Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
PANGERAN BERJUBAH PUTIH


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


*****


Kamar Fatim ....


Senyum Fatim masih mengembang dibibir mungilnya dan tanpa sadar ia mencium dan mendekap erat shal itu.


"Astagfirullah, apa yang gue pikirin, bisa-bisanya gue mengingat semua tentang lelaki itu, sedangkan gue sudah akan menjadi milik orang lain. Ampuni gue yaa Allah. Kenapa hati gue berdetak kencang saat mengingat Abas? Apa gue sakit lagi ya? Apa ini pengaruh obat sehingga detak jantung gue nggak normal?" ucap Fatim pada dirinya sendiri. Ia bingung dengan keadaanya saat ini.


Setelah merasa capek dengan aktivitasnya Fatim memutuskan untuk segera berbaring, mengistirahatkan segala persendiannya yang pegal dan urat-uratnya yang tegang. Tanpa sadar ia tertidur menjelang salat magrib.


Dalam tidurnya Fatim bermimpi berjumpa dengan para penjahat yang telah mencelakainya sampai ia terjatuh kejurang yang curam dan dalam. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat Fatim yang sudah berlumuran darah. Fatim melihat jelas wajah mereka, namun ia tidak mengenalnya sama sekali.


Dalam mimpinya Fatim berteriak sekuat tenaga untuk meminta tolong pada mereka namun hanya cemoohan lah yang ia dapat. Detik-detik tubuhnya terasa kaku, datang lah seorang pangeran berjubah putih, dengan menunggangi kuda berwarna putih juga, ditambah dengan sorban berwarna putih melekat dikepalanya. Lelaki itu melaju dengan gagah menuju ke arah Fatim. Namun saat sudah mendekat pangeran tampan itu ternyata mirip sekali dengan wajah Abas, ia mengulurkan tangannya untuk menarik tubuh Fatim. Namun Fatim tidak berani untuk mengangkat tangannya, dalam mimpi pun ia masih ingat kalau Abas tidak mau bersentuhan dengan wanita yang bukan mahram.


"Tangan mu!" ucap lelaki itu sambil mengulurkan kembali tangannya.


"Tapiii ... bukannya kamu tidak mau bersen ...." Belum selesai Fatim bicara tangan lelaki berjubah putih telah lebih dulu meraih baju Fatim dan dengan mudah ia menarik tubuh Fatim kepelukannya. Aroma tubuh kesatria berjubah putih yang sangat harum itu pun seakan menjadi aroma terapi bagi Fatim yang sedang kesakitan. Seketika rasa sakit itu tidak ia rasakan lagi, rasa tenang membuat Fatim tertidur dalam dalam dekapan lelaki berjubah putih itu. Dengan tetap memacu kudanya lelaki itu masih mengamit tubuh Fatim yang melunglai. Tidur yang Fatim rasakan sebenarnya adalah pingsan, karena ia kehabisan banyak darah.


*****


Di sebuah pondok yang bernuansa putih, di sana lah tubuh Fatim terbaring. Di atas sebuah dipan kayu yang berhiaskan kelambu putih dan di penuhi bunga mawar yang berwarna putih juga. Perlahan Fatim mulai tersadar dan membuka matanya.


Fatim berusaha mengerjapkan matanya, ia menatap heran ke sekelilingnya. Baru lah ia teringat kalau dirinya terluka. Fatim berusaha bangkit dan duduk bersandar di kepala dipan. Saat melihat bajunya yang sudah berganti dengan pakaian gamis putih seperti pakaian pengantin membuatnya segera menutup dada dan bagian berharganya.


"Siapa yang mengganti bajuku?" gumamFatim pada dirinya sendiri.


Belum sempat ia bergumam kembali, tabir putih yang menutupi kamar yang ditempatinya tersingkap. Muncul lah sosok lelaki berjubah putih yang sangat tampan menurut Fatim.


"Siapa kamu?" tanya Fatim sambil menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, tapi satu hal yang perlu kamu tahu. Bukan aku yang menggantikan bajumu, tapi mereka." Lelaki itu tersenyum sangat manis sambil menunjuk ke arah pintu.


Dari sana masuklah dua orang gadis yang sangat cantik, mengenakan baju yang serba putih dan juga hijab.


"Apakah benar yang di ucapkan lelaki ini," tanya Fatim seolah meminta kepastian.


"Benar putri, kami lah yang mengganti baju tuan putri dan juga mengobati luka-luka yang ada di tubuh tuan putri," jawab keduanya sambil tersenyum.


"Oh, syukurlah." Fatim merasa lega. "Dan satu lagi, jangan panggil aku tuan putri. Namaku Fatim, panggil saja F-A-T-I-M," ucap Fatim dengan sedikit penekanan.


"Sekarang persiapkan dirinya, acara pengukuhan akan di mulai sekarang," ucap lelaki berjubah putih itu pada kedua dayang yang tadi masuk kedalam kamar Fatim sambil berjalan keluar kamar. Kedua dayang itu mengangguk dan segera membantu Fatim untuk berdiri.


"Kalian mau apa?" tanya Fatim heran, karena keduanya sudah membuka baju yang Fatim gunakan.


"Tenanglah putri, kami hanya akan membantu putri untuk mandi dan bersiap ke acara penobatan," ucap keduanya yang sudah membawa Fatim ke kamar mandi yang bernuansa putih juga.


