
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
Kediaman Fatim ....
Fatim memeluk ponselnya dengan mata terpejam. Tak pernah terbayangkan olehnya semua ini akan terjadi. Semua ia pasrahkan pada pemilik jiwa dan raga.
La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim disebut lafadz hauqalah. Artinya: “Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah yang Maha Luhur dan Maha Agung."
Fatim segera memejamkan matanya, ia rasanya tak ingin malam ini akan segera berlalu. Lelehan air matanya masih saja mengalir, ia berharap esok akan menjadi lebih baik untuknya.
Akhirnya gadis itu tertidur juga masih dengan memeluk ponselnya. Tak terasa kini lantunan azan subuh sudah berkumandang, Fatim segera membersihkan dirinya untuk persiapan salat Subuh sebanyak dua rakaat. Ia teringat pesan Abas untuk rajin salat baik yang wajib ataupun yang sunah.
Nadya buru-buru menuju kamar putrinya, ia takut gadis itu terlambat lagi untuk salat. Namun kali ini ia tertegun melihat putrinya sedang mengaji, suaranya terdengar merdu meski dengan bacaan murathal.
"Sayang, kamu semakin mirip sama papamu, dulu dia juga begitu. Selalu mengaji saat habis salat Subuh atau magrib, bahkan kadang setiap habis salat dia juga membacanya biar sedikit," gumam Nadya. Ada air mata kerinduan yang menetes di sana.
Nadya cepat menyeka air matanya, ia tak ingin putrinya tahu jika ia menangis. Dia sangat berharap putrinya akan mendapat pendamping yang benar-benar bisa membimbingnya dunia dan akhirat.
Diam-diam Nadya mundur dan pura-pura baru datang, ia mengetuk pintu kamar putrinya.
Tok ... tok ... tok ...!
"Sayang! Kamu sudah bangun?" tanya Nadya pelan.
"Iya, Ma. Ini barusan selesai salat," jawab Fatim lembut sambil berjalan mendekati pintu kamarnya.
Klek!
Daun pintu terbuka dan Fatim menyembulkan kepalanya dari balik pintu sambil tersenyum manis.
"Alhamdulillah kamu sudah salat, tumben pagi ini tidak menunggu mama bangunkan?" Nadya tersenyum pada putrinya.
"Iya, Ma. Hari ini ulangan kenaikan kelas jadi harus pagi-pagi, soalnya mau cek ruangan dan meja kursi yang akan Fatim tempati," jawab Fatim dengan tersenyum manis.
"Semoga bisa menjawab soal ujiannya dengan lancar ya, sayang. Mama akan selalu mendo'akan yang terbaik buat kamu." Nadya menyentuh pipi putrinya lembut.
"Aamiin terimakasih, Mamaku tersayang." Fatim memeluk Nadya erat seolah ingin melepaskan beban hatinya.
*Tumben nih anak begini, apa dia lagi ada masalah ya? Tapi kenapa dia tidak mau cerita? Nanti aku akan cari tahu, batin Nadya.*
"Oke sekarang kamu siap-siap sarapan ya, mama akan buatkan menu spesial agar nutrisi tubuh sama otakmu terisi karena mau ulangan." Nadya undur diri dari hadapan putri semata wayangnya.
Sementara itu di rumah Yati, kedua orang tuanya sudah bersiap untuk beraktivitas. Demikian juga denga Yati, dia tidak ingin terlambat saat ujian kenaikan kelasnya. Namun kali ini dia akan berangkat dengan Wawan yang telah resmi menjadi pacarnya.
"Nduk! Fatim kok udah lama nggak jemput kamu? Malah anak laki-laki yang kemarin itu yang antar jemput kamu," tanya ayahnya Yati.
"Iya, Pak! Fatim sedang sibuk soalnya jadi aku dijemput sama anak laki-laki itu," jawab Yati jujur.
"Anak laki-laki itu siapa?" tanya ayah Yati lagi.
"Dia kak Wawan. Direktur My Cafe masih saudaranya Fatim." Yati menjelaskan tentang Wawan pada ayahnya.
__ADS_1
"Hubungan kamu sama dia itu apa, Nak?" tanya ibunya Yati.
