
Akhirnya Fatim segera berwudu dan sholat, setelahnya ia bersiap untuk sarapan dan siap untuk berangkat menuju Lembang. Dan Fatim berharap semoga pencariannya tidak menyulitkan dirinya.
"Mama sayang, Fatim pamit ya." Mencium tangan Nadya.
"Hati - hati sayang, langsung kabari Mama jangan lupa kalau sudah sampai Lembang." Mengusap kepala Fatim lembut.
"Iya Mamaku sayang Inshaa Allah, doakan Fatim biar cepat menemukan alamat yang Fatim tuju." Memeluk Nadya.
"Iya sayang tanpa dimintapun seorang ibu akan selalu mendoakan anak - anak mereka." Mencium kening Fatim.
"Fatim pamit Ma, Assalamualaikum." Melambaikan tangan.
"Waalaikumussalam." melambaikan tangan juga.
Kini Fatim telah meninggalkan kediamannya menuju ke Lembang bersama Pak Mamat sopir yang telah bersama mereka sedari Fatim kecil.
"Neng ! Nanti di Lembang kita menuju kemana dulu?"
"Fatim juga belum tahu Pak, nanti kita tanya saja sama orang yang kita temui dijalan kalau sudah sampai Lembang," ucap Fatim.
"Baiklah Neng, sekarang kita jemput Momon dimana?"
"Lurus saja Pak, nanti dibelokan depan baru berhenti, kata Pak Momon dia menunggu disana," ucap Fatim.
Mobil terus melaju untuk menjemput Momon orang kepercahaan Nadya untuk menjaga Fatim. Selain dirinya Momon juga sudah memerintahkan beberpaa anak buahnya untuk ikut dengan mobil yang lain.
Kini mobil Fatim telah menuju ke belokan ,dan benar saja disana Momon sudah menunggu dengan tas ransel punggungnya seperti orang yang mau camping saja.
Mobil perlahan menepi dan berhenti.
" Pak ! Banyak amat bawa barangnya kayak orang camping saja," ucap Fatim meledek Momon.
"He ... he ... iya Non, habisnya takut nanti Non lupa kalau ada Bapak, jadi Bapak bawa perlengkapan lengkap mulai dari pakaian sampai makanan instan," jawab Momon sambil tersenyum.
Fatim dan Pak Mamat tertawa mendengar selorohan Momon.
"Pak Momon ada - ada aja, ya udah yuk kita berangkat, perjalanan kita masih jauh lo."
Semua sudah duduk diposisinya masing - masing, Pak Mamat yang menyupir, Pak Momon duduk didepan bersama Pak Mamat, sedangkan Fatim duduk dibelakang lengkap dengan perlengkapan untuk dirimya beristirahat.
Satu kebiasaan Fatim saat melakukan perjalanan jauh yaitu mengenakan headset, dengan cepat Fatim segera memejamkan matanya.
Tak terasa telah hampir dua jam mereka berjalan karena terjebak macet. Dan tiba - tiba Pak Mamat memghentikan mobilnya. Merasa mobil yang ditumpanginya berhenti Fatim perlahan membuka matanya.
"Kenapa berhenti Pak?"
"Ini ... anu, ehmmm Momon lapar katanya mau makan dulu," ucap Pak Mamat.
"Ooo kenapa nggak bilang sih Pak Mon, ya udah yuk kita turun, semuanya juga udah lapar kali, yuk Pak !"
Akhirnya mereka turun dan menuju salah satu rumah makan yang cukup ramai pengunjungnya, yang menurut Fatim lucu karena nama rumah makan ini sama dengan namanya.
Setelah mendekati rumah makan tersebut Pak Mamat dan Momon saling pandang.
"Mon kamu lihat nggak nama yang terpampang dirumah makan ini?" Tanya Pak Mamat.
"Iya, nama yang unik mirip nama Non Fatim," bisik Momon.