Tidak membutuhkan waktu yang lama mandi dengan air bunga mawar putih membuat tubuh Fatim rileks. Ketiganya segera keluar dari kamar mandi. Di atas dipan yang tadi Fatim tempati telah tergolek sebuah gaun pegantin berwarna putih yang sangat cantik dan elegan, membuat mata Fatim terpesona.


"Gaun itu?" Tunjuk Fatim kearah tempat tidur.


"Itu gaun untuk tuan putri, percayalah di negeri kami belum ada satupun wanita yang bisa memakai gaun itu. Selain memang di buat khusus untuk permaisuri kerajaan kami, baju itu juga bisa menolak pemakainya. Jadi berdo'a lah semoga gaun ini memilih tuan putri." ucap salah satu dayang yang membantu merias Fatim.


"Bisa seperti itu ya, baju kok bisa milih yang memakai, aneh," gumam Fatim.

__ADS_1


Kini tiba lah waktu pemakaian gaun pengantin, kedua dayang itu tampak gemetar saat memegang gaun itu. Perlahan tapi pasti gaun itu mulai masuk ke tubuh Fatim dan melekat sangat indah di tubuhnya.


"Akhirnya, alhamdulillah. Setelah sembilan puluh sembilan orang wanita, baru andalah lah yang berhasil memakai gaun ini. Dan wajah anda sungguh sangat cantik dan bersinar. Anda adalah permaisuri kerajaan kami yang sesungguhnya," ucap keduanya takjub.


Fatim sendiri sangat terpesona dengan kecantikannya, di tambah dengan hijab yang senada, membuat semua tunduk karena tidak berani menatap kecantikan calon permaisuri pengeran berjubah putih.


Kini Fatim telah di bawa berjalan keluar kamar menuju singasana yang bernuansa putih yang sangat indah. Dengan ribuan bunga mawar putih. Tampak sang pangeran berjubah putih telah duduk menanti sang calon permaisurinya.


Fatim merasa canggung, apa dia akan


menikah? Tapi di mana ibunya. Sang pangeran telah mengulurkan tangannya untuk menyambut kekasihnya, namun Fatim menyembunyikan tangannya.


*kalau dia Abas, kenapa dia mau menjabat tanganku, dia bukan Abas tapi hanya mirip saja, aku harus segera pergi dari istana ini.*


Fatim mundur dengan teratur yang membuat sang pangeran langsung berdiri tegak. Dengan cepat Fatim memutar tubuhnya dan mengangkat gaunnya. Ia berlari sekuat tenaganya.


"Kejar dia!" perintah sang pangeran berjubah putih.


"Kembaliiii!" teriak sang pangeran.


"Tidakkkkkkk, biarkan aku pergi! Aku tidak mau menikahimu!" teriak Fatim juga sambil berlari.


Saat pasukan berkuda hampir menangkapnya, Fatim berteriak sekuat tenaganya. Dalam mimpinya ia merasa pipinya di tampar oleh para prajurit itu. Padahal yang sesungguhnya Nadya lah yang menepuk pipi putrinya itu.


"Tidakkkkkk!" teriak Fatim sambil bangkit dari tidurnya.


"Eh, Sayang! Bangun! Istiqfar! Kamu kenapa?" tanya Nadya sambil menepuk pipi putrinya.


"Asstaqfirullah haladzim," ucap Fatim sambil menyeka keringatnya.


Setelah meminum air putih yang di berikan Nadya, baru lah Fatim terlihat sedikit tenang.


"Iya, Ma. Serem, Fatim mau di nikahi oleh seorang pangeran berjubah putih," jelas Fatim dengan nafas tersenggal karena merasa kecapean. Mimpi yang di alaminya seolah sangat nyata.


"Makanya, jangan suka tidur menjelang magrib, itu sangat tidak baik. Pertama menjadi sumber penyakit, kedua ya kayak kamu. Mimpi yang kurang baik." jelas Nadya.


"Iya, Ma. Maafin Fatim ya?" Memeluk Nadya.


"Minta maafnya bukan sama mama, tapi sama Allah yang maha segalanya." Nadya mencium pucuk kepala putrinya.


"Kamu mandi gih, asemmm baunya," canda Nadya.


"Iya, Ma. Tapi Ngomong-ngomong tamu mama tadi siapa ya? Kok sampai mama ketawa ketiwi saking senangnya." Fatim menatap netra ibunya.


"Emmm itu tadi calon mertuamu, kamu nya nggak mau turun. Jadi nggak ketemu deh," jawab Nadya sambil mencolek pipi Fatim.


Fatim merasa sesuatu telah terjadi pada hatinya, entah mengapa ia senang dengan wajah pangeran dalam mimpinya yang mirip Abas, namun ia tidak suka karena pangeran itu terlihat genit, berbeda dengan karakter Abas.


*Ya Allah, gue sepertinya udah benar-benar gila, kenapa selalu terbayang wajahnya Abas, senyumnya, tingkah lakunya. Akhhhh! Gue harus bisa membuang rasa suka ini, karena gue nggak mau kecewa dan mengecewakan mama, tolong aku ya Allah.*


🌹Bersambung.....🌹


Terimakasih sudah membaca!


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.

__ADS_1


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


Ceo dingin dan Gadis Kampung


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


* Karlina Sulaiman


Ceo Somplak


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Novi Wu


Bos Come Here Please!


*Ricky Wijaksono


Api Dibumi Majapahit


*Samar


Cinta Di antara Dendam


* Sylala Yaya


Istri kedua tuan Krisna


* Cherin Kauma


l Love My Army Wife


*Oktavia Tresiani

__ADS_1


Pacarku Hantu


__ADS_2