
"Astaqfirullah haladzim, Abas ... kamu ...." Akhi Fajar mendekat.
Abas segera melepaskan tangan istrinya sementara Fatim hanya tersenyum simpul di belakang suaminya.
"Kamu baru juga beberapa bulan tidak bertemu tetapi kelakuanmu sudah di luar batas." Wajah akhi Fajar terlihat sangat marah.
"Abi! Kenapa membiarkan Abas melakukan zina?" Ia menoleh pada Rahmat dan Maryam yang berjalan cepat ke arah Fajar.
Sementara itu Abas yang diiringi Fatim juga berjalan mendekati akhi Fajar, salah satu santri di pondok yang sudah menjadi kakak angkat Abas.
Sewaktu pernikahan Fatim dan Abas ia tidak hadir karena sedang menyelesaikan skripsinya. Setelah wisuda nanti ia akan bergantian dengan adik angkatnya itu.
"Kita duduk dulu, ada yang ingin abi sampaikan padamu." Rahmat memegang pundak Fajar yang masih tersulut emosi.
Ia menatap Abas dan Fatim dengan wajah yang memerah perpaduan rasa marah dan malu.
Semua sudah duduk di kursi taman, Maryam dan Fatim duduk berdekatan. Abas dan Fajar juga bersebelahan, sesekali ia melirik Abas masih dengan wajah yang kesal.
"Begini, Jar. Abi minta maaf karena merahasiakan ini dari kamu. Saat itu kamu sedang fokus sekripsi." Tampak Rahmat menjeda ucapannya yang membuat Fajar mengernyitkan dahinya.
Tak lama Rahmat kembali melanjutkan ucapannya." Sebenarnya mereka sudah halal secara agama dan hukum." Rahmat menatap putra angkatnya itu.
"Maksud Abi? Mereka? Fajar seolah berusaha mencerna semuanya.
"Iya, mereka sudah menikah." Rahmat tersenyum yang diikuti wajah lega Maryam dan Abas.
Dengan cepat Fajar menoleh pada adik kesayangannya itu, kemudian ia memeluknya.
"Baarakallahu laka wabarakoa 'alaika wajma'a bainakumaa fii khoir."
"Syukron ya, Bang." Abas membalas pelukan Fajar.
"Apa dia, bidadari syurgamu yang berhati malaikat tempo hari?" Fajar masih berbisik di telinga Abas.
"Alhamdulillah iya, Bang." Wajah Abas bersemu merah.
"Abi mohon kamu jaga rahasia ini sampai Abas selesai kuliah nanti, termasuk semua santri di sini belum ada yang tahu kecuali Hanafi," timpal Rahmat lagi.
"Insyaaallah, Bi. Tunggu sebentar ya, aku ada bawa oleh-oleh sedikit dari Arab Saudi." Fajar beranjak dari duduknya menuju ke ruang depan untuk mengambil kopernya.
Lelaki itu baru saja sampai dari Arab Saudi, bermaksud memberi kejutan untuk keluarga Rahmat tetapi malah dia yang terkejut melihat Abas bersama seorang wanita.
Setelah memberikan oleh-oleh, Fajar segera undur diri untuk kembali ke asrama. Dalam hatinya ia sangat mendambakan bisa menikah dengan wanita seperti Fatim. Dia berharap bisa menemukan satu wanita yang seperti dirinya kelak suatu saat nanti.
__ADS_1
*****
Keesokan harinya semua santriwati dikumpulkan untuk mengumumkan kedatangan Fatim yang akan menetap di pondok selama beberapa hari.
Semua menjadi heboh apalagi melihat wajah Fatim yang cantik dan bersih, dengan tubuh yang tinggi juga langsing.
Terlebih Ruhkayah, wanita yang dulu minta dijodohkan dengan Abas, dirinya merasa terbakar karena akan mendapatkan saingan yang berat seperti Fatim.
"Kayah, Anti harus siap siaga. Gadis baru itu benar-benar sempurna fisiknya. Tetapi kita belum tahu dengan ilmu agama dan akhlaknya," bisik Arimbi salah satu santriwati yang berdiri disamping Rukhayah.
"Anti benar, Mbi. Ana harus waspada, bagaimana pun kita lebih dulu mengenal dan mengincar akhi Abas." Rukhayah memasang wajah sinis.
Semua telah bubar dan kembali ke asrama begitu juga dengan Fatim.
"Kamu yakin mau tinggal di asrama?" Maryam mengiringi langkah menantunya menuju asrama delapan seperti yang diperintahkan ayah mertuanya,Rahmat.
"Insyaalah, Umi. Fatim ingin mencoba menjadi anak pondok biar cuma beberapa hari." Fatim tersenyum.
"Tapi kalau di pondok nggak bisa ketemu loh sama Abas," timpal Maryam lagi.
"Kita ketemuan diam-diam, Um. Sepertinya seru deh kayak pacaran diam-diam gitu." Fatim tertawa ngebayangin dia dan Abas akan diteror banyak mata.
