
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌹
*****
Rumah Sakit ....
Wajah Komar langsung berbinar saat melihat Fatim. Ia turut merasa bahagia jika Abas bisa berjodoh dengan Fatim, gadis yang cantik, dengan segala kelebihannya. Dan ia pun mengakui jika dibandingkan Fatim, putrinya akan kalah jauh.
Merekapun berbincang dengan gembira sampai waktu zuhur tiba. Mereka segera menunaikan shalat berjamaah di mushala dekat sebelah kamar Fatim. Dan sejak itu Komar menjadi semakin yakin untuk tidak lagi menuntut pak Ustad Rahmat untuk menjodohkan Abas dengan putrinya.
Selesai salat zuhur, Komar dan ustad Rahmat mohon pamit pada Fatim dan Nadya, untuk kembali ke Bandung. Namun sebelum pulang, mereka akan mampir untuk membeli kebutuhan pokok untuk pondok.
"Nad! Kami akan pulang sekarang. Tolong jaga calon mantuku, jangan biarkan dia terluka lagi. Aku sangat khawatir terhadap dirinya. Kalau bisa aku ingin mereka cepat menikah, agar Abas bisa menjaganya."
"Iya, Mat. Terimakasih sudah berkunjung. Aku juga sebenarnya ingin mereka segera menikah, tapi mereka masih sekolah."
"Kamu tenang saja, aku akan segera mengirim Abas kesekolahnya Fatim. Soalnya abis tahun ini, Abas akan segera berangkat ke cairo-Mesir tepatnya di Al Azhar," ucap Rahmat sambil tersenyum.
"Maksudmu?! Abas tahun depan akan berangkat ke Al Azhar?!"
"Iya, Nad."
"Terus, perjodohan mereka?"
"Kita akan nikahkan mereka sebelum Abas berangkat ke Cairo."
"Tapi ... sekolah putriku?"
"Putrimu akan tetap sekolah. Mereka akan kawin gantung nanti."
"Maksudmu nikah siri?"
"Bukan, Nadya. Kawin gantung itu berbeda dengan nikah siri.
"Kalau Nikah siri, yaitu pernikahan yang dilakukan oleh wali pihak perempuan dengan seorang laki-laki dan disaksikan oleh dua orang saksi, tetapi tidak dilaporkan atau tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA)."
"Istilah nikah siri atau nikah yang dirahasiakan memang sudah dikenal di kalangan para ulama. Hanya saja nikah siri yang dikenal pada masa dahulu berbeda pengertiannya dengan nikah siri pada saat ini."
"Dahulu yang dimaksud dengan nikah siri yaitu pernikahan sesuai dengan rukun-rukun perkawinan dan syaratnya menurut syari’at, hanya saja saksi diminta tidak memberitahukan terjadinya pernikahan tersebut kepada khalayak ramai, kepada masyarakat, dan dengan sendirinya tidak ada walimatul-’ursy. Adapun nikah siri yang dikenal oleh masyarakat Indonesia sekarang ini adalah pernikahan yang dilakukan oleh wali atau wakil wali dan disaksikan oleh para saksi, tetapi tidak dilakukan di hadapan Petugas Pencatat Nikah sebagai aparat resmi pemerintah atau tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama bagi yang beragama Islam atau di Kantor Catatan Sipil bagi yang tidak beragama Islam."
"Sedangkan nikah gatung atau kawin gantung adalah salah satu istilah dalam pernikahan yang merujuk pada pernikahan yang dilakukan oleh seorang pria dengan seorang wanita dan setelah pernikahan tersebut pasangan tidak tinggal disatu rumah. Nikah gantung biasanya dilakukan ketika pasangan tersebut masih remaja atau anak-anak dan belum mengerti betul kehidupan berumah tangga (baca membangun rumah tangga dalam islam dan cara menjaga keharmonisan rumah tangga)."
"Istilah ini juga diberikan kepada pasangan yang sudah menikah namun belum sanggup untuk menjalankan rumah tangga bersama karena belum memiliki kemampuan finansial dan materiil maupun moril yang cukup. Nikah gantung biasa terjadi dibeberapa kalangan masyarakat di Indonesia dan juga terjadi di luar negeri. Di Arab sendiri nikah gantung dikenal dengan sebutan nikah khitbah karena setelah menikah pasangan seperti melakukan pertunangan saja dan belum tinggal serumah meskipun diperbolehkan."
"Dalam islam sebenarnya tidak ada istilah nikah gantung. Namun pernikahan yang dilaksanakan dengan istilah nikah gantung tersebut sah hukumnya menurut islam, jika semua syarat dan rukun nikah terpenuhi serta pernikahan itu sesuai dengan ketentuan syariat agama islam yang berlaku."
