Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja

Cobalah Jadi Aku Sebentar Saja
Bab158


__ADS_3

Pagi menjelang Semua anggota keluarga Adrian sudah berkumpul di ruang tengah, dan memanggil Heni perawat Bunda Santi.


"Ada apa pak, manggil saya, ada yang di butuh kan?" tanya Heni.


"Kamu duduk dulu di sana." titah Adrian.


Heni mengikuti permintaan tuannya itu, untuk duduk di depan, dan berhadapan dengan semua orang, ada juga Filona di samping suaminya itu, membuat hati Heni cemburu, namun dia tetap menampilkan wajah biasa biasa saja, agar tidak du marahi oleh bosnya itu.


"Begini Hen, Kami sudah tidak butuh tenaga kamu lagi, jadi ada teman saya yang baru pulang dari luar negeri yang membutuhkan perawat untuk ibunya, jadi saya merekomendasikan kamu kepada dia, klau kamu mau, kamu bisa lansung di anter sopir ke rumah dia.


"Loh... maksud bapak saya mau di pecat, gitu. Salah saya apa pak, saya ngak mau keluar dari rumah ini." tegas Heni kesal kepada bosnya itu.


"Bukan kah, saya sudah bilang, klau saya sudah tidak butuh tenaga kamu lagi di sini, dan saya tidak memecat kamu begitu saja, justru saya masih mencarikan tempat kerja baru untuk kamu." jawab Adrian tidak kalah tegasnya.


"Tidak butuh tenaga saya gimana? jelas jelas sebentar lagi anda punya anak, tentu saja anda butuh tenaga lebih, untuk menjaga ibu anda pak, dan anak anda juga butuh pengasuh." ujar Heni yang masih kekeh ingin tetap bekerja di rumah Adrian tersebut.


"Judulnya sekarang saya tidak butuh tenaga kamu Heni, dan saya ingin kamu keluar dari rumah saya, karena kontrak kerja saya dan kamu sudah habis dari kemaren, saya sudah tidak ingin ada kamu di rumah ini." tegas Adrian.


"Saya tidak mau! anda tidak tau terimakasih sekali Tuan, sebelum wanita itu datang ( tunjuk Heni ke arah Filona, dengan mata yang nyalang ) saya lah yang mengurus ibu anda! kenapa setelah wanita itu hadir saya di singkirkan, saya tidak terima!" pekik Heni tidak terima karena dirinya tidak di butuhkan lagi di rumah itu.


"Haaaiii... pembantu...!! tidak tau diri, kau di sini hanya pembantu di rumah ini! jangan beralagak seperti istri saya, wajar istri saya mengurus Bunda saya, dan kau jangan sekali kali meninggikan suara kau kepada istri saya! kau pikir saya tidak tau selama ini kau itu berniat jahat kepada istri saya, sudah lama sekali saya ingin memecat kamu, tapi. Istri saya kelewat baik sama kamu, makanya dia tidak mau kamu saya pecat, tapi ini balasan kamu, tindakan saya memecat kamu sudah tepat, mau atau tidak kamu bekerja di tempat yang sudah saya berikan, itu terserah kau, mulai hari ini kau boleh pergi dari rumah saya!" bentak Adrian tidak terima istrinya di bentak oleh pembantu itu, sedangkan dia tidak pernah sekalipun menaikan suaranya kepada sang istri, lah ini cuma pembantu, seenaknya menunjuk nunjuk istrinya murka sudah Adrian.


"Saya sekarang memang bukan istri anda pak, tapi suatu saat nanti saya pasti jadi istri anda, perempuan yang ada di samping anda itu hanyalah pencitraan, tidak benar benar tulus cinta sama anda, buktinya saja anda capek capek karja dia malah enak enakan menghambur hamburkan uang anda kesalon dan shoping, dia tidak cocok dengan anda pak." ujar Heni dengan kekehnya.

__ADS_1


"Astaga, perempuan ini sudah gila kali ya, ya kali gue mau ganti bini, yang cantik luar biasa, sama dia yang kek lenong gini " gumam Adrian tak habis pikir dengan tingkah pembantunya itu.


"Kamu pikir saya mau menantu saya di ganti? saya yang tidak pernah mau, walau lebih cantik dari menantu saya sekalipun, saya tidak sudi, menantu saya cuma Filona, dan apa lagi wanita seperti kamu penggantinya, semakin tidak sudi saya!" ujar Bunda Santi.


