
"Ini dari mommy sayang?!" ujar mommy Lusi memberikan sebuah kotak dengan ukuran lumayan besar.
Zahra menerima kotak itu dengan masih sesegukan dan membukanya.
"Mommy.... hiks... hiks...." tangis Zahra kembali pecah, karena isi kotak tersebut seperangkat perhiasan berlian, Zahra tidak bodoh, dia bisa tafsirkan harganya sampai 2M lebih.
"Jangan nangis dong, mommy hanya kasih ini doang" ujar mommy Lusi dengan santainya sambil memeluk menantu kesayangannya itu.
Lucas pun mendekat memberikan sebuah amplop di tangan Zahra "Ini dari mas sayang" ujar Lucas.
"Apa ini...?" tanya Zahra yang belum berhenti dari tangis nya.
"Buka lah..." jawab Lucas tersenyum lembut kepada sang istri.
Zahra kembali membuka amplop tersebut, dia tak bisa berkata apa apa lagi, Zahra merosot terduduk di lantai, karena begitu tiba tiba hari ini dia di kejutkan dengan banyak kado mewah dalam hidupnya, Lucas memberikan sertifikat kepemilikan rumah, satu anak perusahaan dan surat mobil kepada Zahra, bagaimana dia tidak syok tiba tiba.
"Hiks... hiks... ini berlebihan, aku bahkan belum melakukan apa apa kepada kalian" ujar Zahra sambil sesegukan.
"Cukup jadi istri yang baik, menantu yang baik dan beri kami cucu yang banyak, tapi belum bisa kasih cucu juga ngak pa apa, pelan pelan aja, yang penting kalian selalu bahagia kami sudah senang" ujar mommy Lusi yang tidak ingin menekan menantu nya dengan masalah cucu, karena soal keturunan itu tergantung yang maha kuasa menitipkannya, dulu dia juga lama mendapatkan Lucas bahkan pernah keguguran, jadi sebagai wanita Mommy Lusi tau betul perasaan seorang wanita saat di tanya tanya kapan hamil, dia tidak mau menantunya tertekan dengan pertanyaan seperti itu, Zahra menjadi menantu yang patuh, menurut sama suami dan tidak neko neko saja sudah cukup bagi dia.
"Terimakasih mommy, Terimakasih sudah menerima aku dengan segala kelebihan dan kekurangan ku, menerima adik adik dan anakku" ujar Zahra yang masih setia nemplok di lantai di ikuti yang lainnya.
__ADS_1
"Ya sudah ayo diri, lantainya kotor sayang, dan dingin" seru Lucas membantu sang istri untuk berdiri, dan menghadiahkan kecupan mesra di pipi Zahra, tentu saja Zahra menjadi malu, karena banyak orang di sana, namun suaminya itu tidak tau tempat, suka main sosor aja.
Karyawan Zahra jadi ikut terharu dan bahagia melihat bos mereka mendapat keluarga yang menyayangi Zahra dan adik adik dengan tulus.
"Ok... karena sekarang aku sudah jadi orang kaya" sombong Zahra sambil terkekeh, namun orang di sana pun ikut terkekeh, mereka tau Zahra hanya bercanda, sombong bukanlah sifat Zahra.
"Kalian yang masih kuliah uang kuliah kalian kak Zahra yang tanggung ok..., terimakasih sudah setia mendapingi kakak, jatuh bangun kakak kalian selalu ada di sisi kakak, dan tidak pernah meninggalkan kakak sendirian, jadi mulai sekarang kakak menunggung biaya kuliah kalian" ujar Zahra dengan tersenyum tulus kepada para karyawan itu.
"Horeee.... kak Zahra paling the best, makasih kak...!" sorak mereka dengan sangat bahagia, bagaimana tidak, bos mereka masih tetap mengingat mereka walau sudah menjadi orang kaya.
"Tapi kalian harus tetap rajin bekerja, kuliah jangan sampai bolos, dan yang terpenting kalian jujur" ujar Zahra sambil tersenyum.
"Siap kak....!!" sahut mereka serempak dan semangat.
"Tenang kak, karyawan baru sedang kami cari" ujar Yudi.
"Loh.. kamu udah gercep aja Yud" kekeh Zahra sambil sedikit kaget.
"Iya kak, soalnya Tuan Daddy bilang mau cari karyawan, jadi aku lansung gercep kak" sahut Yudi sambil terkekeh.
Semua orang juga terkekeh, bukan karena Yudi yang mencari karyawan, tapi sebutan Yudi kepada mertua Zahra itu, dia menyebut Tuan Daddy bukan Tuan Bagas seperti yang lainnya, memang anak itu agak lain dari yang lain.
__ADS_1
Akan tetapi panggilan Yudi tersebut membuat Tuan Bagas senang alang kepalang mendapat panggilan Tuan Daddy.
"Ok, pertahankan panggilan kamu itu Yud, saya suka, nanti saya kasih kamu bonus" kekeh Daddy bagas.
"Beneran Tuan Daddy aku mau di kasih bonus, Alhamdulillah.... bisa kawin!" sorak Yudi.
"Nikah dulu baru kawin!" sewot Zahra.
"Iya itu maksudnya kak" kekeh Yudi meralat kesalahannya.
Yang lain hanya geleng geleng kepala melihat tingkah nyeleneh Yudi itu.
"Ya udah klau kamu nikah, nanti biayanya saya kasih" putus Lucas yang tidak mau kalah.
"Haaa serius Tuan abang....!!" ujar Yudi sambil terlonjak kaget.
"Iya... masa saya bohong, malu dong sama wajah tampan saya" sombong Lucas.
"Ayang.... ayo kita nikah...!" teriak Yudi memanggil kekasihnya yang memang satu tempat kerjaan dengan dia.
Tentu saja Nita yang di panggil begitu jadi malu alang kepalang, kekasihnya itu memang suka bertingkah konyol membuat dia malu, namun dia cinta.
__ADS_1
"Cie.... Nita.... mau nikah sama ayang Yudi...." sorak teman temannya.