
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
Kamar Fatim ....
Tengah malam Fatim terbangun karena ponselnya berdering, ia mengosok-gosok matanya untuk melihat ke arah jam dinding tergantung.
*ehmm ini masih jam dua dini hari, tapi siapa yang menelpon atau jangan-jangan, mama ...*
Fatim segera meraih ponselnya, ia khawatir kalau itu mamanya yang menelpon karena sakit atau butuh bantuan.
"Assalamu'alaikum, Ma! Halo mama kenapa diam?" Fatim terus saja bicara tanpa melihat nama kontak yang tertera di ponselnya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab suara di seberang telepon.
*kenapa suara laki-laki? Apa mama di culik? Tapi kok penjahatnya pakai jawab salam segala.*
Fatim masih asyik dengan lamunannya sampai suara di seberang ponsel yang masih dalam genggamannya kembali berbicara.
"Dek! Kamu masih di situ kan?" suara Abas mengehempaskan lamunan Fatim.
"Eh i-iya, ke-kenapa kakak yang menelpon bukan mama?" tanya Fatim terbata.
"Ya kakak lah masa mamamu atau mama kakak, ini kan nomor ponsel kakak. Kamu belum konek ya, abis bangun tidur?" Terdengar suara tawa di seberang telepon.
"Iya, habisnya kok bisa teleponan jam segini? Kakak nggak tidur?" Fatim menggaruk kepalanya.
"Kakak baru selesai salat malam dan salat istikharah, kamu udah salat malam?"
"Tunggu dulu, salat istikharah itu apa?" tanya Fatim yang belum memahaminya.
"Itu salat untuk mohon petunjuk pada Allah semisalnya kamu dihadapkan dengan pilihan yang sulit, seperti kakak saat ini." Abas menjelaskan pada Fatim dengan sabar.
"Jadi gue juga boleh salat istikharah dong?" tanya Fatim lugu.
"Emang kamu juga sedang dihadapi pilihan yang sulit?" tanya Abas lagi.
"Iya kak, besok gue juga akan dilamar sekalian nikahan kata mama, tapi gue nggak tahu siapa calon laki gue, kenalan juga kagak tahu-tahu main lamar aja." Fatim cemberut meski Abas tak bisa melihat wajahnya.
"Kenapa kita bisa bernasib sama ya, Dek?" Abas merasa aneh dan bingung.
"Karena kita seharusnya ditakdirkan bersama, Kak. Tapi kenyataannya kita tidak bisa bersama, hiks ... hiks ...." isak Fatim sesekali sambil menyeprotkan ingusnya.
"Ihh kamu jorok, Dek. Ke kamar mandi dulu gih, buang ingusnya." Abas bicara sambil tertawa.
*Ya Rabb semoga senyum ini akan selalu ada untuk kami berdua meski nanti kami akan terpisah.*
"Ya udah, gue tutup ya. Mau ke kamar mandi sekalian wudu mau salat yang tadi itu, apa namanya?" tanya Fatim lagi.
"Istikharah, Dek!" sapa Abas lagi.
"Hmm kenapa lagi, Kak?"
"Ana uhibuki fillah," ucap Abas sambil menghapus air matanya. Ia bahagia bisa mengungkapkan isi hatinya, dan ia sedih karena tak bisa memiliki cintanya.
"Gue nggak ngerti apa yang kakak ucapkan tapi terdengar indah di telingaku, makasih ya, Kak." Fatim mengakhiri panggilannya dengan ucapan salam yang dibalas Abas dengan salam juga.
Setelah selesai teleponan Fatim segera berwudu dan salat istikharah. Di penghujung salatnya ia memohon untuk diberikan jodoh yang terbaik untuk menemani perjalanan dan perjuangannya dalam mengapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Setelahnya Fatim kembali rebahan, entah mengapa sehabis salat semua hanya ada bayangan wajah Abas, ia segera beristiqfar dan berusaha memejamkan matanya. Hingga akhirnya ia bisa beristirahat lagi.
