Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
KEJUTAN BUAT FATIM 1


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


Kamar Fatim ....


Fatim segera berwudu, dan besiap untuk rebahan. Malam ini ia akan tidur dalam balutan perasaan yang menyenangkan.


"Yaa Robb, kenapa hanya membaca pesannya saja sudah membuatku sebahagia ini? Apakah ini yang dinamakan oleh orang-orang sebagai fall in love? gumam Fatim sambil tersenyum sendiri kemudian ia memeluk poselnya. Hingga matanya terpejam dengan sendirinya.


*****


Azan subuh sudah berkumadang namun putri kesayangan Nadya belum juga bangun. Tentu saja sang ibu tidak pernah bosan untuk membangunkan putrinya itu.


Pelan-pelan Nadya naik ke lantai dua untuk membangunkan buah hatinya. Namun kali ini Nadya membawa sebuah peluit. Entah apa rencana yang akan diperbuat Nadya kali ini.


Klek!


Pintu kamar Fatim terbuka, perlahan Nadya masuk. Sudah lama ia tidak mengerjai anak gadis kesayangannya itu.


Pritt ... prittt ... pritttt ....


"Kamtib! Kamtib! Teriak Nadya sembunyi dibelakang pintu sang anak.


Wushh!


Fatim melompat dari tempat tidurnya. Ia mendarat mulus di atas lantai layaknya seorang pendekar.


Matanya mengerjab beberapa kali, kemudian ia berjalan mendekati jendela.


*Jam berapa ini, dan tumben wilayah komplek ada kamtib, apa penjual asongan pada lari kemari kali ya.*


Dengan perlahan Fatim menyibakkan tirai kamarnya yang berwarna hijau muda dengan motif bunga-bunga kecil dan ceroppy.


"Aneh, masih gelap juga. Sepi nggak ada petugas kamtib, atau jangan-jangan gue mimpi ya?" Fatim menggaruk kepalanya yang tetiba berasa gatal karena ia bingung.


Nadya yang melihat tingkah lucu putrinya sudah terpingakal-pingkal di belakang pintu. Wajahnya memerah menahan tawa, air matanya pun ikut keluar. Namun ia masih betah di tempat persembunyiannya.


Fatim masih berdiri di depan jendelanya dengan tangan masih memegang tirai. Tampak matanya sesekali mengerjap, masih terasa pedih dan silau.


Kemudian dia mengucek matanya, dan melihat pintu kamarnya yang bergoyang-goyang.


"Pintu kamar gue kenapa ya, kok goyang-goyang gitu? Atau jangan-jangan ada han .... ah tapi nggak mungkin," gumam Fatim masih belum sepenuhnya sadar.


Nadya keluar dari balik pintu, ia tidak kuasa menahan tawanya.


" Ha ... ha ... kamu sangat lucu sayang." Nadya menutup mulut dengan tangannya.


"Mama?!" Fatim menautkan kedua alisnya.


"Kenapa disini? 'Trus apa yang lucu?" Wajah Fatim terlihat cemberut.


"Kamu hebat sayang, lompat dari tempat tidur dan bisa mendarat mulus di atas lantai tanpa jatuh," ucap Nadya masih sambil tertawa.

__ADS_1


"Maksud Mama apa?" Kesadaran Fatim masih belum pulih.


"Maksud mama, ayo salat subuh. Bentar lagi udah masuk waktu duha." Nadya tersenyum menatap anak gadis kesayangannya.


"Yang benar, Ma. Udah sesiang itu?! Dan aku belum salat subuh?! Tidakkkk!" Fatim berlari ke kamar mandi kesayangannya yang membuat Nadya semakin tertawa lepas. Dia sangat senang kali ini bisa mengerjai putrinya dengan skor seratus.


"Yesss! Menang telak." Nadya berujar pada dirinya sendiri. Dia segera berlalu dari kamar putrinya menuju dapur untuk membantu bibi Onah menyiapkan sarapan untuk mereka semua.


Sementara itu Fatim segera salat subuh dan tak lupa mandi dan bersiap untuk ke sekolah. Ia benar-benar lupa untuk melihat jam di kamarnya.


Selesai berganti pakainan ia segera mengikat rambutnya yang panjang dan menjepitnya ke atas untuk memudahkannya mengenakan hijab. Merasa sudah siap, ia segera turun dengan tergesa. Langkahnya mulai melambat saat melihat lampu-lampu masih banyak yang menyala, hanya lampu ruang tamu dan lampu depan saja yang masih menyala.


*kenapa lampu-lampu di rumah masih pada menyala, tadi kata mama sudah siang, atau jangan-jangan mama sudah ....*


Fatim berjalan tergesa menuju ke ruang makan. Dan di sana ia mendapati Nadya dan bi Onah sedang asyik memasak.


Fatim mengela nafas dengan kasar, ia baru menyadari kalau dia sudah dikerjai oleh mamanya, Nadya.


Fatim diam-diam balik ke kamarnya, ia bermaksud mengerjai balik ibunya, Nadya. Ia bergegas berganti pakaian olahraga dengan mengenakan kaos olahraga berwarna hitam lis biru khusus muslimah lengkap dengan hijabnya yang senada.


Fatim diam-diam keluar rumah tanpa sepengetahuan sang mama, ia pergi jogging ke luar kompleks.


