Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
BAJING LONCAT


__ADS_3

Setelah mendengar rekaman itu baru lah ia percaya, dan memgikhlaskan kepergian putrinya, dan masalah hutangnya Fatimlah yang melunasinya.


Fatim dapat melihat Riska tersenyum bahagia dan mengucapkan terimakasih, kini ia dapat kembali ke alam baka dengan tenang.


Fatim juga memberikan bantuan untuk Bu Darmi agar dapat memperbakiki kehidupannya.


Setelah semua urusan di Lembang selesai akhirnya Fatim memutuskan untuk kembali ke Jakarta, ia ingin menghabiskan masa fakultatif sekolahnya dirumah dan mengurus Mf Cafe yang sudah lama belum ditemuinya, meskipun laporannya selalu disampaikan Kak Wawan secara online.


Tak ada yang berbicara selama diperjalanan pulang dari Lembang, Pak Mamat fokus menyetir, sedangkan Pak Momon fokus ke Hp nya. Fatim yang dibelakang sendirian akhirnya memutuskan untuk rebahan dengan mengenakan headsetnya.


Kali ini perjalanan dari Lembang cukup lancar karena mereka tidak bertemu dengan kemacetan yang biasanya sangat memakan waktu. Sedang asyik mengemudi tiba - tiba Pak Mamat mengerem mendadak yang membuat Momon terpentuk kaca depan mobil.


"Sheeeet ... dug."


"Aduh Mat ngapain sih loe pake acara ngerem tanpa kompromi gitu, sakit tahu nih jenong gue," protes Momon.


"Maaf gue kayaknya nabrak sesuatu deh," ucap Pak Mamat.


" Yang bener loe?" Melihat keluar jendela.


"Tapi nggak ada Mat?"


"Apa gue turun buat ngecek?"


"Nggak usah , kita lagi didaerah rawan ini," ucap Pak Mamat.


Akhirnya Momon menelpon anak buahnya buat ngecek keadaan mereka.


"Bagaimana sudah kalian cek?"


"Sudah Pak, sepertinya harus hati - hati ini seperti Bajing Loncat."


"Jadi kami harus turun atau bagaimana?"


"Nggak usah turun Pak, biar kami yang bereskan."


"Oke terimakasih ya."


"Sama - sama Pak, inikan memang tugas kami." Menutup telepon.


Setelah Momon mematikan Hpnya barulah Pak Mamat berbicara.


"Jadi apa bener Mon, gue nabrak sesuatu?"


"Iya tapi ini seperti jebakan Bajing Loncat."


"Waduh bahaya ini Mon, kita harus melindungi Neng Fatim." Melihat kebelakang tempat Fatim berbaring.


"Iya gue tahu, makanya kita nggak usah turun , kalau bisa jalan aja perlahan." Mengawasi keadaan sekitar.


Mobil yang mereka tumpangi mulai melaju perlahan, namun baru beberapa meter saja mereka sudah dihadang oleh beberapa orang yang tampangnya seperti preman.


"Heh turun loe, jangan coba - coba mau kabur ya." Mengetuk kaca mobil.


Pak Mamat merasa sangat takut, namun Momon dapat bersikap lebih tenang. Dan tak lama anak buah Momon pun datang untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.


Baku hantam tak dapat dihindari, karena merasa mobilnya nggak jalan - jalan akhirnya Fatim membuka matanya, dan ia sangat terkejut menyaksikan pemandangan didepannya.


Dengan cepat Fatim memperbaiki posisinya yang rebahan menjadi duduk.


"Pak apa yang terjadi?" Tanya Fatim.


"Bajing Loncat Neng," ucap Pak Mamat.


"Kita nggak bantuin gitu?"


"Nggak usah Non, mereka anak buah Momon, mereka bisa mengatasinya."


Lama baku hantam itu berlangsung, dan Fatim bersama Pak Mamat serta Momon hanya menjadi penonton saja.


"Pak Mon, kita ikutan yuk, bosen nunggu di mobil," ucap Fatim.


"Nggak usah Non, nanti kalau Non terluka gaji saya akan dipotong Nyonya Nadya," ucap Momon.


Fatim hanya mendengus kesal karena tidak mendapat izin untuk ikut berkelahi. Tetapi rupanya para preman itu semakin banyak, dan anak buah Momon yang hanya lima orang mulai merada ke walahan. Melihat situasi yang mulai tidak kondusif Momon segera turun untuk membantu, tentu Fatim tak mau ketinggalan.

__ADS_1


Baku hantampun terus berlanjut namun kali ini mulai seimbang, meski kalah jumlah tetapi secara kemampuan mereka lebih unggul. Akhirnya setelah hampir setengah jam pasukan Bajing Loncat bisa dipukul mundur, dan kubu Fatimpun aman.


"Non bagaimanakah keadaan Non, apa kita perlu kerumah sakit, lihat sudut bibir Non berdarah," ucap Momon.


"Nggak perlu Pak, ini cuma luka kecil, coba cek anak buah Pak Momon, mungkin mereka yang perlu ke rumah sakit," ucap Fatim.


"Nggak usah Non, kami baik - baik saja," ucap salah satu anak buah Momon.


"Ya sudah kalau begitu, yuk kita lanjut pulang, badan gue rasanya udah gerah dan lengket banget." Berjalan menuju mobil.


Semua rombongan telah berjalan menuju kembali ke Jakarta. Sampai Jakarta alhamdulillah lancar jaya.


*****


Kediaman Fatim....


Mobil Fatim sampai diperkiran rumahnya sudah larut malam, dan Fatim meminta Pak Mamat untuk tidak berisik, karena Fatim tidak mau mengganggu orang rumah yang sudah terlelap. Sedangkan Momon dan anak buahnya sudah pulang ketempat mereka masing - masing.


