Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
PETUGAS PUSKESMAS


__ADS_3

๐ŸŒปAssalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!๐ŸŒป


"Kediaman Bu Aniah#


"Baiklah Pak-Bu, saya pamit. Assalamualaikum," ucap Nadya.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," ucap keduanya.


Keduanya perlahan menghapus air mata haru disudut mata rentanya. Tak pernah terbayangkan oleh keduanya Allah akan membahagiakan mereka dimasa tuanya, yang selama ini selalu dalam kekurangan. Dan memberikan mereka rezeki dari pintu yang tidak disangka-sangka.


Mobil Nadya dan Momon sudah melaju meninggalkan Kediamam bu aniah dan bapak Saidi, menuju kemarkas Momon.


#Diperjalanan#


"Bu ... maaf, apa kita mau singgah ketoko pakaian dulu," tanya Momon melirik Nadya dari kaca spion mobil.


"Nggak usah Mon, kenapa? Kamu risih lihat saya pake daster?" tanya Nadya.


"Eh-ehm-anu ... nggak kok Bu, cuma siapa tahu aja ibu pengen ganti baju," ucap Momon salah tingkah.


"Nggak apa-apa Mon, sesekali biar mereka tahu jangan mengganggap remeh mak-mak berdaster," ucap Nadya dengan senyum yang mengembang dibibir tipisnya.


Momon tersenyum terpaksa, karena tak ingin membuat Nadya curiga kalau ia keberatan Nadya memakai daster, takut kesan wibawanya nggak ada.


Mobil terus melaju tanpa hambatan, kepala Nadya yang hanya diperban asal oleh bu Aniah membuat Momon merasa trus khawatir. Diapun berinisiatif membelokkan mobilnya kepelayanan kesehatan terdekat yang mereka lalui.


# Puskesmas #


"Loh Mon ... kok mampir ke puskesmas sih?"


"Iya Bu, maaf aku khawatir terhadap luka ibu yang hanya diperban asal kayak gitu." Melihat Nadya dengan sudut matanya.


"Kamu berlebihan Mon, ini juga sudah nggak apa-apa kok." Menyentuh lukanya.


"Ayo Bu turun!" ajak Momon.


Nadyapun segera turun, bagaimanapun ia sangat menghargai ketulusan Momon terhadapnya.


Keduanya berjalan menuju petugas jaga.


"Siang Sus," sapa Momon.


"Siang Pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Ini tolong periksa luka atasan saya," ucap Momon.


Perawat itu menatap sedikit heran pada Nadya, karena wanita yang dipanggil Momon sebagai atasannya hanya tampak seperti ibu rumah tangga biasa.


"Apa Bapak nggak salah ya?" tanya perawat itu curiga dan sedikit jutek, seolah jijik melihat Nadya yang sok belagu dalam benaknya.


"Kenapa?" sahut Nadya.


"Apa karena saya pake daster rumahan terus kamu nggak percaya kalau saya atasannya?" ucap Nadya sedikit kesal.


"Eh-ehmm maaf Bu," ucap perawat itu malu dan merasa bersalah.


Dengan cepat perawat itu membersihkan luka Nadya dan membalutnya dengan perban yang baru.


"Sudah Bu," ucap perawat tersebut.

__ADS_1


"Terimakasih Sus," ucap Nadya.


"Lain kali janganlah menilai seseorang dari penampilannya, dan jangan menghakimi nasib seseorang tanpa menyelidiki terlebih dahulu, bisa jadi orang yang anggap rendah lebih tinggi dan mulia dari pada kita sendiri," ucap Nadya pada perawat tersebut.


Kebetulan sekali saat Nadya berkata demikian lewatlah imam mushola puskesmas tersebut dan ia membenarkan perkataan Nadya.


"Assalamualaikum," ucap beliau.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabatokatuh," jawab ketiganya hampir bersamaan.


"Eh pak Zakaria," ucap perawat yang bersama Nadya dan Momon.


"Maaf bukan saya mau ikut campur, cuma tadi saya kebetulan mendengar apa yang kalian bicarakan, dan itu sangat benar seperti yang tadi ibu ini ucapkan." Menunjuk Nadya.


