Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
DOKTER HARIS


__ADS_3

🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membaca karyaku, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, dan tip kalian buatku, karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin. Selamat Membaca!🌻


# Cafe Rumah Sakit #


"Mat ... Maryam ... kapan rencananya akan memindahkan Abas kesekolahnya Fatim?"


"Rencananya minggu depan, tapi tuh anak belum mau katanya, tapi nanti kami coba bujuk lagi deh,"ucap Rahmat.


"Iya Nad, semoga Abas mau ya," ucap Maryam.


"Aamiin semoga Abas mau pindah,"


Ketiganya tertawa, rasanya sudah tak sabar ingin menyatukan Abas dan Fatim, kalau bukan karena usia mereka yang masih muda.


"Nad, kami pamit ya. Titip salam buat calon mantuku, semoha segera sehat dan bisa beraktivitas lagi seperti sedia kala," ucap Maryam.


"Iya Yam, inshaa Allah akan aku sampaikan."Melambaikan tangan mengantarkan kepergian Maryam dan Rahmat.


Kini keduanya sudah menghilang menuju keparkiran. Dan Nadya pun segera kembali kekamar putrinya.


#Kamar perawatan Fatim#


"Klek!" Pintu kamar terbuka dan Nadya begitu terharu melihat bagaimana Yati yang sewot dapat menghibur putrinya, dan Wawan yang dewasa selalu menengahi keduanya.


Nadya berjalan mendekati ketiganya.


"Sayang ini sudah hampir malam loh, kalian sudah sholat isya?"


"Alhamdulillah, kita sudah sholat kok Tan," jawab Wawan.


"Iya Tan, sudah kok, cuma ...." Melirik kearah Fatim.


"Apa loe lihat-lihat gue?"


"Loe yang belum sholat, wekkk." Mencibir kearah Fatim.


Wajah Fatim sudah ditekuk karena kesal, ingin rasanya ia menimpuk temannya itu kalau saja tidak sedang sakit.


"Fatim ... beneran kamu belum sholat Sayang?"


"Iya Ma, aku sedang cuti bulanan," ucap Fatim.


"Wah enak dong, sholat pake cuti, kalau gitu aku juga mauuu, kalau sakit bisa cuti," ucap Yati tanpa dosa.


"Dasar Oneng, aku bukan cuti karena sakit tapi karena tamu bulananku datang," jelas Fatim.


"Mana tamunya? Bukannya sedari pagi cuma ada kita, apa tamunya Rangga sama Dimas ya? Atau dokter tampan yang tadi pagi juga ... atau ehmm ...."


"Ya Allah tolong, nih anak makin parah deh Onengnya, sebaiknya Mama segera cariin Bajuri deh biar dia nggak Oneng lagi," sunggut Fatim kesal.


Nadya sudah tidak dapat menahan keinginannya untuk tertawa melihat tingkah Yati dan Fatim.


"Ha ... ha ... ya Allah Fatim ... Yati ... kalian berdua ya, bisa aja membuat perut Mama sakit," ucap Nadya.


Wawan yang tidak mau tahu karena itu urusan perempuan hanya diam sambil memainkan handphone nya.


"Apaan sih loe Fren, gue nggak mau Bajuri tapi gue mau ikut loe cuti sholatnya," sunggut Yati.


Suara tawa Nadya semakin keras saja, bahkan matanya sampai berair.


"Udah ... udah nih dengerin ya biar mama jelasin," ucap Nadya akhirnya.


Fatim yang kesal hanya bisa mendengus, sebagai ekspresi kekesalannya. Sedangkan Yati terlihat serius mau menyimak penjelasan Nadya.


"Yati dengar ya, dalam agama kita sholat itu hukumnya wajib dalam situasi apapun termasuk saat sakit. Hal ini sebentar tante cari dalilnya." Membuka handphonenya.


"Nah ini penjelasannya, tante bacakan ya."


SYARIAT shalat pada dasarnya dilakukan dalam posisi berdiri, karena itulah Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam menunaikan shalat fardhu maupun shalat sunnah sebagai ketaatannya kepada firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:


“Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238).


Sedangkan dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk berdiri maka bisa dilakukan dalam keadaan duduk. Bahkan jika memang tidak memungkinkan untuk duduk maka dapat dilakukan dengan berbaring. Karena aktivitas manusia dilakukan hanya dengan tiga kondisi: berdiri, duduk atau berbaring. Demikianlah yang diisyaratkan oleh Allah di dalam firman-Nya:


“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali-Imran: 191).


