
"Mbak, mulai sekarang bibi yang urusin Bunda ya, sekalian jagain istri saya juga, jangan biarin dia kerja berat berat, klau dia ngeyel telpon saya aja." titah Adrian.
"Baik pak." ujar si mbak dengan patuh, tanpa di suruh pun dia akan turun tangan membantu Bunda dan nyonya nya itu.
"Iihhh... Abang, mana ada ngeyel," cemberut Filona.
"Ngeyel ngak sayang, cuma sedikit keras kepala." kekeh Adrian.
"Sudah sudah, suka banget kamu ganggu istri kamu, Adrian." ujar Bu Sandra membela menantu kesayangannya itu.
"Iya bun, abang jahat." ujar Filona memeluk tangan mertuanya itu dengan manja.
"Yaa... ada yang bela." kekeh Adrian, dia begitu senang melihat Filona yang begitu manja kepada bundanya, itu tandanya Filona mau menerima bundanya dengan tulus.
"Sayang, nanti abang pulang agak telat, ngak apa apa kan, soalnya ada pertemuan penting sama beberapa rekan bisnis." ujar Adrian hati hati.
"Ngak pa apa, kan ada bunda." ujar Filona, saat mengantar suaminya itu mobil.
"Aunty...." teriak Kenzo yang mau berangkat sekolah, berlari ke rumahnya.
"Hati hati sayang, nanti jatuh." tegur Filona melihat ponakan kesayangannya melompati tanaman bonsoi di halaman rumah itu.
"Hehehe... Takut di tinggal sama om." kekeh anak itu.
"Loh... tumben mau ikut sama Om." heran Filona, yang biasanya di tawarin ikut selalu menolak, alasan berangkat sama Filio atau sama Ayahnya.
"Emang ngak boleh, suka suka aku lah, kan Om Omnya Kenzo ini." ujar meledek auntynya itu.
"Dasar bocah gemblung." cibir Filona kesal melihat ponakan tengilnya itu, tapi dia sayang.
"Aku gemblung, aunty apa? kembung." tukas Kenzo dengan cengengesan.
Adrian hanya bisa geleng geleng kepala melihat istri dan keponakan kesayangannya itu beradu mulut, pagi pagi sudah bikin mood istrinya tidak baik.
Ingin rasanya Filona menjitak kepala keponakannya itu, namun apalah daya, Filonanya hanya mengelus perutnya saja, dan membuang nafas biar kesalnya hilang.
__ADS_1
"Ngak usah bilang amit amit ya aunty, harusnya aunty bersyukur klau anak aunty nanti mirip sama Ken yang tampan ini." oceh anak itu naik ke dalam mobil sang suami.
"Klau mirip wajah tampan dan baiknya sih aunty ngak masalah, tapi klau mirip tengilnya aunty ngak mau, pusing aunty, ngadepin kamu satu aja, aunty pengen karungin kamu Ken." kekeh Filona.
"Sudah sayang, masuk sana, ngak usah di dengerin bocah ini, nanti kamu emosi sendiri." ujar Adrian.
"Iya aunty, klau aunty emosi, takutnya muka aunty cepat tua." kekeh Kenzo.
"Kenzo...." kesal Filona.
Adrian yang tau sang istri mulai meradang, memilih menjalankan mobilnya, untuk menghindarkan Kenzo dengan Filona.
"Kamu ini Ken, suka sekali melihat aunty kamu kesel." kekeh Adrian.
"Aunty lucu klau lagi marah Om." kekeh Kenzo.
"Belajar yang pintar sayang, dengerin guru klau lagi nerangin pelajaran, jangan suka berantam." ujar Adrian saat sampai di depan gerbang sekolah Kenzo.
"Siap Om, masa aku belajar ngak pintar, malu dong sama adik, mana adiknya mau dua lagi." kekeh Kenzo.
"Iya, iya. Kamu paling benar, nanti pulang mau di jemput sama siapa?" tanya Adrian lagi.
"Om Lio." ujarnya singkat dan menyalim tangan Adrian dengn takzim, sebelum turun dari mobil.
Adrian melihat keponakan istrinya sampai benar benar menghilang dari pandangannya, baru lah dia menjalankan mobilnya menuju perusahaan Lucas, karena Lucas pagi ini akan menemani si kecil untuk imunisasi ke rumah sakit.
"Pak Adrian makin ke sini makin tampan saja ya, apa lagi semenjak punya istri, wajahnya selalu berbinar." ujar karyawan yang melihat Adrian.
"Dengar dengar istrinya lagi hamil ya?" ujar karyawan lainnya.
"Waahhh... top cer juga pak Adrian, ngak mau kalah sama boss."
Adrian hanya cuek saja mendengar gosip para karyawan itu, selagi gosipnya tidak menjelek jelekan sang istri dia mah bebas.
Di lain tempat Zahra dan Lucas sedang menunggu antrian di poli anak
__ADS_1
"Lucas... kamu Lucas kan?" tanya Seorang wanita di depan Lucas yang sedang menggendong Kenzie.
"Iya..." ucap Lucas singkat, meresa tidak mengenal wanita itu, dia malah sibuk sama bayi tampannya.
Zahra hanya diam dan memperhatikan saja wanita itu tanpa ikut bicara.
"Kamu ngak ingat sama aku Lucas?" tanya perempuan itu belum menyerah di cuekin oleh Lucas.
"Tidak, lagian buat apa saya mengingat wanita lain, mendingan saya mengingat istri dan anak anak saya." ujar Lucas santai, namun dalam, memang dia bukanlah laki laki yang suka basa basi, dan dia juga tidak ingin terlalu akrab dengan perempuan, karena ada hati yang harus dia jaga.
"Ya ampun. Lucas, kamu masih saja dingin sama saat kita sekolah dulu, aku Amel Luc, teman satu kelas waktu di SMA dulu." ujar Amel berharap Lucas kembali mengenal dirinya.
"Oh..." ujar Lucas dengan malas.
"Sayang, itu nama dedek di panggil." ujar Lucas menatap lembut ke arah sang istri, membuat wanita bernama Amel itu menjadi cengok tidak percaya, bagaimana tidak, Lucas menatap dan berbicara dengan sangat dingin dan ketus, namun sama wanita tadi berubah sangat lembut dan memandang penuh cinta.
Hiks... hiks....
Bayi tampan yang dari tadi ceria itu, seketika lansung menangis saat pahanya di tusuk oleh jarum suntik oleh dokter.
"Ooo... cup... cup sayang, ngak pa apa adek pintar." ujar Lucas dan mengajak anaknya bercanda agar berhenti menangis.
"Maaf ya ganteng, Aunty dokter nyakitin kamu ya," kekeh dokter tersebut.
"Makasih dok." ujar Zahra sopan, jangan di tanya dengan Lucas, dia hanya akan diam saja dan sibuk dengan bayinya.
"Mas, perempuan tadi masih nungguin mas noh." ujar Zahra melirik perempuan yang sik kenal dengan suaminya tadi.
"Biarin aja, ngak penting dia mah." ujar Lucas santai, menggendong anaknya di tangan sebelah kiri, dan tangan sebelah kiri menggandeng pinggang sang istri dengan mesra.
"Ikut Mas ke kantor dulu ya, mas ada meeting sebentar." ujar Lucas saat mereka sudah sampai di dalam mobil.
"Siap bas ku..." ujar Zahra.
Lucas terkekeh mendengar gurauan sang istri, dia lansung menjalankan mobil dengan kecepatan sedang untuk sampai ke kantornya.
__ADS_1
Bersambung.....