Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
MEMINTA IZIN


__ADS_3

Setelah selesai mengobati luka Fatim, Yati mengajaknya makan bersama dengan kedua orangtuanya.


"Nak ... kami sudah mendapatkan kontrakan yang pas dan harganya lumayan murah, dan besok kami sudah akan pindah, jadi ini makan siang sekaligus makan sore kita yang terakhir dirumah kami yang penuh kenangan ini," ucap Ibunya Yati dengan sedikit serak menahan tangis.


"Ibu ... semua kenangan dalam rumah ini tidak akan pernah hilang, percayalah pada Fatim, karena semua kenangan itu akan terukir indah didalam hati, yang akan terus bersemayam sampai jiwa meninggalkan raga." menggenggam tangan Ibunya Yati.


"Terimakasih banyak ya Nak Fatim, Ibu mengerti sekarang, dan kamu benar."


Setelah selesai makan Fatim segera pamit pada Yati untuk pulang dan selama liburan nanti ia tidak bisa mampir untuk menjemput Yati ke My Cafe.


"Fren makasih ya atas jamuannya, dan selama kita fakultatif nanti untuk le My Cafe gue nggak bisa jemput loe karena gue ada urusan, gue akan ke kembali ke Lembang tempat kita karya wisata tempo hari," jelas Fatim.


"Loe mau ketemu Aliando anaknya Bu Neneng?"


" Bukan lah, gue ada urusan yang lain, nanti untuk ke Cafe loe minta jemput Kak Wawan aja ya."


"Gue naik angkot aja kali Fren, malu gue," ucap Yati tersenyum.


"Malu tapi mau loe." Melirik Yati.


"Frennn jangan gitu tambah mau eh malu gue, " jawab Yati.


"Ya udah terserah loe aja tapi jangan kemalaman ya pulangnya, soalnyakan gue nggak ada buat nganterin loe."


"Siap bos." Memberi hormat.


Fatim hanya tertawa melihat tingkah konyol Yati, dan segera mengendarai motornya membelah keheningan senja yang dihiasi meronanya lembayung.


*****


Rumah Fatim ....


Perlahan motor Fatim memasuki area parkir, dan belum juga ia mengucapkan salam, Nadya telah menunggunya didepan pintu.


" Mama kok tumben udah didepan pintu, Fatim aja baru aja mau ngucapin salam."


"Assalamualaikum, Mamaku sayang," ucap Fatim tersenyum.


Namun Nadya diam tanpa ekspresi, dan ini membuat Fatim sangat heran, selama hidupnya baru kali ini ia melihat Mamanya seperti tembok, tanpa ekspresi.


"Ma ... kok nggak jawab salam Fatim sih." Melambaikan tangan didepan wajah Nadya.


"Masuk ! Kita bicara didalam." Berjalan meninggalkan Fatim.


*Mama kenapa ya? Kok kayak orang marah gitu, apa Fatim punya salah ya atau ... ya Allah apa karena insiden disekolah, haduhhh gaswattt.*


Fatim segera mengikuti langkah Nadya keruang makan.


"Duduk !"


Fatim segera menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Nadya, ia merasakan aura ketegangan diantara keduanya.


"Mau cerita sendiri atau Mama yang mulai?"


"Iya Fatim yang cerita, maaf," ucap Fatim tertunduk.


Nadya duduk diam, masih dengan ekspresi yang sama.

__ADS_1


Dengan seksama Fatim menceritakan kronologi ceritanya dari mulai ia bertemu anak lelaki itu digerbang sampai demgan kejadian dihalaman belakang sekolah.


"Udah Ma, begitulah cerita yang sebenarnya," ucap Fatim.


Barulah wajah Nadya kembali seperti biasanya.


"Kamu tahu, Mama sangat khawatir, dan kenapa kamu nggak telpon Mama, malah telepon Momon?"


"Karena Fatim udah tahu sepertinya ini jebakan, makanya Fatim langsung telepon Om Momon, maaf ya Ma." Menunduk sedih.


Nadya berangkat dari kursinya dan merangkul Fatim.


"Mama tidak mau putri Mama terluka meski hanya goresan kecil, makanya saat Momon bilang kamu terluka Mama sangat sesih, kesal, dan marah, semuanya bercampur aduk." Menangis sambil memeluk Fatim.


Air mata Fatimpun ikut terlerai karena merasa haru, begitu besar cinta yang dipunyai Nadya untuknya.


"Kamu nggak usah khawatir, kali ini Mama akan usut tuntas semuanya, semua yang terlibat akan diusut melalui jalur hukum, Mama tidak mau sekolah kita dijadikan ajang premanisme," ucap Nadya pasti.


"Tapi Ma kalau yang melakukan itu anak Kepala Sekolah bagaimana?"


"Mama tidak perduli itu anak siapa, karena kalau sudah kriminal itu tidak bisa ditolerir lagi," ucap Nadya geram.


"Tapi kan ... kan kasihan Ma ...."


"Saat dia menyuruh orang untuk mencederai kamu, apa dia ada rasa kasihan?"


"Nggak tahu Ma," Menggelengkan kepalanya.


"Ya udah sekarang kamu cuci muka, sholat, dan makan, nanti baru Mama obati lukamu." Menepuk pipi Fatim lembut.


Fatim hanya tersenyum dan menggangguk, kemudian berlari menuju ke kamarnya.


*****


Selang setengah jam akhirmya Fatim selesai dengan rutinintasnya, ia segera turun keruang makan dengan mengenakan piama bergambar doraemon kesukaannya dan rambutnya hanya diikat cepol keatas dengan asal, meski begitu ia tampak sangat manis.


"Mama," sapa Fatim.


