Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
UNGKAPAN PERASAAN RANGGA


__ADS_3

🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca.🌻


🌻Ruang Rapat Dewan Sekolah 🌻


Gladis dengan terpaksa menyalami Fatim didepan para dewan sekolah.


"Kali ini loe masih selamat Fatim, namun tidak untuk lain kali," ucap Gladis pedas saat bersalaman dengan Fatim.


"Kita lihat saja loe atau gue yang akan hengkang nanti dari sekolah ini."


Dendam yang bersemayam didalam hati Gladis membuatnya lupa akan kebaikan yang Fatim dan Nadya berikan.


"Baiklah semuanya sudah clear jadi rapat kali ini kita anggap selesai," ucap bu Silvi selaku MC.


Semua segera bubar dan hendak kembali ke aktivitas masing - masing. Namun akhirnya Nadya meminta pak Rayendra untuk stay sebentar.


"Maaf Pak Rayendra, bisakah kita bicara sebentar?"


"Oh iya tentu saja boleh bu Nadya."


Keduanya menuju kursi yang ada dipojokan sengaja agak menyendiri dari yang lain.


"Kita duduk disini saja." Menarik salah satu kursi.


"Iya Bu." Ikut menarik kursi.


"Begini aku hanya ingin mengingatkanmu untuk menjaga putrimu itu karena kelakuannya sudah melebihi batas. Aku tidak mau lagi mendengar Fatim atau siswa siswi yang lain jadi korban, kalau itu terjadi maaf saja kalau aku melakukan sesuatu yang sesuai prosedur." Menatap tajam ke Rayendra.


Wajah Rayendra sedikit berubah, karena merasa sangat tidak nyaman terhadap perbuatan putrinya.


"Iya Bu, saya janji akan mendidik Gladis dengan lebih keras lagi." Menunduk.


"Mendidik anak itu tidak harus selalu dengan kekerasan tapi ajari dan bimbing mereka dengan kelembutan, inshaa Allah mereka akan lembut juga, namun sebaliknya jika setiap masalahnya selalu diselesaikan dengan kekerasan maka ia pun akan keras dan kasar."


"Iya Bu saya mengerti, terimakasih sudah mengingatkan saya." Sedikit tersenyum.


"Baiklah jika kamu sudah faham, aku sebaiknya segera permisi, karena masih banyak yang harus aku kerjakan."


"Permisi, assalamualaikum." Berdiri dan berjalan meninggalkan Rayendra yang masih duduk.


"Waalaikumussalam." Menatap kepergian Nadya.


Dengan langkah yang gontai Rayendra ikut keluar ruangan rapat dan disana sudah menunggu putrinya Gladis.


"Papa! Apa yang bu Nadya inginkan? Kenapa Fatim sampai bisa dekat dengan para dewan sekolah kita?"


"Kamu jangan sekali - sekali lagi mengganggu anak itu, atau siswa yang lain, Papa malu dengan kelakuan kamu." Menatap tajam kearah gladis.


"Papa kenapa membela gadis itu, asal Papa tahu ya dia sudah berusaha merebut calon menantu Papa, Rangga. Dan gue nggak akan membiarkan itu terjadi, gue akan buat perhitungan dengan tuh anak." Menatap Reyendra tajam.


"Kamu nggak boleh seperti itu Gladis, kamu harus ingat kalau semua perbuatan kamu akan mempengaruhi karier Papa."


"Gue nggak perduli, itu urusan Papa bukan urusan gue." Meninggalkan Rayendra yang sedang kesal.


"Gladissss!"


Namun yang diteriaki seolah tidak perduli terus saja melenggang tanpa beban. Rayendra yang kesal akhirnya berjalan gontai menuju keruang kerjanya.


Sementara itu ...


🌻Kelas 10 IPA1 🌻


Dengan santai Fatim berjalan menuju ke kelasnya setelah keluar dari ruang rapat dewan sekolah. Fatim tak memperdulikan semua tatapan mencemooh dari teman - temannya, dengan santai dia berjalan seolah tak terjadi apa - apa.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," jawab Yati seperti menjawab salam seorang penceramah saja.


"Ihh kok gitu sih jawab salamnya, kayak gue penceramah aja," sunggut Fatim kesal.


"Ha ... ha ... gitu aja marah."


"Habisnya loe jawabnya gitu." Memancungkan bibirnya.


"Iya deh maaf ... maaf yaaaa." Menarik tangan Fatim.


"iya deh gue maafin, tapi kelas kok sepi? Yang lain kemana?"

__ADS_1


"Yang lain udah istirahat lah Fren."


"Ohhh kalau gitu kita kekantin yuk?" Ajak Fatim.


"Yuk ustazah, perut gue udah laperrrr." Menggosok perutnya.


"Apa loe manggil gue ustazah?"


"He ... he ... iya zah maaf."


"Awas loe ya, gue kitikin loe."


"Eh jangan ... jangan Fren." Mulai berlari karena Fatim mulai mengelitikinya.


Keduanya saling kejar - kejaran mengelilingi meja kelas, dan tiba - tiba Fatim menabrak tubuh Rangga yang entah kapan tahu - tahu sudah ada didepannya.


"Brukkk!


Dengan cepat Rangga menangkap tubuh Fatim yang hampir jatuh, hanya hitungan detik Fatim segera menarik tubuhnya dan berdiri.


"Maaf Kak, gue nggak sengaja." Merapikan baju dan jilbabnya.


Rangga terlihat sangat gugup karena jantungnya sudah berdetak sangat cepat.


"Eh ... ehmm ... iya nggak apa - apa kok, kalian kenapa seperti anak kecil sih main lari - larian." Melihat Fatim dan Yati.


