
Di sebuah ball room hotel bintang lima, dengan sekali tarikan nafas dan dengan suara lantang Adrian berhasil mengucapkan ijab kabul, menjadikan Filona sebagai milik Adrian seutuhnya, dan terdengar juga suara kata sah dari para saksi yang menyaksikan pernikahan Adrian dan Filona itu.
Filona yang berada di sisi Adrian dan kini sudah berstatus suaminya itu, lansung meneteskan air mata harunya, kini dia bukan lagi seorang gadis lajang, dia sekarang sudah berstatus istri dari seorang Adrian.
Sementara itu, Adrian terlihat sangat lega telah berhasil menjadikan wanita tercintanya itu, sebagai istrinya, tidak ada lagi penghalang bagi dirinya, untuk berdekatan dengan sang istri.
"Silahkan di pasangkan cincin pernikahannya." ucap penghulu.
Adrian dengan sangat memasangkan cincin berlian di jari manis tangan kanan sang istri, dan tidak lupa memberikan kecupan di dahi istrinya dengan perasaan dalam.
Filona sampai memejamkan matanya, merasakan kecupan di dahinya, dari laki laki yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya, kecupan itu meresap ke dalam hati Filona.
Filona ikut memasangkan cincin di jari manis sang suami, dan mencium tangan Adrian penuh khitmad, Adrian mengusap kepala sang istri penuh kasih.
Setelah itu, mereka menandatangani surat nikah mereka, dan penghulu membaca do'a untuk kebahagian ke dua mempelai, setelah acara sakral itu berlalu, baru lah acara foto foto bersama dan para tamu bergantian mengucapkan selamat kepada ke dua pengantin itu.
"Selamat sayang, semoga kebagaian selalu menyertai kalian, dan selamat datang Lona kedalam keluarga Bunda." ucap Bunda Sinta sambil memeluk menantu kesayangannya itu.
"Makasih Bunda, bimbing aku, tegur aku klau aku salah ya bun," ucap Filona penuh hormat kepada sang mertua.
Adrian begitu senang Bunda dan istrinya saling menyayangi
Dan jangan lupakan seorang perawat Bunda sinta yang menatap tidak suka kepada Filona, karena Adrian pujaan hatinya malah memilih menikah dengan perempuan manja, menurut Heni itu.
"Selamat ya, atas pernikahan bapak dan mbak Filona, tapi jangan mentang mentang sudah menikah dengan pak Adrian anda hanya perduli sama pak Adrian saja, anda juga punya kewajiban mengurus bundanya." ketus Heni, yang memang tidak menyukai Filona
Deg....
__ADS_1
Filona jadi mengerutkan dahinya mendengar ucapan seorang pekerja yang terlalu lancang kepadanya, padahal Filona sekarang juga sudah menjadi istri Adrian otomatis dia juga majikan Heni, namun kenapa wanita itu seolah oleh dia yang berkuasa, membuat Filona tidak habis fikir dengan wanita itu.
Adrian juga menjadi kesal setengah mati kepada Heni itu, bagaimana bisa dia berkata seperti itu kepada sang istri, ingin rasanya Adrian memaki heni saat ini, tapi itu tidak mungkin, karena dia tidak ingin acaranya akan menjadi rusak atas kelakuan Heni itu.
"Mbak tolong sopan kepada istri saya, mulai saat ini Filona juga majikan anda mbak, jadi jangan lancang kepada istri saya, dan tidak perlu mengajari istri saya tentang menjaga bunda saya, dia tau caranya merawat bunda saya, dan satu lagi, anda saya bayar untuk menjaga bunda saya, bukan untuk berkata lancang kepada istri saya, cukup sekali ini saja anda bicara lancang kepada istri saya, dan saya tidak ingin mendengar ke dua kalinya, klau anda tidak suka, silahkan keluar dari rumah saya." tekan Adrian dengan tatapan mata tajam, dan beruntungnya di sana hanya tersisa keluarga Lucas dan bundanya, dan beberapa orang pelayan rumah lucas dan Adrian yang dia ajak kesana.
"Astaga pelayan satu ini ingin, gue sleding deh." gerutu Emely.
Filona begitu bahagian di bela oleh sang suami, dan dia yakin wanita satu ini diam diam menyukai suaminya, klau tidak mana mungkin dia bisa berkata seperti itu kepada dirinya.
"Mbak tenang saja, saya tau tugas saya sebagai istri dan sebagai menantu, dan mbak ngak usah repot repot memberi tau saya, tugas mbak itu hanya menjaga mertua saya, bukan menjedi pengamat dan penasihat saya, dan tolong jaga sikap mbak kepada saya, walau saya masih kecil dari mbak, tapi kedudukan saya lebih tingga dari mbak, di sini saya adalah majikan dan anda hannya babu, jadi jelas perbedaan kita." tekan Filona.
