Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja

Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja
Bab 154


__ADS_3

"Dedek, abang sekolah dulu ya, kamu jangan rewel, jangan bikin bunda capek ya, nanti saat pulang sekolah, abang ajak kamu main ok." ujar Kenzo saat ingin berangkat sekolah, semua yang mendengar celotehan Kenzo itu, jadi tersenyum.


"Iya, abang aku ngak aka rewel, dan ngak akan bikin bunda capek." sahut Zahra dengan menirukan suara anak kecil.


Lucas tersenyum melihat interaksi anak dan istrinya itu, dia menekat ke arah mereka.


"Haiii.... Bidadari dan para jagoan ayah," seru Lucas mengecup dahi Zahra dan juga mencium pipi Kenzo dan si kecil Kenzie.


"Haaiii.... juga Ayah...." ucap Kenzo tersenyum senang kepada sang ayah.


"Abang mau ikut ayah atau Om Lio?" tanya Lucas.


"Abang mau sama Om Lio aja naik motor." ujar Kenzo, Filio memang lebih suka menaiki motor, walau sudah mempunyai mobil, yang di belikan oleh Daddy Bagas, namun dia lebih suka memakai motor, alasannya lebih gampang dan mudah menyalip di jalanan.


"Baik lah, tapi jangan lupa pakai helm, nanti pulang di jemput sama opa, ingat, jangan pernah mau di jemput sama orang lain, mau apa pun alasannya, tunggu orang rumah sendiri yang menjemput, ok." ujar Lucas.


"Baik Ayah.." sahut Kenzo dengan sopan.


"Anak pintar..." puji Lucas mengkusuk rambut Kenzo.


"Ayah... Rambut abang jadi berantakan lagi." cemberut Kenzo.


"Hahaha.... Ayah ngak sengaja," ujar Lucas merapikan rambut anaknya itu.

__ADS_1


Di rumah sebelah, Filona dengan menyiapkan sarapan untuk suami dan ibu mertuanya.


"Sayang, lagi apa?" tanya Adrian memeluk sang istri dari belakang.


"Ini lagi main congklak." jawab asal Filona.


"Kamu ini, mulai nakal ya." kekeh Adrian memeluk sang istri dari belakang.


"Lagian, abang sudah lihat aku lagi masak, kenapa masih nanya." sewot Filona.


Adrian hanya terkekeh melihat wajah kesal sang istri.


Bu Santi juga ikut tersenyum melihat tingkah anak menantunya itu, bagaimana tidak, semenjak menikah, anaknya itu banyak berubah, sudah bisa bercanda dan juga telihat sangat manja, dan juga suka memanjakan sang istri, namun tidak pernah melupakan ke beradaanya, begitupun dengan menantu cantiknya itu, yang selalu menyempatkan diri untuk merawat Bunda Santi di sela sela kesibukannya yang mulai padat, untuk menyelesaikan skripsinya, dan juga melatih Bunda Santi berjalan di sore hari.


"Istri Pak Adrian, kok ngak ada sopan sopannya sama bapak ya bu, suka nyelekit ngomong sama bapak." kompor Heni.


"Tapi tetap saja tidak sopan Bu, apa lagi umurnya masih sangat muda, tidak sopan namanya itu, susah sih, klau nikah sama anak remaja, ngak tau sopan santun." lanjut Heni. yang tidak berhenti sampai di situ.


"Lalu anak saya harus nikah harus yang tua gitu, sama nenek nenek?" Ujar Bunda Santi.


"Eehh... ngak nenek nenek juga bu, maksud saya yang sedikit lebih dewasalah, dari istrinya itu.


"Dengan kamu maksudnya?" selidik Bunda Santi.

__ADS_1


"Ahh... Ibu bisa aja" ujar Heni tersenyum malu.


"Tapi saya yang tidak mau, saya lebih suka anak saya nikah sama Filona, walaupun kecil, dia tau tanggung jawab kepada suami dan mertuanya, walau pun dia sibuk, tetap tau tugasnya dan satu lagi, dia tidak pernah mau menjelek jelekkan orang lain," skak mat Bunda Santi, membuat Heni yang tadi berasa di atas awan, malah langsung di jatuhkan ke dasar jurang. Sakit, itu lah yang di rasakan oleh Heni.


"Sial... kenapa susah sekali membuat gadis si alan itu di benci oleh pak Adrian dan ibu sih, gue ngak rela ya Pak Adrian di miliki oleh gadis licik itu, gue yang selama ini merawat Bu Santi, kenapa Pak Adrian tidak bisa melihat kebaikan gue sama sekali, padahal gue sudah cerita sama orang kampung, klau majikan gue itu bakal jadi suami gue, ehhh... dia malah nikah sama perempuan si alan ini, mana pintar banget lagi cari muka, setiap kontrol gue ngak pernah lagi di ikut sertakan, dan gue kan ngak bisa memberi obat yang salah buat ibu, mana ibu malah mulai bisa berjalan, pasti sebentar lagi gue di depak dari rumah ini, gue ngak akan biarkan itu terjadi, gue harus melakukan sesuatu ini." gumam Heni.


"Bun... Kita sarapan dulu yuk..." ajak Filona tiba tiba memecah lamunan Heni itu.


"Eehhh... biar saya saja Nona." ujar Heni basa basi, mencari muka.


"Tidak usah, biar istri saya saja, lagian dari tadi bukanya kamu ajak Bunda ke meja makan, malah asik melamun, sekarang malah ingin membantu, lama lama kerjaan kamu ini semakin tidak becus." ketus Adrian mengambil alih kursi roda dari tangan Heni.


"Kak, ngak boleh marah marah loh." tegur Filona, mengelus bahu sang suami.


"Maaf sayang." ujar Adrian membeli puncak kepala sang istri.


"Si alan, gara gara ngelamunin loe, gue malah du marahin sama Pak Adrian, awas saja kau gadis licik." gerutu Heni meninggalkan ruang makan di sana, dia berjalan ke arah dapur kotor, ikut bergabung sarapan di sana, bersama pekerja lainnya.


"Makanya jangan kepedean jadi orang, dan berlagak sok benar, dan berani beraninya ngomporin ibu membenci Nona Filona, kau di banding Nona, jauh kemana mana." cibir Si mbak melihat ke arah Heni, dia sering ke pergok mendenagr Heni, menghasut majikannya itu, untuk membenci Filona, dan beruntung majikannya tidak pernah merespon ucapan Heni itu.


"Ncek... Berisik loe mbak, lihat saja nanti, setelah saya jadi majikan kalian, kamu orang pertama saya pecat." kesal Heni.


"MIMPI..." kompak para pekerja di sana mendengar ucapan Heni yang tidak masuk akal itu.

__ADS_1


Ya kali, Tuannya mengganti istri yang masih muda, cantik, sopan, dan baik hati itu dengan seorang Heni.


Bersambung....


__ADS_2