
* Percakapan Fatim dan Yati via telepon...
"Apaan sih loe Fatim, nggaklah gue kan sukanya ama Ketos, cuma Kak Wawan juga lumayan ganteng kok," ucap Yati dengan wajah yang sudah memerah.
"Huhhh maruk loe, semua yang ganteng mau loe embat, ntar patah hati baru tahu rasa loe."
"Frennn loe kalau nyumpahin gue yang baik - baik aja napa, misalnya semoga loe cepet jadian, semoga loe dapet cowok tajir, ini patah hati, sedih nih gue."
Fatim tertawa mendengar celotehan Yati yang sangat menghibur bagi Fatim, dan dia sangat bersyukur mempunyai teman seperti Yati.
Setelah mengakhiri pembicraannya dengan Yati, Fatim segera pergi kembali ke ruang perawatan korban lakalantas tadi.
"Bang bagaimana keadaan Bapak itu, apa beliau sudah sadar?" Melihat Burhan.
"Sepertinya belum Neng Fatim, Abang juga nunggu Bapak itu siuman juga baru pulang," ucap Burhan.
"Bang ! Apa ada identitas Bapak itu yang dapat kita gunakan untuk mencari alamat atau keluarganya?"
"Wah Abang kurang tahu, soalnya tadi pas nolongin kita lupa nyari identitasnya."
"Ya udah kita tunggu Bapak itu siuman dulu, baru nanti kita tanyain keluarganya," ucap Fatim.
"Abang udah makan?"
"Eh ... belum Neng." Tersenyum malu - malu.
"Ya sudah kita pesen makan aja dulu ya." mengeluarkan ponselnya.
Fatim segera memesan gofood untuk mereka berdua, lengkap dengan minuman dan camilannya. Dan tak butuh waktu lama pesanan merekapun datang.
Fatim dan Burhan segera keluar ruangan untuk makan dikursi panjang didepan kamar perawatan. Saat sedang asyik makan seorang perawat menghampiri keduanya.
"Maaf dek ... Pak ... pasien sudah siuman."
"Oh iya Sus, makasih ya, kami akan segera kesana," jawab Fatim.
"Ayo Bang kita segera selasaikan makannya dulu baru kita kedalam."
Dengan cepat Fatim dan Burhan menyelesaikan makannya, dan segera kembali ke dalam ruangan perawatan.
"Klek !" Gagang pintu terbuka.
"Selamat sore Pak, bagaimana keadaannya? Apa masih sakit atau pusing?" Tanya Fatim.
"Ehmmm iya masih pusing, akhhh tubuhku rasanya sakit semua," ucap lelaki itu.
Burhan berdiri disamping ranjang pasien, sambil membantunya untuk sedikit merubah posisi tidurannya. Sedang Fatim segera menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Kalian siapa ? Apa yang terjadi dengan saya?"
"Apa yang terakhir yang Bapak ingat?"
"Mobil Bapak menabrak sesuatu, dan setelahnya Bapak nggan ingat apa - apa."
Burhan yang semula berdiri kini duduk ditepi tempat tidur.
"Bapak tadi menabrak mobil truk yang saya kendarai, beruntung Bapak cuma luka luar, namun karena Bapak kehilangan banyak darah, maka Bapak ditransfusi sebanyak dua kantong darah, dan yang mendonorkan darahnya buat Bapak adalah adek Fatim ini." Melirik Fatim.
"Benarkah? Terimakasih banyak Nak, entah apa jadinya Bapak kalau tidak bertemu kalian, dan kamu maafkan aku ya karena telah menabrak mobilmu, aku benar - benar melamun saat itu, karena kota ini menyimpan banyak kenangan untuk keluargaku, dan setelah belasan tahun kini aku kembali menginjakkan kaki kemari untuk suatu kepentingan yang yang sangat penting," ucap orang itu panjang lebar.
"Iya Pak, nggak apa - apa kok lagian kalau. Bapak mau berterimakasih ya pada Dek Fatim ini, karena dari awal sampai sekarang dialah yang lebih banyak berperan, semua biaya Bapak juga dia yang tanggung karena saya orang yang tak punya juga Pak," jelas Burhan.
"Abang dan Bapak nggak usah terlalu berlebihan, saya hanya melakukan yang seharusnya saya lakukan," ucap Fatim.
Air mata lelaki itu keluar begitu saja, karena ia terharu masih ada anak muda yang berhati mulia seperti Fatim. Dan wajah Fatim mengingatkannya pada seseorang.
"Nak Fatim ... berapa umurmu?"
"Saya 16 tahun Pak."
"Nama lengkapmu?"
