
Saat Adrian mengantarkan Filona pulang, Adrian mengajak Filona untuk ke suatu tempat dulu.
"Lina, mau ngak mampir ke suatu tempat?" tanya Adrian.
"Emang mau kemana? lama tidak, jangan pulang terlalu sore, ngak enak sama abang Lucas" ujar Filona yang tidak enak hati sama abang iparnya.
"Ya sudah, abang telpon Lucas dulu" sahut Adrian lansung mengambil hp dan menelpon Lucas, meminta izin membawa gadis cantik yang berada di sampingnya itu.
"Gimana?" tanya Filona saat Adrian sudah menutup telponnya.
"Boleh kok, asal pulang ngak kurang suatu apapun" kekeh Adrian.
"Ncek, memang aku mau di mutilasi sama abang" cetus Filona cemberut.
Adrian terkekeh dengan jawaban calon kekasihnya itu, bagaimana pun cara nya, dia berharap bisa mengutarakan isi hatinya kepada Filona, dia tidak mau menunggu lagi.
"Ngapain kita kesini bang?" ujar Filona menatap taman yang sangat indah di malam hari, banyak lampu taman berkelap kelip dan banyak orang orang yang sedang pacaran di sana. Ada juga yang sedang membawa anak anak mereka bermain di sana, berhubung malam minggu dan di dukung dengan cuaca yang sangat cerah, pasti lah ramai, di tambah banyak pedagang yang berjualan di sana.
"Kita duduk di sana yuk, sudah lama abang ngak menghabiskan malam minggu sama pacar" kekeh Adrian.
"Ya klau mau menghabiskan malam sama pacar, bawa pacarnya lah, masa bawa aku. emang aku pacar abang" cetus Filona yang yang sedikit tidak suka, mendengar Adrian menyebut pacar, entah lah, hatinya itu kenapa, selalu saja sensitif klau sudah bersangkutan dengan Adrian.
"Bukan sih, habis kamu ngak mau di ajak pacaran, maunya kan di ajak kepelaminan lansung" ujar Adrian menggoda Filona, yang sebenarnya memang itu yang ada di dalam hatinya.
Blusss....
Wajah Filona lansung berubah warna, yang tadi putih mulus, jadi merah bak cery matang, beruntungnya lampu taman di tempat mereka duduk sedikit temaran, jadi wajah merah Filona tidak terlihat oleh Adrian.
"Mau beli minum sama jajanan ngak" tawar Adrian, matan Filona berkeliling memandang gerobak gerobak yang sedang berjualan, apa ada yang menarik hatinya.
"Boleh deh, aku mau es coklat" ujar Filona.
__ADS_1
"Ok, tunggu di sini ya, abang beli dulu" ujar Adrian.
"Ikut aja, takut sendirian di sini" ujar Filona lansung berdiri dan mendekat ke arah Adrian.
Adrian yang di dekati, mencoba menautkan jemarinya di tangan Filona, dia sedikit kesal karena banyak mata cowok cowok jelalatan memandang ke arang Filona, yang memang terlihat imut imut, dengan riasan wajah yang tidak mencolok.
Filona sedikit kaget saat merasakan tangan di genggam Adrian, namun dia juga tidak berniat melepaskannya.
Filona jadi malu malu, dan deg degan karena tangan mereka yang saling bertautan itu, jangan di tanya Adrian jauh lebih senang, karena Filona tidak menolak tautan tangannya, ingin rasanya Adrian jijingkrakan dan bersalto ria, untuk mengungkapkan perasaannya, namun dia sadar di sini tempat ramai dan dia juga malu lah, sama gebetannya itu, yang ada nanti Filona jadi ilfil sama dia.
"Mau apa lagi" ujar Adrian setelah membeli es coklat pesanan Filona.
"Ini aja deh, peruk aku masih kenyang" ujar Filona, memang sebelum pulang tadi, Filona di paksa makan oleh Bunda Santi.
Adrian menganguk tanda mengerti dan mereka kembali mencari kursi taman yang kosong, kursi mereka tadi sudah di huni sama orang lain.
