Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim
TAMU DI MEJA SPESIAL


__ADS_3

🌹Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌹


Selamat Membaca!


Rumah Sakit ....


Yaa Allah dek wajah mu ayu tenan. Batin dokter Haris.*


"Nggak apa-apa, nggak jadi." Fatim hendak kembali berjalan sampai dokter Haris menarik tangannya.


"Tunggu Dek! Kamu pasti ada alasannya sehingga mau repot-repot datang kerumah sakit ini," ucap dokter Haris.


"Lepasss, apaan sih main pegang-pagang aja." Fatim menarik paksa tangannya hingga terlepas. Saat itu lah dokter Haris melihat rembesan darah di seragam sekolah Fatim.


"Ini apa?!" Dokter Haris menunjuk kearah perut Fatim yang mulai memerah.


"Itu ...." Fatim terdiam tak bisa menjawab.


"Ayo masuk biar saya periksa dulu." Tanpa menunggu Fatim menjawab dokter Haris langsung menarik tangan Fatim yang membuat sang empunya tangan kaget bukan kepalang.


Dengan sekuat tenaga Fatim menarik tangannya, sehingga terlepas dari pegangan dokter Haris.


Dengan wajah yang sedikit ditekuk dan tatapan mata yang tajam dokter Haris melihat kearah Fatim. Hal ini tentu saja membuat sang gadis merasa sedikit bersalah karena membuatnya tersinggung. Namun Fatim berusaha lebih ketus untuk menutupi kegelisahannya.


"Enggak usah pegang-pagang tangan 'napa? Gue bisa jalan sendiri," sahut Fatim dengan lebih jutek yang membuat dokter Haris tersenyum. Dia baru ingat kalau Fatim berhijab.


"Ia maaf aku lupa, sekarang ikut aku ke IGD ya kita cek dulu kenapa lukamu berdarah kembali." Dokter Haris berjalan didepan Fatim yang diikuti oleh gadis itu dengan perasaan tak enak karena telah merepotkan orang yang harusnya ia hindari.


Kini keduanya sudah berada di IGD, dokter Haris segera meminta Fatim untuk berbaring karena ingin memeriksa lukanya.


"Ayo angkat bajumu!" perintah dokter Haris.


"Nggak mau!" Fatim melenggos.


"Lah! Bagaimana aku memeriksa dan mauengobatinya kalau kamu tidak mau?" Dokter Haris Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Seluruh tubuhku hanya boleh di lihat oleh suamiku kelak." Fatim masih bersikeras.


"Ya sudah kalau begitu, mari kita nikah dulu biar sah nanti baru aku obati lukamu!" Dokter Haris mencandai Fatim meski dalam lubuk hatinya itu adalah perasaannya yang sebenarnya.


"Nggak mau!" Bibir Fatim sudah mancung dengan mata yang melotot. Tentu saja hal ini membuat deretan putih mutiara sang dokter tersembul keluar.


"Jadi bagaimana?" Dokter Haris menaik turunkan alisnya.


"Nggak tahu," jawab Fatim asal.


Para suster yang sedari tadi mendengar cekcok keduanya hanya dapat menahan senyum, sampai akhirnya dokter Haris memanggil mereka.


"Sus! Sini!"


"Tolong bantu saya memeriksa gadis cantik yang jutek ini." Dokter Haris memanggil para suster jaga yang ada di ruang IGD bersama mereka saat ini.


Fatim semakin memancungkan bibirnya karena kesal dokter Haris menambahkan embel-embel jutek di belakang kalimatnya.


Akhirnya datanglah tiga orang suster yang siap membantu dokter Haris untuk memeriksa kondisi luka Fatim.


"Aneh! Lukamu tidak robek kembali tetapi kenapa darahnya merembes keluar. Apa luka dalammu belum sembuh benar kayaknya? Kita perlu USG sebenarnya untuk memastikannya." Dokter Haris terlihat bingung.


"Nggak usah Dok. Gue baik-baik aja kok, ini hanya gue bergerak terlalu keras kayaknya." Fatim berusaha untuk tampak baik-baik saja di depan dokter Haris.


