Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
CBDM2. 2


__ADS_3

Suasana pagi yang ceria kini berbalut mendung, sehabis berolahraga Fatim dan Abas bergegas untuk membersihkan diri dan setelah itu baru dilanjutkan dengan sarapan.


Suasana canggung kini dirasakan keduanya, Fatim yang sedang menyisir rambutnya terpana melihat Abas yang keluar dari kamar mandi. Setelah sekian lama ini pertama kali keduanya melihat aurat yang selama ini ditutupi untuk orang lain tetapi telah menjadi halal untuk keduanya.


Abas mengalungi handuk putih sewaktu keluar dari kamar mandi juga terpesona memandang pantulan wajah cantik istrinya di cermin. Ia berjalan mendekat dan semakin dekat. Jantung Fatim serasa mulai ingin mengajaknya maraton, dengan reflek ia memegang dadanya.


Tangan abas mengambil sisir dari tangan Fatim, ia mulai menyisir mahkota berkilau milik istrinya yang panjang dan hitam. Sesekali ia menghirup aroma mawar dari shampo yang dipakai oleh istrinya.


Melihat apa yang diperbuat oleh suaminya Fatim segera berdiri dan berbalik menghadap pada suaminya. Dada Abas serasa bergemuruh, untuk pertama kalinya mereka bersitatap begitu dekat tanpa batasan.


Perlahan Abas mencium kening istrinya dan membisikan kata yang indah untuk kekasihnya.


"Terimakasih, teruslah tersenyum. Bahagiamu adalah bahagiaku, humairahku."


Fatim menunduk, bulir bening mengalir dari sudut matanya yang bening. Dengan cepat lelaki itu menghapusnya kemudian mencium lembut kedua mata istrinya.


"Kenapa?" Bisiknya lembut, ia merengkuh tubuh Fatim dalam pelukannya.


Tubuh Fatim bergetar, ia menangis dalam dekapan hangat suaminya. Rasa sesak memenuhi relung kalbunya.


"Aku ... aku tak ingin berpisah darimu." ucapnya disela tangisannya.


"Apa kau ingin aku membatalkannya?" Abas mengangkat dagu sang Istri agar melihat pada matanya.


Fatim menggeleng, ia tidak mau Abas mengorbankan impiannya hanya karena dirinya.


"Jangan," suara Fatim serak. Ia kembali memeluk suaminya erat.


Keduanya larut dalam perasaan mereka yang mengharu biru, saling memeluk satu sama lain untuk meringankan beban hati keduanya, sampai suara ketukan pintu mengharuskan mereka berdua mengurai pelukannya.


"Non ... Den ... ayo sarapan dulu, nanti udah keburu dingin." Suara bi Ijah terdengar renyah, serenyah reginang buatan ibunya Fatim.


"Iya, Bi. Ini kita mau turun kok." Fatim berusaha menyesuaikan suaranya agar terdengar normal.


Suara langkah kaki bi Ijah menjauh. Fatim dan Abas saling pandang dan tersenyum.


"Jangan sedih, inshaa Allah jika kamu selesai sekolah, kamu boleh menyusulku untuk sekolah di tempat yang sama." Abas menyemangati istrinya.


Sekali lagi Abas mencium kening Fatim sebelum akhirnya mereka turun untuk sarapan.


*****


Suasana di meja makan tetap berjalan seperti biasanya, Abas tidak pernah menyangka jika istrinya sangat bisa menempatkan emosinya. Sungguh ini membuat Fatim terlihat sangat dewasa dibandingkan dengan usianya.


"Kamu jadi berangkat ke Bandung hari ini, Bas?" Nadya mencoba tuk melerai sepi.

__ADS_1


"Inshaa Allah, Bu. Ehmm apa aku boleh ajak Dek Fatim?" Abas menatap ibu mertuanya yang terlihat elegan meski usianya tak lagi muda.


"Boleh, tapi ... sepertinya akan ada hujan badai nanti." Nadya mengerling pada putrinya.


Fatim yang tahu jika Nadya sedang mencandainya tersenyum sambil mengerjapkan matanya pada sang Mama.


"Apa ibu sudah melihat prakiraan cuaca hari ini? Daerah mana saja Bu yang akan terkena hujan badai? Biar nanti bisa waspada dan berhati-hati," ucap Abas lurus yang tidak memahami jika itu hanya kiasan Nadya pada putrinya.


Dengan tersenyum Nadya menjawab pertanyaan menantunya yang polos."Perkiraannya antara Jakarta dan Bandung, kamu harus waspada jangan sampai mobil kalian kebanjiran."


"Inshaa Allah, Bu. Semoga tidak ada banjir ataupun badai, sehingga perjalanan kami bisa lancar." Abas terlihat menatap wajah istrinya sekilas.


"Aamiin." Fatim dan Nadya kompak menjawab.


Tiba-tiba ponsel Abas berdering dan ia mohon izin untuk berbicara di taman belakang karena itu adalah telepon dari pihak kampus yang akan dimasuki Abas nanti.


