Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
TERLAMBAT MASUK SEKOLAH


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


*****


Rumah Tinggal Abas ....


"Kalian akan masuk kelas tiga, sesuai dengan umur kalian," ucap Rahmat.


"Bukan dari kelas satu, Bi?" tanya Abas lagi.


"Tidak, Bas. Dulu kamu memang minta turun kelas waktu di SD karena Loli, sekarang dia sudah hilang entah kemana, jadi kamu masuk kelas sesuai yang seharusnya," ucap Rahmat penuh penekannan.


"Iya, Bi," jawab Abas singkat. Ada rasa sedih saat abinya menyebut nama Loli, entah di mana gadis kecilnya itu sekarang.


*****


Abas dan Hanafi sudah bersiap dengan seragam putih abu-abunya, mereka tampak sedikit berbeda. Yang biasanya selalu menggunakan peci hitam dan baju koko serta kain sarung. Ada rasa canggung bagi keduanya, meskipun seragam yang mereka gunakan sengaja di buat standar alis tidak ketat.


"Bi!"sapa. Abas pada Rahmat.


"Kenapa?" Rahmat menatap takjub pada putranya yang terlihat gagah dalam balutan seragam putih abu-abu.


"Apa aku boleh pakai peci?" Abas memegang sebuah peci di tangannya.


"Boleh, tidak ada yang melarang anak-anak SMA pakai peci, hanya saja kata kepala sekolah jika hari Senin harus pakai topi itu." Rahmat menunjuk sebuh topi putih abu-abu juga yang berlogo Tutwuri Handayani di depannya. Tentu saja membuat pandangan Abas dan Hanafi mengikuti arah telunjuk Rahmat.


"Kayak anak SD lagi dong, Bi. Kalau pakai itu," Hanafi membuka suara.


Rahmat tersenyum."Yo 'ndak to, Fi. Kalau anak SD warnanya merah putih, kalau SMP putih biru, nah kalau SMA kayak kalian ini ya itu, putih abu-abu." Rahmat terkekeh kecil yang di ikuti gelak tawa kedua remaja yang ada di hadapannya.


Kini keduanya sudah mengganti peci dengan dengan topi putih abu-abu, yang membuat ketampanan keduanya semakin memancar. Abas dengan kulit putih yang kekuningan, hidung mancung, bibir merah alami, hidung mancung, lesung pipi yang manis, dengan rambut sedikit cepak karena baru sehari sebelum ke Jakarta ia memangkas rambutnya yang kemarin sedikit ikal.


Sedangkan Hanafi postur yang tidak setinggi Abas, namun Kulitnya putih bersih, bibir yang juga merah alami karena tidak pernah tersentuh oleh yang namanya rokok, hidung bangir, dengan sedikit rambut-rambut halus yang tumbuh tipis diatas bibirnya yang mirip kumis tipis, membuatnya kelihatan manis. (Semanis es jeruk kali ya, wkwkwkkw).


"Bagaimana? Kita siap berangkat?" Rahmat menatap keduanya.


"Inshaa Allah, siap Bi!" Keduanya memberi salam penghormatan seperti hormat pada bendera.


"Kalian, kayak prajurit mau perang saja," ucap Rahmat tertawa.


Mereka pun bersiap berangkat menuju SMA Unggulan.


*****


Sementara itu di kediaman Fatim. Ia juga tampak sudah bersiap, tampil anggun dengan jilbab putihnya yang rapi, dengan bross bunga mawar berwarna pink melekat indah di pundaknya sebagai penjepit hijabnya, agar tidak melayang.


"Sayang! Belum mau turun, sudah setengah tujuh kurang ini." Nadya berteriak mengingatkan putrinya untuk segera bergegas, meski sekolah itu milik keluarganya bukan berarti ia boleh datang sesukanya.


"Iya, Ma. Ini udah siap kok." Fatim segera keluar kamarnya menuju keruang keluarga tempat Mamanya telah menunggu.


Tap ... tap ... tap ...


Suara langkah Fatim menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa, karena dia merasa sudah kesiangan. Belum lagi harus menjemput sahabatnya yang super lelet.


"Ma, Fatim berangkat ya." Fatim segera menghampiri sang mama dan tak lupa cipika cipiki juga.


"Iya Sayang. Semoga hari mu menyenangkan. Belajar yang benar dan ingat jaga kondisi tubuhmu." Nadya balas mencium kening putrinya lembut.