Dirumah makan yang mereka singgahi tertulis dengan jelas SELAMAT DATANG DI RUMAH MAKAN FATIM BERKAH. Setelah sibuk dengan nama rumah makan tersebut mereka segera mencari tempat duduk yang kosong dan mulai melihat - lihat menu makanan.
Setelah menemukan menu yang cocok ketiganya segera menulis pesannya pada buku nota yang tersedia. Dan Fatimpun segera melambaikan tangannya untuk memanggil pramusaji.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?"
"Iya kita mau pesan makanan ini." Menyerahkan nota pesanan.
"Ada lagi Mbak?"
"Ya kalau bisa jangan lama ya karena kita sedang buru - buru," ucap Fatim sambil tersenyum.
"Kita usahakan Mbak ya, silahkan menunggu sambil menikmati video yang rumah makan kami sajikan." Berlalu meninggalkan meja Fatim memuju ke dapur.
Didapur Rumah Makan ....
Pramusaji yang tadi membawa nota pesanan segera memberitahu dapur perihal pesan Fatim, dan awalnya Chef yang memasak sedikit sewot karena Fatim meminta cepat, namun segera ditangani oleh pemilik rumah makan.
"Kenapa ini?" Tanya Naryo pemilik rumah makan.
"Ini Pak ada pelangan yang minta cepat untuk menyiapkan makanan pesannya karena mereka sedang buru-buru katanya," ucap Pramusaji.
"Trus masalahnya apa sampai kalian ribut?" Melihat pegawainya.
"Saya keberatan Pak," jawab Chef.
"Sudah kamu usahakan saja secepatnya, kasihan mereka lagi buru - buru, mungkin urusannya sangat penting. Nanti Bapak yang akan temui mereka langsung," ucap Naryo.
"Baik Pak," jawab Chef dengan tersenyum.
Akhirnya Naryo pun berjalan bersama si Pramusaji menunu ke meja Fatim. Setelah sampai Naryo sangat terkejut melihat Fatim.
"Permisi ! Apa benar anda Neng Fatim?" Ucap Naryo.
Merasa ada yang mengenalinya Fatim mengernyitkan dahi sebagai ekspresi rasa herannya. Begitu juga dengan Momon dan Pak Amat pun saling pandang, dan menatap heran serta curiga pada Naryo.
"Iya Neng ini saya Pak Naryo orang yang dulu Neng tolong," ucap Naryo dengan wajah yang gembira.
"Maaf pak saya belum ingat," ucap Fatim.
"Neng ingat dulu sama tukang ojek gadungan yang pernah membawa Neng ke hutan sepi?"
Lama Fatim mengingat dan akhirnya ia ingat.
"Oh iya saya ingat tukang ojek gadungan waktu itu yang istrinya hamil," jawab Fatim.
"Nah itu dia tukang ojek itu saya Neng Naryo."
"Sebentar Neng saya panggilkan istri saya dulu." Melangkah pergi kearah dapur.
Tak lama Naryo datang dengan seorang wanita yang menggendong seorang balita yang lucu dan imut.
"Neng ini istri saya dan putri kami Fatim juga, kami memberinya nama Fatim untuk mengingat Neng Fatim," ucap Naryo.
Istri Naryo pun menyalami Fatim dan kedua rekannya yaitu Pak Mamat dan Momon.
"Alhamdulillah Bapak sudah bisa sukses seperti sekarang saya ikut senang," ucap Fatim.
"Semua ini karenamu Neng Fatim, sejak kejadian itu hanya selang beberapa istri saya melahirkan dan kami pakai uang yamg Neng kasih waktu itu, setelah istri saya melahirkan akhirnya uang modal tamg Neng kasih wakru itu saya dan istri gunakan untuk membuat rumah makan ini, dan jadilah seperti sekarang ini Neng, makanya nama rumah makan ini kami kasih Rumah Makan Fatim Berkah," jelas Naryo panjang lebar.
Ada air mata haru saat ia bertemu kembali dengan orang yang telah menariknya keluar dari lembah kenistaan.
