Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
KEJUTAN UNTUK YATI


__ADS_3

Sementara itu Fatim dan Yati sudah meninggalkan rumah Rangga.


"Yati loe ikut gue kesuatu tempat ya, gue mau kasih kejutan buat loe."


"Asyikkk kejutan apa Fren?" Sambil berteriak karena laju motor Fatim yang kencang.


"Yeee ... kalau gue kasih tahu bukan kejutan dong."


Yati hanya tersenyum, dia sangat bersyukur telah Allah kirimkan seorang teman yang berhati malaikat untuknya. Keduanya telahelaju kencang membelah keramian jalan dikota Jakarta menjelang malam hari.


Setelah hampir satu jam berkendara akhirnya Fatim dan Yati tiba ditempat tujuan mereka.


"Yuk turun fren kita sampai nih," ajak Fatim.


"Loh kok ke My Cafe sih, katanya tempat yang surprise gitu," protes Yati.


"Udah deh nggak usah bawel, yuk masuk dulu." Menarik tangan Yati.


"Fatim ... kok gelap sih, apa hari ini My Cafe nggak buka ya? Aku takut gelap Fatim," renggek Yati.


"Udah fren, kan ada gue ... loe nggak udah takut." Menggenggam tangan Yati.


Perlahan Fatim membuka pintu Cafe yang gelap, kemudian Fatim mendudukan Yati disebuah kursi yang tidak jauh dari pintu.


"Loe tunggu sini ya, gue nyalain lampu dulu," ucap Fatim.


"Nggak mau ... gue takuttt, Fatimmmm ...." Memeluk Fatim.


"Sebentar doang kok Oneng, tuh saklarnya dibelakang pintu itu." Menunjuk pintu yang tadi mereka lewati.


"Loe beneran kan? Jangan ninggalin gue lama - lama, gue takut," bisik Yati.


"Iya Oneng, resek amat sih fren gue ini." Berjalan meninggalkan Yati.


Dalam keheningan malam yang gelap Fatim meninggalkana Yati yang dicekam ketakutan.


"Fatimmm ... cepet ... gue takut !" Teriak Yati.


Namun yang dipanggil tidak kunjung menjawab, dan tiba - tiba ada sesosok penampakan yang berwarna putih dari balik pintu berjalan mendekati Yati.


"Hei! Siapa loe? Jangan mendekat!"


Namun sosok putih itu semakin mendekat.


"Akkkkkkkk ... awasss loeee ...bukh ...bukh ...." Yati memukul sosok itu dengan sekuat tenaganya menggunakan tas sekolahnya yang penuh buku al hasil sosok putih itu berteriak juga kesakitan.


"Aaaaaaakkk ... sakiiiittt !"


Saat teriakan itulah semua lampu Cafe menyala dan Fatim bersama team My Cafe mendekati Yati sambil menyanyikan lagu Happy Birthday.


" Happy birthday to you."


"Happy birthday ... happy birthday ... happy birthday to youuuuu." Semua orang menyanyi untuk Yati.


Yati yang sudah berlinang air mata karena takut kini menangis semakin kencang, namun kali ini bukan karena takut lagi tapi karena kesal dan haru yang bercampur jadi satu karena diusianya yang hari ini genap 16 tahun baru kali ini lah ulang tahunnya dirayakan oleh teman - temannya, di SMP dulu tidak ada yang memperhatiakan kapan dia ulang tahun karena Yati bukanlah anak orang yang berada.


Fatim perlahan mendekat membawa kue ulang tahun pada Yati. Dan si sosok putihpun ikut membuka kainnya ternyata dia Kak Wawan.


"Fren gue yang cantik, yang sholehah, yang pinter, yang lebay, yang alay, yang kadang - kadang Onengan ... Happy birthday to you, untung aja kemarin gue nggak sengaja lihat biodatamu di buku induk sekolah, ternyata loe birthday hari ini," ucap Fatim sambil tersenyum diiringi ucapan selamat dari pagawai Cafe yang lain.


Yati tidak dapat berkata - kata, air mata haru mengalir deras dipipinya yang putih.


"Fatim ... gue sangat terharu, 16 tahun sudah umur gue sekarang dan ini adalah kue ultah pertama yang pernah gue punya, terimakasih banyak untuk semuanya, begitu juga teman - teman semua, gue ... gue ...." Yati terisak iya tidak lagi sanggup untuk berkata - kata.


Fatim segera merangkul sahabatnya itu, ia dapat merasakan kebahagiaan yang tersembunyi dibalik isakan Yati.


"Fren ... tapi kok kuenya nggak ada lilinnya sih," protes Yati.


"Kata Nyokap gue, kita nggak boleh pake tiup lilin bukan tradisi kita orang muslim, jadi gue sengaja nggak kasi lilin buat loe," jelas Fatim.