Sambil berjalan keluar rumah Fatim melambaikan tangannya sampai akhirnya ia naik ke mobil dan menutup kacanya. Perlahan mobil yang dikendarai pak Amat pun mulai bergerak meninggalkan kediaman Fatim.


Fatim sibuk memeriksa ulang buku-buku pelajarannya karena rencananya hari ini ada ulangan beberapa pelajaran yang kemarin tertinggal saat dia di rumah sakit. Saking asyiknya dia lupa jika pak Amat tidak berbelok untuk menjemput Yati sahabatnya.


Sampai akhirnya ponsel Fatim berdering. Dengan cepat Fatim menerima panggilan dari sahabatnya.


*Yaa Allah, Oneng memanggil. Gue lupa jemput. Ampunnn dah, kelar hidup gue bakal dapet ceramah gratiss pagi ini.*


"Assalamu'alaikum!" sapa Fatim pura-pura tidak tahu.


"Frennnn loe di manaaaaaa?" teriak Yati dengan suara merdunya.


"Loe ya bukannya jawab salam gue, malah nyerocos aja. Nih, gue udah di jalan menuju rumah loe!" jawab Fatim dengan tenang.


"Loe, ya. Gue udah jamuran ini. Nunggu in loe dari jam enam pagi ampe ini udah jam tujuuh. Apa loe niat nggak mau jemput gue?" omel Yati panjang lebar yang membuat Fatim merasa bersalah karena melupakan dirinya.

__ADS_1


"Pak, putar balik ya. Kita jemput Yati, lupa beneran Fatim kalau kita harus jemput dia. Nih orangnya udah mencak-mencak," ucap Fatim pada pak Amat.


"Siap, Neng!" Pak Amat segera memutar balik menuju ke rumah Yati sahabat majikannya.


Hanya dalam waktu sepuluh menit mereka sudah sampai.


Tin ... tin ... tin ....


Suara klakson mobil pak Amat sudah berbunyi beberapa kali, namun batang hidung sohib sejatinya Fatim belum juga nonggol.


"Pak! Tunggu di sini aja, udahan bunyiin klaksonnya. Nggak enak sama tetangganya kita bikin ribut pagi-pagi." Fatim segeraa membuka pintu mobilnya dan turun menuju kerumah sahabatnya itu.


Dengan sedikit berlari Fatim sampai di depan pintu rumah Yati. Dengan segera ia Mengetuk pintu dan memberi salam.


Tok ... tok ... tok ....


"Assalamu'alaikum!" ucap Fatim beberap kali.


Namun sepi tidak ada jawaban. Fatim segera menuju pintu belakang yang tampak seperti terbuka.


*Aneh, kemana nih anak? Tumben sepi, om dan tante juga nggak ada. Tapi pintu belakangnya terbuka, coba masuk aja kali ya.*


Fatim masuk lewat pintu belakang, dengan hati-hati ia berjalan. Khawatir kalau-kalau sahabatnya mengalami sesuatu yang buruk. Saat sampai di depan pintu kamar sahabatnya yang ada di ruang belakang sebelum dapur, Fatim baru mau memegang gagang pintu tetapi bersamaan dengan itu pintu kamar belakang pun terbuka dan keduanya terkejut.


"Bujikuneng! Pencuri loe?" teriak Yati yang hendak mengambil sapu.


"Hantu! Loe apa in temen gue si Oneng?" teriak Fatim tak kalah terkejut. Pasalnya Yati keluar kamar masih dengan maskeran yang menempel di wajahnya.


"Enak aje bilang gue hantu, ini gue Yati! Temen loe." teriak Yati kesal.


"Loe juga enak aja bilang gue pencuri," jawab Fatim tak kalah kesal.


"Katanya udah jamuran, tapi ini masih maskeran. Kapan mau berangkatnya, hah?" omel Fatim.


"Iya, maaf. Gue udah bangun dari subuh. Udah mandi udah pake seragam, eh tiba-tiba kebelet, jadi deh buka lagi semuanya dan lanjut pake maskeran ini," jawab Yati sok nggak bersalah.


"Loe ya, bener-bener buat gue kesel. Ya udah gue tinggal aja. Ini udah jam tujuh jalau nunggu in loe ganti baju, cuci muka. Bisa-bisa tahun depan baru kita berangkat sekolahnya." Fatim mulai meledek sahabatnya itu.