"Nikah gantung yang dilakukan untuk tujuan yang baik, boleh saja dilakukan. Namun dilarang atau haram hukumnya jika untuk tujuan yang tidak baik. Sebagaimana hukum pernikahan dalam islam pada umumnya. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa nikah gantung dianjurkan dalam islam. Sebaiknya jika ingin menikahkan seorang anak tunggulah hingga ia dewasa dan bisa memberikan keputusan apakah ia mau menikah atau menolaknya."
"Pernikahan yang dilaksanakan dengan benar dengan aturan yang sah maka dapat mendatangkan kebaikan. Beberapa tujuan mulia bisa menjadi alasan mengapa seseorang menikah dengan cara nikah gantung."
"Alasan kawin gantung ini misalnya adalah Suami belum mampu memenuhi kewajibannya untuk menafkahi istri dalam hal ini ia belum bisa menyediakan tempat tinggal, pakaian dan hal lainnya yang dibutuhkan oleh istrinya."
"Ataupun seperti Abas dan Fatim. Pasangan masih belajar di sekolah atau masih menuntut ilmu sehingga sebaiknya tinggal bersama orangtua masing-masing sebelum keduanya siap untuk berumah tangga dan menjalani kewajibannya sebagai suami istri."
"Begitulah penjelasannya tentang kawin gantung, jadi apa kamu mau mereka menikah sebelum Abas berangkat?"
"Hmm kalau aku sih setuju, Mat. Tapi bagaimana kalau mereka berdua menolak?"
"Kita tunggu saja sampai akhir tahun ini, semoga keduanya mau dan berjodoh."
"Aamiin, semoga yaa Allah."
"Baiklah, kami pamit ya. Titip salam buat calon mantuku."
"Assalamu'alaikum," ucap Rahmat sembari berdiri dan meninggalkan Nadya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Nadya menggiringi kepergian Rahmat.
Pikiran Nadya melayang kepenjelasan Rahmat. Ia membayangkan reaksi Fatim, putrinya. Entah apa yang akan dia lakukan saat tahu dia akan dinikahkan dengan sahabat masa kecilnya, kak Pop.
*****
__ADS_1
Sementara itu, di My Cafe ada seseorang yang mencari Fatim. Dia adalah suami dari orang yang pernah Fatim tolong waktu itu.
"Maaf, Pak! Ada perlu apa ya?" tanya pegawai My Cafe yang sedang bertugas.
"Saya mau bertemu Neng Fatim. Apa dia ada?" Pandangannya menyapu keseluruhan area My Cafe.
"Maaf, Non Fatimnya tidak ada, dia sedang sakit," jelas pelayan itu.
"Apa?! Sakit? Sakit apa dia? Dirawat dimana? Parahkah? Atau sudah sehatkah?" tanya bapak itu panik.
*Siapa bapak-bapak ini? Kenapa dia terlihat panik saat tahu non Fatim sakit? Apa dia salah satu pegawai bengkel panti milik non Fatim? Hmm kok aku jadi kepo sih.*
"Alhamdulillah, Pak. Sekarang non Fatim sudah baikan. Kalau boleh tahu, Bapak ini siapa? Ada perlu apa? Atau ada pesan apa? biar nanti saya sampaikan pada pengelola Cafe ini, untuk disampaikan pada Non Fatim."
"Hmm saya Kusno, dulu sewaktu saya di penjara karena razia kamtip, neng Fatim lah yang menjamin saya. Dia juga yang telah membelikan kami sebuah rumah, dan juga memberikan modal usaha buat kami agar tidak lagi dagangan keliling." Mengambil nafas sebentar.
Kemudian lelaki itu melanjutkan ceritanya." Sejak itu kami mulai membuka usaha warung pecel dan ketoprak. Kini usaha yang kami rintis sudah bisa dikatakan sukses. Saya kemari bermaksud ingin mengembalikan modal yang dulu pernah neng Fatim kasih. Kalau rumah, rasanya saya masih harus Menabung satu atau dua tahun lagi, baru cukup." Lelaki itu terdiam sejenak.
Mendengar cerita lelaki itu, membuat si pelayan merasa sangat terharu dan bangga."Kalau begitu sebaiknya Bapak pergi saja sendiri kerumah sakit ini." Memberikan secarik kertas yang berisikan alamat rumah sakit tempat Fatim menjalani perawatan.
Setelah menerima alamat perawatan Fatim, lelaki itu pun segera pamit. Ia segera menjalankan mobil pribadinya menuju kerumah sakit Pelita Harapan.
*****
Dirumah Sakit ....
Ponsel Nadya berdering, dan itu adalah Momon." Halo! Mon ... ada apa?"
