
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu. Selamat Membaca🌻
🌻Kediaman Fatim 🌻
"Ya Allah Nak, cuma penampilan aja yang berubah, sifatnya mah belum." Menepok jidatnya.
Sedangkan Fatim sudah meluncur dengan motor kesayangannya menuju kediaman Yati sahabat yang sudah sangat dirindukannya, dan ia sengaja tidak Menelponnya biar jadi kejutan buat Yati.
Tidak butuh waktu lama Fatim telah sampai di kontrakan Yati dan ia membunyikan klakson motornya seperti biasa.
"Tin ... tin ...."
"Duhhh siapa sih, pagi - pagi dah tan - tan tin - tin, tapi suara klaksonnya mirip motor Fren gue Fatim, tapi apa dia udah pulang ya, dan gue udah lama nggak chat dia karena abis quota dan gue belum gajian mau isi pulsa," ucap Yati yang sedang berganti pakaian.
"Tin ... tin ...."
"Haduhhh resek amat deh tuh motor, intip dulu ah." Mendekati jendela.
*Itu cewek berjilbab siapa ya?Kok mencet klakson pas didepan rumah gue, tapi tunggu motornya mirip motor Fatim, atau dia nyuri motor Fatim, tapi nggak mungkin masak pake jilbab nyuri, buat penasaran aja tuh cewek, apa gue samperin ya?Apa dia disuruh Fatim jemput gue karena tahu gue lagi kere, yah bener nih kayaknya dia itu saudara Fatim dari Yogyakarta, ya udah gue samperin, batin Yati.*
"Klek." Yati membuka pintu, meskipun sudah memakai seragam sekolah rambutnya masih dililiti handuk.
Yati berjalan mendekati gadis berjilbab itu, dan dia semakin dekat.
"Eh loe siapa main tat tit tat tit tuh klakson, emang loe disuruh Fatim jemput gue?"
"Apa Fatim udah pulang?"
Mendengar Yati yang nyerocos seperti bebek membuat Fatim tertawa.
"Busyeeet loe cantik juga kalau ketawa gitu, senyum loe mirip banget sama Fatim fren gue." Memperhatikan Fatim yanh sedang tertawa.
"Loe beneran nggak ngenalin gue? Fren ini gue Fatim ... fren loe!"
Lama Yati terbengong, dia memperhatikan gadis berjilbab itu dari ujung rambut eh ujung jilbab sampai ke ujung kakinya.
*Iya mirip Fatim tapi kenapa Fatim tiba - tiba jadi ustazah, apa karena sering gue sumpahin kalau marah jadi ustazah ya, batin Yati.*
"Heh kok malah bengong sih, niat sekolah nggak?"
"Gue nggak percaya loe Fatim?"
"Nih apa loe inget gue, Dasar loe Oneng, manggil gue emak kapan gue nikah ama bapak loe," ucap Fatim seperti biasanya kalau lagi kesal sama Yati.
"Eh iya itu bener persis ucapan Fatim, karena nggak ada yang manggil gue Oneng selain Fatim."
"Udah sadar loe ini gue?"
"Belom." Nyengir memicingkan matanya.
"Astagfirullah halazim, dasar loe memang Oneng Yatiiiii."
"Iya deh gue percaya loe Fatim, tapi sumpah ya loe cantik tambah cantikkkk pakai jilbab."
"Udah ngomongnya nanti aja, sekarang cepet sisir tuh rambut, kita berangkat dah siang ini."
"Oke ... oke ... tunggu in gue." Berlari kembali kedalam rumah.
Fatim tersenyum melihat Yati yang lari terbirit - birit menuju kerumahnya. Hampir 15 menit Fatim menunggu akhirnya Yati kelar juga.
Setelah berpamitan dengan kedua orantuanya Yati kembali menghampiri Fatim.
"Fren gue siap, yuk berangkat." Naik ke boncengan Fatim.
"Nih helm loe, sekarang lagi musim razia orang jelek." Menyodorkan helm.
"Moh ... nggak mau gue itu sama saja loe ngatain gue jelek."
"Jadi loe ngerasa jelek gitu?"
"Nggak lah secara kan gue anak gadis yang termasuk cantik."
"Ya udah kalau nggak ngerasa pake nih helm."
"Iya ... iya ... sini, bawel banget bu ustazah ini." Mengambil helm dari tangan Fatim dan memakainya.
Fatim hanya tersenyum melihat Yati yang bibirnya sudah mancung 3 senti kedepan.
"Tunggu!"
"Apa lagi sih Oneng?"
"Loe bagaimana naik motornya pake rok panjang gitu?" Menarik rok Fatim.
"Loe tenang aja bisa kok, yuk buruan."
Fatim sudah duduk diatas motornya dan Yati terpesona melihat Fatim bisa menaiki motornya.
"Wihhh hebat Fren gue bisa naik motor beginian pake rok."
"Kalau masih mau ngomong ya udah gue cabut, loe ngomong aja sama tuh rumput - rumput." Menghidupkan motornya.
"Jangan ... jangan ... gue lagi kere nggak punya ongkos." Memeluk Fatim dari belakang.