"Oo gitu ya fren, oke deh gue nggak jadi protes," ucap Yati sambil tertawa.


Kini mereka duduk mengelilingi Yati yang sedang memotong kuenya. Semua orang dibagi satu persatu. Saat Yati akan memberi Fatim potongan kuenya dia kembali terharu.


"Fren ... ini kado buat loe." Memberikan sebuah kotak kado pada Yati.

__ADS_1


"Loe serius nih buat gue?"


"Yap ... gue sepuluh rius malah," canda Fatim.


"Boleh gue buka fren?"


"Boleh kok, buka aja ... tali loe jangan kaget ada boom didalamnnya," canda Fatim sambil tersenyum.


Dengan antusias Yati membuka kado yang Fatim berikan, pasalnya kotaknya sangat besar seperti dus air mineral kemasan gelas seperti Aqua. Yati semakin kesal karena didalam kotak masih ada kotak.


"Fren loe niat nggak sih ngasih kadonya buat gue, ini udah kotak ketiga yang gue buka," omel Yati.


Fatim dan teman - teman yang lainnya tertawa melihat ekspresi lucu wajah Yati yang kesal.


"Itu gue sengaja untuk melatih kesabaran loe Yati, fren gue yang selalu nggak sabaran," ucap Fatim sambil mencubit hidung Fatim.


"Ihhh ... sakit Fatimmmm." Menggosok hidungnya.


"Kalau hidung gue makin pesek awas ya," canda Yati.


Semua tertawa melihat tingkah kedua sahabat itu.


Yati masih asyik dengan kotaknya, dan ini kotak kelima yang Yati buka, dan akhirnya. Yati diam terpaku setelah membuka kotak keenam. Sebuah Hp Vivo keluaran terbaru yang dibintangi oleh Afghan bersama si Pussy, kini ada digenggamannya.


"Kenapa?" Tanya Fatim.


"Loe nggak suka hadiahnya?"


"Gue ... gue bukan nggak suka, tapi ... gue ngerada nggak percaya kalau ini beneran, tolong loe cubit gue dong fren," pinta Yati.


"Tuss!"


"Auwww ... beneran sakit, jadi gue lagi nggak mimpi dong ya," Celoteh Yati.


Semua orang tak bisa menahan tawa melihat kekonyolan Yati. Saking senengnya Yati segera memeluk Fatim erat.


"Fren ... loe tahu, cita - cita gue lebih giat bekerja untuk apa? Gue ingin punya Hp seperti remaja yang lain, kadang gue iri anak SD aja udah pada punya HP, sedangkan gue udah SMA nggak punya Hp. Dan hari ini mimpi gue udah loe wujudtin. Seumur hidup guepun rasanya gue nggak akan bisa ngebales semua kebaikan loe." Memeluk Fatim semakin erat.


"Iya gue tahu, jadi kalau loe sayang gue tolong lepasin pelukannya, gue sesak napas," ucap Yati.


"Loe mau buat gue mati muda hah, meluk nggak kira - kira," ucap Fatim cemberut.


"He ... he ...maaf fren, habisnya gue seneng banget." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya udah kalau udah puas sekarang kita pulang ya, udah melam juga nih, nggak enak sama ayah dan ibu loe," ucap Fatim.


"Ya udah deh kita pulang ya, tapi loe bantuin gue bawa boneka sama bunga - bunga ini." Menunjuk kado yang diberikan teman - temannya yang lain." Tersenyum manis melirik Fatim untuk merayunya.


"Iyaaa, gue bantuin, yuk buruan!"


Keduanya segera keluar Cafe menuju parkiran.


"Yati ! Tunggu !" Sapa Kak Wawan yang berlari mendekati Fatim dan Yati.


"Nih buat loe! Happy birthday!" Memberikan sebuah kotak kado berwarna pink.


Yati merasa tersanjung, dan tersenyum sangat manis.


"Cieee yang dapat kado spesial dari Kak Wawan," canda Fatim.


"Apaan sih loe fren, jangan buat gue malu napa," bisik Yati sambil mencubit tangan Fatim.


Kak Wawan yang melihat rona merah diwajah Yati semakin terpesona dibuatnya. Yah diam - diam Kak Wawan menyukai Yati saat pertama kali mereka bertemu. Namun ia masih belum menyatakan perasaanya karena merasa Yati masih terlalu muda untuk hal - hal yang berbau asmara.


"Loe nggak ngucapin makasih ya sama Kak Wawan?"Tanya Fatim.


"Eh iya kok gue bisa lupa sih," keluh Yati.


"Kak ... makasih banyak ya kadonya, nanti Yati buka pas dirumah aja ya," ucap Yati.