"Dia ... dia ...ehmmm pa-pacar Yati," jawab Yati sambil menunduk.
Jawaban jujur Yati membuat sang ayah terbatuk-batuk hingga membuat Yati merasa tak enak hati.
"Ini, Pak. Minum du."Ibunya Yati memberikan segelas air putih pada suaminya.
"Kamu ini masih kecil kok main pacar-pacaran,? Tugas kamu ini ya belajar, Nduk!" Ayah Yati menghentikan suapannya.
"Iyaa maafin Yati ya , Pak!" Yati mengangkat kedua jarinya sebagai tanda maafnya.
Ayah dan ibunya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putri mereka.
*****
SMA Unggulan ....
Semua siswa dan siswi Sekolah Menengah Umum Unggulan terlihat sudah ramai. Semuanya datang bergegas untuk menghadiri kegiatan ULANGAN kenaikan kelas.
Tak terkecuali Fatim dan Yati. Tampak keduanya telah menemukan posisi masing-masing.
Fatim sudah duduk tepat di kursi nomor lima dari depan. Sedangkan Yati memperoleh tempat yang sangat-sangat ditakuti semua. Yah dia duduk tepat di hadapan sang guru pengawas.
"Fren! Help me dong! Tukeran yuk tempatnya, serem amat sih tempat gue." Yati tertunduk lesu.
"Loe harusnya bersyukur bukan mengeluh. Duduk di depan itu membuat loe jadi percaya diri dan tenang, asalkan loe benar-benar udah belajar. Tadinya gue berharap bisa duduk di tempat loe tapi ternyata gue duduk di tempat lain. Yakin aja jika apa yang sudah di tentukan hari ini adalah yang terbaik buat kita." Fatim menyemangati Yati yang merasa takut duduk di depan pengawas.
"Oke selamat pagi semuanya, tolong ketua kelas ruangan ini segera memimpin teman-temannya untuk memberi salam dan memulai segalanya dengan berdoa terlebih dahulu." Pengawas itu tampak serius, dia bukanlah guru mereka melainkan dari sekolah lain.
Fatim segera memimpin teman-temannya untuk berdoa dan memberi salam untuk sang pengawas yang bernama bu Dewi, dia tampak seperti wanita yang berumur tiga puluhan dengan dadanan yang sedikit menor menurut kaca mata pengelihatan Fatim, bibirnya dilapisi lipstik merah menyala dengan bedak yang sudah ditampal beberapa kali kayaknya, abis udah tebal banget tu bedak.
Bu Dewi berjalan mendekati Fatim, dia tampak menatap Fatim dengan sedikit mngernyitkan dahinya.
"Kamu anak pindahan ya?" tanya bu Dewi sang pengawas.
"Nggak kok, Bu. Saya siswa sini juga," jawab Fatim sambil tersenyum untuk menghormati sang guru.
"Tapi kenapa hanya kamu yang mengenakan hijab di sekolah ini?" tanyanya lagi.
"Ya karena menutup aurat itu wajib hukumnya bagi seorang muslimah yang sudah aqil baligh. Mungkin yang lain belum tergerak hatinya untuk berhijab , Bu. Semoga yang lain segera menyusul." jawab Fatim sembari kembali tersenyum.
Bu Dewi tampak tidak menyahut mendengar ucapan Fatim barusan, ia merasa malu. ia juga seorang muslimah dan sudah aqil baligh tetapi masih mengumbar auratnya. ia benar-benar salut dengan Fatim. Sendirian berbeda penampilan dengan yang lain namun tak membuatnya merasa malu atau putus asa. Gadis itu benar-benar membawa inspirasi buatnya.
"Oke, nih tolong kamu bagikan kertas ulangan kita hari ini!" Bu Dewi menyerahkan sebuah amplop coklat pada Fatim kemudian kembali ketempat duduknyan di depan kelas.
Semua sudah berjibaku dengan soal yang barusan Fatim bagikan. Kelas mereka benar-benar tertib, sekali lagi bu Dewi di buat takjub oleh anak-anak SMA Unggulan. Kerapian dan kedisplinan siswanya patut diacungi jempol.