Sementara itu di pondok pesantren kediaman Abas, semua tidak ada lagi yang tiduran mereka sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara lamaran, tidak sedikit para santriwati yang harus menelan kekecewaan mereka karena cowok pujaan mereka akan melamar seorang gadis biasa bukan gadis pondok. Mereka tentu saja merasa kalau calon Abas tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka.
"Bagaimana, Umi?" Rahmat mendekati kekasihnya.
"Inshaa Allah semua sudah siap, Abi." Maryam tersenyum pada suaminya.
"Oke habis subuh kita berangkat semoga semua lancar dan tidak ada hambatan." Rahmat tersenyum memegang tangan istrinya.
__ADS_1
"Aamiin," jawab Maryam ikut tersenyum menatap suaminya.
Semua sudah bersiap untuk salat subuh. Mereka semua salat berjamaah di masjid besar pondok. Termasuk juga Abas dan keluarganya.
Setelah selesai salat semua sudah fokus untuk mengantar kepergian keluarga Abas untuk lamaran sekaligus pernikahan. Namun karena walimahannya belum hanya nikahan saja, maka yang berangkat hanya keluarga inti dan sahabat dekat saja. Tidak hanya Abas tetapi semua santri yang ikut mengantarkan jadi penasaran, siapa gadis yang akan mendampingi sahabat salih mereka nanti?
Rombongan iringan pengantin telah meninggalkan Bandung menuju ke Jakarta. Sementara itu dikediaman Fatim semua sudah bersiap-siap sejak subuh, namun yang hadir hanya orang tertentu saja karena pernikahan ini masih dirahasiakan dari umum termasuk media. Peresmian besar-besaran akan digelar saat keduanya sudah selesai kuliah. Nanti anak-anak panti, dan anak-anak bawah jembatan akan hadir dalam acara jamuan makan saja.
Nadya tampak sudah mondar mandir memeriksa kesiapan untuk acaranya namun ia belum melihat putrinya turun dari kamarnya di lantai dua.
"Bi! Fatim belum turun?" Nadya menatap ke tangga lantai dua.
"Sepertinya belum, Bu. Apa perlu saya cek dan bangunkan, non Fatim?" Bi Ijah menatap majikannya sambil tersenyum.
"Nggak usah, Bi. Biar aku saja yang naik ke kamarnya." Nadya berlalu dari hadapan bi Ijah setelah menepuk pundaknya.
Dengan perlahan Nadya naik ke lantai dua. Sesampai di kamar Fatim ia tampak menempelkan telinganya ke pintu namun hening, seperti tak ada pergerakan di sana.
Klek!
Nadya membuka pintu, karena memang sudah menjadi kebiasaan putrinya sejak kecil untuk tidak mengunci pintu. Hal ini bermula saat Fatim berumur lima tahun, ia sudah tidur dikamarnya sendiri dan sering mengunci pintu dan entah bagaimana pada hari naas itu ia terkunci di kamar mandi sehingga hampir seharian ia terkunci yang membuatnya berakhir di rumah sakit karena lemas dan kedinginan. Terpaksa pintu kamar serta kamar mandi di jebol untuk menyelamatkannya.
Setelah melihat isi kamar putrinya yang sudah rapi, Nadya tersenyum. Namun matanya tetap menyapu isi kamar untuk mencari sosok yang ia cari.
"Dimana dia? Kenapa kamarnya kosong? Dia tidak melarikan dirikan?" gumam Nadya pada dirinya sendiri sampai pandangannya terfokus pada pintu balkon yang terbuka, kekhawatiran jelas tergambat di wajah sang ibu.
Dengan cepat Nadya masuk dan menuju balkon, namun ia tertegun melihat pemandangan yang sangat menggemaskan. Dimana putrinya tertidur di kursi balkon masih dalam balutan mukena dan sajadah yang ada dalam pelukannya.