"Iya boleh, kalian hati - hati dijalan ya, nanti Kakak telepon," ucap Wawan.


"Emang Kakak gue udah punya nomor telepon ya?" Tanya Yati polos.


"Udah Oneng, diHp loe udah ada nomor kontak gue sama Kak Wawan," jelas Fatim.

__ADS_1


"Ooohh maaf gue nggak tahu soalnya," jawab Yati lugu.


"Ya udah yuk kita cabut !" Ajak Fatim.


Kini keduanya sudah meninggalkan Cafe menuju rumah Yati, tak lupa bingkisan makanan untuk kedua orangtua Yati. Hanya dalam waktu hampir satu jam mereka sudah sampai dirumah Yati.


"Alhamdulillah kita udah nyampe, tapi gue nggak mampirnya soalnya udah malem nih, titip salam sajanya buat Ibu sama Ayah loe."


"Oke deh, Fatim! Terimakasih banyak untuk hari ini, gue nggak akan pernah ngelupain hari yang sangat bersejarah dalam hidup gue, sekali lagi terimakasih, gue sayang loe fren." Merangkul Fatim.


"Iya tapi nggak usah pake kambuh juga lebaynya kali," canda Fatim.


Akhirmya Yati melepaskan pelukannya, dan menghapus air matanya.


"Gue pulang ya, nangi gue akan telepon loe."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Motor Fatim telah meluncur membelah keheningan malam.


"Haduhhh, gue lupa tanya sama Fatim." Menepuk Jidatnya.


"Bagaimana ya mengangkat teleponnya nanti kalau Fatim atau Kak Wawan telepon, kan gue belum bisa make ni Hp," gumam Fatim sambil masuk kedalam rumahnya.


*****


Rumah Yati ...


Sampai dirumah Ayah dan Ibu Yati sudah gelisah menunggu putri kesayangnnya, karena nggak biasanya Yati pulang terlambat.


Akhirnya setelah membersihkan dirinya, barulah Yati menceritakan semuamya pada kedua orangtuanya. Air mata haru sekali lagi menyelimuti keluarga Yati.


"Yah ... Ibu ... udah malem nih Yati masuk dulu ya, mau bobok," pamit Yati.


"Ya udah Ndok, jangan lupa gosok giginya dan baca doa," pesan Ayah.


"Iya Ayah." Berjalan menuju ke kamarnya.


Setelah gosok gigi, kini Yati bersiap untuk rebahan, tiba - tiba Hpnya berbunyi.


"Halo halo Papa ada dimana Lili ada disini." Bunyi ringtone Hp Yati.


"Astagfirullah haladzim." Melompat dari tempat tidurnya karena kaget.


"Ya Allah, nih Hp bakal buat gue jantungan, kaget gue mana lagunya kayak gitu lagi, dasar Fatim," omel Yati.


Lama Yati memandang layar Hpnya disana tertera nama Kak Wawan. Tapi Yati tak menyentuh Hpnya karena ia memang belum tahu bagaimana untuk menjawab teleponnya.


Teleponpun ditutup.


"Ah ... aman, udah berhenti," ucap Yati.


Baru saja akan berbaring Hpnya kembali. berdering.


"Halo halo Papa ada dimana Lili ada disini."


*Wah ini Fatim, tapi gimana bicaranya apa yang mau dipencet ya, batin Yati.*


"Halo fren gue nggak dengar suara loe, halo ... halo ...." Teriak Yati didepan Hpnya tanpa menyentuh apapun.


Akhirnya telepon dari Fatimpun lewat begitu saja.


Diseberang sana Fatim bergumam pada dirinya sendiri.


"Kok nggak diangkat sih, atau ... astagfirullah haladzim gue lupa ngajarin Yati cara menerima telepon atau chat, pasti tuh anak kebingungan sama Hpnya," gumam Fatim sambil tersenyum membayangakan tingkah lucu Yati bersama Hp barunya.


"Met bobok fren, semoga loe mimpi indah, gue senang punya sahabat kayak loe tulus tanpa pandang harta atau kedudukan," ucap Fatim menatap foto Yati di Hpnya.


Jangan sungkan untuk membahagiakan oranglain maka suatu saat hidupmu pun akan bahagia, dan berbagilah semampunya karena berbagi tidak harus menunggu kaya. Apapun yang kita bagi akan menjadi berkah untuk kita suatu hari nanti.


Bersambung....


Terimakasih ya sudah membaca karyaku ,jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.

__ADS_1


Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Karyaku Nyanyian Takdir Aisyah dan novel favoritku : Arsitek Cantik, Cinta Untuk Dokter Nisa , My Secret Wife, Putih Abu - Abu, Melawan Rasa Takutku, My love, dan My Princess OG. Aku tunggu ya 😍.


__ADS_2