Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja

Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja
Bab 113


__ADS_3

"Nyonya, Nona mau ngapain jam segini ke dapur?" Tanya salah seorang bibi yang kebetulan mau mengambil minum.


"Ehhh... Bibi, mau bikin jus bi" ujar Zahra sopan, walau pun sudah menjadi istri orang kaya, Zahra tidak pernah sombong dan membeda bedakan orang sama sekali.


"Subuh subuh gini mau bikin jus?" tanya Bibi ke heranan.


"Iya, lagi pengen saya bi" ujar Zahra.


"Jangan Nya, nanti du marahin Tuan" nasehat bibi.


"Ngak akan, dia lagi ngak di rumah" ujar Zahra masih kekeh.


"Masa ngak ada sih, kan semalam ada" tanya bibi lagi, ngak mungkin Tuannya itu pergi tengah malam.


"Lagi beli bakso bi" ujar Zahra melihat kebingungan sang Bibi.


"Haa... Bakso, mana ada yang jual jam segini" ujar Bibi.


Zahra hanya mengedikan bahu acuh.


"Ya sudah biar saya yang bikinin jusnya" tawar si Bibi.


"Ngak mau, saya mau Filona yang bikinin" rajuk Zahra.


"Astaga kakak gue ini kenapa deh, malah ngerusuh subuh subuh gini" dumel Filona.


"Nya, nyonya sudah datang bulan belum?" tanya si bibi hati hati.


"Belum tuh, sudah semenjak nikah belum datang bulan" jawab Zahra santai.


Bibi tersenyum simpul, dan akan memberi tau Nyanyo besarnya nanti.

__ADS_1


"Pantas kelakuannya ajaib" gumam si Bibi.


"Bibi ngomong apa?" tanya Zahra yang hanya mendengar gerutuan bibi.


"Ahh... ngak ngomong apa apa, ini benaran saya ngak bantuin Nya?" tanya Bibi.


"Iya Bi, bibi istirahat aja" ujar Zahra.


"Ini kak" Filona memberikan jus permintaan sang kakak.


"Makasih adek cantik kakak" ujar Zahra dan lansung meneguknya jus tersebut tanpa basa basi.


Glek..


Glek...


Ahhh....


"Astaga kakak gue ketempelan Jin apa ya?" gumam Filona, kembali membersihkan peralatan yang dia pakai sebelum meninggalkan dapur tersebut.


Lucas benar benar frustasi mengelilingi jalan, tidak ada tukang bakso yang buka, lantaran hari sudah mau subuh.


"Mau cari kemana lagi coba" kesal Lucas.


"Coba jalan ke arah kampus di depan sana bang, kata teman aku, di sana ada warung bakso yang buka 24 jam" ujar Filio.


Baik lah, mudah mudahan aja ada ya..." ujar Lucas penuh harap.


Sementara di rumah Zahra sudah tidur dengan pulas nya, tanpa memikirkan suaminya yang sedang mencari bakso dia.


"Haa... Buka Yo!" pekik Lucas kegirangan, menemukan kedai bakso yang masih buka.

__ADS_1


"Mang, masih ada?" tanya Lucas.


"Masih, pak, paling cuma satu mangkok doang yang komplit" ujar pedagang tersebut.


"Ngak pa apa mang saya mau" ujar Lucas denga senang hati.


"Jadi berapa ini pak?" ujar Lucas mendapat tiga bungkus bakso


"Enam puluh ribu pak" ujar si bapak, Lucas lansung menyerahkan selembar uang seratus ribu, lalu lansung meninggalkan kedai bakso tersebut.


"Pak kembaliannya" ujar si mamang, karena Lucas sudah pergi.


"Buat mamang aja" ujar Lucas.


"Makasih banyak Pak" ujar si mamang dengan tersenyum senang.


Lalu Lucas lansung pulang.


"Akhirnya...." ujar Lucas bernafas lega.


"Bang, nanti berhenti di apotik depan ya" pinta Filio.


"Mau ngapain, kamu sakit?" tanya Lucas panik.


"Bukan, mau beli tespek buat kak Zahra, aku curiga dia hamil, dengan cerita yang abang bilang, seperti orang ngidam" ujar Filio.


"Haaa... serius!!" pekik Lucas kegirangan.


"Mudah mudahan aja" ujar Filio ikut senang, dia akan mendapatkan keponakan lagi.


Lucas menepikan mobilnya di apotik dan menunggu Filio membeli tespek, dia lansung senyum senyum sendiri, da ingin segera sampai di rumah menemui sang istri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2