"Bapak ... saya ikut terharu dan bangga sekali Bapak bisa memanfaatkan peluang untuk meningkatkan taraf kehidupan keluarga Bapak," ucap Fatim.
" Iya Neng, mulai sekarang kapanpun Neng mau datang saja ya kemari, semua gratissss buat Eneng Fatim," ucap Naryo senang.
__ADS_1
"Termasuk makanan hari ini gratisss."
"Kalau kita ?" Tanya Pak Mamat polos.
"Bapak berdua bayar ya yang gratiss cuma Neng Fatim," ucap Naryo bercanda.
"Apaaa? Kita harus bayar?" Ucap Momon.
"Ha ... ha ... ucap Momon sedih.
"Udah tenang aja, saya bercanda kok semua boleh makan sepuasnya dan gratisss," Ucap Naryo terbahak.
Semua tertawa gembira, pertemuan yang tak terduga membawa keberkahan.
Setelah selesai menikmati makanan siang mereka dirumah makan Fatim, mereka pun pamit untuk ke Lembang.
"Pak terimakasih banyak untuk semuanya, dan ini kartu nama saya kalau suatu waktu Bapak butuh." Menyerahkan kartu namanya.
Setelah berpamitan kini rombongan Fatim segera menuju ke Lembang.
*****
Lembang ...
Setelah melalui perjalan yang macet dan melelahkan akhirnya mereka sampai di Lembang. Fatim yang kecapean tertidur dan kedua lelaki tampan yang menemaninya tidak mau mengganggunya. Akhirnya Pak Mamat menepikan kendaraanya dan segera keluar untuk mencari toilet umum. Tinggalah Momon yang berjaga - jaga diluar mobil.
Karena Momon juga lelah ia berbaring dikursi taman sambil menunggu Pak Mamat. Fatim yang mulai terbangun merasa heran karena tak menjumpai dua lelaki tampan yang menemaninya.
"Kemana mereka ya," gumam Fatim.
Fatim pun keluar mencari Pak Mamat dan Momon. Saat sedang mencari keduanya Fatim melihat seseorang yang dulu pernah menolongnya, dia sedang duduk disebuah bangku taman sambil membaca.
Fatim tidak berani mendekati pemuda aneh itu, entah mengapa kalau bertemu dengannya Fatim merasa canggung. Jadi Fatim berusaha menghindarinya.
Fatim berlalu begitu saja sambil menutupi wajahnya dengan tangan agar tak terlihat, tetapi sebaliknya sikap Fatim yang aneh malah mengundang rasa penasaran orang - orang dibangku taman tak terkecuali pemuda itu.
"Gadis itu kenapa ya? Apa dia copet atau dia sedang sembunyi dari orang - orang jahat?" Gumam pemuda itu.
Karena penasaran ia pun mengikuti gadis itu untuk mencari tahu kalau - kalau ia memang sedang membutuhkan pertolongan.
Karena terus menutupi wajahnya Fatim tidak tahu kalau ada seaeorang yang mengikutinya. Merasa sudah aman Fatim membuka wajahnya.
"Alhamdulillah sudah aman," ucap Fatim.
"Jadi benar kamu sedang dalam masalah ya?"
Fatim yang kaget dengan suara tiba - tiba seseorang dibelakangnya terpekik kaget.
"Astagfirullah haladzim," teriak Fatim.
Dengan cepat ia berbalik.
"Eh loe !" Menunjuk pemuda itu.
"Kamu !" Memegang dadanya.
Bersambung....
Terimakasih ya sudah membaca karyaku ,jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Karyaku Nyanyian Takdir Aisyah dan novel favoritku : Arsitek Cantik, Cinta Untuk Dokter Nisa , My Secret Wife, Putih Abu - Abu, Melawan Rasa Takutku, My love, Mafia In Love , OB Kerudung Biru, Samudra, Sang Legenda, dan My Princess OG. Aku tunggu ya 😍.
__ADS_1