"Pak nggak usah berisik ya, kasihan Mama dan para Bibi semua, pasti sudah tidur," ucap Fatim pelan.


"Iya Neng, Bapak juga langsung pamit ke belakang ya," ucap Pak Mamat lembut.


"Ehmmm Pak, maksih banyak ya udah may Fatim repotin, besok Bapak minta libur aja ya sama Mama," ucap Fatim tersenyum.


"Iya Neng, Inshaa Allah, selamat malam Neng." Berlalu meninggalkan Fatim diparkiran.


Fatim segera berlari menuju kamarnya, ia sudah merasa sangat gerah dan lengket. Tak lupa Fatim membersihkan luka dibibirnya yang mungil.


Setelah selesai ia segera berganti baju dan rebahan dikasurnya.


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya bisa tiduran juga ditempat yang empuk, sungguh nikmatMu yang tak bisa dipungkiri," gumam Fatim.


Sambil tiduran Fatim mengecek Hp nya, banyak chat dari Yati sahabatnya dan juga foto - foto selfi Yati yang alay dan lebay menurut Fatim.


"Ya Allah nih anak, dasar Oneng, mentang - mentang dah bisa main Hp, chatnya sampai ratusan gini, dan fotonya, ha ... ha ...." Tertawa memegang perutnya.


Setelah puas mengecek Hp nya Fatim menemukan sebuah chat asing di ponselnya.


*Fatim kenapa loe sangat susah untuk kakak dekati*


*Kakak dapat nomor ponselmu dari Bu Desi*


*Fatim loe dimana?*


Dan masih bangak lagi hampir 20 Chat asing itu bersarang di Hp Fatim. Semua langsung di delete oleh Fatim.


*Kenapa gue nggak merasa senang mendapat chat dari lelaki yang menjadi idola sekolah gue? Kenapa gue nggak suka ada yang suka gue? Apa gue nggak normal ya atau ... yang pasti semua ini karena loe ayah, Fatim benci ayahhhhhh, teriak Fatim dalam batinnya.*


Setelah menghapus semua chat diHp nya kecuali chat Yati, barulah Fatim segera berdoa dan tidur.


*****


Subuh ....


Nadya segera mengecek kamar Fatim dan benar ia bisa melihat putri kesayangnnya masih tertidur pulas, dan Nadya memeriksa setiap jengkal tubuh putrinya, dan ia melihat luka disudut bibir putrinya.


"Sungguh kau gadis yang luar biasa sayang, Mama bangga menjadi ibumu." Mengobati luka bibir Fatim.


Merasa sedikit pedih dibibirnya membuat Fatim terbangun.


"Mama kenapa, sudah Subuhkah? Siangkah? Malamkah? " Tanya Fatim masih linglung.


Nadya tersenyum.


"Alhamdulillah sayang hari sudah Subuh, hayo kamu segera wudhu dan solat ya, lalu kita sarapan bersama, ada yang ingin Mama sampaikan," ucap Nadya.


"Masalah apa Ma?"


"Udah sholat aja dulu, nanti kita ceritanya di meja makan saja ya sambil sarapan." mencium kening Fatim.


"Iya Ma, siaaaappp !"


Nadya meninggalkan kamar Fatim menuju ruang maakan, sedangkan Fatim segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


Selesai sholat ia segera menuju ruang makan, karena Nadya sudah menunggu disana.

__ADS_1


"Assalamualaikum, selamat pagi Macan." mencium pipi Nadya.


"Whatsss manggil Mama apa barusan?"


"Macan, maksudnya Mama Cantik," jelas Fatim.


"Ohhh kira in tadi ...."


Nadya tidak melanjutkan ucapannya karena sudah dipotong oleh Fatim.


"Mana mungkin Fatim mau jelekin Mama, karena hanya Mama yang Fatim punya." Memeluk Nadya.


"Makasih ya sayang sudah menyayangi Mama dengan sepenuh hatimu." Membalas pelukan Fatim.


"Oh ya Ma, katanya mau ada yang dikatakan ya, apa?"


"Ini masalah kejadian dibelakang sekolah kemarin, pelakunya semua sudah disel, dan otak penyerangan itu juga sudah dikantongi oleh kepolisian. Dia memang anak sekoahmu, dan sepertimya tepat seperti dugaanmu sayang."


"Maksud Mama benar itu perbuatan Gladis?"


"Iya sekarang dia belum ditahan, karena masih Mama tangguhkan, sampai menunggu sekolahmu selesai fakultatif."


"Ma ... plis nggak usah laporin Gladis Ma, kasihan nanti sekolahnya bakalan nggak selesai, dan masa depan dia akan suram nanti," ucap Fatim memelas.


"Oke sayang, sekarang kita makan dulu ya, masalah ini akan kita bahas nanti," ucap Nadya.


"Ma ... makannya nanti ya, Fatim pengen olahraga dulu bentar, cuma lari - lari kecil mengitari halaman saja kok, udah lama Fatim nggak joging," ucap Fatim memelas.


"Ya udah deh Mama ngalah, tapi jangan lama - lama ya, kasihan cacing diperut Mama sudah dangdutan didalam sana."


"Ha ... ha ... keduanya tertawa lepas penuh bahagia.


Bersambung....


Terimakasih ya sudah membaca karyaku ,jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Karyaku Nyanyian Takdir Aisyah dan novel favoritku :


* Fit Fithree Fitri. Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


My Heart Is Only For You


*Kamsa hamnida


My love


*Sisca Nasty


Mafia In Love


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Aquamarine


Samudra


*Sudrun


Penjelah Malam


*Yo Wesben.

__ADS_1


My Princess OG.


Aku tunggu ya 😍.


__ADS_2