Rasulullah saat dalam perjalanan melaksanakan shalat sunnah di atas kendaraan dan dilaksanakan dalam keadaan duduk. Begitulah yang disabdakan beliau bagi yang tidak memungkinkan mendirikan shalat dengan berdiri, sebagaimana dalam hadits:


“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak sanggup maka shalatlah dengan duduk dan jika tidak sanggup, maka shalatlah dengan berbaring (berbaring dengan miring).” (HR. Al-Bukhari).


Bahkan di dalam keadaan benar-benar mendesak, maka Rasulullah memerintahkan melaksanakan shalat sambil berjalan kaki atau berkendaraan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:


“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah nama Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 239).


Diriwayatkan bahwa saat beliau dalam keadaan sakit menjelang wafatnya, maka beliau mendirikan shalat sambil duduk dan itulah shalat beliau yang terakhir.


"Nah sekarang kamu mengertikan Yati kalau sholat itu wajib, dalam kondisi apapun," jelas Nadya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya Tan kalau yang tante jelasin alhamdulillah Yati udah ngerti yang aku masih nggak ngerti kenapa Fatim bisa mengajukan cuti bulanan," ucap Yati yang membuat Nadya dan Fatim tergelak kembali.


"Ooalah Yati sayang, kamu benar itu belum tante jelasin ya." Tertawa sambil menepuk tepi ranjang Fatim.


Dengan cepat Fatim segera menjelaskan maksudnya cuti bulanan.


"Maksud gue cuti bulanan, tamu bulanan, itu gue sedang dapet, sedang PMS, sedang haid, sedang menstruasi, sahabat gue tersayang," jelas Fatim dengan wajah yang dibuat seperti mak-mak yang lagi ngomelin anaknya.


Mendengar penjelasan sahabatnya itu tidaklah membuat Yati marah atau malu, tapi sebaliknya ia ikut tertawa terpingkal-pingkal yang diikuti juga oleh derai tawa Fatim dan Nadya, dan itulah yang sangat Fatim kagumi dari sahabatnya itu.


"Maaf ya gue nggak jadi ngaju cuti sholat kayak loe," ucap Yati disela-sela tawanya, yang membuat ketiganya kembali tergelak.


Wawan yang sedari tadi hanya terdiam kini ikut tersenyum mendengar perbincangan tiga wanita yang sangat dia sayangi.


"Tan," sapa Wawan yang menghentikan tawa ketiganya.


"Iya Wan, ada apa?"


"Aku dan Yati sebaiknya pulang saja ya, karena hari sudah semakin malam, dan besok Yati kan mesti sekolah," ucap Wawan sambil tersenyum melihat kearah ketiga wanita yang disayanginya.


"Cieeee yang perhatian, tapi kasihan Onengnya nggak ngerti, ha ... ha ...." tawa Fatim, sedangkan Wawan wajahnya memerah, karena Fatim tahu jika Wawan sangat menyukai Yati namun Yati belum peka terhadap perasaan Wawan.


"Mak ... loe bisa diem nggak Mak, perut Oneng pusing dengernya," ucap Yati yang membuat tawa keempatnya pecah kembali.


"Haduh sudah dong, Mama nggak kuat ketawa terus," ucap Nadya memohon.


"Yuk Yati kita pulang sebelum loe kakak bawa kerumah sakit, karena nggak berhenti buat orang tertawa," ucap Wawan gemes.


"Kan ini udah dirumah sakit Kak," ucap Yati yang membuat semua kembali tertawa.


"Udah ah buruan." Menarik tangan Yati agar segera berangkat. Yang diikuti Yati dengan tersenyum lebar.


"Assalamualaikum," ucap keduanya.


"Waalaikumussalam, hati-hati," teriak Fatim. Yang diikuti lambaian tangan Nadya untuk keduanya.


Kini keduanya telah menghilang dibalik pintu, tinggallah Nadya dan Fatim saja sekarang.


"Kamu harus istirahat sayang, kamu terlalu banyak bicara dan tertawa, takutnya nanti luka diperutmu terganggu," ucap Nadya.


"Iya Ma, aku akan istirahat sekarang, tolong bantu aku memakai selimut ya Ma," pinta Fatim.


