Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
TEMAN SELAMANYA


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


Jalanan Gang ....


Kelima preman itu sudah mendekat dan menarik kerah baju sang sopir untuk memaksanya keluar, namun Fatim tentu saja tidak akan tinggal diam.


"Lepasin bapak itu!" teriak Fatim geram yang membuat kelimanya menyeringai sinis.


"Loe nggak usah banyak bacot bocah! Ini urusan kita sama nih lelaki bukan sama loe, ngerti?" ucap salah satu preman berbaju orange.


"Nggak!" jawab anak lelaki berseragam putih biru yang duduk di depan Fatim.


"Loe nggak usah ikut campur napa," sewot Fatim pada anak lelaki itu.


"Loe aja berani masa gue yang cowok takut." Anak lelaki itu tersenyum seolah dia benar adanya.


"Panggil gue kakak kenapa? Susah ya?" Fatim terlihat kesal pada anak lelaki itu.


"Ogah kalau gue panggil loe kakak maka gue kehilangan kesempatan buat kenalan lebih jauh sama loe yang cantik, kan sayang." Anak lelaki itu berucap santai yang membuat Fatim menahan tawa. Namun obrolan gurih keduanya terhenti karena preman yang tadi berbaju orange sudah menarik sang sopir keluar mobil dengan paksa.


Lelaki paruh baya itu sudah meringis menahan sakit akibat tergores kaca mobil yang di pecah paksa. Fatim sudah turun dengan waktu yang tepat. Sebelum pukulan preman itu mengenai wajah sopir angkot Fatim sudah menahannya dengan cengkeraman tangannya yang kuat sehingga membuat preman itu meringis.


"Cuihhh punya tenaga juga loe rupanya bocah." Kini lelaki itu bersiap untuk melawan Fatim. Ketika pukulannya sudah dilayangkan menuju kewajah Fatim, dengan cepat bocah lelaki tadi menghadangkan tubuhnya tepat di depan wajah Fatim sehingga pukulan preman itu tepat mendarat dihidung sang bocah.


Darah segar mengucur dari hidung anak lelaki itu yang membuat Fatim gemas dibuatnya. Ia mengerti maksud anak lelaki itu yang ingin melindunginya. Namun yang ada membuat dirinya celaka. Dengan cepat Fatim menarik anak lelaki itu kesamping.


"Loe baik-baik aja kan? Kenapa harus membuat diri loe terluka, ayo kamu tunggu di sini." Fatim mendudukan anak lelaki itu di bawah pohon di pinggir jalan sepi.


Kemudian Fatim memberikan beberapa lembar tisu untuk menyeka darah yang keluar dari hidungnya.


Fatim sudah kembali untuk menolong bapak supir angkot. Dengan cepat ia membabat habis kelima preman yang sok jagoan dihadapannya. Setelah pergumulannya dengan para preman selesai ia segera menghampiri sang supir angkot.


"Bapak baik-baik saja, Pak?" tanya Fatim sambil membantunya untuk bangun.


"Iya Neng, bapak baik-baik saja. Terimakasih banyak!" Lelaki paruh baya itu berangkat dari posisinya terduduk. Ia berjalan tertatih dengan bantuan Fatim. Setelah itu Fatim segera menghampiri kelima preman yang telah dibuatnya terkapar.


"Kalian mau bagaiman, Bang?" tanya Fatim sambil berkacak pinggang.


"Ampun, Dek. Ampun!" ucap kelimanya dengan serentak.


"Tolong jangan polisikan kami, kami akan melakukan apa saja asalkan kami tidak dilaporkan." Kelima preman itu membuat permohonan pada Fatim.


"Oke saya setuju, dengan syarat kalian harus bergabung ke Jefry Geng yang ada di bawah jembatan, itu yang pertama. Kedua kalian harus bantu untuk menjaga keselamatan semua sopir angkot daerah sini nanti gue yang bayar gaji kalian. Terus yang ketiga kalian harua tobat dan salat lima waktu ke masjid terdekat nanti gue akan pantau kalian berlima lewat Jefry Geng. Kalian mengerti?" Fatim terlihat sangat garang dan sangar.

__ADS_1


"Iya kami mengerti," jawab kelimanya.


