
"Sayang, nanti kamu pulang Kuliah jadi ke salon?" tanya Adrian kepada istri cantiknya itu.
"Rencananya sih gitu Kak, aku mau ajak Bunda juga, biar bisa reflesi sekalian." ujar Filona.
"Terserah istri kakak, yang penting kamu happy, klau gitu kakak berangkat dulu."
Cup....
Adrian mengecup mesra dahi sang istri.
"Tuh... kau lihat Hen, bagitu sayangnya pak Adrian sama istrinya." cibir Si Mbak agar Heni berhenti barhalu.
"Cih.... Istri apaan seperti itu suami capek cari uang, dia malah asik foya foya, apa ngak kasihan sama pak Adrian." sela Heni, yang panas melihat kemesraan Filona dan Adrian itu.
"Dih.... ngiri bilang bos, klau kau jadi istrinya, kau pasti juga ingin ke salon, shoping barang bagus, dasar munafik" ejek Si Mbak.
Heni hanya mendengus kesal mendengar ucapan si Mbak.
"Bun, nanti kita ke salon ya, sama sekalian jalan jalan, sudah lama kita ngak keluar." ujar Filona menghampiri mertuanya itu.
"Baiklah, bunda mah ikut aja." ucap Bunda Santi, dia begitu bahagian mempunyai menantu Filona, walau Filona masih sangat muda, namun dia mampu melayani sang anak, dan juga mau melayani dirinya yang lumpuh, Filona tidak pernah sama sekali meninggalkan dirinya di rumah, kecuali Filona pergi ke kampus, selebihnya Film akan mengajak kemanapun dia pergi, walau ke rumah sang kakak yang berada di samping rumahnya itu, alasannya takut bunda kesepian di rumah.
__ADS_1
"Baiklah, nanti pulang Lona kuliah kita lansung cus, bareng Emely." semangat Filona.
Bunda santi hanya mengangguk dan tersenyum penuh cinta kepada sang menantu, walau dia sudah ingin mempunyai cucu, namun dia tidak ingin bertanya kepada Filona maupun Adrian, takut akan membuat anak dan menantunya tidak nyaman, biar lah semua dia serahkan kepada sang pencipta, lagi pula menantunya sedang sibuk sibuknya mengurus skripsi.
"Bun, Lona dulu ya..." ucao Filona, dengan mencium tangan sang mertua penuh takzim, dan memeluk sayang mertuanya itu.
"Iya sayang, kamu hati hati ya." uca Buda santi.
Filona lansung menuju rumah sang kakak, karena dia akan menebeng dengan Emely, padahal dia sendiri mempunyai mobil di belikan oleh sang suami, tapi dia lebih suk pergi bareng sama sahabatnya itu.
"Dasar Lona, di kasih mobil, malah sukanya nebeng sama Emely." kekeh Bunda santi melihat kelakuan menantunya sambil geleng geleng kepala.
"Bagus dong bu, itu tandanya dia tau diri, harus sadar dia itu biasa hidup susah, masak setelah menikah lupa daratan, lagian ngak pantas juga kali bu, klau dia foya foya, sementara bapak sibuk cari uang." ujar Heni tiba tiba.
"Kata siapa dia ngak pantas menghabiskan uang anak saya, justru saya ingin dia foya foya tiap hari, agar anak saya bisa tambah semangat mencari uang, untuk menyenangkan istrinya." ujar Bunda santi.
Membuat Heni lansung terdiam, niat hati ingin memprofokasi malah dia yang di buat bungkam.
"Lagian kamu ini ada masalah apa sih, sama menantu saya, apa jangan jangan kamu suka sama anak saya?" ujar Bunda Santi.
Tentu saja membuat Heni gelagapan dengan ucapan majikannya itu.
__ADS_1
"Ingat ya Heni, kedudukan kamu di sini hanya pembantu, dan kamu tidak berhak ikut campur urusan keluarga saya, sebenernya saya mulai tidak suka sama kamu, dan kamu selalu mengomentari menantu saya, namun saya masih punya hati, karena orang tua kamu di kampung sana susah mencari uang, dan adik adik kamu butuh biaya, makanya saya melarang anak saya, memecat kamu, ingat itu, klau kamu masih tidak sopan kepada menantu saya, lebih baik kamu keluar dari rumah saya, dan satu lagi, Filona itu adalah nyonya rumah, yang patut kamu hargai dan kamu hormati, asal kamu tau, gaji kamu di naikan oleh anak saya, itu karena saran dari menantu saya, mengerti kamu." tegas Bunda Santi sambil menjalankan kursi rodanya, meninggalkan Heni yang tertegun di teras rumah itu.
Heni tidak menyangka Bunda Santi yang selama ini selalu baik dan lemah lembut, sekarang menjadi kasar kepada dirinya, membuat Heni ketar ketir, dia tidak mau klau dirinya sampai di pecat dari rumah ini, dan dia masih ingin merayu Adrian, menjadi yang ke dua baginya tidak masalah, asalkan keuangan nya lancar jaya, dan dia juga ingin merasakan shoping barang mewah seperti Filona dan pergi ke salon setiap minggunya, dan makan enak di restoran mewah, sungguh Heni sangat iri tentang itu semua.
"Lon..." panggil Emely
"Hm....." jawab Filona sambil memijit kepalanya yang sedikit pusing.
"Kamu ngak ngerasa aneh, sama si mbak Heni itu, aku rasa dia suka deh sama Kak Adrian, dan selalu mencari cara untuk menggoda Kak Adrian, dan aku beberapa kali melihat dia menatap kamu sinis." ujar Emely menyampaikan uneg unegnya, dia tidak ingin rumah tangga sahabat yang sudah jadi saudara itu terkena masalah.
"Aku sudah tau kok, dari kak Andrian membawa aku ke rumah sakit dan bertemu bunda pertama kalinya, namun aku pura pura ngak tau aja, bukan bearti aku ngak waspada, kak Adrian pun tau semua itu, namun aku dan bunda kasian sama orang tua Heni di kampung, yang butuh biaya, mana adik adiknya masih pada sekolah, jadi kami melarang kakak untuk memecatnya, namun bukan bearti kami membiarkan begitu saja." tutur Filona panjang lebar.
"Bagus lah kamu tau, aku pikir kamu itu ngak tau, iya sih kasihan, tapi kalau meresahkan lebih baik di pindah tugasku saja." ujar Emely.
"Iya, kakak lagi menunggu temannya yang butuh pelayan untuk orang tuanya, katanya seminggu lagi akan pulang." ujar Filona.
"Bagus lah, aku ngak mau kamu kenapa napa, takut kalian biarkan, dia makin ngelunjak." ujar Emely.
"Makanya aku ngak tenang klau bunda di rumah bersama dia, sedapat mungkin aku membawa bunda kemana aku pergi." ujar Filona.
Emely mengangguk tanda mengerti, dengan apa yang di ucapkan oleh Filona, dia tidak perlu khawatir lagi, karena sahabatnya dan suaminya tau akan kelakuan pembantu mereka, dan semakin leganya, klau pembantunya itu akan segera keluar dari rumah mereka.
__ADS_1
Bersambung....