"Tapi takutnya ini membahayakan kesehatanmu ,Dek!" Dokter Haris tampak cemas, namun sepertinya ia tidak bisa menahan Fatim terlalu lama.


"Gue baik-baik saja, Dok! It's ok don't worry." Fatim hendak bangun dari tempat tidurnya tetapi di cegah oleh dokter Haris kembali.


"Jangan bangun dulu, biarkan para suster ini membersihkan rembesan darah itu, sementara aku akan mengambil obat buatmu." Dokter Haris segera berlalu, ia tidak mau terlalu kentara jika dirinya senang dan bahagia bertemu Fatim.


Akhirnya Fatim kali ini mau juga mendengarkan ucapan dokter Haris yang sudah berlalu untuk mengambil obat buat Fatim yang membuat para suster berbisik-bisik. Pasalnya dokter Haris bukanlah orang yang mudah untuk diajak bicara atau mau bersusah payah untuk langsung mengambilkan obat buat Pasienny kecuali keluarga atau seseorang yang dekat dengannya.


Para suster itu semakin penasaran siapa gadis berseragam SMA yang sedang mereka tangani, keluarganya kah Atau kekasih sang dokter? Mereka merasa aneh dengan gadis ini yang secara terang-tarangan menolak perhatian sang dokter sementara mereka berlomba-lomba untuk mencari perhatian sang dokter yang hampir tak pernah ditanggapi.


Setelah selesai mereka sebenarnya ingin mengorek informasi dari Fatim namun dokter Haris telah datang, sehingga mereka mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Dek! Ini obatmu jangan lupa di minum. 'Trus kamu jangan bergerak atau olahraga fisik yang berlebihan. Sepertinya luka bagian dalammu belum begitu sembuh benar makanya bisa berdarah," jelas dokter Haris.


"Iya makasih, Dok! Dan terimakasih untuk semuanya. Gue permisi assalamualaikum!" Fatim menerima bungkusan obat yang diberikan oleh dokter Haris dan segera berangkat dari tempat tidur menuju ke pintu keluar IGD.


Dokter Haris menatap kepergian Fatim dengan senyum yang terukir di wajah tampannya yang membuat para suster yang masih bersamanya meleleh.


Setelah keluar dari rumah sakit Fatim segera masuk ke mobil dan meminta pak Amat untuk segera jalan menuju ke Mf Cafe. Meski dalam benaknya tersimpan pertanyaan yang menggunung namun pak Amat tidak berani mengemukakan keinginannya untuk bertanya.


Fatim segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya ia ingin menelpon sang mama tercinta.


Tut ... tut ...


Suara sambungan ponsel Nadya yang masih belum diangkat olehnya. Setelah hampir lima kami menelpon namun masih tidak diangkat akhirnya Fatim mengirimkan pesan pada sang mama.


Assalamu'alaikum mama sayang


Mamaaaaaaaa


Kenapa telepon Fatim nggak di angkat? Lagi sibuk banget ya?


Mama maaf ya Fatim langsung pulang ke My Cafe ya karena Yati sudah pergi duluan. Inshaa Allah nanti abis magrib baru Fatim pulang ke rumah. Love you Mom.


Fatim segera menutup ponselnya dan meminta pak Amat untuk mengantarkannya ke My Cafe.


"Pak! Kita ke My Cafe ya, gue nggak pulang kerumah dan satu lagi tolong rahasiakan dari mama ya kalau tadi kita mampir ke rumah sakit." Fatim tersenyum menatap pak Amat.


"Iya, Neng. Siap!" Pak Amat membalas senyum Fatim. Wajahnya yang mulai terlihat keriput tidak menutupi sisa ketampanannya di masa muda yang membuatnya menjadi idola dimasanya.


Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di My Cafe suasana tampak ramai dan Fatim segera masuk ke dalam untuk menemui kak Wawan dan sahabatbya. Baru saja melangkah suara khas yang sangat dikenalnya telah menggema dari ujung ruang dapur.


"Frennn kiuuuu miss youuuuu!" Dengan lebaynya Yati segera menghampiri sang sahabat dengan membawa seragam kerja Fatim.