"Ya sudah, ini kita sudah sampai. Kamu masuk gih! Lihat-lihat asramamu dulu, sekalian kenalan sama mereka, kalian seumuran loh." Maryam memberikan tas pakaian Fatim yang tadi dibawanya.
"Terimakasih ya, Umi. Doakan semoga aku betah di asrama." Fatim mencium punggung tangan Maryam sedangkan Abas memperhatikannya dari kejauhan.
Dengan langkah pasti Fatim mengetuk pintu asrama delapan. Tak lupa gadis itu mengucapkan salam.
Ramai yang jawab pasti, karena dalam satu asrama akan tinggal sepuluh kepala. Pintu terbuka dan semua ternganga melihat siapa yang berdiri di depan pintu asrama.
Abi Rahmat sengaja menempatkan gadis itu di asrama delapan karena penghuninya adalah anak-anak perempuan yang dianggap merisihkan bagi santri putri lainnya karena mereka kurang pandai bergaul, pemalu dan bisa dikatakan lambat dalam belajar. Satu lagi kelompok ini hampir tidak pernah ikut kegiatan pondok.
Kali ini Abi Rahmat sengaja mengelompokkan mereka menjadi satu, selama ini mereka di tempatkan membaur dengan yang lainnya.
Harapan Abi Rahmat tentu saja agar Fatim bisa memberi warna dalam kehidupan mereka sehingga bisa berkembang seperti teman-temannya yang lain.
"Apa aku boleh masuk?" Fatim menatap mereka satu persatu. Namun, tak satu pun yang menjawab. Mereka masih terbenggong dan merasa tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Gadis yang baru saja mereka rumpikan kini ada di depan mata.
"Woi ... gue boleh masuk nggak nih?" Fatim sedikit mengeraskan suaranya.
"Ah iya, ahlan wa sahlan ukht**i(selamat datang teman)." Semua menunduk seakan memberi hormat pada Fatim yang membuat gadis itu terkekeh.
__ADS_1
"Nama gue bukan ukhti tapi Fatim." Gadis itu nyengir kuda, ia tidak tahu jika ukhti itu panggilan untuk saudara atau perempuan.
Semua tertawa dan Fatim ikut tertawa, ia masa bodoh dengan mereka yang sedang menertawakannya.
"Jangan ngomong pakai bahasa arab ya sama gue, soalnya gue nggak ngerti." Fatim menerobos masuk yang diikuti oleh para sahabat barunya yang kepo.
Dengan santai gadis itu menuju ke tempat tidur yang kosong, kebetulan ada di tingkat atas dan tanpa kipas angin. Satu-satunya kipas ada di tengah-tengah dinding paling depan.
Wah yang benar saja, nggak ada kipas angin apa lagi Ac, bisa terbakar gue. Sedih banget nih ruangan. Apa abi nggak mampu beliinnya?
Fatim naik ke kasurnya untuk mengecek situasi dan kondisi.
Setelah itu terdengar pengumuman agar mereka segera berkumpul di aula. Akan ada pengumuman penting yang akan disampaikan.
Salah satu sahabat barunya mendekat dan menepuk kakinya Fatim.
"Ukhti, kita diminta untuk berkumpul di aula." Ia mencoba untuk tersenyum pada Fatim.
Gadis itu segera turun." Nama gue Fatim." Ia menyodorkan tangannya dan disambut oleh gadis yang tadi menepuk kakinya.
"Zahra," cicitnya pelan.
"Panggil gue Fatim bukan ukhti." Fatim menepuk tangannya.
"Iya ukh ...." Ia tak bisa berkata-kata karena Fatim sudah menutup mulutnya.
"Fatim bukan ukhti." Setelah gadis itu mengangguk baru lah ia melepaskan tangannya.
"Ayo pergi!" Fatim hendak melangkah namun semua menjerit.
"Stop!"
Fatim menoleh dan mereka serentak menunjuk ke arah kaki Fatim. Hal ini tentu saja membuat gadis itu bingung.
Apa yang salah dengan kaki gue?
Gadis itu melihat kakinya nggak ada yang aneh, sampai Zahra menghampirinya dengan memberikan sebuah kaos kaki, rok panjang yang lebar, serta hijab segi empat yang cukup lebar.
"Loe serius? Gue ... gue harus pakai ini?" Fatim terlihat canggung menerima barang pemberian Zahra.
Ia bisa memakainya karena memang saat sekolah itu adalah atributnya, hanya saja hijab yang dikenakannya tidak selebar anak pondokkan.
"Oke, I'm try it(baiklah saya akan mencobanya)" Fatim segera menerima pemberian Zahra dan bersiap untuk memakainya.
__ADS_1
Bagaimana penampilan Fatim jadi anak pondokkan ya?
Tunggu aku usahakan up nanti malam, demi kalian yang setia pada karya remahanku. Tanpa kalian aku bukan lah apa-apa. So minta like dan vote nya ya😁.