"Diam... Kamu perempuan tua lumpuh, saya tidak minta pendapat kamu, yang saya mau ucapa pak Adrian bukan kalian!!" pekik Heni semakin menggila.


"Kurang ajar kau sialan... Pak Mamad.....!! Tolong seret wanita ini keluar, dasar tidak tau diri kau, sudah di kasih kerjaan malah ngelunjak, mimpi ketinggian!" marah Adrian.


"Pak... saya tidak mau, saya mau di sini, saya ngak mau keluar dari sini!!" pekik Heni yang di seret oleh Pak Mamad, dan pakaiannya sudah di bawa oleh si mbak dan si mbok keluar dari rumah Adrian.


"Tunggu pak." titah Adrian menghentikan langkah pak Mamad, tentu saja Heni kesenangan, dia pikir Adrian berubah pikiran.


"Lepas, pasti Pak Adrian tidak akan pecat saya, dia cuma prank saya saja." ujar Heni meronta, namun Pak Mamad tak sedikitpun mau melepaskan tangannya dari pergelangan Heni, walaupun perempuan itu meronta ronta.


"Ini gaji dan pesangon kamu." ujar Adrian memberikan amplop berisi uang gaji dan pesangon kepada Heni.


"Antarkan dia ke desanya, pastikan dia tidak bisa masuk ke rumah ini!" titah Adrian.


"Baik pak." ujar Pak Mamad.


"Huu... dasar bos sialan, mentang mentang kaya, belagu banget, main pecat pecat orang saja, itu semua pasti gara gara perempuan sialan itu, awas saja mereka, akan ku balas semuanya," gerutu Heni di dalam mobil.


"Pak Mamad dan salah seorang temanya hanya geleng geleng kepala mendengar oceha Heni tersebut, salah sendiri yang bertingkah, dan membuat majikan mereka tidak nyaman, mimpi ketinggian, ingin jadi istri majikannya.

__ADS_1


"Drama mau keluar ya, tapi kurang seru, ngak ada acara jambak jambakan." kekeh Lucas dan keluarganya datang ke rumah Adrian tersebut, mereka sudah tau hari ini Heni akan di pecat, mereka jaga jaga Heni akan membuat onar, namun semua tidak terjadi, karena Adrian lebih cepat mengusirnya, dia tidak mau istri dan Bundanya sampai celaka oleh Heni.


"Huummm... gila banget dia, halunya benar benar di luar nalar, dia mau jadi bini gue." dengus Adrian dengan wajah kesalnya.


Buahahahha....


Pecah sudah tawa mereka mendengar cerita Adrian itu, para pelayan di rumah itu juga lega Heni sudah tidak lagi bekerja di sana, karena mereka juga takut Heni sampai melukai majikan mereka.


"Sayang tadi Ken ngak di izinin ke sini sama bunda, kan Ken juga pengen kasih pelajaran." cibik anak itu.


"Klau kamu ikut angkat bicara, yang ada dia makin menjadi jadi, trus kalau aunty kenapa napa gimana?" tanya Adrian lembut ke arah Kenzo.


"Iya juga sih, kasihan aunty sama dede bayinya." ujar Kenzo mengelus perut sang aunty.


"Untuk selanjutnya, cari pembantu yang lebih tua saja, jangan kaya Heni itu, nanti kamu repot lagi." ujar Mommy Lusi.


"Iya mom, si mbak mau ajak kakaknya ke sini, soalnya baru cerai sama suaminya, dan dia ngak punya anak, malah mantan mertuanya terus saja merong rong dia, jadi dia mau pergi aja dari kampung, ya sudah saya suruh mbak bawa ke sini aja." jawab Adrian.


"Ooo... yang dulu pernah kerja di rumah sepupu Lucas ya?" tanya Mommy yang ingat sama kakak si mbak.


"Iya yang itu." ujar Adrian.


"Ngak pa apa, dia orangnya gesit kok, ngak banyak tingkah lagi." ujar Mommy.

__ADS_1


Dan di anggukin oleh Adrian, sementara Bunda Santi dan Filona diam saja, karena dia tidak tau siapa yang di bicarakan.


Bersambung....


__ADS_2