Dia tidak akan mau harga dirinya di injak injak oleh pelayan di rumah nya nanti, ini baru satu orang belum yang lainnya pikir Filona, dia harus bisa juga mengeluarkan taringnya kepada orang orang yang merendahkan dirinya.
Adrian begitu senang melihat sang istri bisa membela dirinya, dan melawan kepada Heni, dia berharap sang istri akan seperti itu kepada orang orang yang mengusik dirinya, tidak menangis dan menyerah, tapi melawan, ya, Adrian butuh wanita tangguh seperti itu, manja terhadap dirinya, hormat kepada bundanya, tegas kepada bawahan atau orang yang ingin merendahkannya.
"Heni, tolong jaga bicara kamu kepada menantu saya, kamu tidak pantas bicara seperti itu kepada menantu saya, dia tau yang dia lakukan kepada saya, ingat kamu hanya pelayan, bukan siapa siapa, jangan merasa jadi ratu di rumah anak saya, mentang mentang saya berbaik hati kepada kamu, dan anak saya memberi keleluasaan kepada kamu, jadi kamu ngelunjak, itu tidak pantas, ngerti. Ratunya di rumah anak saya, ya menantu saya, kamu hanya pesuruh, jadi mengerti dengan kedudukan kamu." ucap Bunda Santi, sejujurnya dia bukan lah orang yang suka merendahkan orang, namun menantunya di senggol orang dia pun tidak terima.
Nyali nya mendadak menciut, karena dia tidak menyangka Adrian dan Bunda Santi akan membela habis habisan Filona, padahal dia sudah percaya diri Adrian dan Bunda Santi berpihak kepadanya, namun nyatanya, dia salah.
Sementara Zahra, Filio dan Kenzo menatap gemes kepada Heni, Kenzo hanya tersenyum penuh arti, rupanya dia punya mainan baru di rumah aunty nya nanti, dia tidak akan meninggalkan aunty seorang diri di rumah itu.
Sementara Lucas, Emely, mommy dan Daddy Lucas itu, sudah terkekeh melihat ke arah Kenzo, dia tau apa yang akan di lakukan oleh bocah ajaib itu, dia tak akan melepaskan orang orang yang mengganggu ke dua wanita kesayangannya itu, seperti kemarin, Bi Siti dan Wati tidak betah berada di rumah Lucas, hanya bertahan dua hari, dia selalu saja membuat ulah kepada Bi Siti dan Wati.
Setelah acara salam salaman penuh drama itu, mereka kembali ke kamar masing masing, karena acara resepsi mereka akan di adakan sore nanti.
"Sayang...." panggil Adrian kepada sang istri yang sudah berganti baju dan juga sudah segar, karena Filona memilih mandi karena ke gerahan, setelah acara akad tadi.
__ADS_1
"Iya kak," sahut Filona malu malu.
"Sini sayang," ujar Adrian menepuk pahanya, agar sang istri duduk di pangkuannya.
Filona berjalan dengan malu malu ke arah Adria, sungguh jantungnya tidak bisa di ajak kompromi dia berdetak sangat kencang, dan itu bisa di rasakan oleh Adrian.
"Kenapa gugup gitu hmmm..., kan ini suami kamu sayang." kekeh Adrian, dan memeluk sang istri di atas pangkuannya itu, dan tidak lupa bibirnya sudah mengecup kesana kemari tanpa ada rasa canggung.
"Aku malu kak." ujar Filona dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Kenapa harus malu sayang, sekarang kakak Milik kamu sayang." bisik Adrian di telingan sang istri.
Adrian terus mencium pipi sang istri, Filona hanya pasrah, dan menikmati apa yang di lalukan oleh suaminya itu, dia juga masih awam dan belum mengerti soal beginian, karena baru Adrian lah yang menyentuh dirinya.
Setelah melakukan adengan tipis tipis, menggeranyangi tubuh sang istri, tidak sampai melakukan hubungan suami istri, karena dia tidak ingin sang istri kelelahan saat acara nanti sore.
"Kita istirahat yuk... biar nanti segar di pelaminan." ajak Adrian menggendong sang istri keatas tempat tidur mereka, di kamar hotel tersebut, dan itu adalah kamar pribadi Adrian, karena hotel tersebut milik Adrian, dan Adrian pun sudah menyediakan pakaian sang istri di dalam sana.
"Kak, aku berat loh..." ujar Filona yang mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Mana ada berat, badan kecil kaya gini." ujar Adrian sambil melu mat bibir sang istri sambil berjalan ke atas peraduan mereka.
"Tidur lah sayang," ujar Adrian sambil mengecup dahi sang istri, sambil memeluk istrinya.
Filona pun tak sungkan, dia ikut membalas pelukan sang suami.
Bersambung....
__ADS_1