Muah!


Dengan reflek Yati mencium kepala sahabatnya yang tertutup hijab.


"Ihhh apaan sih loe Fren cap cup cap cup, emang gue boneka loe apa," omel Fatim pada sahabatnya sambil menggosok kepalanya.


"Frenku loe pakai sampo apa sih, harum banget tahu, nanti kalau gue gajian mau beli ah," ucap Yati tanpa menghiaraukan Fatim yang kesal karena perbuatannya.


"Shampo baru ya? Kok gue baru dengar." Yati mengikuti langkah sang sahabat menuju ruang ganti.


"Fren jawab dong! Jelantah itu bukannya minyak second ya?" Yati terus menyerang Fatim dengan pertanyaan yang membuat Fatim menghentikan kegiatan ganti bajunya.


"Iya Frenku, lebih wangi lagi kalau pakai bekas goreng ikan asin, mau?" tanya Fatim sambil tersenyum.


"Ogah, yang ada gue dirubungin semut,' cibir Yati yang membuat Fatim tertawa geli melihat ekspresi kesal sang sahabat.


"Yuk kita kerja!" Ajak Fatim pada sang sahabat yang masih setia menunggunya dengan wajah juteknya.


Dengan langkah gontai Yati mengikuti sang sahabat. Baru saja keluar dari ruang ganti kak Wawan sudah memanggil keduanya.


"Fatim! Yati! Tolong segera antarkan pesanan meja delapan dan sepuluh ya. Soalnya itu tamu spesial keduanya." pinta kak Wawan pada kedua gadis spesial dalam hidupnya.


"Siap!" jawab keduanya.


"Fren gue meja sepuluh ya." pinta Yati pada sang sahabat.


"Oke terserah loe aja, gue mah santui." Fatim tersenyum manis pada sang sahabat.


Dengan penuh rasa percaya diri Yati segera membawakan pesanan meja sepuluh. Dan saat sampai Yati dibuat terpesona pasalnya penghuni meja sepuluh adalah Ceo-ceo tampan yang sedang meeting. Wajah Yati seketika bersemu merah tak kala salah satu dari Ceo itu mengucapkan terimakasih padanya.


*yaa Allah tamvannnnn, rugi loe frenku nggak kesini secara mereka omg ganteng dan tajir, batin Yati.


Karena sedang menghayal dan tidak memperhatikan jalannya Yati menabrak meja pembatas .


Brakkkk!


"Aduhhh sakittt! Tapi eh kok gue nggak jatuh ya dan rasanya malah empuk," gumam Yati.


"Loe baik-baik aja kan, Yati?" tanya kak Wawan.

__ADS_1


"Eh gue ... maaf Kak!" Dengan cepat Yati segera bangun dari tubuh Wawan yang ternyata telah menjadi alas tubuh Yati saat terjatuh tadi. Wajah YATI sudah memerah menahan malu, untuk pertama kalinya jantung YATI berbetak aneh.


Melihat adegan yang cukup membuat Fatim tersenyum, dia memutuskan untuk segera menuju meja delapan tanpa menunggu penjelasan sang sahabat ada apa di meja sepuluh.


Dan saat ini tibalah giliran Fatim menuju meja delapan. Kira-kira siapa ya tamu spesial di meja delapan?


Tunggu di next episode ya. Dan untuk kesekian kalinya aku minta maaf karena terlambat untuk Up karena aku benar-benar lagi sibuk. Sebenarya kemarin sudah mau UP apalah daya tulisannya kurang masih sedikit jadi baru ditambahin hari ini. Maaf ya.... Love you all dan terimakasih.


Bersambung.....🌹


Terimakasih sudah membaca!


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


Ceo dingin dan Gadis Kampung


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


* Karlina Sulaiman


Ceo Somplak


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Novi Wu


Bos Come Here Please!


*Ricky Wijaksono


Api Dibumi Majapahit


*Samar


Cinta Di antara Dendam


* Syala Yaya


Istri kedua tuan Krisna


* Cherin Kauma


l Love My Army Wife

__ADS_1


*Oktavia Tresiani


Pacarku Hantu


__ADS_2