"Fatimah Anbra."
Fatim merasa sangat heran kenapa bapak ini bertanya sesuatu yang pribadi tentang diirnya.
"Kenapa Pak? Apa yang Bapak inginkan sebenarnya," ucap Fatim to the poin.
"Ah tidak apa - apa karena kamu sepertinya mirip seseorang yang sedang Bapak cari."
Fatim merasa semakin khawatir, apalagi ia teringat tentang lelaki yang ada dimimpinya. Dan dengan cepat Fatim hendak pergi saja meninggalkan Bapak itu, ia merasa sesuatu akan luar biasa dengan dia terus bersama Bapak ini, dan itu membuat Fatim merasa takut.
"Pak sepertinya Bapak sudah baikan, saya mohon pamit ya karena masih ada keperluan, untuk biaya rumah sakit sudah saya konfirmasi pada petugas untuk memasukkannya ke tagihan saya," ucap Fatim.
"Bang Burhan, Fatim pamit ya." Melihat Burhan.
__ADS_1
"Eh iya Dek, kamu hati - hati ya."
Fatim tersenyum dan segera hendak meninggalkan ruangan pasien.
"Fatim ! Tunggu!"
Pasien itu berusaha menghentikan Fatim, ia merasa yakin kalau Fatimlah orang yang dia cari.
"Tolong tinggalkan nomor kontakmu, siapa tahu suatu saat nanti Bapak membutuhkannya," pinta lelaki paruh baya tersebut.
Dengan langkah yang berat akhirnya Fatim membalikkan badannya dan berjalan menuju lelaki itu, perlahan Fatim menuliskan nomor ponselnya dan memberikannya pada lelaki itu.
"Terimakasih Fatim, kamu hati - hati ya," ucap lelaki itu.
Fatim tersenyum hambar sambil berlalu meninggalkan rumah sakit, ia segera keparkiran untuk mengecek motornya, dan ternyata motornya sudah siap. Disana sudah ada Momon yang menantinya.
"Non nih kontaknya, kenapa wajahnya ditekuk gitu, nggak biasanya kayak orang nggak mod," ucap Momon.
"Iya Pak mon, gue lagi nggak mod, perasaan gue kayak nggak tenang gitu, udah ya gue mau cabut ke My Cafe dulu."
"Oh ya Pak Mon, apa Mama sudah selesai meetingnya?"
"Sepertimya sudah Non, sekarang mungkin lagi makan siang sama kliennya itu."
"Ooh ya udah nanti gue mau telepon Mama, gue pergi dulu Pak Mon, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam Non." Melihat kepergian Fatim yang telah menghilang dibelokan rumah sakit.
Sepanjang perjalanan ke Mf Cafe pikiran Fatim hanya terfokus pada lelaki paruh baya yang sedang terbaring dirumah sakit dan lelaki yang ada dimimpinya.
*Ya Allah, mengapa lelaki itu sangat mirip dengan lelaki yang ada dimimpi gue , apa yang sebenarnya terjadi, akhhh kepala gue pusinh, batin Fatim.*
Tak terasa Fatim sudah di My Cafe yang kebetulan belum sangat ramai jadi dia langsung masuk keruang Kak Wawan untuk beristirahat, enatah kenapa kepalanya tiba - tiba sangat pusing.
"Tim ! Loe baik - baik aja kan? Apa loe sakit?" Tanya Wawan.
"Iya Kak, gue pusing banget nih, gue numpang tiduran ya."
"Kok numpang sih, kan ruanga ini punya loe Fatim, nggak izin juga nggak apa - apa."
"Tapi kan yang nempati Kakak jadi gue harus izin dong."
"Ya udah loe masuk aja nanti kakak bawakan teh hangat buat loe."
"Kak ! Apa Yati belum sampai?"
"Oh ya udah deh Kak Fatim istirahat dulu ya." Masuk kedalam kamar diruangan kantor Mf Cafe.
Wawan kembali untuk mengurus Mf Cafe yang setiap hari alhamdulillah selalu ramai pengunjung. Bulan ini omset My Cafe naik dua kali lipat yang artinya semua pegawai akan mendapat bonus dan tentunya panti dan bengkel juga akan mendapatkan pemasukan yang bertambah.
Sedari tadi Hp Fatim berdering tetapi tidak diangkat, dan Wawan tak sengaja mendengarnya dan segera melihat siapa yang menelpon ternyata Mama Fatim.
"Halo Assalamualaikum Tan."
"Waalaikumussalam, loh kok kamu yang angkat Wan, Fatim mana?"