Kini waktu telah menunjukkan tepat pukul enam pagi. Merasa putrinya belum juga turun membuat Nadya merasa yakin kalau putrinya masih tertidur dalam balutan mukena. Ia pun bergegas kembali naik ke lantai dua, tempat kamar Fatim berada.


Tok ... tok ...!


"Sayang, sudah siang ini. Ayo sarapan!"


Berulang kali Nadya mengetuk dan memanggil putrinya namun masih saja tak ada jawaban.


Klek!


"Kemana nih anak gadis ya?" Nadya memainkan dagunya dengan satu tangannya tampak seperti sedang berpikir keras.


Tak mendapati Fatim dikamarnya, Nadya memutuskan untuk turun. Ia ingin menanyakan keberadaan putrinya itu pada semua penghuni rumah. Saat itulah ia bertemu bi Onah yang sedang membawa makanan untuk di tata di meja makan.


Bi!" sapa Nadya."Apa bi Onah melihat Fatim?"


"Non Fatim? Ada kok bu, udah nunggu di meja makan," jawab bi Onah sambil ikut berjalan beriringan dengan Nadya.


"Kok tadi kita nggak liat ya, Bi kalau Fatim ada di dapur?" Nadya membantu bi Onah membawa piring.


"Kayaknya non Fatima abis jogging deh, Bu." Bi Onah menatap majikannya sekilas. Tidak ada jarak yang membatasi mereka, karena itulah yang diinginkan Nadya.


"Hmmm aku tahu, dia pasti mau balas dendam karena aku sudah mengerjainya tadi pagi," Nadya tertawa kecil yang diikuti oleh Onah.


"Hmm jadi main balas-balasan nih judulnya," seloroh bi Onah.


Keduanya tertawa bersama membuat suasana pagi di ruang makan menghangat.


"Pagi Mamaku sayang," sapa Fatim tak kala melihat Nadya bersama bi Onah.


Bukannya menjawab sapaan Fatim, sang mama malah pura-pura nggak mendengar, dan melanjutkan obrolannya dengan bi Onah.

__ADS_1


"Apa bi Onah mencium bau asem-asem gitu?" tanya Nadya pada bi Onah yang diiringi dengan kerjapaan matanya untuk mengajak bi Onah berkerjasama.


"Dikit sih, Bu." Bi Onah mengerti apa maksud kerjapan mata majikannya.


"Mamaaaaaa! Pleas deh, udah nggak usah lagi ngerjain Fatim. Pagi-pagi dah menyebar kebohongan dengan memfitnah petugas Kamtib segala," rutuk Fatim kesal yang masih saja dikerjain sang mama tercinta.


Nadya dan Onah saling pandang dan tawa Keduanya pun pecah.


"Buahahaha," suara tawa keduanya.


"Mamaaaaaa, please deh!" Fatim mengehentakkan kakinya.


"Iya-iya maaf, sekarang kita makan ya." Nadya mengambil piring kosong dan mulai mengambil nasi beserta lauk-paluknya. Ia ingin putrinya ngambek.


Mereka pun mulai makan bersama, Bi Onah, bi Siti, Lilis, pak Samsu dan pak Amat.


"Ma ... hari ini Fatim berangkat nggak usah di antar ya, Fatim mau coba naik angkot." Fatim membersihkan piring makannya. Dia dibiasakan oleh Nadya untuk mandiri meski ia seorang nona muda, tetapi tidak membuatnya lepas tanggung jawab untuk mencuci piring bekas makannya sendiri.


"Loh! Kok naik angkot? Temanmu nanti bagaimana?" tanya Nadya heran.


"Dia sudah punya ojekan baru, Ma." jawab Fatim asal. Ada rasa sedih juga gembira bercampur dalam batinnya.


Dia sedih karena nggak ada teman buat pergi bareng lagi, sedangkan senangnya karena akhirnya Wawan dan Yati bisa bersama.


"Hei kok melamun sih." Nadya menyentuh lembut pundak putrinya.


"Hmmm sedih soalnya nggak ada Yati." Fatim berangkat menuju kamarnya untuk ganti baju sekaligus membersihkan dirinya agar segar dan wangi


*****


Sekarang Fatim sudah siap berangkat ke sekolah, meski tak ada Abas dan Hanafi tetapi tak menyurutkan ia untuk tetap bersemangat ke sekolah.


"Ma, Fatim berangkat ya." Gadis itu mencium Nadya lembut.


"Iya hati-hati di jalan ya." Nadya melambaikan tangannya.


Sepeninggalan anak gadisnya, mereka kembali sibuk untuk mempersiapkan kejutan buat Fatim, gadis shalihah ke sayangan Nadya.


Kira-kira apa ya kejutan buat Fatim?


Tunggu di next episode ya.


Terimakasih sudah membaca!


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.



Selain itu kalian boleh intip juga novel-novel yang menjadi favorit aku,cerita mereka juga nggak kalah seru. kalau nggak percaya coba aja untuk membacanya.



Atau kalian boleh mampir kemari, cerita mereka juga tak kalah menarik. ini ada di daftar novel favoritku. kalau masih ragu coba aja kalian intip, pasti seru!

__ADS_1



__ADS_2