"Dalam ajaran agama kita dijelaskan mengenai hal ini, diantaranya seperti berikut ini," jelas pak Zakaria.


Ada beberapa wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Wasiat yang pertama kita ulas adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah.


Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, โ€œBerilah wasiat kepadaku.โ€


Rasul shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pun memberi wasiat,


ู„ุงูŽ ุชูŽุณูุจูŽู‘ู†ูŽู‘ ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง


โ€œJanganlah engkau menghina seorang pun.โ€ Abu Jurayy berkata, โ€œAku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.โ€


Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.โ€ (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).


Di antara wasiat Rasul shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah janganlah menghina orang lain. Setelah Rasul menyampaikan wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak pernah menghina seorang pun sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan.


Dalam surat Al Hujurat, Allah Taโ€™ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik,


ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ุฎูŽุฑู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ููˆุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ู†ูุณูŽุงุกูŒ ู…ูู†ู’ ู†ูุณูŽุงุกู ุนูŽุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒูู†ูŽู‘ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูู†ูŽู‘


Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul shallallahu โ€˜alaihi wa sallam,


ุงู„ู’ูƒูุจู’ุฑู ุจูŽุทูŽุฑู ุงู„ู’ุญูŽู‚ูู‘ ูˆูŽุบูŽู…ู’ุทู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู


โ€œSombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.โ€ (HR. Muslim no. 91). Yang dimaksud di sini adalah meremehkan dan menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.โ€ (Tafsir Al Qurโ€™an Al โ€˜Azhim, 6: 713).


"Selain seperti yang saya jelaskan diatas ada lagi sabda Rasulullah berikut. "


Rashulallah sallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda;


ุฑูุจู‘ูŽ ุฃูŽุดู’ุนูŽุซูŽ ู…ูŽุฏู’ูููˆุนู ุจูุงู„ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ู„ูŽูˆู’ ุฃูŽู‚ู’ุณูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ุฃูŽุจูŽุฑู‘ูŽู‡ู


โ€œBerapa banyak orang yang berpenampilan lusuh, compang-camping dan berdebu, terusir dari pintu-pintu, sendainya ia bersumpah atas Allah niscaya Allah SWT akan mengabulkannya.โ€ [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahuโ€™anhu]


"Lantas hal hal apa yang membuat derajat seorang muslim di sisi allah SWT meningkat?"


"Berdasar kan kekayaan atau kemewahan?"


"Tentu saja tidak, hal hal yang dapat meninggikan atau menaik kan derajat seorang muslim di ukur dari segi ketaqwaan nya. Apabila ketaqwaan seseorang rendah, maka derajat ia di mata allah SWT pun rendah."


Sebagaimana dalam firman allah;


ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽูƒู’ุฑูŽู…ูŽูƒูู…ู’ ุนูู†ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุชู’ู‚ูŽุงูƒูู…ู’


โ€˜Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertakwa.โ€™ (Al-Hujurat: 13).

__ADS_1


"Tapi nggak jarang kita sendiri yang jadi khilaf. Belum pernah ketemu, eh udah nggak suka aja. Baru liat penampilannya yang biasa aja, kita udah menganggap orang itu kelas menengah kebawah dan yang lainnya," ucap pak Zakaria.


"Bahkan kita juga sering menilai orang lain dari luarnya, di dalamnya tersirat penilaian yang tidak adil, sepihak, dan terlalu cepat menarik kesimpulan."


"Selain itu kita juga perlu menyimak alasan-alasan ini biar kita nggak lagi sembarangan menilai orang dari luar," ucap pak Zakaria.


"Yang Kamu Lihat Belum Berarti Benar."


Poin pertama yang paling utama sebelum kamu menjatuhkan penilaianmu adalah yang kamu lihat bukan berarti benar. Karena terkadang penampilan orang lain bisa mengecoh kita, pakaiannya glamor belum berarti dia orang kaya, bisa saja orang itu banyak meminjam. Dan penampilan apa adanya bukan berarti orang susah, bisa saja dia tidak mau berlebihan.