"Iya maaf Tan, Fatim tertidur katanya tadi kepalanya pusing, sedari datang wajah Fatim kayak nggak mod gitu tan, sepertinya Fatim lagi punya masalah deh Tan."
"Yang bener kamu Wan," ucap Nadya penuh ke khawatiran.
"Iya Tan, beneran."
"Oke Tante ke sana sekarang kamu tolong jagain Fatim ya." Menutup telepon sampai lupa memgucapkan salam karena saking paniknya.
Dengan tergesa - gesa Nadya segera keluar kantornya dan itu membuat semua pegawainya merasa heran, karena belum pernah mereka melihat Nadya sepanik ini.
Sampai di lobi Nadya segera menaiki mobil pribadinya menuju ke My Cafe dengan kecepatan penuh, ia tak lagi mengkhawatitkan dirinya yang ada dibenaknya hanya Fatim.
* Ya Allah, apa yang terjadi pada putriku, apa yang membuatnya stress, apa yang membuatnya tertekan, biasanya ia akan sakit kepala kalau ia terlalu stress, lindungi putriku ya Allah, batin Nadya.*
Kini mobil Nadya telah sampai diparkiran My Cafe yang mulai padat pengunjung. Dengan segera Nadya berlari kecil memasuki Cafe yang membuat orang - orang heran.
"Wan ! Dimana Fatim? Bagaimana keadaanya? Apa dia demam?"
"Tan, sebaiknya Tante minum dulu biar sedikit tenang." Menyodorkan minuman.
"Keadaan Fatim baik kok Tan, dia nggak demam hanya saja dia berkeringat sangat banyak, mungkin dia sedang bermimpi."
*****
Kamar Istirahat My Cafe...
Fatim yang tertidur memang sedang bermimpi. Mimpi yang sama yang sering dia alami sejak hampir bebera bulan terakhir.
Dalam mimpi Fatim ....
__ADS_1
Seorang lelaki dengan pakaina serba putih itu terus mengikuti Fatim sambil menangis.
"Tolong berhentilah Nak, kasihanilah aku ... izinkan aku memelukmu setelahnya kau akan pergi dari hidupmu," renggek lelaki itu.
"Tapi aku tidak mengenalmu."
"Kau adalah belahan jiwaku, hanya kau yang dapat menyelamatkan aku, maafkanlah aku ... aku mohon maafkanlah aku," ucap lelaki itu menangis dengan pilu.
"Baiklah aku akan menolong Bapak tetapi bagaimana caranya?"
"Ulurkan tanganmu Nak."
Saat Fatim hendak menyambut tangan lelaki itu tiba - tiba lelaki itu terjatuh kejurang yang kelam.
"Tidaakkkkkkkkkk," teriak Fatim sambik menangis dan segera terbangun.
"Sayang ... sayang." Memeluk Fatim.
Air mata Fatim telah berlinang, peluh membasahi sekujur tubuhnya.
"Mama ... Fatim takut Ma, lelaki itu datang lagi, sekarang lelaki itu ada dirumah sakit,"ucap Fatim disela tangisnya.
"Lelaki siapa sayang, apa yang kamu bicarakan?"
"Lelaki dalam mimpi Fatim Ma, dia selalu datang dengan pakaian serba putih, dan meminta Fatim untuk memeluknya, saat Fatim hendak meraih tangannya ia terjatuh kejurang yang gelap, kasihan lelaki itu ma."
"Kamu kenal lelaki itu?"
"Iya Ma, lelaki itu sekarang ada dirumah sakit."
"Apa itu benar?"
"Iya Ma, lelaki yang Fatim tolong pagi tadi sangat mirip dengan lelaki didalam mimpi Fatim."
Nadya sangat penasaran dengan lelaki yang ada didalam mimpi Fatim.
"Sayang kalau begitu tolong temani Mama kerumah sakit itu ya, kita lihat apa Mama juga mengenal lelaki itu, apa kamu udah baikan sekarang, apa masih pusing?"
"Alhamdulillah Ma udah baikan."
"Oke kalau begitu sekarang kita kerumah sakit ya."
"Oke Ma, tapi Fatim ganti baju dulu ya."
Setelah ganti baju Fatim dan Nadya segera meluncur kerumah sakit.
Siapa lelaki itu sebenarnya? Tunggu diepisode depan ya!
Bersambung....
Terimakasih ya sudah membaca karyaku ,jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Karyaku Nyanyian Takdir Aisyah dan novel favoritku :
* Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
* Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Aquamarine
Samudra
*Sudrun
Penjelah Malam
*Yo Wesben.
__ADS_1
My Princess OG.
Aku tunggu ya 😍.