
🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹
Selamat Membaca!
Base Camp Jefry ....
"Udah ah, hari semakin malam gue pamit, Assalamu'alaikum!" Fatim segera kembali ke mobil dan mulai bergerak meninggalkan camp di bawah jembatan.
Mobil Fatim telah meluncur menuju rumahnya, tidak butuh waktu lama jalanan cukup sepi malam ini, karena udara begitu dingin menusuk tulang, angin berhembus cukup kencang hingga membuat Fatim menutup kaca mobilnya.
"Pak cepat sedikit ya, mau hujan kayaknya," pinta Fatim pada pak Amat, supir keluarganya.
"Iya, Non, ini juga udah cepat. Bapak nggak berani lebih cepat lagi takutnya malah kita kenapa-kenapa, maklum mata bapak mulai kurang pengelihatannya kalau malam." Pak Amat fokus mentap jalan.
Fatim terdiam ikut konsen menatap jalan, kalau-kalau benar adanya pak Amat tidak bisa melihat jalan yang semakin pekat karena rintik hujan mulai turun dengan derasnya.
"Pak, perlahan aja. Hujannya mulai lebat." Fatim mengingatkan pak Amat.
"Iya, Neng. Apa sebaiknya kita menepi saja dulu, sepertinya akan ada badai juga." Pak Amat menoleh pada anak majikannya itu.
"Iya Pak, kita menepi aja dulu. Itu sepertinya ada rumah warga di depan." Fatim menunjuk ke arah depan. Tampak sebuah rumah dengan penerangan yang redup.
Mobil mulai menepi tepat di depan rumah tua yang terlihat seperti tak berpenghuni. Hanya lampu redup sebagai penerang. Tiba-tiba kilat menyambar, seketika susana di sekitar tampak terang akibat cahayanya.
"Bagaimana, Neng? Kita masuk ya?" tanya pak Amat gusar.
"Iya Pak, kita masuk aja. Neduh di pondok itu aja dulu." Fatim segera membuka pintu mobil dan berlari menuju rumah yang dimaksudkan oleh keduanya.
Pak Amat pun segera berlari mengikuti Fatim yang sudah turun duluan.
"Bagaimana, Neng? Apa ada orangnya?" tanya pak Amat yang ikut mengamati susana sekitar rumah.
"Sepertinya ada Pak, mungkin saja suara kita tak tersengar karena hujannya sangat lebat." Fatim mengebaskan pakainnya yahg sedikit basah.
"Apa kita perlu mengabari ibu?" Pak Amat melihat Fatim.
"Tidak usah, Pak. Cuaca sedang tak bersahabat, nanti malah bahaya." Fatim melihat keluar, malam pekat yang sesekali diterangi kilatan cahaya kilat yang menyambar serta diiringi bunyi guruh yang besar, membuat jantung seolah mau copot.
Keduanya terdiam, hujan semakin lebat saja. Hawa dingin mulai menyelimuti keduanya. Tiba-tiba pintu rumah terbuka, keluarlah seorang laki-laki yang masih cukup muda sekitaran umur empat puluh tahunan.
Lelaki itu tampak cemas, dan dia terkejut melihat ada orang lain di teras rumahnya.
"Kalian siapa?" Lelaki itu melihat penuh selidik pada Fatim dan pak Amat.
"Maaf Pak, kami numpang berteduh. Cuaca sedang tidak bersahabat, hujannya sangat lebat." Fatim tersenyum dan mengangguk sebagai tanda menghormati tuan rumah.
"Ohh begitu ya, ayo masuk saja diluar sangat dingin. Tetapi maaf rumah kami mungkin tidak layak untuk kalian." Lelaki itu berbasa basi.
"Terimakasih banyak, Pak," ucap Fatim sopan.
"Apa saya boleh minta air panas?" Pak Amat ikut menimpali.
__ADS_1
Belum sempat lelaki itu menjawab pertanyaan pak Amat terdengar suara teriakan dari dalam rumah sang bapak.
"Ahhhhh ... sakittttttt! Massss tolong aku, aku sudah nggak kuat." Teriak seorang wanita yang sepertinya sedang menahan sakit yang luar biasa.
Lelaki yang ada dihadapan mereka segera berlari ke dalam rumahnya yang diikuti oleh Fatim dan pak Amat. Tampak seorang wanita dengan perut yang besar, keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. Jelas sekali wanita yang kemungkinan besar adalah istrinya lelaki itu sedang kesakitan.
"Kamu yang sabar ya, aku harus kemana dan bagaimana?" Lelaki itu tampak menangis, ia panik, tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Apa dia istri Bapak? Sepertinya ia mau melahirkan." Pak Amat menatap lelaki itu.
"Iya Pak, ini sudah waktunya tapi ...." Lelaki itu terdiam. Air matanya mengalir perlahan dari sudut matanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Fatim menyela pembicaraan dua orang lelaki yang ada dihadapannya.
"Tapi kami tidak ...." Lelaki itu lagi-lagi tak bisa melanjutkan ucapannya karena sudah dipotong oleh Fatim.
"Nyawa istri bapak lebih penting dari segalanya, ayo angkat dia ke mobil!" Fatim meminta dua orang lelaki itu untuk membawa istri lelaki itu yang sudah kesakitan.
"Akhh, sakittt." Wanita itu kembali berteriak.
"Ibu yang sabar ya, kita kerumah sakit sekarang. Inshaa Allah adek bayi dan ibu akan selamat nanti." Fatim berusaha menenangkan istri lelaki itu.
