
Buahahahaha....
Pecah sudah tawa para karyawan perusahaan yang berada di loby itu setelah Anggia keluar dari sana.
"Si... gue pada mu!" kekeh Firda yang sama sama somplak dengan Desi.
"Lagian angkuh banget, udah gitu sok segala harus panggil Nona pula, sudahlah itunya pengen tumpah, dandanannya kaya ondel ondel, katanya keren yang ada klau anak kecil melihat pasti menagis kejar karena ketakutan" kekeh Desi.
"Loe ngak takut, klau dia benaran calon istri boss Si, trus loe di pecat?" tanya Angel, walau dia juga ragu melihat wanita tadi.
"Ngak lah, ngapai gue takut, kan emang prosedurnya gitu, truss loe yakin gitu mbak, klau cewek tadi calon tungang bos, mata bos muking ketutup sama dada besar perempuan itu, jadi ngak bisa melihat cewek cantik, Desi terkekeh dengan ucapannya sendiri, "dari pada perempuan tadi yang jadi calon tunangan bos, gue lebih suka Zahra kali yang jadi istri bos, sudah cantik, baik sopan walau sedikit berwajah datar" kekeh Desi ceplas ceplos.
Yang lain juga ikut terkekeh.
__ADS_1
"Ternyata bos suka yang besar besar" kekeh Angel dan di sambut tawa oleh orang di dalam sana, namun tidak dengan Zahra, dia sebel sama Bosnya itu sudah berani beraninya menggoda dia tadi, dan sekarang ada cewek datang dengan mengaku aku sebagai calon tunangan bosnya itu.
"Dasar mesum, pantas saja kelakuan dia kaya tadi, karena suka main main sama dada yang kebanyakan pengembang itu, apa jangan jangan dada perempuan tadi membesar gara gara sering di remas remas sama bos mesum itu" gumam Zahra dengan tubuh yang merinding membayangkan itu semua.
"Hai... Ra... loe kenapa diam bae" terus Firda.
"Ah... ngak kok mbak, ya udah yok, kita cari makan, lapar gue" elak Zahra.
Sementara itu di loby perusahaan Lucas dan Adrian menemui Desi yang masih bertugas di sana, karena dia akan bergantian untuk istirahat dengan rekannya.
"Siang Pak" tegur Desi sopan, kepada Lucas dan Adrian.
"Siang juga, kerja kamu bagus, bulan ini bonus kamu naik dua kali lipat, jadi klau wanita itu datang lagi usir saja, tolong bilang sama yang lain" tegas Lucas.
__ADS_1
"Benaran Pak, bonus saya naik dua kali lipat. Aaa.... makasih Pak, nanti saya alan bilang sama rekan saya" jawab Desi dengan mata berbinar dan menjawab dengan penuh sangat.
"Ncek... kau ini, klau dengar uang lansung saja melotot" dengus Lucas.
"Realita Pak, hidup itu butuh uang Pak, jadi saya tidak munafik, karena saya memang butuh uang pak" jujur Desi yang tidak ada jaim jaim nya.
"Iya, iya... terserah kau saja, yang penting tugas kau bagus" jawab Lucas datar dan melangkah pergi untuk mengisi perutnya.
Adrian hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan Desi itu, memang karyawan di sini itu, tidak ada yang benar, tukang gosip, somplak, semuanya ada di sini, namun bukan mereka tidak profesional dalam tugas, justru mereka sangat profesional, tidak pernah Lucas atau pun Ceo yang dulu marah marah sama pegawainya, apa pun tugas yang mereka berikan lansung di selesaikan tepat waktu dan sempurna, paling hanya kesalahan kesalahan kecil yang mereka lakukan.
Desi kegigarangn dengan mendapat bonus dua kali lipat bulan ini, dia sudah pusing memikirkan orang tuanya sudah menelpon minta di kirim uang sama Desi untuk membayar uang semester sang adik, dan bulan ini Desi bisa mengirimkan uang sebelum dia mendapat caci maki oleh Ibunya dan di bilang anak tidak tau di untung, tidak tau Terimakasih, tidak tau balas budi, padahal mah dia sekolah dari hasil jerih payah dan usaha sendiri, namun ya begitu lah, klau bersama orang tua angkat, ingin mengakhiri hubungan dengan mereka, Desi masih belum bisa, karena ada Ayah angkatnya yang masih sakit sakitan di sana, hanya ayah angkatnya lah yang perhatian sama dia, dan Ayah angkatnya juga yang suruh dia berbohong. klu dia kerja jadi OB di perusahaan gaji kecil, agar sang Ibu tidak merong rong uang Desi.
Bersambung....
__ADS_1