"Saya sudah diperjalanan menuju rumah sakit, Bu!"
"Oh ya, aku bisa minta tolong Mon?"
"Iya, Bu. Mau pesan apa?"
"Tapi maaf ya, Mon. Apa kamu tidak malu membelinya?"
"Apa, Bu? Katakan saja. Aku nggak malu kok." Dalam hatinya Momon bertanya-tanya, apa yang mau dipesan oleh bu Nadya.
Sedangkan Nadya hanya mengangkat alisnya sebagai ekspresi keterkejutannya, karena Momon mencela ucapnya. Dia yakin pasti Momon sedang bingung sekarang."Terserah kamu aja, Mon. Mau dapat apa nggak, mau bisa atau nggak, aku tidak perduli Mon." Menutup mulutnya menahan tawa.
Sementara itu, Momon kembali menjalankan mobilnya. Tanpa komando mobilnya sudah berhenti disebuah mini market. Ia segera turun. Dengan penuh percaya diri, dia segera masuk.
"Selamat datang, di toko kami. Selamat berbelanja." Sambut satpam yang menjaga pintu masuk mini market.
"Terimakasih sambutannya." Berjalan masuk kedalam toko. Kini Momon mulai berjalan memutari toko. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, terkadang memutar badannya. Namun apa yang dia cari tidak ditemukannya.
Melihat Momon yang berjalan seperti orang yang sedang mencari barang yang hilang. Membuat beberapa pengunjung menahan senyum. Namun Momon merasa malu untuk bertanya. Benar kata pepatah malu bertanya sesat dijalan. Kini Momon sudah hampir setengah jam memutari isi toko yang lumayan luas. Keringat mulai mengucur dari dahinya. Namun, rak pembalut tak kunjung dijumpainya.
Melihat Momon yang sudah Berkali-kali melewatinya, penjaga toko itu pun memberanikan diri untuk menyapanya.
"Selamat siang menjelang sore, Pak! Ada yang bisa saya bantu?"
"Oh ... eh ... nggak ada, saya baik-baik saja." Momon merapikan kerah bajunya untuk menghilangkan grogi.
"Atau Bapak mau mencuri?" tanya penjaga yang mulai curiga.
"Eh kalau ngomong jangan sembaranga ya, pake nuduh orang mau mencuri. Emang ada tampangnya saya mau mencuri?" ucap Momon dengan nada kesal.
"Iya, ada. Tuh lihat saja, wajah Bapak mirip pimpinan rampok," ucap penjaga toko sambil jaga jarak, kalau-kalau benar Momon adalah pencuri.
"Enak saja, saya mau belanja tahu." bentak Momon semakin kesal.
"Ya sudah, kalau mau belanja. Tapi kenapa dari tadi muter-muter aja? Apa yang mau Bapak Beli?"
"Saya mau beli pem ...." Momon segera menutup mulutnya.
"Pem ... apa?"
Lama Momon terdiam. Namun akhirnya ia segera menarik si penjaga toko kepojokan yang membuatnya berteriak, namun dengan cepat Momon membekap mulutnya."Diam!" Bentak Momon.
"Tolong jangan gituin saya, Om. Saya masih perawan."
__ADS_1
"Hus! Jangan ngomong melantur ya. Saya bekap kamu karena mau membisikan apa yang mau saya beli."
Mendengar penjelasan Momon, penjaga toko itu baru merasa lega. Kemudian Momon pun segera membisikkan apa yang mau dia beli.
Mendengar apa yang mau Momon beli membuat penjaga toko itu tertawa."Ha ... ha ... Om ini, tampang preman tapi yang dibeli pembalut. Apa Om lagi dapet ya makanya sensi?"
Mendengar penjaga toko meledaknya membuat Momon kesal."Kamu bisa diam nggak? Kalau nggak bisa diam, kamu saya bawa ke kamar ganti itu, mau?"
"Eh jangan,Om. Oke tunggu ya, saya ambilkan pembalutnya." Meninggalkan Momon yang terkekeh.
"Piuhh, akhirnya bisa juga nyebutin perkakas antik perempuan. Huh ... bu Nadya, tega amat membuat martabat seorang Momon jatuh kelantai paling bawah." dengus Momon kesal.
Setelah mendapatkan apa yang dipesan bu Nadya, Momon segera meluncur menuju rumah sakit. Tanpa sadar disepanjang perjalanan Momon tersenyum puas. Misinya berhasil, meski banyak drama.
🌹Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*Laura V
Sang Pengoda
*Bintun Arief
Keteguhan Hati
*Kauma
I Love My Army Wife
*Novi Wu
Bos Come Here Please!
*Ricky Wijaksono
Api Dibumi Majapahit
*Samar
__ADS_1
Cinta Di antara Dendam