Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
CBDM2. 5


__ADS_3

Dua pemuda tampan yang berbeda usia hanya beberapa tahun saja sedang duduk di bangku taman. Mereka terlibat pembicaraan yang serius. Hal itu tampak dari raut wajah keduanya yang terlihatsedikit tegang.


"Kamu sudah lama kenal Fatim?" Dokter Haris membuka pembicaraan di antara keduanya.


"Iya sudah lama," jawab Abas singkat.


"Sejak kapan?" Ia menoleh pada Abas.


"Sejak dia berumur lima tahun, setelah itu kami terpisah, dan baru sekarang bertemu lagi." Abas menghela napasnya.


"Pantas saja kalian bisa klik satu sama lain." Dokter Haris tersenyum menatap Abas.


Abas hanya ikut tersenyum dan diam, ia bingung harus bicara apa sama dokter Haris.


"Selamat ya, kamu sudah menenangkan hati gadis berhati malaikat seperti Fatim, tadinya aku juga jatuh cinta padanya namun sejak aku tahu ia mencintai orang lain yang ternyata adalah dirimu aku berusaha untuk merubah rasa cinta ini menjadi sahabat." Dokter Haris mengengganm tabgan Abas dengan lembut.


"Berjanjilah padaku kau akan menjaga dan membahagiakannya, sesuai ucapanmu sampai ke janah Allah. Jika sekali saja dia terluka dan aku tahu itu, maka aku tak akan membiarkannya, aku akan mengambilnya darimu." Dokter Haris tersenyum menatap Abas.


"Inshaa Allah." Abas membalas rangkulan dokter Haris.


"Aku akan berangkat untuk study lagi besok ke LA, makanya aku pamit padamu dan Fatim, aku tahu sekarang aku tak lagi bisa bebas menatapnya karena dia istrimu. Sampaikan rasa terimakasihku padanya yang telah singgah dihatiku dan mengajariku tentang indahnya berbagi. Maafkan lah bila aku banyak melakukan kesalahan baik sengaja ataupun tidak padamu ataupun padanya."


Kedua lelaki itu saling bersalaman kembali dan saling tersenyum. Beban hati yang dokter Haris rasakan seolah sudah menguap bersama cerahnya sinar mentari yang mulai menampakkan sinar kemerahan di ufuk Barat.


Mereka kembali ke dalam rumah dan mendapati tiga bidadari cantik sedang asyik bercengkrama. Dokter Haris berusaha untuk menenangkan hatinya, ia sudah merelakan harus merasakan sedihnya tergores karena cinta bertepuk sebelah tangan. Ia berusaha untuk berjiwa besar melihat gadis yang ia sukai sudah menjadi milik orang lain.


*Aku tahu cinta itu suci, dan tidak akan pernah salah. Aku juga meyakini jika cinta tak harus memiliki, cukup aku ikut merasakan bahagia saat melihat orang yang kucintai bahagia. Semoga kau selalu menghiasi cerita hidupnya dengan kebahagiaan ya Robb. Semoga dibelahan bumiMu yang lain masih ada seorang gadis seperti dirinya, yang bisa menggenapkan setengah dienku. Batin dokter Haris.*


"Hei kalian udahan dari taman belakangnya? Ayo gabung sini." Nadya melambaikan tangannya pada dua pemuda tampan yang baru memasuki ambang pintu.


Keduanya tersenyum dan berjalan mendekat, lalu dokter Haris menggambil posisi disebelah mamanya, dan Abas duduk disamping Fatim, kekasih halalnya.


Setelah cukup berbasa basi untuk berpamitan, dokter Haris dan mamanya mohon diri untuk pulang, rencananya mereka akan berangkat besok. Mereka bertiga mengantar tamunya sampai ke depan pintu.


Sepeninggalan dokter Haris dan mamanya mereka bertiga siap-siap untuk segera salat magrib, dan setelah itu bersiap untuk datang ke acara syukuran anak-anak bawah jembatan.


*****

__ADS_1


Kali ini Abas dan Fatim terpaksa harus naik mobil menuju ke bawah jembatan karena Nadya melarang keduanya naik motor dalam kondisi malam, ia trauma terhadap kejadian yang dulu terjadi pada putrinya itu. Sedangkan dirinya tidak bisa ikut karena harus segera terbang ke Yogyakarta untuk mengurusi bisnisnya yang mengalami sedikit kendala, setidaknya selama dua atau tiga hari.


Kedua sejoli itu terpaksa mengikuti kemauan sang Ibu Suri, malam itu Fatim sungguh tampak sangat angun, untuk pertama kalinya ia menghadiri sebuah acara mengenakan baju gamis yang dijadikan Abas sebagai hantaran sewaktu pernikahan mereka.


Lelaki itu benar-benar terkesima saat pujaan hatinya menuruni anak tangga, gamis berwarna coklat muda dengan motif bunga sakura kecil berwarna putih yang mengelilingi bawah gamisnya sedangkan yang atas terlihat polos, sangat cantik dan elegan biarpun harganya tidak semahal pakaian Fatim biasanya.


Fatim yang melihat suaminya menatap penuh cinta tanpa berkedip merasakan pipinya memanas, meski rumahnya selalu adem.


