
Semua keluarga begitu bahagia mendengar Filona hamil, apa lagi Bunda Santi lebih bahagia lagi, karena sebentar lagi akan mempunyai cucu.
"Kamu harus hati hati ya dek, kandungan mu masih muda, dan rentan ke guguran, jangan banyak aktifitas yang berat berat ya." ucap Zahra.
"Iya kak." sahut Filona.
Mommy Lusi tidak kalah bahagiannya, karena Filona juga sudah di anggap anak sama dia.
Berita kehamilan Filona tersebut juga di sambut bahagian oleh para pekerja di rumah Adrian, karena sebentar lagi rumah besar itu akan di penuhi oleh tangis bayi.
Namun tidak dengan Heni, dia kesal dan marah, karena mendengar Filona hamil, pada dia sudah berharap majikannya itu mandul, dan dengan mudah dia ingin menyingkirkan Filona, namun sayang seribu sayang do'nya tidak terkabul kan.
"Sial, kenapa wanita itu bisa hamil, dia ngak pantas hamil anak pak Adrian." amuk Heni di kamar mandi.
Dia tidak terima dengan kehamilan Filona tersebut.
Tok....
Tok....
"Heni, kamu ngapain di dalam kamar mandi lama banget, bertelor apa beranak." panggil su mbak.
"Ahhh... si mbak rese, suka banget ganggu hidup gue, lihat aja loe, klau gue udah jadi istri pak Adrian, loe orang pertama yang gue pecat." dumel Heni.
Tok...
Tok...
"Heni..." panggil si mbak lagi.
Ceklek....
"Sabar dong mbak, ganggu orang aja sih." kesal Heni.
"He... sutiyem, kamu di kamar mandi sudah hampir satu jam, kamu pikir kamar mandi milik pribadi, ini milik para pekerja juga, lagian ngapain kamu lama lama di dalam kamar mandi, bertapa!" omel Simbak.
"Suka suka aku lah mbak, mbak kepo amat sih." gerutu Heni.
__ADS_1
"Sakit hati ya, marah ya, denger ibu hamil, makanya mimpi jangan ketinggian, masih bersyukur kamu tuh bisa kerja di sini, dapat boss yang baik, ngasih gaji ngak pelit, ngasih kerjaan ngak berat, ini malah ngelunjak pengen jadi nyonya preeettt deh kamu, mana pake suka ngompor ngompororin bunda lagi, untung bunda orangnya ngak gampang kena hasut, insaf kamu sebelum kena pecat, kasian orang tua kamu sama adik kamu yang butuh biaya di kampung sana, belum tentu kamu bisa dapat boss sebaik ini, klau sampai di pecat dari sini." oceh Si Mbak.
"Bodo amat..." kesal Heni, berlalu dari kamar mandi dengan langkah yang di hentakan, karena kesal di omelin oleh mbak.
"Huuhhh.... Dasar, di kasih tau ngeyel." gerutu si mbak.
"Biarin aja mbak, besok juga ngak ada di sini." ujar Adrian tiba tiba berada di belakang si mbak.
"Astaga si bapak, kaget saya." ujar si mbak dia kaget ada majikannya yang tiba tiba ada di belakangnya. Mbak lansung memegang dadanya, yang berdetang lebih kencang, namun bukan karena jatuh cinta, tapi karena kaget.
"Maaf mbak, kaget ya..." kekeh Adrian.
"Huuhh.... Bapak bikin jantung saya hampir copot." omel si mbak.
Adrian hanya terkekeh, dan berlalu dari sana, sambil menpuk pelan pundak si mbak.
Si mbak yang baru lepas dari rasa kagetnya, baru ingat.
"Heee... apa kata bapak tadi, besok dia ngak ada di sini? apa Heni di pecat ya, ahh... biarin aja lah, lagian klau bertahan di sini juga aku takut, ibu bisa aja di celakai sama dia, bapak sudah benar kok pecat dia, kerjaan dia sekarang juga banyak ibu yang ngurus, bunda lebih suka di bawa ibu kemana mana," gumam si mbak.
"Di makan nasinya sayang, kenapa cuma di aduk aduk, bukan di makan." tegur Adrian, bunda juga melihat kearah sang menantu, pandangan Filona masih pada makanan yang di piring bunda, bunda yang peka lansung menawarkan apa yang ada di piringnya.
"Loba mau yang di piring bunda?" tanya bunda Santi.
Filona mengangguk malu malu, bunda Santi lansung tersenyum melihat ke arah Filona, sementara Adrian ternganga dengan tingkah sang istri yang aneh bin ajaib itu, padahal kan menunya sama, namun akhirnya dia terkekeh, mungkin ini yang namanya ngidam.
"Adek, pengem yang di piring nenek ya sayang," ujar Bunda Santi tersenyum lembut ke arah Filona.
"Iya, nek." ujar Filona dengan menirukan suara bayi.
"Hhaha... anak papa, masih di perut saja sudah mau manja manja sama nenek." kekeh Adrian mengusap perut rata Filona.
"Iya dong, aku kan cucu nenek, masa mau manja manja sama nenek orang lain." ujar Filona.
Membuat Adrian dan bunda Santi tertawa lepas di meja makan sana.
"Makan lah yang banyak, biar tumbuh sehat, mamanya juga jangan sungkan sungkan klau pengen apa ya sayang, in syaa allah pasti di turuti." ujar Bunda Santi.
__ADS_1
Filona hanya mengangguk penuh haru, karena suami dan mertuanya, selalu pengertian kepada dirinya.
"Minum susunya sayang," ujar Adrian saat Filona yang masih asik mengerjakan tugas kuliahnya di atas tempat tidur, Adrian datang membawa segelas susu coklat, untuk ibu hamil dan segelas air putih.
"Makasih bang." ujar Filona mengambil susu itu.
Glek...
Glek...
Glek....
Filona lansung saja meneguk susu tersebut tanpa jaim jaimnya.
"Ahhh..."
"Habis...." ujar Filona memberikan gelas kosong ke tangan sang suami, namun sudut bibirnya menyisahkan susu, membuat Adrian geleng geleng kepala, tanpa menunggu lama, Adrian lansung saja membersihkan bibir sang istri dengan bibirnya, Filona malah menikmati itu semua.
"Tidur lah, besok masuk pagi kan?" titah Adrian.
"Mmmm..." sahut Filona sambil merebahkan tubuhnya ke kasur, Adrian lansung buru buru menahan tubuh sang istri, dan membetulkan bantal yang akan di pakai oleh Filona, agar istri cantiknya itu tidur dengan nyaman.
"Makasih suamiku..." ujar Filona dengan wajah bersemu merah, karena dia memang jarang sekali berbicara mesra.
Adrian terkekeh melihat wajah merah sang istri.
Cup....
"Sama sama sayang." ujar Adrian, dia lansung memeluk tubuh mungil sang istri dan membawanya ke dalam pelukan.
Adrian mengusap usap punggung istrinya agar cepat terlelap.
"Terimakasih sayang, istri kecil abang, sudah mau menjadi istri abang, dan menyanyangi bunda dengan tulus, dan kini kamu juga mau mengandung buah hati kita, di luar sana teman temanmu masih asik bermain, namun kamu malah mau memilih hidup dengan abang, abang sangat mencintai mu istri ku." gumam Adrian yang terus mengusap usap sayang punggung sang istri, yang sudah masuk ke dalam mimpi indahnya, namun Adrian masih tetap terjaga dan menatap wajah polos nan cantik itu.
Lama kelamaan Adrian pun menutup mata, dan ikut masuk ke dalam dunia mimpi, menyusul sang istri.
Bersambung....
__ADS_1