
Kini Zahra dan Lucas sudah berada di sebuah Villa, Lucas lansung membawa sang istri ke kamar mereka, karena hari sudah malam, maklum mereka tadi berangkat sudah mulai sore dan terjebak macet.
"Sayang... kamu mau mandi ?" tanya Lucas kepada sang istri.
"Ngak ah mas, cuci muka, tangan sama cuci kaki aja, dingin hiii..." ujar Zahra.
"Ya sudah sana cuci mukanya, mas mau ke bawah dulu minta bikinin minuman sama bibi" ujar Lucas.
Zahra lansung masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan wajah, tangan dan kakinya, beruntung di sana tersedia air hangat.
Ceklek....
Pintu kamar terbuka, menampakan Lucas yang membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan untuk mereka.
Lucas tersenyum melihat sang istri sudah menggulung tubuhnya dengan selimut tebal.
"Dingin banget ya sayang...?" tanya Lucas kepada sang istri, dia duduk di samping Zahra yang sedang bergelung itu, sambil membelai kepala istri cantik nya itu.
"Hmmm... dingin banget" adu Zahra.
Lucas hanya terkekeh dan menghujami pipi sang istri dengan kecupan kecupan lembut.
"Mas cuci muka sama ganti baju dulu gih" titah Zahra.
"Ok... tapi kamu minum dulu ya, biar hangat perutnya" ujar Lucas.
"Nanti aja bareng mas" balas Zahra, yang males membuka selimutnya itu.
__ADS_1
"Ya sudah, tunggu mas dulu, mas kekamar mandi dulu, kamu jangan tidur duluan ya" ucap Lucas, yang lansung berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Padahal sudah ngantuk ini, masa masih suruh nunggu sih..." gumam Zahra, melihat suaminya yang sudah masuk ke dalam kamar mandi dengan terburu buru.
Sementara itu di tempat yang berbeda di Ruko Zahra, sudah ramai orang, ada mommy, daddy Lucas beserta Emely datang ke sana.
"Emang kita mau kemana sih oma, kok du suruh beres beres?" tanya Kenzo.
"Kalian pindah tempat tinggal sayang, sekarang kalian ngak tinggal di sini lagi, kalian tingga di rumah baru ok!" tutur mommy Lusi.
"Apa kami bakal pisah sama bunda?" tanya Kenzo sendu, jujur dia tidak ingin berpisah dari wanita itu, dari kecil hingga sampai saat ini Zahra lah yang merawatnya, wanita yang berperan penting dalam hidupnya itu, begitu pun dengan ke dua adik kembar Zahra itu, jujur mereka belum siap untuk berpisah dengan sang kakak, namun mereka sadar, kini kakak mereka sudah menikah dan kakak mereka bukan lagi milik mereka seutuhnya, walaupun berat mereka harus ikhlas.
"Haiii... kamu ngomong apa sih... kamu akan tinggal di rumah baru kamu, tentu saja bersama dengan bunda dan ayah kamu sayang, jangan berfikir buruk, kalian juga cepat siap siap, ambil barang barang penting saja, ngak usah bawa barang banyak, di sana mommy sudah menyiapkan ke perluan kalian" ucap Mommy Lusi.
Sontak saja wajah sendu ketiga anak manusia itu berbinar cerah, karena mereka tidak akan di pisahkan dengan orang yang sangat penting dalam hidup mereka.
"Siap aunty..." jawab Kenzo semangat.
Setelah semua selesai, meraka berangkat ke rumah baru, yang akan mereka tempati.
Baru saja mereka ke luar dari ruko itu, mereka sudah di sambut oleh ibu ibu yang ingin membuat onar di ruko itu.
"Hehh... mana Zahra, perempuan udik itu mana!, suruh keluar, saya mau bikin perhitungan sam dia!!" teriak ibu ibu itu.
"Ada urusan apa Ibu cari kakak kami?" tanya Filio yang masih bisa bersikap sopan.
"Ngak usah banyak tanya kamu, kakak kamu itu benar benar biang masalah, gara gara dia anak saya jadi pembangkang tau ngak, dia menolak saya jodohkan" marah Ibu itu.
__ADS_1
"Anak Ibu yang ngak mau di jodohin, kenapa nyalahin kakak aku?" bingung Filona
"Iya... gara gara kakak kamu, kaum rendahan, dan wanita murahan itu, anak saya kekeh ingin menjadikan Zahra istrinya, bahkan saya sudah mencarikan wanita berkelas jauh dari kakak kalian itu, namun anak saya sudah kemakan pelet kakak kamu, jadi pembangkang sama saya!" maki ibu itu
"Lah emang anak nenek ikan, masak di kasih makan pelet sama bunda aku?" polos Kenzo.
"Heh... anak haram, kamu ngak usah ikut ikutan kamu, bapak kamu aja ngak tau siapa, malah sok bela bela ibumu yang murahan itu!!" hina Ibu itu.
"Stop ya nenek gayung, ngatain aku anak haram, sudah berapa kali aku kasih tau, aku bukan anak kandung Bunda Zahra, bunda adalah adik dari mendiang papa saya, ngerti ngak! bukan bunda saya yang murahan, anak nenek aja yang tergila gila sama bunda aku yang cantik itu, lagian buat apa bunda akuau sama anak nenek itu, semetara bunda aku sudah menikah dengan laki laki tampan dan kaya raya" marah Kenzo dan sekaligus memberitahu ibu itu.
Kenzo bukan marah karena dirinya yang di katai murahan sama ibu itu, dia marah karena bundanya yang di hina, di katai wanita murahan, Kenzo tidak terima dengan itu.
"Halah.... ngak usah halu kamu ya, orang tua mana yang mau menikahkan anaknya sama Zahra itu, hidup mereka akan di poroti sama kalian, hii... saya saja ngak sudi apa lagi orang lain" ocek nenek gambreng itu.
"Stop anda menghina menantu saya, anda yang murahan dan tidak berkelas, jangan pernah usik menantu saya, sekali lagi kamu usik, lihat apa yang saya lakukan klau anda masih mengusik menantu kesayangan saya!" ancam Mommy Lusi.
Ibu ibu itu lansung kicep, saat melihat wajah mommy Lusi, siapa yang ngak tau dengan mommy Lusi, semua orang kenal dengan istri pengusaha kaya itu, mommy Lusi juga mempunyai galeri perhiasan mewah di kota itu.
"N-nyoya..." gugup nenek itu.
"Apa....kenapa anda gagap"
"T-tidak nyonya, klau gitu saya pulang dulu" ujar nenek itu, terburu buru, karena takut dengan mommy Lusi, karena mommy Lusi bukanlah tandingan dirinya.
"Huu... baru di gertak gitu aja mencret" gerutu mommy Lusi.
"Sudah sayang... ayo kita berangkat, kasian anak anak mereka belum makan" ujar Daddy dari dalam mobil.
__ADS_1
Bersambung....