"Lona, abang mau menyatakan perasaan abang sama kamu" ujar Adrian
Uhuk....
Uhuk....
"Aduhhhh.... kenapa sampai keselek sih, hati hati minumnya, ngak ada yang minta kok, klau habis nanti kita beli lagi, abangnya masih di sana" ujar Adrian panik, dia tidak tau Filona keselek gara gara dia.
Filona hanya membisu melihat Adrian yang gercep membantu dirinya, dan tanpa rasa canggung Adrian melap bibir Filona yang belepotan dengan ibu jarinya.
Tentu saja perlakuan Adrian tersebut membuat Filona tegang setengah mati, karena ini kali pertama, ada lawan jenis selain ayah, abang dan kembarannya yang melakukannya seperti itu, ini Adrian tanpa malu mengelap bibirnya membuat jantung Filona samakin berpacu seperti orang sedang lomba lari.
"Lona?!" panggil Adrian.
"Ah... Eh... I-iya, ada apa bang" gerogi Filona.
__ADS_1
Tentu saja Adrian terkekeh mendengar ucapan Filona itu, dia sendiri sebenarnya juga deg degan, karena kelancangannya telah menyentuh benda kenyal itu, kini otaknya sudah trafeling, membayangkan bukan hanya jarinya yang menyentuh bibir Filona, namun juga ingin Rasanya merasakan manisnya bibir Filona itu.
"Abang ingin lanjutin ucapan kita yang dari kemaren kemaren selalu terpotong potong, kini abang sudah tidak tahan lagi" ujar Adrian.
Filona hanya diam, dan sesekali menatap wajah Adrian dan kembali menatap ke arah lain, jujur dia tidak sanggup berlama lama menatap mata Adrian itu, membuat kerja jantungnya tidak aman.
"Abang. Tidak bisa basa basi lagi, kamu tau bukan, abang juga sudah dewasa, dan juga tidak ingin mencari pacar lagi, namun abang ingin mencari istri, abang menyukai kamu Filona, entah dari kapan rasa itu ada, abang tidak tau, yang jelas abang tidak suka kamu dekat dekat sama cowok lain, oleh sebab itu, karena rasa cinta abang yang sudah tidak bisa tertahan lagi, maukah kamu menikah dengan abang?" ujar Adrian.
Deg... Deg...
Deg... Deg...
Bunyi jantung Filona, mendengar lamaran yang di ucapkan oleh Adrian itu.
Dia bingung mau jawab apa.
"Lona" ujar Adrian.
"Hmmm...." jawab Filona singkat.
"Jawab dong. jangan di diamin aja" ujar Adrian.
"Tapi. Aku, masik kuliah kak, kuliahku saja masih di biayai kakak ku" ujar Filona pada akhirnya.
"Setelah kamu menikah dengan abang, kamu adalah tanggung jawab abang, abang yang akan membiayai kuliah kamu, walau kamu kuliah sampai jadi profesor sekalipun abang ngak msalah" ujar Adrian.
"Bagaimana dengan bunda?" tanya Filona, dia tidak ingin apa yang di rasakan kakaknya, juga akan di rasakan oleh dirinya, yang di tolak mentah mentah, dan di caci maki di depan umum, jujur dia tidak sekuat kakaknya, dia lemah dia penakut dia tidak suka semua itu, walau kadang kadang jiwa bar barnya juga kumat, klau di ganggu oleh orang.
"Tentu saja bunda sangat sangat bahagia klau kamu mau menikah dengan abang, kamu lupa dari kemaren kamu di desak terus sama bunda, dia menginginkan kamu menjadi menantunya" ujar Adrian.
"Mmmm.... A-ku..."
__ADS_1
Adrian jadi tegang sendiri dengan apa yang akan di ucapkan oleh Filona, dia sangat tau betul, gadis itu masih sangat muda, dan masih ingin bermain bersama teman temannya, namun apa lah daya, Adrian tidak bisa lepas dari pesona gadis remaja yang beranjak dewasa itu.
Bersambung.....