Sepeninggalan Abas ibu dan anak itu saling tatap dan tertawa." Mama ada-ada aja, makanya jangan suka ledekin Fatim, bingungkan mau jawab pertanyaan kak Pop?"


"Iya, mama hampir saja keceplosan kalau itu untuk mencandai kamu."


Keduanya tertawa sambil menutup mulutnya agar Abas tak mendengar suara riuh keduanya.


Sarapan selesai bi Ijah datang untuk membereskan meja, namun Fatim melarangnya. Ia tahu jika bi Ijah kurang enak badan, ini terlihat saat ia menghidangkan makanan di meja, tak sengaja tangan mereka bersentuhan.


"Bi ... bibi istirahat saja, cepat minum obat, sepertinya bibi demam ya?" Fatim beranjak dari duduknya dan memegang dahi wanita yang sudah dia anggap seperti bibinya sendiri.


Baik Nadya ataupun Fatim, keduanya tidak pernah memperlakukan asisten rumah tangga mereka seperti majikan dan pembantu, melainkan seperti anggota kekuarganya sendiri. Apalagi soal sakit penyakit seperti ini.


Dari taman belakang Abas bisa melihat langsung ketulusan hati dari mertua dan istrinya, dan ini lah yang membuat dirinya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya saat bertemu Fatim dulu di bawah jembatan, ketika memberi bingkisan untuk anak-anak itu tanpa pamrih.


Wajah Abas seketika cerah dan berseri setelah mendapat telepon dari pihak kampus, namun ia masih merahasiakan kabar yang baru diterimanya dari Fatim dan ibu mertuanya, Nadya.


Nadya segera meminta Momon untuk menghandel pekerjaan kantornya pagi ini karena ia akan membawa bi Ijah berobat ke rumah sakit. Sedangkan Fatim segera membasuh piring-piring kotor peranti mereka makan tadi.


Sedang asyik mencuci piring, Abas datang memeluk Fatim dari belakang yang membuat gadis itu terpekik kaget dan ....


Tung!


Suara panci mendarat tepat di kening Abas." Astaqfirullah haladzim, sakit Dek." Abas mengecup leher jenjang Fatim.


"Ya Allah, Kak Pop, maaf ... aku reflek soalnya. Habisnya kamu ngagetin." Fatim berbalik dan mengusap kening Abas. Saat itu lah lelaki itu menangkap tangan Fatim dan menggenggamnya erat.


Wajah Fatim sudah bersemu merah, ia tak bisa menyembunyikan sisi kefeminimannya kali ini. Betapa ia mendamba kehangatan dari kekasih halalnya.


"Aku bantu ya? Biar cepet selesai, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Abas kembali mengajak Fatim untuk mencuci piring.

__ADS_1


Dengan bantuan Abas, piring-piring kotor itu kini sudah bersih. Andai mereka bisa bicara, pastilah mereka juga akan sangat senang dipegang oleh lelaki setampan Abas.


"Kita ke kamar ya," ajak Abas pada istrinya.


"Mau ngapain?" Fatim terlihat penasaran.


"Mau main bola," jawab Abas asal.


"Kok main bola sih?" Fatim terlihat cemebrut.


"Habisnya kamu pakai nanya, kalau di kamar artinya aku mau berduaan saja sama kamu." Abas terlihat malu mengungkapkan perasaannya sendiri.


"Tapi kita bukan mau anu, kan?"


Wajah Fatim tegang menatap Abas.


Pletak!


Abas menyentil kening istrinya yang berhasil membuat Fatim terkejut.


"Eh sakit tahu." Fatim memanyunkan bibirnya.


"Makanya kamu jangan mikirin yang macam-macam. Aku ngajakin kamu ngamar karena ada yang ingin aku sampaikkan." Abas tersenyum manis menggoda istrinya.


Dengan cepat Abas menarik tangan Fatim menuju kamar mereka.


*****


Kamar FaMa (Fatim dan Muhammad Abas) ....


"Apaan sih Kak Pop, kayaknya udah nggak sabaran ya?" Fatim meledek suaminya.


Tanpa banyak kata kini Abas sudah menyatukan bibir mereka, setelah dirasa cukup baru lah perlahan ia membisikkan kata yang hampir membuat Fatim meloncat kegirangan.


"Jadwal keberangkatanku ditunda sampai satu bulan mendatang, itu artinya kita masih diberikan waktu untuk bersama." Abas memeluk erat kekasih halalnya.


"Alhamdulillah ya Allah." Fatim membalas pelukan suaminya.


*Terimakasih ya Robb, Engkau telah mengijabah doaku agar bisa bersama kekasihku meski hanya sedikit waktu. Aku ingin membuat setiap harinya berharga.*


Rasa sedih kini telah berganti bahagia walaupun hanya sesaat, namun cukup untuk menghanyutkan kedua pasutri itu terbuai dalam lautan cinta.


Allah akan memberikan apa yang kamu butuhkan bukan apa yang kamu inginkan.


Terimakasih sudah membaca jangan lupa tap jempol dan hatinya jika berkenan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2