"Lepas loe nggak usah peluk - peluk gue, geli tahu!"
"He ... he ... iya maaf." Melepaskan pelukannya. Dan saat itu lah Fatim menyetat motornya melaju dengan sedikit kencang.
"Eh copot ... eh copot," ucap Yati kaget sambik menepuk pundak Fatim.
__ADS_1
Sedang Fatim hanya tersenyum merasa rindunya terhadap ke alayan Yati terobati.
Keduanya meluncur menuju ke sekolah SMA Unggulan, dengan perasaan yang gembira karena sudah lama keduanya tidak menikmati kebersamaan mereka.
🌻SMA Unggulan 🌻
Perlahan motor Fatim memasuki parkiran sekolah, disana dia melihat Gladis CS yang sedang berkumpul dengan wajah yang serius.
"Fren! Loe lihat nggak itu Gladis CS," ucap Yati.
"Iya gue lihat nggak usah diperduliin, yuk kita masuk!" Menarik tangan Yati.
Baru beberapa langkah mereka diteriaki oleh Gladis CS.
"Hei curut berhenti loe? Mana teman loe yang sok belagu itu?" Ucap Riska.
Akhirnya terpaksa Yati dan Fatim berhenti.
"Hei loe makhluk aneh, ngapain loe masuk sini hah? Mau ceramah loe?" ucap Gladis.
Semuanya tertawa terbahak - bahak, meledek penampilan baru Fatim dan mereka belum menyadari kalau itu Fatim.
"Heh tunggu kenapa nih curut diam aja, ayo jawab mana teman loe." Menarik rambut Yati.
Yati sudah meringgis menahan sakit karena rambutnya ditarik oleh Riska. Melihat Yati yang sudah kesakitan Fatim menjadi geram ia segera berbalik dan menarik rambut Riska dengan kasar.
"Lepasin teman gue!"
"Akhh sakit tahu, lepas!" Teriak Riska.
Melihat Riska yang kesakitan ditarik rambutnya oleh gadis berjilbab tadi Gladis dengan cepat hendak menarik jilban Fatim namun dengan cepat tangannya dipelintir oleh Fatim.
"Loe jangan pernah menyentuh jilbab gue hah."
"Auwww sakittttt."
Dengan kasar Fatim melepaskan tangan Gladis, dan melepas jambaknnya pada Riska karena Riska juga sudah melepas rambut Yati.
"Loe ada perlu apa mencari gue? Gue orang yang loe cari!" Menatap tajam pada Gladis dan Riska.
"Jadi gadis aneh itu elo curut." Tersenyum meledek.
"Gue ingetin loe berdua ya, gue bukan curut, gue punya nama, F-A -T- I -M." Ucap Fatim menegaskan pada kata namanya.
"Heh loe ngaduin apa kedewan sekolah hah sehingga hari ini gue dan bokap gue dipanggil dewan sekolah?"
"Gue nggak ngelaporin apapun dan gue nggak tahu memahu masalah dewan sekolah." Menarik Yati meninggalkan keduanya.
"Huh sombong sekali anak itu, pokoknya gue akan buat anak itu menangis darah dan mohon untuk pindah sekolah," ucap Gladis dengan senyum liciknya.
Kini keduanya telah memasuki gerbang sekolah, dan semua memandang aneh pada Fatim karena dari ratusan siswa hanya dia sekarang yang mengenakan hijab.
"Bodo' biarkan mata mereka capek, gue mah asyik aja dengan penampilan baru gue jadi gue punya identitas sendiri sekarang nggak ada yang nyamain gue." Tersenyum melitik Yati.
"Loe nggak malu?"
"Whatss malu? Nggak tuh kata Pa ...." Fatim terdiam dia tidak melanjutkan omongannya tiba - tiba buliran bening mengalir disudut matanya, ia teringat Papanya.
"Aduhhh Fren maafin gue ya, gue salah ngomong ya?" Menangkupkan tangannya didepan dada.
"Loe nggak salah kok Fren, gue aja yang sedang ingat sesuatu." Menyeka air matanya.
"Udah yuk kita masuk nggak usah bahas ini lagi." Berlalu menuju kelasnya.
Sampai dikelaspun tidak ada yang berani komen tentang penampilan baru Fatim, semua orang diam, namun masih menatap heran pada Fatim.
Kini Bel panjang telah berbunyi, dan semua siswa sudah memasuki kelasnya masing - masing, dan siap untuk belajar. Sedang menanti guru yang akan mengajar tiba - tiba pengumuman sekolah berbunyi.
"Perhatian kepada ananda kami Gladis Rayendra dan Fatimah Ananbra agar segera menuju ke ruang rapat dewan sekolah sekarang. Demikianlah pengumuman ini kami sampaikan."
"Fren nama loe disebut, ada masalah apa ya?"
"Udah loe tenang aja, bukan masalah yang penting kok, gue keluar dulu ya."
"Loe hati - hati ya, gue nggak mau kalau loe berhubungan dengan Gladis yang jahat itu." Memegang tangan Fatim.