Seketika ide jahil muncul dibenak Nadya untuk mengerjai putrinya. Dengan segera ia mengambil air dan memercikannya perlahan pada wajah sang putri yang tertidur lelap.
"Hujan! Hujan! Sayang bangun cepat ini sangat lebat," teriak Nadya sambil terus memercikkan air. Seketika Fatim yang baru membuka mata melompat dari kursi dan berlari masuk ke kamarnya dengan menutup pintu balkon.
Melihat putrinya yang seperti orang linglung membuat Nadya tak kuasa menahan tawanya, ia ditinggalkan putrinya di balkon sendiri. Fatim yang baru menyadari situasinya segera membuka kembali pintu balkon.
"Mamaaaaaaa!" teriak Fatim dengan wajah yang cemberut.
"Ehmm," jawab Fatim singkat tanpa semangat.
"Sekarang kamu mandi, yang akan meriasmu sudah datang sejak pagi. Mama ingin putri semata wayang mama ini tampil cantik dan anggun, sehingga pangeran yang akan menyuntingmu terpesona nantinya." Nadya mencium kening putrinya lembut.
Fatim masuk kembali ke kamar, melepas mukenanya lalu mandi. Saat keluar sudah ada dua orang wanita yang masih cukup muda, mereka adalah orang yang akan membuat dirinya tampil beda hari ini.
"Bagaimana, adik sudah siap?" tanya salah satu wanita yang berjilbab kuning, wajahnya cantik dan ayu.
"Begitulah," jawab Fatim santai.
"Kamu masih sangat muda tetapi kok udah mau nikah aja, apa kamu sudah isi duluan?" tanya wanita itu tersenyum.
*Nih orang sibuk amat sama urusan orang, tunggu aja gue kerja in.*
"Iya saya udah isi barusan," jawab Fatim santai.
"Astaqfirullah halazdim." Wanita itu menutup mulutnya sementara wanita yang satunya menatap Fatim dengan sedikit kurang senang.
"Kenapa? Mbak kaget? Ya iya lah saya udah isi perut gue pakai nasi plus sayur dan tempe goreng sama segelas susu hangat. Emang ada isi yang lain?" Fatim mendelik lucu ke arah keduanya.
"Oh syukurlah, kira in tadi isi yang lain. Yuk kita mulai aja ya." Wanita itu mengalihkan topik pembicaraan.
Tanpa mereka sadari Nadya mendengar pembicaraan mereka.
"Kalian saya bayar untuk merias bukan untuk bertanya, asal kalian tahu putriku gadis baik-baik dan belum pernah terjamah oleh lelaki manapun. Dan sebaiknya kembali pada kesepakatan awal. Jika sampai hal ini terungkap ke pada khalayak ramai kalian tahu sendiri apa akibatnya." Nadya menatap tajam pada keduanya.
"Ba-baik, Bu. Kami mengerti." Keduanya mengangguk dan menunduk.
"Mari, Dik." Keduanya menuju meja rias.
Hampir satu jam mereka merias Fatim dan hasilnya sungguh luar biasa, keduanya tampak takjub. Wajah gadis yang mereka rias dasarnya sudah cantik dengan sedikit make over jadi cantik yang luar biasa.
Fatim mengenakan kebaya putih berbentuk gamis dengan motif mawar timbul keemasan disepanjang gamisnya, tak lupa hiasan berlian pada setiap kuntum mawar yang melingkar seperti selempang tetapi melekat pada gamisnya membuat seorang Fatim terlihat bak putri raja. Nadya yang masuk ke kamar untuk cek and ricek keadaan putrinya pun menjadi sangat takjub.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa sudah si-." Nadya terngangga melihat kecantikan putrinya.
"Subhanallah kamu sangat cantik, Sayang!" Nadya memeluk putrinya.
"Makasih, Ma." Fatim tersenyum yang membuatnya semakin cantik.