"Eit! Nggak boleh gitu dong, masa sama temen sendiri loe tega. Lagian kan asyik kalau sekolahnya tahun depan kita dah naik kelas," jawab Yati yang nggak kalah konyol.


"Ya, udah buruan. Gue banyak ulangan susulan hari ini." Fatim mulai memasang wajah kesal dengan harapan Yati bisa cepat berkemas.


"Iya ... iya ... tunggu in." Yati berlari terbirit-birit menuju kekamarnya untuk berganti pakaian.


Hampir tujuh menit Yati sudah siap dengan seragamnya, tapi wajahnya masih pake maskeran.


"Yuk berangkat!" Berjalan menuju pintu belakang untuk keluar.


"Muka loe?" tanya Fatim sambil memancungkan bibirnya sebagai pengganti jarinya untuk menunjuk wajah sahabatnya itu.


"Biarinlah, nanti bantuin gue lepasin nih maskeran di jalan ya!" pinta Yati tanpa beban.


Fatim hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Keduanya pun segera berangkat menuju SMA Unggulan.


*****


SMA Unggulan ....


Mobil Rahmat sudah terparkir di halamam sekolah yang sangat luas, bahkan hampir melebihi luasnya pondok pesantren yang di kelolanya.


"Ayo turun! Kita sudah sampai." Rahmat mengajak Abas dan Hanafi untuk turun. Keduanya tampak kagum melihat kemegauan sekolah baru mereka.


"Beneran ini sekolahnya, Bi?" tanya Abas yang mulai turun dan menjejakkan kakinya di tanah.


"Iya, ini sekolah kalian yang baru. Yang sekolah di sini semuanya anak-anak orang kaya, kecuali yang lewat jalur beasiswa yang kurang mampu. Jadi kalian pandai-pandai lah bersikap jangan cari masalah dengan anak-anak orang kaya itu." Rahmat menjelaskan sekelumit hal tentang sekolah yang akan di tempati putranya.


"Inshaa Allah, Bi. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga nama baik pondok kita dan juga Abi." Abas menyalami tangan Rahmat dan berpamitan untuk segera memasuki sekolah barunya.


Setelah mengantarkan anaknya dan Hanafi sampai di gerbang utama Rahmat segera pulang kerumah yang akan di tempati anaknya, rencananya ia juga akan menginap selama beberapa hari sampai Abas dan Hanafi memahami jalan yang harus mereka lalui.


Di gerbang utama, Abas dan Rahmat sudah di sambut oleh security yang sudah di tugaskan untuk mengantar keduanya sampai keruangan Kepala sekolah.


"Apa ini Nak Abas sama Hanafi?" tanta security.


"Iya, Pak. Benar sekali." ucap Abas sopan.

__ADS_1


"Kalau begitu ikuti saya, kita keruangan kepala sekolah dulu baru ikut upacara bendera," ucap Security itu ramah.


Ketiganya mulai berjalan menuju keruangan kepala sekolah. Penampilan Abas dan Hanafi begitu mencuri perhatian semua siswa putri yang sudah datang lebih awal. Banyak yang berdecak kagum dengan ketampanan keduanya, di tambah lagi senyum ramah dari keduanya yang membuat meleleh kaum hawa.


Sementara itu diparkiran mobil pak Amat baru saja parkir, suara bel panjang sudah berbunyi dan pintu gerbang pun biasanya akan segera di tutup. Fatim dan Yati segera berlari berhamburan menuju gerbang, mereka terlambat. Dan benar saja gerbang baru saja di tutup. Dengan susah payah Fatim dan Yati memohon pada security agar di bolehkan masuk.


Berhasilkah Mereka masuk? Tunggu di next episode.


bersambung.....🌹


Terimakasih sudah membaca!


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


Ceo dingin dan Gadis Kampung


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


* Karlina Sulaiman


Ceo Somplak


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Novi Wu


Bos Come Here Please!


*Ricky Wijaksono


Api Dibumi Majapahit


*Samar


Cinta Di antara Dendam


* Syala Yaya


Istri kedua tuan Krisna


* Cherin Kauma


l Love My Army Wife


*Oktavia Tresiani


Pacarku Hantu

__ADS_1


__ADS_2