"Nggak ada apa - apa kok Kak," ucap Yati yang jantungnya sudah berdetak tak menentu saat didekat Rangga.


"Fatim! Gua mau tanya kenapa loe nggak cerita tentang kejadian dihalaman belakang sekolah? Trus kenapa loe sama Gladis dipanggil ke dewan sekolah? Loe kemana dua hari nggak sekolah?" Tanya Rangga sudah seperti detektif saja.


"Udah nanyanya?" Ucap Fatim.


"Udah," jawab Rangga.


"Kalau sudah gue permisi mau ke kantin Kak." Berjalan menarik tangan Yati.


Namun dengan cepat Rangga menarik tangan Fatim.


"Fatim! Jawab dulu pertanyaan gue!"


Dengan cepat Fatim menarik tangannya yang digenggam Rangga.


"Oke gue jawab tapi habis itu silahkan tinggalin kelas gue," ucap Fatim sedikit kesal.


"Pertama gue nggak perlu laporin ke Elo karena loe bukan siapa - siapa gue, kedua gue ke dewan sekolah untuk menyelesaikan kasus dihalaman belakang itu, dan yang ke tiga gue nggak sekolah karena gue ada urusan keluarga di Yogyakarta, udah selesai sekarang Kakak boleh pergi." mempersilakan Rangga untuk pergi.


"Yuk Yati kita pergi." Menarik tangan Yati kembali.


"Fatim tunggu!"


"Loe merubah penampilan loe sekarang, apa karena permintaan seseorang atau bagaimana?"


"Gue merubah penampilan gue bukan karena seseorang, tapi ini karena gue baru tahu kalau semua ini wajib bagi setiap wanita muslimah yang sudah aqil balik."


"Gue mau ngomong satu hal lagi." Menggaruk kepalanya.


"Apa lagi sih Kak?"


"Gue perlu bicara empat mata."


"Nggak kalau mau ngomong sekarang aja, dan disini aja." Melihat kearah Rangga.


"Oke gue ngomong disini."


"Gue suka sama loe Fatim." Menatap Fatim lekat.


Mendengar ungkapan perasaan Rangga membuat Yati sangat bersedih, dengan cepat ia melepaskan pegangan Fatim berlari keluar kelas, ia tak lagi dapat menahan bulir bening dari yang keluar dari sudut matanya. Ia sangag sedih melihat orang yang dicintainya menyatakan cinta pada sahabatnya sendiri.


Melihat sahabatnya berlari Fatim tentu faham perasaan sahabatnya itu.


"Maaf Kak, gue nggak bisa menerima perasaan Kakak, seharusnya perasaan itu Kakak beri pada wanita yang tepat,dan itu bukan gue, permisi." Berlari keluar kelas menyusul Yati yang sudah lebih dulu keluar kelas.


"Fatimmm!"


"Akhh," teriak Rangga kesal sambil meninju meja.


"Sabar Bro, mungkin waktu yang loe coba ini tidak tepat, nanti coba loe tembak ulang dilain kesempatan. " ucap Dimas.

__ADS_1


"Kenapa hanyan Fatim yang menolak pesona gue? Apa salah gue? Apa kurangnya gue?"


"Nanti loe coba tembak ulang Bro, cari time yang tepat, sekarang yuk kita cabut ke kelas aja, atau loe mau ke kantin?"


"Kita ke kelas aja, pusing kepala gue." Memegang kepalanya.


🌻Sementara itu dikantin🌻


"Fren tunggu!" Ucao Fatim berlari menyusul Yati.


Setelah berlari cukup jauh akhirnya Fatim bisa menarik tangan Yati.


"Hei loe kenapa hah?" Menarik tangan Yati.


"Heiii kok nangis, loe kecewa Rangga mengungkapkan perasaanya?" Memeluk Yati.


Yati masih diam, air matanya semakin deras.


"Loe tenang aja, gue nggak terima kok, gue tahu loe suka Kak Rangga, dan gue akan bantu loe buat deketin Kak Rangga."


Tangisan Yati semakin kencang, ia merasa. bersalah telah punya perasaan benci pada Fatim meski sedikit, sedangkan Fatim selalu menjaga perasaannya.


"Fren maafin gue," ucap Yati membalas pelukan Fatim.


"Gue ngerti perasaan loe, nggak apa - apa kok, kalau gue diposisi loe mungkin guenjuga akan begitu."


"Sekarang masih laper kan? Yuk kita ke kantin."


Keduanya akhirnya menuju kantin. Dan Yati sangat bersyukur punya sahabat seperti Fatim.


*Ya Allah gue jahat banget sama Fatim, sedang dia masih memikirkan perasaan gue, gue janji akan membalas Semua kebaikan Fatim meskipun itu dengan nyawaku sendiri,batin Yati.*


Sedangkan ditempat lain seorang Dimas juga semakin menyukai Fatim dalam diamnya, jawaban Fatim yang dewasa dan perubahan Fatim yang menurutnya berpakaian sangat aneh, namun Fatim terlihat semakin cantik dalam balutan hijab.


Bersambung.....


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.


dan karya apik author yang lain :


Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Putri Tanjung


OB Kwrudung Biru


*Shohibul Ikhsan


Hitam Putih


Kembar Tidak Identik


*Sudrun


Samudra


*Ergina Putri


My Heart Only For You


Melawan Rasa Takutku


*Sisca Nasti


Mafia In Love


*Almaira


My Secref Wife


My Love My Babysitter


*Envy Yo WesBen.


My Preinces OG

__ADS_1


__ADS_2