"Inshaa Allah gue aman kok, makasih ya udah khawatirin gue." Berjalan meninggalkan kelas.
Semua siswa ataupun siswi yang bertemu Fatim semuanya memertawakan Fatim, namun bukan Fatim namanya kalau merasa minder atau malu, ia berlalu dengan cuek menuju ruang rapat dewan sekolah.
Sedang asyik berjalan tiba - tiba Hp nya berdering.
Mulia indah cantik berseri
kulit putih bersih merahnya pipimu
Dia Aisyah putri Abu Bakar
Istri rosulullah.
"Halo assalamualaikum Ma, ada apa?"
"Mama sudah disekolahanmu."
"Jadi Mama yang ngadain rapat dewan sekolah?"
"Iya Sayang, memangnya kenapa?"
"Tapi Fatim nggak mau mereka tahu kalau Fatim anak Mama."
__ADS_1
"Iya kamu tenang saja, semua sudah Mama atur kok."
"Mama makasih ya, Mama memang yang terbaik."
"Udah sekarang Mama tutup ya, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh."
Kini perasaaan Fatim sudah tenang, tidak ada lagi kekahawatiran kalau identitasnya akan terbongkar.
🌻 Ruang Rapat Dewan Sekolah 🌻
Semua pemengang saham sekolah sudah berkumpul diruangan, termasuk kepala sekolah, dan guru BK.
"Baiklah selamat datang tim Dewan Sekolah SMA unggulan, kami sangat bahagia atas ledatangan kalian kali ini." ucap Bu Devi selaku guru BK.
"Pertemuan kali ini karena adanya laporan dari kepolisian atas tindak kekerasan yang telah terjadi disekolah kita sekitar dua minggu yang lalu, dimana korbannya adalah ananda Fatim Ananbra."
"Berdasarkan laporan yang telah kami terima dari kepolisian bahwa dalang dari semua ini adalah salah satu siswi kita yaitu Gladis Rayendra."
Wajah bapak kepala sekolah sudah sangat merah karena menahan malu, sedangkan Gladis menutup mulutnya ia tidak menyangka kalau kasus ini sampai kepolisi.
"Kita disini mau mendengar penjelasan dari Gladis, untuk iti silahkan Gladis."
"Gue nggak melakukan semua itu, itu hanya rekayasa Fatim saja untuk menjelekkan sekolah kita."
Nadya yang mendengar pengakuan Gladis sangat marah, dengan cepat ia memasang rekaman video yang didapat saat mereka dikantor polisi.
Melihat video yamg diputar Nadya membuat Gladis nggak lagi bisa berbohong dengan cepat ia bersimpuh dikaki Nadya memohon pengampunan.
"Ibuuu tolong maafkan gue, semua memang gue yang ngelakuin semua gue lakukan karena gue membenci Fatim yamg merebut gebetan gue." Menangis memeluk kaki Nadya.
"Bagaimana dewan sekolah?"
"Kita tindak sesuai peraturan sekolah, dia harus dikeluarkan, dan bila keluarga Fatim ingin, dia bisa kita jebloskan ke jeruji besi," ucap salah satu dewan sekolah yang disetujui oleh yang lain.
*Haduhhh kenapa gue sih yang harua dikeluarkan bukan curut aneh itu, batin Gladis.*
"Maaf semuanya tolong pertimbangkan lagi, kasihanlah anak saya." Memohon kepada dewan sekolah.
"Bagaimana nak Fatim?"
"Eh anu kalau saya, saya sudah memaafkan Gladis dan biarkan dia tetap sekolah sini, kalau dia dikeluarkan kasihan nanti harus adaptasi lagi, dan saya juga memikirkan Bapak Rayendra selaku kepala sekolah, karir beliau pasti akan dipertanyakan oleh orang lain."
Nadya tersenyum ia bangga memiliki putri seperti Fatim, bijak dalam bertindak dan berpikir.
"Baiklah bagaimana dewan sekolah?"
"Oke kita kasih satu kesempatan lagi buat Gladis karena Fatim sudah memaafkannya."
"Baiklah rapat dewan kali ini kita tutup, namun nanti silahkan semuanya bersalaman dan saling memaafkan."
Gladis dengan terpaksa menyalami Fatim disepan para dewan sekolah
"Kali ini loe masih selamat Fatim, namun tidak untuk lain kali," ucap Gladis pedas saat bersalaman dengan Fatim.
"Kita lihat saja loe atau gue yang akan hengkang nanti dari sekolah ini."
Dendam yang bersemayam didalam hati seseorang jika tidak segera dihilangkan akan menjadi penyakit hati yang akan membuatnya buta dan melupakan jalan yang Seharusny ia lalui.
Bersambung.....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Nyanyian Takdir Aisyah.
dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
*Putri Tanjung
OB Kwrudung Biru
*Shohibul Ikhsan
Hitam Putih
Kembar Tidak Identik
*Sudrun
Samudra
*Ergina Putri
My Heart Only For You
Melawan Rasa Takutku
*Sisca Nasti
Mafia In Love
*Almaira
My Secref Wife
My Love My Babysitter
__ADS_1
*Envy Yo WesBen.