi gelisah.
"Apa sebaiknya saya panggil saja, Non Fatimnya, Bu." Bi Inah berjalan mendekati Nadya.
"Ah, iya, Bi. Panggil saja, seharian anak itu belum makan, aku juga khawatir kalau dia sakit nanti."
Dengan segera Bi Inah naik ke lantai dua. Ia segera menuju kamar Fatim. Sampai di depan pintu, wanita paruh baya itu segera menempelkan telinganya di dekat pintu. Senyap, tidak ada suara apapun.
Tok! Tok! Tok!
Hening ....
__ADS_1
"Non, Non Fatim. Buka dong, ayo, kita makan dulu, seharian Non belum makan."
Klek!
Daun pintu terbuka, wajah sembab yang terbalut mukena menyembul sedikit.
"Iya, Bi. Bentar lagi aku turun, ya."
"Baikah, jangan lama-lama, ya."
Wanita itu meninggalkan kamar gadis manis kesayangannya.
"Bagaimana? Apa anak gadisku mau turun?"
Nadya mengelap mulutnya dengan tisu, kemudian memakan buah melon sebagai pencuci mulut.
"Iya, Bu. Sebentar lagi katanya."
"Syukurlah, tolong Bi In siapkan segelas susu hangat untuknya."
"Baik, Bu." Wanita paruh baya itu pun segera berlalu dan menuju dapur.
*****
Ruang Tamu ....
"San, bagaimana mantuku. Apa dia baik-baik saja?"
"Alhamdulillah, San. Kita doakan saja, semoga keduanya bisa dan mampu menjalani ini semua."
"Sudahlah, kalian para ibu harus terlihat tegar dan kuat. Apalagi di depan anak mantu kita, memang sebenarnya tidak tega, tetapi ini untuk masa depan mereka juga."
Kedua wanita cantik itu pun terdiam, terlebih Nadya. Ia berusaha mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh lelaki yang kini menjadi ayah mertua bagi putri tersayangnya.
"Assalamu'alaikum, malam Mama, Umi, Abi. Apa aku boleh bergabung?"
Gadis manis yang baru saja mereka bicarakan kini, berdiri tepat dihadapan mereka.
Serempak ketiganya menjawab salam putri mereka. Para orang tua itu berusaha untuk melengkungkan bibirnya, membentuk sebuah garis manis.
Tanpa ragu, gadis yang mengenakan piama berwarna biru bermotif doraemon itu pun duduk, lebih tepatnya diantara kedua ibunya.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang." Nadya memulai pembicaraan di antara mereka.
"Alhamdulillah, Ma. Aku udah baikan."
"Alhamdulillah kalau begitu, tadinya kami khawatir, kalau-kalau kamu terlarut dalam kesedihan ini." Maryam ikut menimpali.
"Udah kayak praktek kimia aja, Umi, pakai acara larut melarut begitu," canda Fatim untuk menghangatkan suasana. Padahal, dalam hatinya, hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.
Malam itu mereka lewati dengan berbicara banyak hal. Di dalam kamar, bayangan sahabat sekaligus suaminya kembali memenuhi ingatannya.
__ADS_1
*****
Tidak jauh berbeda, suasana hening di dalam sebuah pesawat begitu terasa. Semua penumpang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang bercerita, membaca, bercengkrama, bahkan mendengarkan audio dari headset-nya.
Begitu juga dengan seorang pemuda tampan, dengan jaket tebal yang membungkus tubuhnya, memakai peci hitam di kepalanya, mulutnya sibuk membaca lembar demi lembar sebuah mushaf Al Qur'an di tangannya. Sedekali pemuda itu menarik napasnya untuk mengatur keluar masuk oksigen dari alat inderanya.
Di sebelah pemuda itu, duduk seorang lelaki tua. Matanya tidak berhenti mengawasi lelaki muda di sampingnya.
"Hei," sapanya.
Abas, pemuda shalih itu menghentikan bacaannya, kemudian menoleh dan tersenyum.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Apa yang ada di tanganmu itu?"tanya lelaki itu.
"Sebuah kitab, Al Qur'an namanya." Abas memperlihatkannya pada lelaki tua itu.
"Apa aku boleh meminjamnya?" tanyanya lagi.
"Maaf, apa kau seorang muslim?" Abas merasa tidak nyaman jika kegiatannya menganggu orang lain, terlebih yang bukan muslim. Ia sangat menjunjung tinggi yang namanya toleransi.
"Ya, aku muslim, tetapi ...." Lelaki itu menunduk.
"Tetapi apa?" cerca Abas penasaran.
"Aku sudah sangat jauh dari islam, aku sudah puluhan tahun mungkin tidak salat. Bahkan aku, aku sudah lupa bagaimana cara membaca Al Qur'an dan juga salat." Lelaki itu tertunduk. Ada buliran bening mengalir dari sudut matanya.
"Tentu saja, boleh. Akan tetapi ada baiknya jika Bapak membaca ini dulu." Abas menyodorkan sebuah mukhadam.
Dengan gemetar, lelaki itu menerima pemberian pemuda tampan di sebelahnya.
"Apa aku yang penuh limangan dosa ini pantas?" Lelaki itu kembali menghapus air matanya.
"Tentu saja, bisa jadi Bapak lebih mulia daripada saya, Pak." Abas mengenggam tangan lelaki tua itu.
"Mengapa begitu?" tanyanya dengan suara serak.
"Karena Bapak mau mengakui kesalahan sendiri, dan ada ikhtiar untuk memperbaikinya." Lelaki tampan itu menepuk lembut jemari lelaki tua yang ada di sampingnya.
"Ajari aku membaca ini." Lelaki itu menunjuk buku mukhadamnya." Juga ajari aku salat." Abas mengangguk. Perjalanannya untuk menuntut ilmu serasa sangat bermanfaat.
Hampir sembilan jam mengudara, lelaki di sampingnya tampak gelisah. Abas berusaha untuk menenangkannya.
"Tolong, bim-bing a-ku," ucapnya terbata.
"Bapak, kenapa? Aku akan panggilkan tim medis."
"Tidak usah, cukup ajari aku untuk kembali bersayahadat."
Dengan pelan dan sabar, pemuda shalih itu mengajari lelaki tua di sampingnya. Tidak lama berselang, Bapak itu sudah kembali ke pangkuan Sang Khalik.
__ADS_1
"Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun. Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali."
Sesungguhnya tiap-tiap yang bernyawa itu akan mati, mau husnul khotimah atau su'ul khatimah, itu adalah pilihanmu. Walllahu'alam.