"Oke gue akan hubungi Jefry dulu untuk mengurusi kalian." Fatim mengambil ponselnya dan mulai berbicara pada kak Jefry tentang kejadian hari ini berikut solusinya.


"Kalian sudah diawasi jadi jangan coba-coba untuk kabur, atau berani berbuat tanggung sendiri akibatnya, salah sendiri kenapa kalian mau berurusan dengan gue," ucap Fatim dengan senyum sinisnya.


Setelah menakuti para preman itu Fatim kembali ke angkot, anak lelaki berseragam putih biru yang hendak menjadi pahlawan kesiangan merasa takjub dengan kemampuan Fatim yang mumpuni.


"Gue suka gaya loe, lembut dan kalem secara penampilan tapi gagah dan sangar dalam berkelahi," ucapnya tulus.


"Tapi gue nggak suka di puji apalagi sama anak ingusan yang sok dewasa kayak loe." Fatim kembali duduk di kursi penumpang.


"Terserah tapi gue cinta sama loe." Anak lelaki itu terlihat memamerkan senyum terindahnya.


"Semprol!" Fatim menoel kepala remaja tanggung tersebut karena gemes bercampur kesal.


"Uhhh belaianmu sungguh romantis." Anak lelaki itu mengusap rambutnya bekas toelan Fatim.


Melihat anak lelaki itu semakin meracau membuat Fatim lebih baik diam dan mengabaikannya. Merasa tujuannya sudah sampai Fatim segera meminta supir angkot untuk berhenti.


"Kiri, Pak!" Fatim mengetuk kaca jendela dengan sopan. Mobil yang ditumpanginya menepi. Fatim mengambil dompetnya dan memberikan lima lembar uang seratus ribu.


"Ini buat Bapak!"


"Tidak usah, Neng. Ini kebanyakan," tolak sopir angkot sopan.


Akhirnya sopir angkotpun mau menerima pemberian Fatim. Ribuan terimakasih ia ucapkan atas kebaikannya, dan untaian doa yang tulus juga terucap dari bibir tuanya.


Selesai urusan dengan sopir angkot Fatim segera berjalan menuju sebuah gang kecil yang agak becek namun dari kejauhan ia masih dapat mendengar teriakan anak lelaki berbaju putih biru yang menjadi salah satu penumpang angkot bersamanya tadi.


"Hei loe! I Love You so much!"


Fatim menoleh dan menggelengkan kepalanya tanda ia merasa lucu dengan kelakuan anak-anak zaman sekarang, rasa hormat terhadap seseorang yang lebih tua mulai ditinggalkan.


Fatim terus berjalan menuju ke sebuah jalan Gang yang agak becek. Ia sengaja kali ini memilih lewat gang kecil bukan jalan utama. Ya, dia berjalan menuju rumah sahabatnya, Yati.


Setelah beberapa menit berjalan ia pun sampai. Dari kejauhan ia melihat sang sahabat duduk melamun di bawah sebuah pohon yang rindang. Fatim tahu jalan gang kecil ini juga dari sahabatnya itu.


*Gue temuin loe sekarang apa nanti ya? Tapi gue nggak mau loe salah faham. Kita beberapa hari lagi akan ulangan kenaikan kelas, gue takut kalau-kalau loe mau berhenti sekolah hanya karena gue. Batin Fatim.*


Fatim ragu untuk menemui sahabatnya itu. Namun ia berusahaa agar masalah salah faham antara keduanya tidak berlarut-larut. Dengan tekad yang bulat akhirnya ia memberanikan diri melangkah menemui sahabatnya itu.


Melihat Fatim sudah berdiri tegak dihadapannya membuat Yati tak bisa lari menghindar, meski ia mencobanya karena tangannya sudah dicekal oleh Fatim.


"Gue mohon! Dengerin dulu penjelasan dari gue," ucap Fatim pada sahabatnya.

__ADS_1


"Gue nggak butuh penjelasan dari tukang bohong seperti loe," jawab Yati pedas, ia tak perduli akan perasaan sahabatnya.


"Gue tahu loe marah dan itu hak loe, tapi setidaknya biar loe tahu. Gue nggak mau menyimpan masalah berlarut-larut, sebentar lagi kita ulangan kenaikan kelas. Gue nggak mau loe jadi terpuruk dan nilai loe hancur, loe adalah harapan keluarga loe. Ingat! Bukan sedikit duit yang dikeluarin orang tua loe untuk menyekolahin loe." Fatim mulai bisa menguasai emosinya.