Dalam guyuran hujan mereka bertiga keluar, membawa istri lelaki itu yang sudah sangat kesakitan. Kini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tapi bapak nggak bisa nyetir dalam kondiai seperti ini, Neng," ucap pak Amat bingung.
"Biar Fatim yang bawa, Pak." Fatim duduk di posisi kemudi, dengan pak Amat di sampingnya. Sedangkan lelaki itu bersama istrinya ada di kursi belakang.
"Semuanya pegangan." Fatim tak menghiraukan ucapan pak Amat, dalam benaknya saat ini hanya ingin segera sampai di rumah sakit.
Raungan suara mesin mobil Fatim sudah menderu, dengan cepat ia memasang gigi dan kopling dengan mengucapkan basmallah ia segera menjalankan mobilnya membelah derasnya hujan.
"Akhhh, sakittt! Aku sepertinya sudah nggak kuat, Masss." Wanita itu merasakan sakit yang semakin hebat.
"Bertahanlah, Bu. Inshaa Allah sebentar lagi kita sampai." Fatim melajukan kendaraannya semakin kencang menuju ke rumah sakit.
Derasnya hujan tak menyurutkan keberanian Fatim, dengan kecepatan yang hampir maksimal ia menerobos malam kelam yang dingin. Dia berharap bisa membawa seorang ibu yang akan melahirkan tepat waktu sehingga resiko kehilangan salah satu atau dua-duanya dapat dihindari.
Sementara itu pak Amat wajahnya sangat tegang, ia berpegangan pada kursi yang didudukinya. Sesekali ia mengecek sitbeltnya kalau-kalau terlepas. Sementara dua penumpang dibelakangnya saling berpelukan. Lelaki itu berusaha menguatkan Istrinya yang sudah sangat kesakitan.
Dari kejauhan samar-samar Fatim mulai melihat plang sebuah klinik bersalain, meski itu bukan rumah sakit ia membelokkan mobilnya ke sana.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah klinik. Fatim turun mendahului ketiga orang yang menjadi penumpangnya.
Ting ... tong!
Bel klinik berbunyi Berkali-kali sampai seorang perawat muda keluar dan memarahi Fatim.
"Bisa sabar nggak sih, dan tolong bel nya jangan dibunyikan terus menerus buat sakit telinga saja." Perawat itu memaki Fatim dengan wajah kesalnya.
"Maaf Mbak, soalnya ini darurat. Tante saya mau melahirkan." Fatim segera balik kemobilnya sementara perawat itu juga masuk ke dalam untuk memanggil dokter dan menyiapkan segalanya.
__ADS_1
"Ayo turun!" Fatim meminta ketiganya untuk turun.
"Saya nggak kuat lagi, tolong!" suara istri lelaki itu melemah.
Dengan sigap pak Amat, Fatim, dan suami wanita itu membawanya masuk ke kelinik. Disana sudah disiapkan peralatan untuk melahirkan oleh dokter dan perawat yang akan membantu persalinan istri lelaki itu.
"Yang lain silahkan keluar dulu ya, tetapi suaminya boleh tetap tinggal disini." Dokter itu tersenyum ramah.
Mau tidak mau Fatim dan pak Amat keluar, mereka menunggu di ruang tunggu yang sudah disiapkan.
"Neng, tadi itu bapak hampir jantungan."Tetiba pak Amat memecah kesunyian diantara mereka.
"Kenapa memangnya, Pak?" tanya Fatim pura-pura nggak tahu.
"Neng bawa mobilnya kuenceng banget, udah kayak kolentino Rossi." Pak Amat terkekeh.
Fatim juga ikut tertawa karena pak Amat menyebut nama pembalap motor GP kesayangannya dengan salah.
"Bukan Kolentivo Pak, tapi Valentino," ucap Fatim membenarkan kekeliruan yang dibuat oleh pak Amat.
"Ya itu, maksud bapak itu tadi siapa, Non?" tanya pak Amat dengan wajahnya yang polos sambil tersenyum.
"V-a-l-e-n-t-i-n-o Rossi," Fatim mengeja nama pembalap legendaris berkebangsaan Spanyol itu.
"Iya yang itu. Sumpah bapak benar-benar tegang tadi takut kita mengalami sesuatu." Pak Amat tersenyum lucu.
Fatim juga ikut tersenyum, baru kali ini pak Amat menjadi penumpang nona muda kesayangannya.
Sedang asyik mengobrol tiba-tiba.
"Owek ...owek ... owek," suara tangis bayi memecah keheningan malam, yang membuat Fatim menitikkan air mata haru. Ia teringat akan ibunya, mungkin waktu itu dia juga dilahirkan dengan keadaan ibu yang sangat kesakitan seperti wanita itu.
"Alhamdulillah bayinya sudah lahir." Seorang perawat menghampiri Fatim dan pak Amat.
"Selamat anda sudah menjadi seorang tante, dan anda sudah menjadi seorang kakek." Perawat itu mengira Fatim adalah adik perempuan dari salah satu pasutri itu, dan pak Amat adalah orangtuanya.
Fatim dan pak Amat saling berpandangan dan tersenyum.
Bersambung.....🌹
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Selain itu kalian boleh intip juga novel-novel yang menjadi favorit aku,cerita mereka juga nggak kalah seru. kalau nggak percaya coba aja untuk membacanya.
Atau kalian boleh mampir kemari, cerita mereka juga tak kalah menarik. ini ada di daftar novel favoritku. kalau masih ragu coba aja kalian intip, pasti seru!
__ADS_1