"Ehemmm." Fatim sengaja membuat suara deheman untuk mengalihkan pandangan suaminya, namun itu tidak berhasil malah sekarang dihiasi senyuman yang membuat hatinya meleleh.


"Kak Pop, udah dong liatinnya, aku jadi malu nih." Ia menundukkan wajahnya yang saat ini sudah benar-benar merah rasanya.


"Mashaa Allah, kamu sungguh cantik, Dek. Aku jadi tidak mau membawamu keluar. Aku nggak rela rasanya bila wajah cantikmu dinikmati oleh banyak orang," ucapan Abas membuat sebuah senyum terkembang di bibir mungil milik Fatim.


"Oke aku ganti baju Army saja ya, biar enak." Fatim semakin mengembangkan senyumnya lebih lebar seperti iklan pasta gigi pepsoden.


"No."


Jawaban singat itu mampu mematahkan sebuah senyum pepsoden yang indah dan berganti menjadi sebuah cebikan.


"Kejam," jawab Fatim tak kalah pedas.


Fatim menyambut uluran tangannya kemudian mereka berjalan bergandengan menuju mobil.


"Anda siap untuk meluncur tuan putriku?" Abas melirik kekasihnya.


"Hamba siap meluncur ke hatimu pangeranku." Fatim mengedipkan sebelah matanya pada Abas yang membuat lelaki itu merasa seperti cacing kepanasan.


"Genit." Abas mencubit lembut hidung kekasihnya.


"Ganteng." Fatim membalas cubitan suaminya.


"Halo google saya mau tanya Ehmm kira-kira jam berapa ya kami akan sampai, kalau dari tadi kami nggak jalan-jalan mobilnya masih anteng aja parkir di sini." Fatim pura-pura bicara pada gawainya yang baru saja ia keluarkan.


Abas tertawa lepas akhirnya setelah sekian lama ia tak pernah tertawa keras-keras karena harus menjaga sopan santun dalam berbahasa dan berbudaya. Hal ini tentu saja mengundang delikan mesra dari putri keraton disebelahnya.


Tanpa berkomentar mobil mulai melaju menuju ke bawah jembatan. Di sepanjang jalan keduanya hanya diam, sibuk berimajinasi dengan pikirannya sendiri hingga tanpa sadar Abas mengambil belokan yang salah.

__ADS_1


Fatim yang baru sadar dengan keadaan sekitar mencoba untuk melihat keluar jendela dan benar saja mereka salah ambil jalur belokan.


"Kak Pop coba berhenti deh." Fatim melirik suaminya.


"Kenapa?" Abas mulai melambatkan laju mobil mereka.


"Sepertinya kita nyasar, ini bukan arah menuju bawah jembatan." Fatim menurunkan kaca mobilnya untuk memastikan, baru saja ia ingin melongokan kepalanya keluar jendela tiba-tiba Abas menekan tombol untuk menaikkan kaca otomatis.


"Aduhhh Kak Pop aku akan terjepit turunin kacanya!" teriak Fatim yang membuat Abas harus kembali fokus agar tak lagi salah menekan tombol.


Setelah semua terkontrol keduanya diam dan menarik napas lega.


"Mau membunuhku?" umpat Fatim kesal.


"Maaf bukan begitu, aku nggak sengaja, Dek." Abas meraih jemari kekasihnya. Hal ini membuat niat jahil Fatim kambuh, ia mulai berakting.


"Apa Kak Pop mau melihat aku ma-." Fatim tak lagi bisa meneruskan ucapannya karena suaminya sudah membungkamnya dengan sebuah ciuman.


Air mata jelas mengalir di sudut mata suaminya yang terpejam dan itu disaksikan langsung oleh Fatim. Ia menjadi merasa bersalah pada kekasihnya itu.


"Jangan lagi berucap demikian, kau tahu aku rasanya tak akan sanggup untuk kehilanganmu lagi. Cukup sekali di waktu dulu." Abas memeluk erat istrinya.


"Maaf." Fatim berbisik lembut di telinga suaminya.


Lama terlarut dalam kebisuan akhirnya Fatim memberanikan diri untuk membuat suasana kembali menghangat.


"Oke google, tunjukkan kami jalan menuju camp bawah jembatan."


Keduanya kembali tersenyum dan melepaskan pelukannya. Abas mulai memutar arah untuk menuju bawah jembatan.


Sementara itu adik-adik bawah jembatan terlihat sedih, pasalnya mereka tidak mau memulai acara sebelum Fatim datang. Hal ini tentu saja membuat seorang Jefry terlihat kesal. Belum pernah Fatim sampai melupakan janjinya.


*Apa karena lelaki itu kau mulai melupakan kami? Sepertinya malaikat tak bersayapku sedang dilanda asmara sehingga ia berubah, apa aku harus marah? Atau aku harus senang? Aku tahu rasa ini tak seharusnya hadir, perbedaan kita seperti langit dan bumi, tapi apa aku salah jika ia hadir tanpa aku sendiri menyadarinya?*


Jefry meraup wajahnya kasar sebelum akhirnya berusaha untuk menyemangati adik-adik itu dengan mengatakan bahwa kak Fatim akan segera datang.


Bersambung ....

__ADS_1


Makasih sudah baca chapter ini jangan lupa tap like dan komen juga kado buat Fatim dan Abas. Salam CBDM!


__ADS_2