"Ehmmm anak gadis Mama sudah rapi dan wangi, cantik lagi meski rambutnya berantakan," ucap Nadya tersenyum.


"Yuk Makan, Mama udah masakin makanan kesukaanmu, ada cumi asam manis, bening bayam, sama tuh rendang jengkol pedasmu," ucap Nadya.


"Alhamdulillah makasih ya Ma, tapi Fatim makan dikit ya, soalnya udah makan tadi ditempat Yati, biar menu rumahan tapi enakkkk banget," ucap Fatim.


"Ya udah nggak apa - apa yang penting dimakan ya." Mengecup kening Fatim lembut.


Fatim makan dengan lahap karena bagi Fatim masakan Nadya adalah yang terbaik dan terenak.


Selesai makan barulah Nadya mengobati luka gores ditangan dan pundak Fatim, akibat goresan pisau yang digunakan para preman yang menyerang Fatim.


Sambil menunggu Nadya mengobati lukanya Fatim memberanikan diri untuk meminta izin kembali ke Lembang, untuk membantu suara misterius yang ditemuinya diperpustakaan sekolahnya.


"Ma ... besok Fatim boleh kembali ke Lembang nggak?"


Mendengar pertanyaan Fatim, Nadya segera menghentikan aktivitasnya dan memandang putrinya lekat.


"Apa kamu serius? Apa kamu nggak tahu kalau kamu sedang terluka?"

__ADS_1


"Fatim tahu kok Ma, cuma Fatim sudah janji pada arwah itu untuk membantunya, menemui ibunya di Lembang agar mengikhlaskannya, karena ia tersiksa Ma terjebak diantara dua alam," jelas Fatim.


"Apa kamu serius?"


"Iya Ma ini Fatim punya rekaman suaranya." Menunjukkan Hp nya.


*"Gue tinggal di Lembang, nama emak gue Bu Darmi rumahnya dekat SDN.5 Lembang, loe harus cepat gue sangat tersiksa terjerat diantara dua dunia, tolong minta keikhlasan mak gue dan orang yang gue utangin ya, gue nggak diterima karena masih berhutang dan orangnya belum ikhlas."*


Setelah mendengar rekaman suara itu bulu kuduk Nadya meremang, dan barulah ia percaya, bahwa Fatim mempunyai kelebihan sama seperti almarhum kakeknya. Bisa. berkomunikasi dengan mahluk yang tak kasat mata.


"Oke Mama izinin tetapi kamu harus naik mobil bersama Pak Mamat dan juga harus didampingi Om Momon, Mama nggak mau kejadian tempo hari terulang lagi," ucap Nadya dengan wajah yang serius.


"Baiklah Mamaku tersayang, tanpamu apalah jadinya akuuuuu," seloroh Fatim.


"Itu lagu Guruku Tersayang Fatimmmm," teriak Nadya sambil tertawa.


Akhirnya setelah mendapat izin dari Nadya Fatim segera menuju kekamar impiannya, berharap labuhan mimpinya akan indah, seindah hari esok yang akan disongsongnya.


*****


Keesokan Hari ....


Seperti biasa drama untuk membangunkan Fatim telah dimulai kali ini drama yamg dimainkan Nadya adalah suara ledakan petasan yang sengaja ia rekam untuk menjahili Fatim.


"Tret ... tretttt ... duarrrrr."


Fatim yang semua terpejam segera meloncat dari tempat tidurnya dan tiarap dilantai kamarnya denga menutup kedua telinganya.


"Ya Allah lindungilah Fatim dan Mama dari serangan penjahat, Ya Allah selamatkanlah kami," gumam Fatim.


Lalu terdengar lagi suara yang berulang.


Tret ... tretttt ... duarrrrr."


"Akhhhhh ... tolonggggggg ... ampuuuuunnnn," teriak Fatim semakin masuk ke kolong ranjangnya.


Nadya yang melihat kelakuan putrinya tak bisa menahan tawa, akhirmya tawa Nadyapum pecah.


"Ha ... ha ...sayang, apa yang kamu lakukan dibawah kolong ranjangmu hah?"


Wajah Nadya sudah memerah karena tertawa dan air matanya pun ikut keluar. Sedangkan orang yang ditertawakannya baru sadar dan sangat kesal.


"Mamaaaaaaaaaa, awas ya." Segera keluar dari kolong meja dan mengambil bantal untuk menimpuk Nadya.


Melihat Fatim yang membawa bantal Nadya segera berlari mengelilingi ranjang karena tidak mau dipukul Fatim.


"Ampuuuun ... ampuuun Fatim, udah Mama capek, nggak kuat lagi lari - lari," teriak Nadya.


Melihat Mamanya yang sudah kecapean Fatimpun berhenti.


"Abisnya Mama ngeselin, kira in beneran ada *******." Menatap Nadya dengan wajah yang cemberut.


"Iya maaf, habisnya kamu susah kalau dibangunin baik - baik, sekarang cuci muka, sholat Subuh, lalu sarapan," ucap Nadya tersenyum.


Akhirnya Fatim segera berwudu dan sholat, setelahnya ia bersiap untuk sarapan dan siap untuk berangkat menuju Lembang. Dan Fatim berharap semoga pencariannya tidak menyulitkan dirinya.


Bersambung....

__ADS_1


Terimakasih ya sudah membaca karyaku ,jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Karyaku Nyanyian Takdir Aisyah dan novel favoritku : Arsitek Cantik, Cinta Untuk Dokter Nisa , My Secret Wife, Putih Abu - Abu, Melawan Rasa Takutku, My love, Mafia In Love , OB Kerudung Biru, Samudra, Sang Legenda, dan My Princess OG. Aku tunggu ya 😍.


__ADS_2