"Kamu boleh turun kalau nanti semua sudah bilang SAH, oke. Sekarang mama tinggal dulu sebentar lagi rombongan pengantin pria sampai." Nadya terlihat sangat bahagia. Ia juga terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya putih yang mirip seperti Fatim, hanya saja miliknya bukan gamis.
Sementara itu rombongan mempelai pria sudah sampai, Nadya sengaja tidak menyambut calon mantunya ia malah meminta bi Ijah untuk menyambutnya. Ia tidak mau kalau Abas mengenali dirinya karena mereka pernah bertemu.
Kedua orang tua Abas yang memang sudah tahu tidak ambil pusing, setelah acara sambut menyambut mereka segera menuju tempat akad.
"Bagaimana? Apa semua sudah siap? Kalau sudah kita mulai saja akadnya." Pak penghulu mengajak semua menuju tempat akad.
Tampak wajah Abas yang juga sangat tampan dalam balutan baju kun putih dengan di padu celana katun hitam, serta kain sarung yang melilit pingang, sungguh sangat luar biasa.
"Apa kamu sudah siap, Nak?" tanya pak penghulu.
"Inshaa Allah," jawab Abas pelan.
"Oke kita mulai." Pak penghulu segera mengulurkan tangannya pada Pram yang akan menjadi wali nikah Fatim.
"Saya nikahkan ponakan saya yang bernama Fatimah Ananbra padamu dengan mas kawin ucapan surah Ar Rahman dan seperangkat alat salat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah Ananbra binti Bramantio dengan mas kawin yang tersebut tunai."
*Kenapa nama ini terasa tak asing bagiku, apa aku mengenalnya? Batin Abas.*
Bagaimana, sah?"
"Sahhhhhhh!" jawab semuanya serentak.
*Apa aku tidak salah dengar, suara itu mirip suara kak Pop, yaa Robb apa aku salah jika masih berharap ada keajaiban, batin Fatim.*
"Oke sekarang panggil mempelai petempuannya," ucap Penghulu setelah Abas mengucapkan surat Ar Rahman.
Bi Ijah dan Nadya membawa Fatim turun, ada tetesan air mata haru yang menetes antara ibu dan anak itu, dengan cepat Nadya menghapusnya.
"Berbahagialah putriku, impian masa kecilmu menjadi nyata kini." Nadya mengecup lembut tangan putrinya.
Semua yang hadir segera berdiri melihat mempelai wanita yang mulai menuruni tangga, semua memandang takjub. Banyak shalawat dan kalimah pujian yang terlontar karena kecantikan Fatim.
Abas yang masih menunduk merasa tak berani menatap istrinya untuk pertama kali. Sampai Rahmat yang menyadarinya segera berbisik di telinga sang putra.
"Lihatlah, bidadari syurgamu yang berhati malaikat, kamu akan menyesal katena semua orang sudah menikmati wajah istri masa kecilmu."
Mendengar ucapan ayahnya, Abas memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan ia pun terpana.
"Yaa Allah, tidak salah lihatkah diriku," gumam Abas yang hanya bisa di dengar olehnya.
Saat kedua mata sang mempelai bertemu, jantung keduanya seakan berhenti berdetak.
"Kamu?"
"Loe?"
Hayooooo pada penasarankan, tunggu next episode ya. Doakan aku segera sehat agar bisa menuntaskan cerita ini sampai akhir untuk SS 1 dan nanti bisa melanjutkan SS 2 jika banyak yang mau.
Terimakasih buat semua pembaca setiaku yang remahan ini. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu. Aamiin Allahumma Aamiin.
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula sudah setia membaca novel remahanku juga untuk Tap jempol serta komennya!
Maaf ya cuma bisa Up segini besok inshaa Allah aku up lagi. Ini episode mendekati detik-detik End. Semoga suka
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah, sudah TAMAT ya, aku tunggu kunjungannya.
__ADS_1