Sedang membantu Fatim memakaikan selimutnya, pintu kamar terbuka. Ternyata dokter kontrol dan perawat jaga.


"Selamat malam Ibu, kami mau mengecek kondisi dek Fatim malam ini," ucap suster.


"Hai Fatim, gimana perasaannya hari ini? Udah baikan kah?" tanya dokter Haris.


Fatim malas untuk menjawabnya ia hanya tersenyum dan mengangguk saja.


"Aku permisi mengecek lukamu ya."


"Sus ... bantu saya untuk memeriksanya," pinta dokter Haris.


"Baik Dok." Segera membantu dokter mengecek luka Fatim.


"Oke selesai, alhamdulillah lukanya sudah mulai kering, kita tinggal tunggu masa pemulihan saja sekarang," ucap dokter Haris.


"Alhamdulillah," ucap Nadya.


"Bu ... apa saya boleh mengobrol dengan Fatim sebentar," tanya dokter Haris.


"Oh iya boleh kok Dok, silahkan," ucap Nadya.


Dokter Haris berjalan mendekati ranjang Fatim dan duduk dikursi didepan ranjangnya.


*Mau apa nih dokter, sok mau ngobrol segala, batin Fatim.*


"Fatim ... apa kalau sedang ngobrol lukamu masih terasa nyeri?"


"Dikit."


"Kalau makan atau minum?"


"Dikit."


"Hemat amat jawabnya, apa masih sakit banget ya?"


"Iya."


"Kalau aku kasih sesuatu apa kamu mau?"


"Nggak."


"Tapi aku udah bawa, nih." Menyerahkan lima buah cokelat chunkybarr.


Fatim diam tak bergeming.

__ADS_1


*Mau apa nih orang ya, baru aja kenal dah ngasih cokelat segala, uhhh padahal itu makanan favorit gue, ambil apa nggak ya, ehmmm ambil nggak ya. Tapi nggak ah kalau gue ambil nanti ngelunjak nih orang, batin Fatim.*


"Ambil ya, aku pergi dulu, mau ngecek pasien yang lain." Meletakkan cokelat ditepi tempat tidur Fatim.


Dokter Haris pun berjalan menuju kepintu kamar Fatim. Dan berpamitan pada Nadya. Setelah dokter Haris pergi, Nadya segera mendekati putrinya.


"Sayang kamu kok gitu sama Dokter Haris? Nggak baik loh," ucap Nadya sambil duduk ditepi ranjang Fatim.


"Habisnya sebel deh Ma, siang tadi ada teman-teman Fatim dia bilang nggak boleh ngobrol banyak-banyak eh nggak tahunya sekarang dia yang ngajak ngbrol," ucap Fatim kesal.


"Oh gitu, ya sudah sekarang kamu istirahat ya, coklatnya buat mama ya?"


"Uhh nggak boleh, he ... he ... cokelatnya Fatim mau," ucap Fatim sambil meraih kelima cokelat yang ditinggalkan dokter Haris.


"Kalau gitu mau juga dong ngobrol sama orangnya," ledek Nadya.


"Nih buat Mama aja cokelatnya, Fatim nggak mau." Menyerahkan cokelatnya pada Nadya.


Melihat tingkah anak gadisnya yang seperti anak kecil membuat Nadya tertawa, ingat kelakuan Fatim sewaktu kecil dulu. Sedang bernostalgia dengan masa kecil Fatim, ponsel Nadya berdering.


"Sayang, Mama angkat telepon dulu ya." Berjalan keluar kamar.


*Mama terima telepon siapa ya, kok harus keluar kamar gitu, batin Fatim.*


Diluar Kamar Fatim....


"Halo assalamualaikum, bagaimana Mon?"


"Semua sudah siap Bu, mau kita eksekusi sekarang?"


"Siapa sebenarnya anak itu?"


"Dia anak Salah satu rekan bisnis ibu, Tuan Kusuma," ucap Momon.


"Oke bawa anak itu, dan batalkan semua kontrak dengan perusahaan Kusuma dan ambil kembali semua saham kita, dia salah kalau mau bermain-main dengan putriku," ucap Nadya kesal dan mengakhiri sambungan telepon dengan Momon.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Cindy Elvira


Ketika Muslimah Jatuh Cinta


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati

__ADS_1


__ADS_2