"Belum Tentu Kamu Lebih Baik Dari Dia."


Yap, belum tentu kamu lebih baik dari dia! Ingat yaa!


Kamu pakai pakaian tertutup sedangkan dia udelnya keliatan? Berarti kamu lebih baik dari dia. Belum tentu. Banyak lho contohnya yang udah-udah. Ternyata anggapan kita salah.


"Meremehkan Mereka Sama Dengan Meremehkan Sang Pencipta."


Meremehkan seseorang yang ada di hadapanmu sama saja dengan meremehkan Sang Pencipta. Manusia yang kamu nilai buruk itu adalah ciptaan Sang Pencipta. Jadi, sebelum kamu menilai ia buruk, perhatikan ia baik-baik, dan ingat tentang Yang Menciptakannya. Tak ada yang sempurna, termasuk diri kamu sendiri.


"Setiap Orang Memiliki Sisi Kebaikan. Tidak Ada Orang Yang 100% Jahat."


Nggak ada manusia yang 100% baik atau 100% jahat. Kebaikan dan kejahatan, keduanya bersemayam di dalam hati manusia. Tokoh yang 100% jahat/baik hanya terdapat di karakter fiksi. Demikian pula dengan orang yang kamu nilai buruk. Masih ada kebaikan di diri mereka yang bisa kamu temukan. Termasuk hati manusia, sejahat apapun kelakuan manusia, pasti ada terselip dihatinya untuk berbuat lebih baik.


"Penampilan Bisa Saja Menipu."


Penampilan luar sangat mungkin tidak mencerminkan apa yang ada di dalamnya. Kita berpikir bahwa kita tahu apa yang terjadi, namun bisa saja kita tidak tahu sama sekali. Hikmah saja bersembunyi dibalik musibah, apalagi penampilan seseorang ? Jelas banget bisa ditutupi. Orang yang berbuat baik bisa saja untuk menutupi kejahatannya begitupun sebaliknya. Dan terkadang kita tak tau apa yang direncanakan oleh seseorang untuk kesuksesannya dikemudian hari, bisa jadi menjadi orang yang lebih maju dibanding kita yang menilainya buruk.


"Menilai Mereka Dengan Penilaian Yang Buruk Tidak Membuatmu Jadi Lebih Baik."


Menilai buruk mereka yang belum kamu kenal sepenuhnya tidak membuat kamu jadi manusia yang lebih baik. Baik itu relatif. Komponen kebaikan itu ada banyak. Baik itu luas. Jika kamu cepat menilai buruk seseorang, berarti kamu adalah tipe orang yang close minded, dan tidak melihat sisi kebaikannya.


"Kita Semua Diciptakan Berbeda."


Manusia diciptakan berbeda-beda. Dari segi fisik saja banyak perbedaan, apalagi dari segi nonfisik. Jika manusia punya isi hati dan isi kepala yang sama, maka kita bukan lagi manusia, melainkan robot yang terprogram. Hargai dan nikmati perbedaan tersebut. Jangan menjadikan kita membenci orang lain.


"Kita harus belajar menghilangkan kebiasaan menilai dari luar, maka mulailah dengan tidak men-judge orang terlalu cepat baik dari segi penampilan dan perilaku," ucap pak Zakaria lagi.


"Iya Pak saya mengerti sekarang, dan Ibu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap perawat itu sambil membungkuk.


"Iya saya juga mohon maaf, saya tidak berniat untuk pamer dan minta diakui, dan pada Allah saya mohon ampunan, Pak Zakaria saya ucapkan banyak terimakasih banyak atas nasihatnya, saya jadi dapat ilmu baru," ucap Nadya.


"Sama-sama Sus-Bu," ucap pak Zakaria.


"Kalau begitu kami permisi karena masih ada urusan," ucap Momon.


Kini keduanya kembali kemobil untuk melanjutkan perjalannya menuju kemarkas Momon untuk menemui kelima pemuda yang menjadi tersangka atas kecelakaan Fatim putrinya.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.



Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik :


__ADS_1




__ADS_2