Baru sekitar dua puluh menit, Fatim sudah berangkat dari kursinya, ia segera mengangkat tangan tanda ia telah menyelesaikannya. Bu Dewi kembali di buat takjub olehnya.
"Kamu benar sudah selesai?"
"Siap sudah, Bu!"
__ADS_1
"Yakin tidak mau memeriksanya lagi?"
"Inshaa Allah sudah saya periksa, Bu." Fatim terlihat sangat yakin.
"Oke kalau begitu bawa sini, kamu biasa keluar lebih dulu," ucap bu Dewi akhirnya.
Fatim segera berlalu keluar kelas dan tak lupa ia mengirimkan pesan buat sahabatnya.
Fren gue di mushala ya. Fatim.
Setelah mengirimkan pesan Fatim segera menuju mushala, ia berniat akan mengerjakan salat duha mulai hari ini.
Sepeninggalan Fatim, bu Dewi iseng-iseng ingin memeiksa jawaban Fatim. Ia khawatir kalau-kalau anak itu menjawab ulangannya dengan asal. Namun alangkah terkejutnya beliau jawaban Fatim mutlak sempurna, tak ada kesalahan sedikitpun baik pilihan ganda ataupun essaynya.
Sementara itu ....
Dengan santai Fatim berjalan menuju mushala, entah mengapa tiba-tiba hatinya terasa teriris saat ia melewati kelas Abas. Ia merindukan sosok lelaki itu. Ucapannya malam itu membuat Fatim ingin menangis rasanya.
Setelah sampai di mushala, ia segera berwudu dan menunaikan salat duha. Tanpa Fatim sadari seseorang juga sedang melaksakan salat duha di sana.
Dua hati yang saling bertaut sedang bercerita pada sang pemilik hati. Kegelisahan dan kesedihan yang mereka rasakan seolah menjadi penghias doa keduanya pagi ini.
Setelah selesai salat Fatim melepas mukenanya dan hendak keluar untuk duduk di bangku taman depan mushala, namun entah mengapa hatinya mengatakan untuk mengintip ke shaf laki-laki. Meski Fatim meyakini kalau ruangan itu kosong.
Dengan sedikit pelan Fatim menyingkap tabir pembatas antara tempat salat laki-laki dan perempuam. Tak terduga seseorang yang tadi juga salat di sebelahnya juga membuka tabir itu.
"Astaqdirullah haladzim," ucap keduanya terkejut. Namun Fatim reflek menendang ke arah depan sehingga lelaki itu terpelanting sedikit jauh dari Fatim.
Keduanya jatuh di lantai, melihat seseorang yang terkapar olehnya, Fatim dengan cepat berangkat dari jatuhnya untuk menolong anak lelaki yang tadi di tendang olehnya meski itu tak sengaja.
"Maaf ya, sini gue bantu. Apa loe baik-baik aja?" tanya Fatim khawatir.
Mendengar suara Fatim, lelaki yang terjatuh itupun tersenyum. Ia merasa bahagia bisa mendengar langsung suara gadis yang dirindukannya, meskipum mereka harua bertemu dengan cara begini.
Anak lelaki itu segera memutar badanya yang membuat Fatim segera menutup mulutnya karena merasa tak percaya.
"Kakak!" ucap Fatim dengan suara bergetar.
Tiba-tiba secara reflek Fatim ingin memeluk anak laki-laki yang dipanggilnya kakak. Namun dengan cepat anak lelaki itu menahan kepala Fatim dengan bukunya.
"Eitt! Ingat kita bukan mahram, dan kita sudah dewasa kini bukan anak-anak lagi. Pada siapapun lelaki yang bukan mahramnya kamu jangan main peluk-peluk aja, itu dosa." Anak lelaki itu tersenyum menatap Fatim.
*Alhamdulillah yaa Allah, Engkau pertemukan kami dengan cara yang indah, semoga Engkau juga berkenan untuk menautkan hati kami hingga ke hubungan yang halal nantinya, batin anak lelaki itu.*
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!
Maaf ya cuma bisa Up segini besok inshaa Allah aku up lagi. mataku udah nggak kuat ngantuk berat.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah ya dibawah ini:
__ADS_1