Yati terdiam, bagaimanapun apa yang diucapkan Fatim benar adanya. Ia tertunduk dan mulai menangis.


"Gue tahu perasaan loe, memang sakit saat tahu kita dibohongi. Tapi gue nggak bermaksud melakukan semuanya. Loe tahu selama ini gue sengaja menutupi identitas diri gue yang sebenarnya, agar gue bisa punya sahabat yang benar-benar tulus kayak loe. Mau berteman dengan gue tanpa pandang harta dan kedudukan gue." Fatim memulai penjelasannya yang membuat Yati sedikit melunak.


"Maafin gue, gue nggak mau kehilangan sahabat seperti loe. Jadi gue mohon pada loe untuk bisa memaafin gue." Fatim melepaskan cekalan tangannya pada Yati.


Yati berlari meninggalkan sahabatnya itu, air mata terus menetes membasahi pipinya. Ia benar-benar bingung sekarang. Entah apa yang harus ia lakukan, sebenarnya ia juga ingin meminta maaf pada Fatim namun rasa malu lebih menguasainya. Ia juga salah dalam hal ini, bukan sekali dua Fatim ingin mengajaknya ke rumah tetapi Yati selalu menolaknya.


*Maafin gue, Fren. Gue malu menjadi teman loe, gue nggak pantes. Gue udah terlalu banyak utang budi pada loe. Batin Yati.*


Air mata semakin deras mengalir dari sudut matanya seperti guyuran hujan yang tiba-tiba saja turun dengan lebat membasahi bumi. Yati berbaring di atas tempat tidurnya yang nyaman. Sementara itu Fatim masih berdiri di bawah pohon rindang di depan rumah sahabatnya. Ia sudah bertekad tidak akan pulang sebelum mendapat maaf dari sahabatnya.


Merasa khawatir Yati mengintip dari jendela kamarnya, benar saja sahabatnya itu masih berdiri tegar disana. Hujan yang lebat membuat memori Yati meriview kenangan keduanya saat pulang osepek berhujanan berdua tertawa disepanjang jalan. Kenangan itu membuat dada Yati semakin sesak.


Merasa tidak tahan, Yati segera menghambur keluar rumah. Ia berlari menembus lebatnya hujan untuk menemui sahabatnya.


"Maafin gue," ucap Yati dengan napas yang tersenggal dibawah derasnya guyuran hujan.


Fatim memeluk erat sahabatnya seolah mereka sudah bertahun-tahun tak bertemu padahal baru beberapa jam saja.


"Maafin gue juga," bisik Fatim pada sahabatnya.


"Gue ingin kita jadi teman selamanya, dalam susah maupun senang. Tetaplah menjadi sahabat terbaik gue dikehidupan kini maupun yang akan datang." Fatim memegang tangan sahabatnya erat.


Yati tersenyum dan mengangguk keduanya kembali berpelukan sebelum Akhirnya bermain kejar-kejaran dibawah guyuran hujan yang lebat. Tanpa mereka sadari dari kejauhan Nadya memandang haru keduanya. Ia semakin yakin jika putrinya semakin bijak dan dewasa, ia sudah bisa mengambil keputusan yang tersulit dalam hidupnya meski harus dengan sebuah pengorbanan.


"Jalan, Mon!" perintah Nadya pada Momon.


"Kejutan buat non Fatim bagaimana?" Momon menoleh pada Nadya.


"Semua sudah siap di rumah, biarkan dia merasakan kemenangan atas perjuangannya." Nadya tersenyum menatap putrinya.


*Andai loe itu putri gue, Fatim. Pasti gue akan bangga banget tapi sayang itu hanya akan terjadi dalam khayalan gue, batin Momon sambil menjalankan mobilnya menjauhi kediaman Yati.*


Bersambung ....


Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!


Maaf tuk kesekian kalinya karena terlambat untuk Up, tugas aku di dunia nyata benar-benar sedang banyak dan tak bisa ditinggalkan. Meski aku sudah berusaha untuk UP tepat waktu tapi nyatanya aku terlambat lagi.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini:

__ADS_1



__ADS_2